Kesalahan Masa Lalu

Kesalahan Masa Lalu
Bab 17. Keharmonisan Keluarga Bimantara


__ADS_3

Kanaya yang merasa sangat terpukul atas apa yang dialami oleh putranya hanya dapat memandang wajahnya sendiri didepan cermin, meja rias di kamarnya.


Didepan semua orang, terutama Daddy dan mommy nya Kanaya harus berpura-pura tegar tetapi sebenarnya di dalam hatinya, terasa hancur dan remuk, teringat kembali bagaimana dia harus berjuang di negara asing, dalam keadaan mengandung, berjuang menafkahi hidupnya demi bayi yang ada di dalam kandungannya.


Walaupun dia memiliki tabungan yang cukup untuk hidupnya dan juga bayinya, tetapi buatnya itu tidaklah cukup karena kehidupan akan terus berlanjut dan dia harus berjuang demi masa depan bayi yang ada di dalam kandungannya.


Dan juga Kanaya harus mampu mewujudkan impian orang tuanya yang menginginkan dia menjadi wanita yang sukses, menyandang sebuah nama keluarga yang memiliki nama tidaklah mudah.


Karena perbuatan bejad laki-laki itu impiannya hancur tak tersisa, tetapi ada sesuatu yang tak pernah disesalinya yaitu putranya yang diberi nama Gerald Bimantara.


Pertemuannya dengan Cintya di sebuah Restorant cepat saji membuatnya sangat bersyukur, bertemu wanita Indonesia yang memiliki nasib yang sama, menghilang dari keluarganya karena mengalami kepahitan, kehancuran, perbedaanya Kanaya menghilang demi menyelamatkan nama baik keluarga dari ulahnya walaupun dia tidak memiliki kesalahan apapun, sedangkan Cintya menghilang dari keluarganya karena dipaksa menikah dengan bandot tua demi bisnis dan kekuasaan semata.


Kanaya berusaha menepis semua kenangan masa lalu yang menyakitkan itu, tetapi tiba-tiba ingatannya kembali pada masa dimana tanpa sedikit pun menaruh rasa curiga meminum Juice itu, Laki-laki itulah penyebabnya.


"Aku harus mencari pria itu," Ucap Kanaya.


Kemudian dia pun mengeryitkan keningnya dan berkata lagi dalam hatinya.


"Bukankah kakak sudah memberi pelajaran pada pria itu?"


Kemudian Kanaya pun mengambil laptop yang ada diatas meja, dan menghidupkan laptop tersebut dengan lincah jemari tangannya menari diatas keyboard laptop tersebut.


Kanaya Bimantara, selain cantik dia pun memiliki keahlian yang tak diketahui oleh Daddy dan mommy nya, sehingga apapun yang dilakukan oleh kedua orang tuanya dan juga Kakaknya, saat dia menghilang mereka tak akan dapat menemukannya. Begitu pun saat dia berada di bandara. Saat membeli dua tiket Singapure dan Perancis, Kanaya sudah memperhitungkannya, dan saat tiba di Perancis dengan keahliannya itu Kanaya mampu membuat rute perjalanannya sendiri sehingga semua orang tak dapat menemukannya dinegara tersebut, mereka mengira bahwa Kanaya berada di tempat lain.


"Septiansyah Budiman," ucap Kanaya menggumamkan nama Pria pengaruh obat tidur di minumannya.


"Ternyata hotel nya itu adalah milik keluarganya, Ayahnya bernama Irwan Budiman dan waittt, hotel itu telah di beli oleh Richard Bimantara," gumam Kanaya.


"Kakak ternyata bergerak cepat juga," gumam Kanaya lagi. kemudian dia mematikan Laptopnya dan bangkit berdiri berjalan keluar dari kamarnya, menuju kamar Richard kemudian Kanaya mengetuk pintu dan terdengar suara dari dalam kamar tersebut.


"Masuk"


Kanaya pun membuka pintu tersebut dan memasuki kamar Kakaknya, lalu duduk disofa yang ada di dalam ruangan kamar kakaknya dengan santai Kanaya berkata.


"Tumben masih sore udah pulang," ucap Kanaya seraya menatap Kakaknya yang berbaring malas di sofa panjangnya.


"Udah jam 5 sore ini princess," ucap Richard seraya menatap adik kesayangannya.


"Biasanya malem tuh pulangnya," ucap Kanaya seraya mencibir pada Richard.


"Astaga princess, kau ingin lihat kakak mu tiap hari kerja rodi kayak jaman Jepang dulu," ucap Richard seraya bangkit dari sofa, menghampiri Kanaya dan mencubit kedua pipi Kanaya dengan tangannya.


"Aisss, adik kakak ini tambah cantik aja," ucap Richard seraya mengedipkan matanya menggoda Kanaya, dan melepaskan cubitannya dari kedua pipi Kanaya.


"Gombalan mu itu kak, gak berubah dari dulu," ucap Kanaya seraya mendelikkan matanya.


"Apa yang kakak lakukan pada pria yang memasukkan obat tidur kedalam minuman ku?" tanya Kanaya tanpa basa-basi.


"Aku memotong ***********," Ucap Richard dengan santai seraya mendudukkan tubuhnya di sofa.


"Dan membeli hotel itu bukan?" tanya Kanaya seraya memperhatikan kuku-kuku jarinya.


"Kakak tidak perlu heran dari mana aku tahu," ucap Kanaya lagi.


Richard menatap adiknya penuh selidik, kemudian berkata.

__ADS_1


"Dia dan keluarganya sudah aku asingkan ke suatu tempat yang tak bisa di jangkau oleh orang lain, dan telah aku jadikan budak Tampa bayaran sedikit pun, aku menghabisi perusahaan mereka sehingga mereka tak memiliki apapun," ucap Richard seraya menyeringai licik.


"Dan adik perempuannya aku jadikan wanita penghibur di sebuah club' malam," ucap Richard lagi.


mendengar perkataan Richard Kanaya menatap kakaknya tajam.


"Adiknya tidak bersalah," ucap Kanaya seraya menatap tajam kakaknya


"Dia ikut bersalah karena memiliki kakak seperti laki-laki brengsek itu, dan semua yang ku lakukan belumlah cukup, aku, mommy, Daddy, berduka selama 10 tahun hidup kami suram setiap malam aku melihat mommy menatap foto mu dan menangis terisak, setiap malam aku melihat Daddy di kamar mu berdiri memandang foto mu dan setiap hari Kamis mencari mu, tetapi kami tak menemukan mu," ucap Richard dengan nada sendu seraya menatap adiknya.


"Cahaya rumah ini hilang karena perbuatan bajingan itu, masih mending aku tidak menghabisinya dan keluarganya," ucap Richard.


"Dan sekarang kau sudah kembali bersama keponakan ku, cahaya rumah ini telah kembali tetapi senyum dan keceriaan di wajah mu telah hilang," ucap Richard lagi seraya menghela nafas, menatap wajah adiknya.


adiknya yang memiliki wajah yang cantik yang selalu tersenyum ceria, berteriak memanggilnya, ketika pagi datang menjemput rumah keluarga Bimantara dengan tertawa ceria menuruni anak tangga dengan berlari seraya berteriak


"Good morning mom, Good morning Dad, God morning kakak ku yang ganteng tapi jomblo" keceriaan dan teriakan di pagi hari itu sudah tidak adalagi, yang ada hanya senyuman kecil, wajah yang dingin, tatapan tajam. dalam hati Richard merindukan semua itu.


"Maafkan aku kak," ucap Kanaya dalam hatinya.


"Waktu yang telah mengubah keadaan saat itu aku masih remaja dan sekarang aku telah dewasa dan memiliki seorang putra, aku tidak mungkin melakukan itu lagi, apa yang akan dikatakan putra ku jika aku bertingkah laku seperti anak kecil lagi?" ucap Kanaya seraya tersenyum lebar pada kakaknya Richard yang melihat adiknya tersenyum lebar terpana menatapnya.


"Senyum itulah yang kami rindukan Nay," ucapnya dalam hati.


"Berjanjilah pada kakak, jangan pergi lagi," ucap Richard seraya menatap adiknya.


"Aku berjanji kak, apapun yang terjadi Nay tidak akan pergi dari rumah ini lagi," Ucap Kanaya.


"Kita satu keluarga terlepas dari siapa kita, setiap permasalahan pasti ada jalan keluarnya, dan bukankah kau tahu dari dulu keluarga kita tidak pernah menganggap status sosial kita adalah yang paling penting bukan?" tanya Richard


"Kita tidak pernah meminta untuk dilahirkan di keluarga mana dan dari keluarga siapa, kita memiliki segalanya karena Tuhan telah menakdirkan kita hidup dan tinggal di keluarga kita ini, jadi berhentilah merasa bersalah karena masa lalu mu," ucap Richard dengan penuh kebijakan.


"Maafkan Nay kak," ucap Kanaya seraya bangkit berdiri berjalan menghampiri kakaknya kemudian duduk dan memeluk kakaknya, mereka pun saling berpelukan kemudian terlintaslah dalam ingatan mereka masa-masa kecil mereka, mereka bermain bersama anak-anak pelayan, mereka bermain bersama anak-anak Panti, mereka bermain di taman, kedua orang tua mereka tak pernah memandang seseorang dari status sosialnya walaupun mereka berasal dari keluarga konglomerat, tetapi orang tua mereka mengajarkan untuk memberi pada yang membutuhkan, bermain tanpa ada halangan dengan jati diri mereka. Kemudian kedua kakak beradik itu pun melepaskan pelukan mereka dan tertawa bersama mengingat masa kecil mereka yang sangat indah.


"Kita bukan orang sombong seperti teman mu itu", Ucap Richard dan Kanaya bersamaan. kemudian mereka pun tertawa lepas mengenang masa kecil mereka.


"Im so lonely broken Angel


"Im so lonely listen to my heart


Dering ponsel Kanaya berbunyi, kemudian Kanaya melihat identitas penelpon ternyata Cintya sahabat sekaligus Asistennya.


"Hallo cin," sapa Kanaya.


"Hallo Nay, aku sudah menemukan pemilik sekolah Gerald, Putra Kusuma," Ucap Cintya.


"Dan aku rasa Putra Kusuma sengaja mempertemukan Kalian," ucap Cintya.


"Sepertinya Putra Kusuma merencanakan sesuatu," Ucap Kanaya dengan dingin.


mendengar Nama Putra Kusuma Richard menoleh pada Kanaya dan menatapnya dengan pandangan penuh tanda tanya.


"Makasih cin," ucap Kanaya seraya menutup telponnya tanpa menunggu jawaban Cintya.


"Ada apa?" tanya Richard.

__ADS_1


Kanaya menceritakan kejadian di sekolah Gerald tanpa ada yang ditutupinya.


"Sittt, mereka semakin kurang ajar," ucap Richard dengan geram seraya mengambil handphonenya yang tergeletak diatas meja, kemudian menekan sebuah nomor.


"No..., kak, mereka adalah bagian ku," ucap Kanaya seraya menyeringai licik.


"Tapi Nay," ucap Richard.


"No kak, aku sudah katakan jangan mereka bagian ku," ucap Kanaya mengulangi perkataannya.


"Ok,tapi ingat, jika membutuhkan bantuan kakak, kamu katakan pada kakak ok," ucap Richard.


"Ok kak, i promise," ucap Kanaya. kemudian bangkit berdiri dan berjalan keluar dari kamar kakaknya, Richard hanya memandang punggung adiknya hingga menghilang dari penglihatannya, kemudian matanya pun beralih dan menghubungi seseorang.


"Hallo," ucap Si Penerima telpon.


"Awasi adik ku, jangan sampai terjadi sesuatu padanya, dan ingat jangan sampai dia tahu," ucap Richard seraya menutup telponnya tanpa menunggu jawaban.


Keesokan paginya Kanaya telah tampil cantik dengan pakaian kerjanya, kemudian menuruni anak tangga menuju ruangan makan, di ruang makan tersebut, Kedua orang tuanya, kakaknya serta Putranya telah duduk di kursi meja makan mereka tertawa, bercanda bersama, tiba-tiba mommy nya menoleh kearah Kanaya yang menghampiri mereka.


"Tumben kesiangan Nay," tanya mommy Lingga.


"Iya Nih mom," ucap Kanaya seraya duduk di kursi meja makan dan mengambil roti serta mengolesnya dengan selai strawberry kesukaannya.


"Gerald,mommy akan mendaftarkan mu di sekolah akselerasi," ucap Kanaya.


"No mom, aku ingin sekolah seperti anak-anak lain," ucap Gerald menatap mommy nya dengan penuh harap.


"Tapi nak," ucap Kanaya sebelum meneruskan perkataannya Daddy Ded telah menyela perkataan Kanaya.


"Biarkan dia menentukan pilihannya Nay," ucap Daddy Ded tegas.


"Dia berhak menentukan hidupnya sedari sekarang, masa depannya ada ditangannya bukan ditangan orang tuanya, yang menjalani hidupnya adalah Gerald bukan kamu Nay, kamu hanya mengawasinya saja," ucap Daddy Ded dengan tegas seraya menatap Kanaya tajam.


Kanaya yang mendengar perkataan Daddy nya dengan nada dan tatapan seperti itu, siapapun itu akan sulit membantah ucapan Daddy nya, termasuk mommy, kakaknya dan juga dirinya sendiri.


"Bolehkah aku meminta satu permintaan lagi mam?" tanya Gerald.


"Katakanlah," ucap Kanaya.


"Bolehkah aku sekolah disekolah biasa?" tanya Gerald.


Semua mata memandang Gerald dengan heran dengan tatapan takjub.


"Why?" tanya Daddy Ded.


"Aku hanya ingin berbaur dengan mereka Opa, selama ini aku selalu sekolah di sekolah mewah aku muak dengan mereka yang selalu memamerkan kekayaan orang tua mereka dan keluarga mereka," ucap Gerald geram.


"Aku tidak menyukai itu," ucap Gerald lagi seraya menatap Opanya.


"Kau tahu Nay, sifat mu itu menurun pada Putra mu," ucap Daddy Ded seraya tertawa menatap Kanaya.


"Dan kau jangan membantahnya karena kau pun seperti itu," ucap Daddy Ded.


Ingatannya melayang saat Kanaya memintanya untuk mendaftarkannya di sekolah biasa. kemudian Daddy Ded tertawa lepas. itulah keluarga Bimantara walaupun mereka keluarga konglomerat tetapi mereka tidak pernah memandang status sosial seseorang, dan memberikan kebebasan pada anak dan cucu mereka, keluarga yang harmonis jauh dari gosip, membuat rekan bisnis dan yang mengetahui keluarga mereka sangat iri, memiliki kekayaan yang tak terhitung oleh jari, memiliki istri cantik, anak-anak yang pintar.

__ADS_1


Hingga saat dimana Cahaya dari keluarga itu meredup karena hilangnya princess dalam rumah mereka. Dan sekarang rumah itu telah kembali, dan bertambah bercahaya dengan hadirnya seorang cucu laki-laki anak dari Kanaya. mata Daddy Ded memandang kedua putranya dan juga cucunya, dalam hatinya berkata.


"Kebahagian ku sudah lengkap saat ini,"


__ADS_2