
"Bukankah itu Kak Richard," ucap Kanaya dalam hati, langkahnya tiba-tiba terhenti, matanya menyelidik wajah tampan yang berjalan mendekat kearah mereka.
"Gerald duduklah di sofa itu," ucap Kanaya lembut seraya tangannya menunjuk sofa yang ada di lobi perusahaanya.
"Mami akan ke toilet sebentar, tunggulah disana," ucap Kanaya lagi.
"Ok mam," ucap Gerald
"Selamat Pagi nona Jeni," Ucap Richard, seraya menyalami Jeni.
"Pagi Tuan Richard," ucap Jeni.mata Richard mengedar segala arah di ruang lobi perusahaan, seolah mencari sesuatu, kemudian matanya bersirobok dengan mata seorang anak yang berada di sebelah Jeni, empat mata saling bertemu dan memandang, kemudian Gerald melangkah pergi menuju sofa lobi. seolah ada magnet yang menuntunnya Richard pun mendekati Gerald dan duduk di sebelahnya, Gerald yang sedang asik dengan handphonenya, merasa terusik matanya menatap tajam pria dewasa yang ada di sebelahnya. mendapatkan tatapan tajam dari seorang anak kecil, Richard tersenyum seraya berkata.
"Hai..,ucap Richard.
"Anda siapa?" tanya Gerald
"Maaf aku tidak diperbolehkan bicara dengan orang asing oleh mami ku," ucap Gerald. seraya bangkit berdiri dari kursinya.
Sementara itu, Kanaya yang berada di toilet wanita, menatap wajahnya melalui cermin toilet.
"Mengapa kita harus bertemu seperti ini kak? maafkan aku, yang harus melakukan semua ini," ucap Kanaya.
"untuk saat ini aku harus menghindar, sampai aku siap menemui mereka, maafkan Nay Mom, Dad," ucap Kanaya. kemudian mengambil Handphonenya dari tasnya dan menghubungi putranya.
setelah menghubungi putranya Kanaya pun keluar dengan tergesa tetapi terkesan tenang berjalan menuju halaman parkir.
"Tunggu," ucap Sebuah suara.
"Itu suara kak Richard, aku harus tenang dan pura-pura tak mendengarnya," ucap Kanaya dalam hati.
"Nona," Seru Richard mengejar Kanaya yang sedang berjalan.
"Maaf nona, ini handphone anda terjatuh," ucap Richard seraya memegang tangan Kanaya.
Raut wajah Kanaya di penuhi dengan mendung, merasakan pegangan tangan kakaknya, kemudian dengan cepat Kanaya menetralkan wajahnya agar terlihat tenang, lalu membalikkan tubuhnya, matanya menatap tangan Richard yang memegangnya.
"Maaf nona anda berjalan sangat cepat dan terpaksa saya mengejar dan memegang tangan anda,' ucap Richard seraya melepaskan tangannya.
Kanaya hanya menganggukkan kepalanya dan mengambil handphonenya dari tangan Richard.
"Terima Kasih," ucap Kanaya seraya beranjak pergi dari hadapan Richard.
mendengar suara Kanaya Richard tertegun,
"Suara itu, seperti suara princess ku," Ucap Richard kemudian dengan langkah lebar Richard mengejar Kanaya, Kanaya yang mengetahui itu bergegas mengemudikan mobilnya dari parkiran khusus CEO.
"Maafkan Nay kakak," ucap Kanaya dalam hatinya.
Gerald yang berada di samping maminya, menatap Kanaya dengan penuh tanda tanya.
"Mami kenapa terlihat sedih?" tanya Gerald.
"Gak apa-apa kok, mami hanya sedikit lelah," ucap Kanaya seraya membuka topengnya.
"Benarkah?" tanya Gerald.
__ADS_1
"Benar," ucap Kanaya seraya menoleh sesaat pada Gerald, Kanaya tahu putranya memiliki sifat yang tidak mudah percaya pada orang lain, termasuk pada maminya sendiri.
sepanjang perjalanan menuju sekolah Gerald, Kanaya hanya diam tanpa sepatah kata. Tak lama kemudian, mereka pun sampai di sekolah Gerald, Sebuah Sekolah elite hanya anak-anak dari kalangan atas lah yang mampu masuk di sekolah itu, Sekolah Internasional yang berdiri dengan megah, dan memiliki kualitas dan standar yang tinggi. setelah menyelesaikan pengurusan sekolah putranya Gerald, Kanaya kembali melajukan mobilnya kemudian berhenti di sebuah butik ternama di kota Jakarta.
"Selamat datang di butik kami nyonya," ucap Seorang pegawai butik menghampiri Kanaya dan Gerald.
"Terima kasih," ucap Kanaya matanya menjelajahi ruangan butik tersebut.
"Ada apa dengan pelanggan itu?" tanya Kanaya seraya menunjuk seorang pelanggan wanita yang sedang memarahi seorang pegawai butik.
"Pelanggan itu bernama Nyonya Amelia, setiap datang ke butik ini dia akan selalu seperti itu dan selalu saja memarahi karyawan disini," ucap pegawai tersebut
"Apa penyebabnya?" tanya Kanaya.
"tidak puas dengan pelayanan kami, atau komplen tentang gaun-gaunnya," ucap pegawai butik. setelah mendengarkan penjelasan pegawai butik, Kanaya menghampiri pelanggan butik yang bernama nyonya Amelia.
"Dasar kau pelayan tidak becus," ucap Nyonya Amelia.
"Maaf nyonya," ucap pegawai butik seraya menundukkan kepalanya.
"Kau tidak perlu meminta maaf padanya," ucap Kanaya dingin seraya menatap tajam nyonya Amelia.
"Kau siapa? berani-beraninya kau berbicara pada ku," ucap Nyonya Amelia.
"wanita seperti anda adalah wanita yang selalu berpura-pura kaya, mencari-cari kesalahan seseorang dan saya yakin ujung dari keributan yang anda lakukan adalah meminta potongan harga dari gaun yang anda pegang itu, bukankah seperti itu nyonya?" ucap Kanaya dingin dan tajam.
"Kau beraninya mengatakan itu pada ku? kau tidak tahu siapa aku sebenarnya," ucap nyonya Amelia dengan angkuhnya seraya mendongakkan kepalanya dengan sombong.
"Jika dilihat dari penampilan anda yang norak dan wajah anda yang bermake-up tebal, sepertinya anda orang kaya baru atau baru saja mendapatkan lotre," ucap Kanaya dengan nada mengejek.
Kanaya memandang sekilas telunjuk nyonya Amelia kemudian menatap wajahnya dengan tajam, seraya berkata.
"Turunkan telunjuk anda nyonya, atau akan kupatahkan telunjuk itu, aku paling tidak suka dengan wanita sombong seperti mu yang selalu saja memandang rendah seseorang," ucap Kanya dengan nada dingin dan menatap tajam mata nyonya Amelia.
"Akan aku ingat hinaan mu," ucap nyonya Amelia seraya menurunkan tangannya, kemudian melangkahkan kakinya beranjak pergi dari hadapan Kanya dan pegawai butik.
"Nyonya, gaun yang anda bawa itu lebih baik anda membayarnya terlebih dahulu di kasir, sebelum polisi datang menangkap mu," seru Kanaya dingin.
Nyonya Amelia memandang kedua tangannya dan dengan perasaan dongkol dan malu serta wajah yang memerah, menghampiri meja kasir dan membayar tagihan gaun itu.
"Cihh.., dasar wanita sombong, aku jadi tak mendapatkan potongan harga dari gaun ini," Ucap Nyonya Amelia dalam hati.
"Terima kasih nyonya," ucap pegawai butik seraya menundukkan kepalanya pada Kanaya.
"Lain kali jika ada pelanggan seperti itu, usir keluar aku tidak ingin butik ini mendapatkan pelanggan seperti dia," ucap Kanaya dingin pada pegawai tersebut.
"Panggilkan manajer mu kesini,"ucap Kanaya lagi.
"Maaf nyonya, manajer kami sedang berada di ruangannya bersama dengan tamu butik ini," ucap Pegawai tersebut.
"Baiklah aku akan menunggu," ucap Kanaya seraya berjalan bersama Gerald putranya menuju sofa yang ada di butik tersebut.
Tak lama kemudian Manajer butik pun keluar dari ruangannya bersama seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik di usianya yang tak lagi muda, kemudian seorang pegawai butik menghampiri mereka dan membisikkan sesuatu, Manajer butik dan tamunya menoleh ke arah Kanaya, secara bersamaan.
"Nyonya Kanaya," seru Manajer tersebut dengan terkejut, seraya menghampiri Kanaya.
__ADS_1
"Apakah dia Kanaya ku?" tanya wanita paruh baya itu dalam hatinya seraya terus menatap wanita yang duduk di sofa butik, tatapan matanya menyelidik dari atas kebawah.
"Ya benar dia Kanaya putri ku, aku yakin itu," Ucap Mommy Lingga.
"Kanaya.., kamu Kanaya mommy kan?" tanya mommy Lingga, menatap Kanaya yang duduk di sofa itu.
Kanaya yang mendengar suara mommy yang dirindukannya itu, sontak terkejut dan menoleh pada mommy nya.
"Kanaya," seru mommy Lingga kemudian mendekat pada Kanaya kedua tangannya memegang wajah Kanaya.
"Kau putri ku," ucap mommy Kanaya, seraya terisak pilu penuh kerinduan. kemudian memeluk Kanaya dengan erat.
"Jangan tinggalin mommy lagi, jangan pergi lagi, mommy mohon nak," ucap Mommy Lingga, seraya terisak.
"Mommy, maafkan Nay, mom, maaf," ucap Kanaya seraya memeluk mommy nya.
"Kamu kemana saja nak?" tanya mommy Lingga seraya melepaskan pelukannya dan menatap wajah Kanaya yang bersimbah air mata.
"Panjang ceritanya mom, aku terpaksa melakukan ini, maafkan Nay, mom maaf," ucap Kanaya seraya duduk dan sujud di kaki mommy nya meminta pengampunan pada mommy Lingga.
"Berdiri Nay, jangan seperti ini, berdiri lah sayang," ucap Mommy Lingga seraya membangunkan Kanaya agar berdiri, kemudian mereka berpelukan dengan erat.
Mami," ucap Gerald yang bingung menyaksikan semuanya.
Kemudian mommy Lingga melepaskan pelukannya dan melihat Gerald.
"Apakah dia cucu mommy?" tanya Mommy Lingga.
"Ya mom," ucap Kanaya seraya mengangguk.
Mendengar ucapan Kanaya mommy Lingga menatap wajah Gerald, kemudian memeluknya dengan erat.
"Kamu sangat tampan, maafkan Oma yang tidak tahu akan keberadaan mu," ucap Mommy Lingga seraya terisak hiks hiks hiks.
"Sudahlah Oma jangan menangis, sekarang aku sudah ada di depan mu," Ucap Gerald seraya melepaskan pelukan Omanya, kemudian tangannya menghapus air mata mommy Lingga dengan kedua tangannya.
"Berhentilah menangis Oma, jika tidak maka aku akan pergi lagi dari Oma," ucap Gerald.
"No..., Oma akan berhenti menangis,"ucap Mommy Lingga.
semua pegawai yang menyaksikan adegan itu ikut terharu, dan meneteskan air mata, tak lama kemudian Manajer Butik menghampiri Kanaya.
"Nyonya, maafkan saya, saya tidak tahu jika anda akan datang ke butik," ucap Manajer butik.
"Its ok, aku akan kembali lagi nanti," ucap Kanaya seraya mengajak mommy nya pergi dari butik.
"Ceritakan pada mommy apa yang terjadi Nay?" tanya mommy Lingga sesampainya mereka di apartemen Kanaya.
"Gerald pergilah istirahat di kamar mu nak," ucap Kanaya.
"Ok mam, aku tahu, aku tidak diperbolehkan mendengar pembicaraan orang dewasa," ucap Gerald seraya bangkit berdiri dari sofa dan berlalu menuju kamarnya.
seraya menghela nafas panjang Kanaya menceritakan semua yang terjadi sampai dia pergi meninggalkan Jakarta.
"Astaga nak, kenapa kamu berpikiran sempit seperti itu?" tanya mommy Lingga, kami mencari mu selama 10 tahun bahkan kakak mu tidak ingin menikah sebelum menemukan mu, Daddy mu setiap hari merenung memandang foto mu, semua orang kami kerahkan untuk mencari mu, kami menemukan mobil mu di pinggir jalan, kami menemukan informasi bandara mengenai keberangkatan mu ke Singapura dan juga Perancis tetapi kami tidak menemukan mu di dua negara itu," ucap Mommy Lingga dengan sendu dan berurai air mata.
__ADS_1
"Dan yang kami takutkan pun terjadi nak, saat kami menemukan alat test kehamilan di keranjang sampah mu di kamar mandi, kami takut kamu mengugurkan kandungan mu, atau kamu mengakhiri hidup mu, atau kamu hidup terlunta-lunta di jalanan," ucap mommy Lingga teringat 10 tahun yang Lalu betapa paniknya mereka mengetahui putri satu-satunya meninggalkan rumah dengan keadaan hamil tanpa suami.