
"Tok
"Tok
terdengar suara dari luar diketuk, Kanaya yang sedang memeriksa laporan keuangan perusahaannya menengok kearah pintu.
"Masuk," ucap Kanaya.
Kemudian Cintya masuk dan duduk di sofa.
"Kita ke resort hari ini?" tanya Cintya
"Satu jam lagi kita berangkat," ucap Kanaya.
"Apakah kau melakukan apa yang ku perintahkan?" tanya Kanaya.
"Sudah dan mereka menyetujuinya," ucap Cintya seraya menyeringai licik.
"Bagus," ucap Kanaya membalas seringaian Cintya.
"Im so lonely broken angel
"Im so lonely listen to my heart
terdengar bunyi Ringtone handphone Kanaya, kemudian Kanaya mengambil handphonenya yang tergeletak diatas meja dan melihat siapa penelponnya seraya mengeryitkan keningnya lalu menjawab telpon tersebut.
"Hallo," ucap Kanaya.
"Apakah anda orang tua Gerald?" tanya penelpon.
"Benar," ucap Kanaya.
"Saya wali kelas putra anda, saya harap anda bisa datang sekarang ke sekolah," ucap wali kelas Gerald.
"Ada apa dengan putra saya?" tanya Kanaya.
"Putra anda berkelahi di sekolah dan dia memukuli temannya," ucap wali kelasnya.
"Baiklah saya kesana sekarang," ucap Kanaya seraya menutup telponnya.
"Gerald berkelahi disekolah, aku harus kesana sekarang," ucap Kanaya seraya bergegas berjalan keluar ruangannya diikuti oleh, Cintya. selama didalam perjalanan Kanaya hanya diam dan bertanya-tanya dalam hati
"Bagaimana bisa Gerald berkelahi?"
"Aku gak percaya kalau Gerald bisa berkelahi jika tidak ada sebab yang jelas," ucap Cintya.
Tak lama kemudian Kanaya dan Cintya.
sampai di sekolah Gerald, kemudian mereka berjalan di sepanjang lorong sekolah mewah yang dikhususkan anak-anak yang terlahir borjouis, semua mata memandang Kanaya, dan Cintya dua wanita cantik yang berwajah dingin. tak lama kemudian mereka pun sampai di ruangan wali kelas Gerald.
"Selamat siang Pak, saya ibunya Gerald," ucap Kanaya seraya menatap berkeliling ruangan Pak wali kelas. kemudian matanya melihat putranya yang sedang berdiri di pojok ruangan tersebut dengan kaki terangkat sebelah dan kedua tangannya memegang kedua telinganya, Gerald yang ditatap ibunya hanya tersenyum miring, kemudian menggerakkan bibirnya berkata tanpa menimbulkan suara.
"Its ok mom,"
__ADS_1
kemudian Kanaya pun menatap tajam seorang anak yang menampakkan wajah senang melihat Gerald di hukum, seorang wanita dengan dandanan menor dan pakaian minim duduk di sebelahnya.
"Silahkan duduk nyonya," ucap Pak wali kelas, wajahnya tak lepas menatap kagum kecantikan Kanaya.
"Terima kasih," ucap Kanaya seraya mendudukkan tubuhnya di kursi di ikuti oleh Cintya.
"Katakan saja Pak, apa yang dilakukan oleh Gerald putra saya?" tanya Kanaya.
"Begini nyonya, Putra anda telah memukuli teman sekelasnya sehingga anda lihat sendiri wajahnya," ucap Pak Wali kelas.
"Bukankah disini ada CCTV?" tanya Kanaya.
"Anda benar nyonya," ucap Pak Wali kelas.
"Cek CCTV sekolah ini, jika benar putra saya yang bersalah, saya sendirilah yang akan menghukumnya," ucap Kanaya dengan dingin.
"Cihhhh, kau berkata seperti itu seolah-olah, anak mu yang berandalan ini tidak bersalah," ucap Wanita yang duduk disebelah murid yang dipukuli Gerald.
"Apakah anda tuli nyonya? Apakah saya mengatakan pada pak walk kelas bahwa anak saya tidak bersalah?" tanya Kanaya.
"Kau mengatakan jika anak saya bersalah, berarti kau merasa anak mu tidak bersalah, kau lihat jidat putra ku, memar dan terluka mengeluarkan banyak darah. hahhh..!" bentak ibu sianak.
"Kau harus ganti rugi biaya pengobatan anak ku," ucap ibu si anak.
"Aku akan ganti rugi dan menjamin pengobatan luka anak mu yang tak seberapa itu jika anak ku yang melakukannya," Ucap Kanaya dengan dingin dan tatapan tajam
"Apakah anda akan diam saja disitu Pak wali kelas?" tanya Kanaya.
Pak wali Kelas yang terkejut mendengar perkataan Kanaya menjawab dengan tergagap.
Tak lama kemudian mereka pun sampai di ruang CCTV sekolah, sesampainya didalam ruangan itu Pak wali kelas meminta seorang penjaga CCTV memperlihatkan rekaman. di dalam rekaman tersebut, saat jam istirahat teman Gerald menghampiri Gerald yang sedang duduk di bangkunya, kemudian mengajaknya keluar untuk bermain, tetapi saat berjalan teman Gerald mendorong Gerald, kemudian Gerald mengelak akhirnya temannya tersebut jatuh dan kepalanya membentur pot bunga sehingga kepalanya benjol dan mengeluarkan darah.
"So.., anda sudah lihat bukan nyonya, yang bersalah adalah putra anda sendiri, dan yang berandalan itu adalah putra anda sendri, aku mendidik anak ku dengan sangat baik," ucap Kanaya dengan dingin dan tajam, seraya menatap wajah ibu dari si anak yang salah tingkah.
"Ajari anak anda agar anak anda tahu bersikap, dan anda Pak wali kelas seharusnya anda mencari tahu dulu penyebab dari permasalahan murid anda, dan jika satu kali lagi anda melakukan ini, maka aku akan bertindak di luar dari apa yang bisa anda pikirkan," ucap Kanaya dengan dingin dan tajam tanpa menunggu jawaban dari mereka Kanaya berjalan keluar dari ruangan keamanan sekolah tersebut, meninggalkan Pak Wali kelas dan juga Ibu dan teman Gerald yang terdiam dengan sikap Kanaya dan bertanya-tanya siapa sebenarnya Kanaya.
"Cin, cari tahu siapa pemilik sekolah ini," ucap Kanaya.
"Kenapa Nay?" tanya Cintya.
"Entahlah aku memiliki perasaan yang tidak enak mengenai sekolah ini," ucap Kanaya. kemudian mereka pun kembali ke ruangan Pak wali kelas menjemput Gerald, sesampainya di di lorong sekolah menuju Ruang Pak wali kelas, langkah Kanaya terhenti dan menatap dua orang pria, yang berjalan berlawanan arah.
"Sittt.., pria itu lagi apakah dunia ini benar-benar sempit terkadang aku menyesal kembali ke sini," ucap Kanaya.
Cintya yang yang mendengar perkataan Kanaya hanya menghela nafas panjang, kemudian menatap kedua pria beda umur yang menuju kearahnya itu.
"Sudahlah Nay, ini sekolah Gerald tahan emosi mu, kasian Gerald jika melihat mu seperti ini," Ucap Kanaya.
"Aku tahu cin, aku juga curiga jika Gerald mengetahui siapa pria itu, dia mengatakan itu saat pria itu datang ke mansion Dad, tapi aku blm sempat bertanya padanya," ucap Kanaya dengan nada sendu.
"Gerald sangat pintar Nay, sayangnya dia tidak ingin mengikuti kelas akselerasi," Ucap Cintya.
"Ayo, anggap saja mereka tidak ada," ucap Cintya kemudian mereka pun berjalan tanpa menghiraukan kedua pri beda usia itu. saat mereka berpapasan Kanaya dan Cintya yang acuh melewati mereka kemudian Edward menghentikan langkahnya dan berseru.
__ADS_1
"Tunggu," ucap Edward. kedua pria beda usia itu adalah Edward dan juga Papinya Putra Kusuma. Kanaya yang tak mengacuhkan panggilan tersebut terus saja berjalan tanpa menoleh atau pun menghentikan langkahnya. kemudian Kanaya dan Cintya pun masuk kedalam ruangan wali kelas dan memanggil Gerald, kemudian Gerald pun menghampiri maminya.
"Ambil tas mu dan kita pulang," ucap Kanaya pada Gerald.
"But why mom?' tanya Gerald.
"Ikuti apa kata mami, mulai saat ini kau akan mengikuti kelas akselerasi ok," ucap Kanaya.
"Ok mam," ucap Gerald patuh.
"Maafkan mami nak, semua mami lakukan untuk kebaikan mu," ucap Kanaya.
"Bolehkah kita bicara sebentar?" tanya Edward yang telah berada di depan Kanaya.
"Bukankah kau sudah cukup bicara?" tanya Kanaya dingin dan tajam.
"Kita tidak bicara tetapi kau dan kakak mu memukuli ku," ucap Edward.
"Dan apakah itu masih kurang?" tanya Kanaya.
"Aku pikir itu cukup," ucap Edward dengan tajam.
"Tapi belum cukup bagi ku, bersyukurlah karena saat ini kau ada di sekolah ini jika tidak, wajah mu itu akan bertambah memar lagi," ucap Kanaya.
"Aku tahu kau membenci ku, dan kau melakukan segala cara untuk membuat ku jatuh," ucap Edward. Kanaya yang mendengar perkataan Edward hanya diam menatap tajam dan dingin mata Edward, seraya menaikkan sebelah alisnya dengan senyum mengejek.
"Pergilah tuan, jangan menganggu mami ku lagi," Ucap Gerald dingin wajahnya mendongak dan menatap tajam Edward.
Edward yang bagai terhipnotis mendengar suara Gerald menundukkan sedikit kepalanya dan menatap Gerald dengan penuh selidik.
"Wajahnya sangat mirip dengan ku," Ucap Edward.
"Apakah dia..? ah itu tidak mungkin bukankah saat itu aku menyuruhnya menggugurkan kandungannya?" tanya Edward dalam hati.
"Cin, bawa Gerald pergi dari sini," ucap Kanaya.
"No.. mam, aku sudah besar dan aku tahu apa yang terjadi, dan mami tidak perlu menutupinya dari ku," ucap Gerald dingin. matanya tak lepas memandang Wajah Edward dengan tatapan penuh kebencian.
Kanaya dan Cintya yang mendengar perkataan Gerald terlonjak kaget kemudian mereka pun menoleh kearah Gerald dan menatapnya tak percaya, Kanaya dan Cintya pun saling menoleh dan bertatapan seolah bertanya apakah kau mengatakannya pada Gerald.
kemudian Cintya menggendikkan bahunya serta menggelengkan kepala.
"Pergilah tuan, dan jangan mendekati mami ku lagi, jika kau melakukan itu lagi maka aku akan menghajar mu," ucap Gerald dengan dingin, mendengar perkataan Gerald dan tatapan dinginnya, serta matanya yang menyorot tajam padanya membuat dirinya terhenyak merasa bahwa dia melihat dirinya sendiri dalam diri anak kecil yang berada di hadapannya.
Setelah mengatakan itu Gerald pun menarik tangan maminya dan mengajaknya pergi dari sekolah itu. mereka pun berjalan meninggalkan Edward yang terpaku melihat ibu dan anak itu, pikirannya berkecamuk melihat semua gerakan Gerald, caranya berjalan, berbicara dan juga matanya yang tajam dan dingin.
"Apakah dia putra ku?" tanya Edward dalam hatinya. tak lama kemudian seseorang menepuk bahunya.
"Kau tahu, setiap perbuatan akan selalu ada akibatnya, kau merusak kehidupan seorang gadis dan sekarang kau akan hancur karena perbuatan mu sendiri, Papi hanya berharap kau bertanggungjawab padanya, seperti yang sudah ku katakan pada mu jika kau tidak mempertanggungjawabkan perbuatan mu, maka aku sendiri yang akan memberi mu pelajaran," ucap Putra Kusuma Papi Edward dengan tajam.
"Dan kau lihat, perempuan yang telah kau rusak itu sangat membenci mu sehingga apapun yang kau lakukan tidak akan mengubah apapun, jika kau laki-laki sejati kau akan menyadari semuanya," ucap Putra Kusuma. Kemudian berlalu meninggalkan Edward yang termenung berdiri melihat kepergian Papinya. tak lama kemudian Edward pun berlari menuju halaman parkir, sesampainya dihalaman parkir tersebut matanya pun berkeliling mencari sesuatu.
"Dimana mereka," ucapnya dalam hati.
__ADS_1
kemudian memasuki mobilnya dan melajukannya dengan kencang, berharap dapat menemukan Kanaya dan Gerald.
"Aku harus mencari tahu kebenarannya, aku tidak ingin terus-menerus dibayangi perasaan bersalah atas kejadian itu," Ucap Edward dalam hati, matanya mengedar dari dalam mobilnya berharap melihat Kanaya dan Gerald dalam sebuah mobil yang berlalu lalang, dan dapat menghentikannya dan berbicara dengan mereka.