Kesalahan Masa Lalu

Kesalahan Masa Lalu
Bab 76. Rumit


__ADS_3

Sore di mansion Kusuma. Edward menatap kedua orang tuanya dengan tatapan tak percaya.


"Mengapa kalian menutupi semua ini dari ku?"tanya Edward.


"Apakah kalian menyadari bahwa karena kalian menutupi semua ini membuat ku dan Kanaya menjadi korban dari mereka?"tanya Edward.


"Maafkan kami nak,"ucap Mami Edward menatap wajah putranya.


"Semua ini kami lakukan demi kebaikan mu,"ucap Mami Edward.


"Astaga aku tidak pernah menyangka semua yang terjadi berhubungan dengan kalian,"ucap Edward.


"Awalnya aku bingung dengan semua yang dikatakan oleh Mommy Lingga, aku memikirkannya selama berhari-hari dan mengingat dan menyulam semua kejadian dan aku mengambil kesimpulan bahwa semua yang terjadi benar terdapat keanehan, lalu aku mengingat semua yang di katakan Mommy Lingga dan aku berinisiatif bertanya pad kalian, dan jawabannya sungguh mengejutkan ku,"ucap Edward.


"Kami pun baru mengetahui semuanya ketika jumpa pers itu,"ucap Papi Edward.


"Maksud Papi?"tanya Edward.


"Banyak kejanggalan pada Jumpa pers itu,"ucap Papi Edward lalu berkata lagi.


"Maka dari itu Papi mengerahkan orang-orang terbaik Papi untuk menyelidikinya, dan dugaan Papi benar dan seperti cerita mu bahwa Lingga Bimantara mengatakan mereka hanya pion."


"Dan kemarin kami sudah berbicara dengan calon mertua mu dan juga Richard,"ucap Papi Edward.


"Richard?"tanya Edward.


"Apakah dia mengetahui semuanya?"tanya Edward lagi.


"Ya Richard mengetahui semuanya,"ucap Papi Edward.


"Itulah sebabnya mengapa Richard belum memiliki istri sampai hari ini, karena kedua orang tuanya mengharuskannya memiliki istri yang sangat tangguh dan cerdas,"ucap Papi Edward.


"Dan lagi yang bisa melindungi Kanaya,"ucap Mami Edward.


"Bagaimana kalian tahu tentang kriteria calon istri Richard?"tanya Edward.


"Tidak perlu mencari tahu, dengan semua latar belakang keluarganya cukup untuk mengambil kesimpulan seperti itu, seperti kami yang membiarkan mu bangkrut dan tak membantu mu sedikit pun, karena kami ingin mendidik mu agar lebih bertanggung jawab lagi, agar dapat menjadi pewaris kami,"ucap Papi Edward.


"Dan itulah sebabnya mengapa kami tidak pernah menyetujui kamu berhubungan dengan wanita itu, karena kami tahu wanita itu adalah wanita yang selalu haus akan materi dan juga sombong serta arogan,"ucap Mami Edward.


Edward hanya terdiam mendengar perkataan Maminya, benar yang dikatakan maminya mantan kekasihnya itu adalah seorang wanita yang arogan dan sangat angkuh serta haus akan kekuasaan dan harta serta memiliki banyak cara licik untuk meraih semuanya.


Itulah sebabnya dia memperlakukan Kanaya seperti itu hanya untuk menghindarkan Kanaya dari mantan kekasihnya Karena jika tidak seperti itu mantan kekasihnya yang saat itu adalah kekasihnya cepat atau lambat akan mengetahui tentang Kanaya. Tetapi ternyata tindakannya itu salah. Ingatan tentang masa lalu terlintas di benaknya. lalu Edward menggelengkan kepalanya menepis kenangan pahit itu karena sekarang dia sudah bersama Kanaya dan sebentar lagi mereka akan menikah.


"Kenapa semua jadi sangat rumit sih Pi?"tanya Edward


"Aku takut terjadi sesuatu pada putra ku, dia masih terlalu kecil dengan kepelikan masalah ini,"ucap Edward lagi.

__ADS_1


"Itulah yang kami takutkan,"ucap Mami Edward.


"Apakah Kanaya mengetahui semua ini?"tanya Edward.


"Tidak,"ucap Papi Edward.


"Kenapa mereka menutupinya dari Kanaya?"tanya Edward.


"Belum saatnya Kanaya mengetahui semuanya,"ucap Papi Edward.


"Bagaimana jika Kanaya mengetahui semua ini dengan sendirinya? apakah itu tidak membuatnya kecewa? kalian tahu bukan dia seperti apa?"tanya Edward.


"Deddy Bimantara dan juga Lingga Bimantara telah memikirkan semuanya,"ucap Papi Edward.


"Aku tahu latar belakang keluarga kita rumit tetapi aku tidak menyangka serumit ini, dan berhubungan dengan keluarga Bimantara,"ucap Edward.


"Dan sepertinya kalian memang di takdirkan untuk bersama sejak dulu,"ucap Mami Edward seraya tersenyum menatap wajah Putranya.


"Mungkin,"ucap Edward.


Kemudian teringat kisah peri kecilnya, Edward tersenyum mengingatnya saat Kanaya kecil memberikannya sebuah cincin buatannya sendiri dari rumput dan melingkarkan pada jari manisnya dan berkata.


"Saat ini aku melamar mu dan nanti kalau aku sudah dewasa kita akan menikah."


Edward tersenyum lebar mengingat Kanaya kecil.


"Kamu sudah gila ya?"tanya Mami Edward.


"Ish Mami tega banget bilangin anaknya gila,"jawab Edward.


"Hanya orang gila yang senyum-senyum sendiri,"ucap Mami Edward.


"Tau ah gelap,"ucap Edward.


"Berhati-hatilah kamu Ed, kamu mengerti kan maksud Papi?"tanya Papi Edward.


"Aku sangat mengerti Pi,"jawab Edward tersenyum smirk.


"Mereka belum tahu berhadapan dengan siapa,"ucapnya lagi. seulas seringai licik dan kejam terlihat di wajahnya.


...****************...


Jam di pergelangan tangan Kanaya menunjukkan pukul 4 sore. Kanaya keluar dari ruangannya berjalan menuju ruangan Cintya. Sesampainya di depan pintu, Kanaya membuka pintu tersebut dan berseru.


"Cin, pulang yuk."


"Masih sore Nay,"ucap Cintya seraya menatap Kanaya.

__ADS_1


"Kerjaan kamu sudah selesai kan?"tanya Kanaya.


"Udah nih,"jawab Cintya seraya membereskan Berkas-berkas yang ada di mejanya.


"Kalau selesai ngapain di kantor terus, mau nginep di ruangan kamu?"tanya Kanaya.


"Ogah banget, gini-gini aku juga punya rumah kali cin,"jawab Cintya.


"Makanya ayo pulang,"ucap Kanaya.


"Ayo,"ucap Cintya.


Kemudian mengambil tasnya lalu berjalan menghampiri Kanaya. Lalu mereka berjalan beriringan menuju lift.


"Kamu nginep di mansion Daddy aja ya,"ucap Kanaya.


"Boleh,"ucap Cintya.


Kemudian pintu lift terbuka lalu mereka memasuki lift, lalu pintu lift pun tertutup dan bergerak turun menuju lobby perusahaan. sesampainya di lobi mereka berjalan keluar menuju parkiran khusus CEO, dimana mobil Kanaya terparkir. Setelah membuka pintu mobil dan memasukinya, Kanaya melajukannya mobilnya menuju mansion.


"Kenapa ya, selama ini aku merasa selalu diikuti,"ucap Kanaya seraya melirik kaca spion mobilnya.


"Perasaan kamu aja kali Nay,"ucap Cintya.


"Mungkin juga sih, tapi akhir-akhir ini aku merasa seperti itu,"ucap Kanaya.


"Mungkin karena kamu sekarang di bawah pengawalan orang-orang Daddy kamu yang tak terlihat itu,"ucap Cintya.


"Entahlah,"ucap Kanaya.


"Positif thinking aja Nay,"ucap Cintya.


"Yupz kamu benar tetapi tetap aku harus waspada bukan?"tanya Kanaya.


"Kamu benar Nay, sekarang ini kamu harus selalu waspada dan jangan lengah sedikit pun,"ucap Cintya.


"Tapi aku yakin Edward pun akan melakukan sesuatu dia bukan tipe pria yang pengecut, bahkan jika aku lihat dari sikapnya dia memiliki sesuatu yang tidak pernah kita duga,"ucap Cintya.


"Aisshh kau ini semakin hari selalu saja membuat teka teki,"ucap Kanaya.


"Lah secara keluarga kalian di penuhi dengan teka teki,"ucap Cintya.


"Itu lagi yang dibahas, semua itu hanya Daddy dan Mommy yang bisa menjawabnya dan juga kak Richard. Mereka hutang penjelasan pada ku,"ucap Kanaya.


Tak terasa mereka pun sampai di mansion, setelah memarkirkan mobilnya Kanaya dan Cintya pun membuka pintu mobil lalu keluar dari mobil dan berjalan memasuki mansion.Langkah mereka terhenti ketika melihat dua orang wanita dan juga dua orang pria. Seorang wanita yang telah berumur duduk di sofa dengan anggun, dan seorang pria yang juga telah berumur rambutnya yang hampir semuanya memutih tak mengurangi kagagahannya, duduk di sofa dengan penuh kewibawaan. Mereka menatap Kanaya dengan seulas senyum tipis.


Sementara dua orang lainnya berdiri tegap wajahnya tanpa ekspresi sedikitpun. Lalu Kanaya menatap Daddy dan Mommy nya dengan tatapan penuh tanda tanya.

__ADS_1


__ADS_2