
Mendengar ancaman Cintya, Edward hanya menatap wajah Cintya dengan tatapan tegas dan dingin seolah mengatakan padanya.
"Kau akan melihatnya nanti." Tak lama kemudian seorang pelayan restaurant menghampiri mereka membawa nampan berisi pesanan mereka, setelah menyajikannya, diatas meja pelayan tersebut berkata.
"Silahkan dinikmati tuan-tuan dan nona-nona,"lalu melangkahkan kakinya meninggalkan meja Kanaya.
"Kayaknya lebih enak makan pake tangan deh,"ucap Kanaya, kemudian mencuci tangannya dalam kobokan wadah kecil.Lalu menyantap makanannya dengan nikmat. Melihat Kanaya makan memakai tangan, Cintya, Richard dan juga Edward mengikutinya.
"Bener ya, makan pake tangan lebih nikmat,"ucap Edward, seraya tersenyum menatap Kanaya.
"Aaah,"ucap Richard Edward seraya mengulurkan tangannya ke depan mulut Kanaya untuk menyuapinya.
Kanaya menatap Edward lalu membuka mulutnya, menerima suapan dari tangan Edward.
"Enak kan?"tanya Edward.
"Hemm, kebanyakan nyuapinnya,"ucap Kanaya.
"Gak apap-apa biar kamu gendut,"ucap Edward.
Mendengar perkataan Edward Kanaya tersedak dan menatap Edward.
"Enak aja kamu, ogah aku gendut,"ucap Kanaya seraya mendelik.
"Gak apa-apa bagus, jadi tambah cantik,"ucap Edward.
"Ogah,"ucap Kanaya seraya mencebikkan bibirnya kearah Kanaya.
"Gak apa-apa sayang, supaya gak banyak laki-laki yang liatin kamu,"ucap Edward.
"Hadeuhhhh, kau mau adik ku gendut dan gak ada cowok yang ngejar dia lagi, bilang aja kamu cemburu Ed, susah amat ngomongnya."ucap Richard ketus lalu bicara lagi.
"Dan asal kamu tahu ya, adik aku tuh dari dulu makan sebanyak apapun tetap aja badannya segini,"ucap Edward.
"Kalian ini mau makan apa mau berantem sih?"tanya Kanaya seraya menggelengkan kepalanya.
Setelah selesai makan siang, dan membayar tagihan, mereka pun keluar dari restaurant tersebut. Kembali ke perusahaan Kanaya.
...****************...
Waktu pun terus berjalan, tak terasa satu Minggu sudah kedua keluarga menyiapkan persiapan pernikahan Kanaya dan Edward, kedua orang tua mereka sangat sibuk menyusun semua rencana mulai dari undangan, WO, dekorasi hotel, dan semua yang berhubungan dengan pernikahan.
Minggu jam 4 sore saat Kanaya bersantai bersama putranya Gerald. Kedua orang tua Edward dan juga Edward berkunjung ke mansionnya.
__ADS_1
"Sayang,"ucap Edward seraya duduk di sofa sebelah Kanaya, kemudian mengecup Pipinya. Gerald pun bangkit berdiri, mengulurkan tangannya dan Salim kepada kedua orang tua Edward dan juga Papinya, begitu pun dengan Kanaya menghampiri kedua orang tua Edward lalu mengulurkan tangannya dan mencium tangan mereka.
"Daddy dan Mommy mu kemana Nay?"tanya Papi Edward.
"Ada Om di belakang,"ucap Kanaya.
"Aku panggilin,"seru Gerald seraya bangkit berdiri lalu berlari menuju halaman mansion memanggil Oma dan Opanya.
"Kalian udah pesen cincin?"Tanya Mami Edward.
"Udah Mam,"ucap Edward dengan santainya.
"Kapan?"tanya Kanaya.
"Perasaan kita belum ke toko perhiasan deh,"ucap Kanaya lagi.
"Pokoknya udah, ntar kita tinggal ambil aja,"ucap Edward seraya tersenyum simpul.
"Bagaimana kalau aku gak suka modelnya dan juga ukurannya kekecilan,"ucap Kanaya.
"Kamu pasti suka dan gak mungkin kekecilan atau kebesaran,"ucap Edward seraya meraih tangan Kanaya dan memperhatikan jari jemarinya yang lentik.
"Bukankah cincin ini pas di tangan mu?"tanya Edward.
"Serah deh ah,"ucap Kanaya.
"Awas aja kalau pas hari H nya cincin mantu ku kekecilan,"ucap Mami Edward seraya menatap tajam Edward.
"Wah ada besan,"ucap Mommy Lingga, lalu menghampiri Mami Edward, mereka pun berpelukan, begitu pun Daddy Ded menghampiri calon besannya lalu memeluk Papi Edward dan menyalami mami Edward.
"Gimana Jeng persiapan undangannya?"tanya Mami Edward.
"Beres Jeng, desainnya sudah saya serahkan pada percetakan dan tiga hari lagi selesai,"ucap Mommy Lingga.
"Ini yang mau jadi penganten santai aja, bagaimana dengan baju pengantin kalian?"tanya mami Edward.
"Kalian besok harus ke butik buat pengukuran baju pengantin kalian, di butik langganan Mami,"ucap Mami Edward.
"Gak perlu Tante, aku udah pesen kok, besok kami akan ke sana,"ucap Kanaya seraya tersenyum menatap Calon mertuanya, lalu berkata lagi.
"Untuk seragam keluarga pun sudah beres besok akan ada pegawai butik yang datang ke mansion untuk pengukuran baju, dan mengenai desainnya kalian bisa pilih sendiri."
"Kapan kamu pesan sayang?"tanya Edward seraya menatap Kanaya.
__ADS_1
"Dua hari yang lalu, aku lupa kasih tahu kamu, kalau kita harus ke butik buat fitting baju pengantin,"ucap Kanaya.
"Butik mana Nay?"tanya Mami Edward.
"Miracle Butik Tan,"ucap Kanaya.
"Waw itu butik langganan Mami, dan Mami udah ada janji sama kepercayaan desainernya."ucap Mami Edward.
"Tapi sayangnya mami gak pernah ketemu dengan desainernya soalnya desainernya berada di Perancis,"ucap Mami Edward
"Dan nggak ada yang tahu wajahnya seperti apa, soalnya setiap pegelaran busana wajahnya selalu memakai topeng,"ucap Mami Edward lagi. Mendengar perkataan maminya Edward ingat dengan Kanaya yang selalu memakai topeng lalu menolehkan wajahnya pada Kanaya.
Sementara itu Daddy dan Mommy Kanaya hanya tersenyum simpul mendengar perkataan Mami Edward yang sangat antusias membicarakan Desainer kondang tersebut yang sebenarnya ada di depannya.
"Bagaimana jika jeng Narindra mengetahui jika menantunya itu yang menjadi Desainer kondang idolanya, hehehehe..., tambah heboh dia,"ucap Mommy Lingga seraya tertawa kecil dalam benaknya.
"Udah jeng kalau masalah gaun pengantin serahin aja sama Kanaya, dia ngerti kok masalah gaun,"ucap Mommy Lingga seraya tersenyum penuh arti.
"Baiklah kalau begitu, dan ingat Nay, kamu gak boleh cape,"ucap Mami Edward seraya menatap Kanaya.
"Iya mam,"ucap Kanaya seraya tersenyum menatap wajah Calon mertuanya.
"Bagaimana dengan MUA?"tanya Mami Edward.
"MUA juga beres,"ucap Kanaya.
"Sepertinya semuanya sudah beres tinggal mengantar undangan saja,"ucap Mami Edward.
"Dan kurirnya pun telah siap,"ucap Mommy Lingga.
"Ok, baiklah sepertinya semua sudah beres dan tinggal menunggu hari H saja,"ucap Daddy Ded.
"Aku sudah gak sabar nunggu hari pernikahan Edward dan Kanaya,"ucap Mami Edward.
"Aku juga sama Jeng,"ucap Mommy Lingga.
kemudian mereka pun mengobrol dan tertawa bahagia, menantikan hari pernikahan anak-anak mereka, sementara itu Gerald yang bersama mereka, hanya memainkan game handphonenya. Tak perduli dengan apa yang di katakan ole para orang dewasa, sesekali wajahnya melihat Kedua Opa dan kedua Omanya, lalu Papinya dan juga Maminya, lalu tersenyum dan kembali memperhatikan permainan yang ada di handphonenya.
Sementara itu di sebuah rumah mewah dimana Eden tinggal, merasa sangat geram mengetahui rencana pernikahan Kanaya dan Edward, Eden merasa bahwa hanya dialah yang cocok menjadi pendamping Kanaya.
"Tidak akan aku biarkan kalian menikah,"ucapnya.
"Kalian akan lihat apa yang bisa aku lakukan,"ucapnya seraya tersenyum licik.
__ADS_1