
Sesampainya Richard dan Edward di depan kamar Kanaya. Richard pun memberikan kotak nasi beserta air mineral kepada para orang tua.Sedangkan Edward memasuki kamar Kanaya.
"Daddy dan mommy makanlah," ucap Richard.
"Tuan dan nyonya Kusuma anda juga makanlah," ucap Richard lagi.
"Terima kasih nak," ucap Mereka kemudian mereka pun membuka kotak nasi tersebut dan menyantapnya.
"Gerald ini Papi membelikan mu makanan, kamu makan dulu ya," ucap Edward.
"Aku tidak lapar," ucap Gerald.
"Yakin kamu nggak lapar? Papi belikan kamu seafood dan juga Udang tempura,"Ucap Edward. Mendengar seafood dan udang tempura, Gerald pun menolehkan kepalanya, menatap kotak makanan, Edward yang melihat mimik Gerald kemudian mendekatinya dan dengan tangan yang memegang sendok makan, Edward pun menyuapi Gerald.
"Aaa.., kamu harus makan," ucap Edward. Gerald pun membuka mulutnya dan menerima suapan dari Edward.
"Inikah rasanya menjadi seorang Papi?" Tanya Edward dalam hati.
"Terima kasih ya Tuhan, aku bisa merasakan saat ini menjadi seorang Papi yang sesungguhnya." ucap Edward.
"Aku akan makan sendiri," ucap Gerald.
"Biarkan Papi menyuapi mu," ucap Edward.
"Aku sudah besar, aku tidak perlu disuapi," ucap Gerald.
"Papi tahu kamu sudah besar, tetapi biarkan Papi melakukan yang seharusnya Papi lakukan sepuluh tahun yang lalu,"Ucap Edward.
Kemudian menyuapi kembali Gerald kedua matanya menatap wajah putranya.
Setelah selesai makanan Gerald habis, Edward pun melangkahkan kakinya membereskan kotak makanan yang telah kosong, lalu mengambil satu kotak lagi dan membukanya, kemudian Edward mulai menyiapkan makanan kedalam mulutnya. Kedua matanya menatap Kanaya yang sedang tertidur, lalu dia pun menurunkan sendoknya dan menutup kotak nasi tersebut, semua yang dilakukan oleh Edward tak luput dari pandangan Gerald.
"Kenapa?" tanya Gerald.
"Apakah makanannya tidak enak?" tanya Gerald lagi. Mendengar pertanyaan Gerald. Edward hanya tersenyum sendu.
"Papi tidak lapar," ucapnya seraya berjalan dan mengangkat sebuah Sofa yang disiapkan oleh rumah sakit khusus untuk kamar VVIP.
"Kamu tidak ingin jauh dari mami mu bukan? tidurlah disofa ini. Lebih nyaman daripada kamu di kursi itu, di sofa kamu bisa tiduran," ucap Edward.
"Baiklah," ucap Gerald kemudian berpindah ke sofa.
"Rebahkanlah tubuh mu dan istirahatlah," ucap Edward. Gerald pun merebahkan tubuhnya dan memejamkan matanya akhirnya dia pun tertidur.
Sedangkan Edward duduk di kursi sebelahnya, kedua matanya tak lepas menatap wajah Kanaya lalu tangannya meraih tangan Kanaya dan menggenggamnya, dia pun merebahkan kepalanya disisi Kanaya dan akhirnya tertidur.
Tak lama kemudian Daddy Ded dan Mommy Lingga serta Richard, masuk kedalam kamar disusul oleh kedua orang tua Edward, mereka merasa tersentuh melihat Edward dan juga Gerald yang tertidur disisi Kanaya. Kemudian mereka pun meletakkan Koper kecil disisi lemari kecil yang ada di kamar Kanaya.
"Lebih baik kita biarkan mereka istirahat, hari sudah sangat malam dan kita pun perlu istirahat jangan sampai kita pun ikut dirawat di rumah sakit ini," ucap Daddy Ded.
"Besok pagi mommy akan kesini lagi," ucap Mommy Lingga.
"Kami pun akan pulang dan besok pagi-pagi sekali kami akan kesini lagi," ucap Papi Edward.
Kemudian mereka melangkahkan kaki mereka berjalan keluar dari kamar Kanaya.
...****************...
Keesokan Paginya Kanaya terbangun, matanya melihat Edward yang tertidur seraya memegang matanya, lalu pandangannya beralih pada Gerald yang masih memakai seragam sekolahnya. Tak lama kemudian Edward pun terbangun dan melihat Kanaya Yang sudah bangun dari tidurnya.
"Nay, kamu sudah bangun? maaf aku tertidur," ucap Edward
__ADS_1
"Apakah kau ingin sesuatu?" tanya Edward
Mendengar perkataan Edward Kanaya hanya menatap Edward. Tak lama kemudian Gerald terbangun dan berkata.
"Mami apakah mami baik-baik saja? apakah mami membutuhkan sesuatu?" tanya Gerald lalu bangkit berdiri dan menghampiri maminya.
"Kenapa kamu belum pulang nak? dan kenapa kamu masih memakai pakaian sekolah mu?" Tanya Kanaya dengan perlahan. seraya meringis menahan sakit pada kepalanya.
"Nay, kenapa?" tanya Edward menatap wajah Kanaya dengan penuh kecemasan.
Tak lama kemudian Dokter dan dua orang suster masuk ke dalam kamar Kanaya.
"Selamat pagi Tuan, nyonya," ucap Dokter.
"Pagi Dok," ucap Edward kemudian melepaskan genggaman tangannya dari tangan Kanaya dan bangkit berdiri dari kursinya, lalu mengangkat sofa yang telah ditiduri oleh Gerald.
Dokter dan suster pun memeriksa Kanaya, dengan teliti, Kemudian mereka pun bernafas lega.
"Kondisinya baik," ucap Dokter.
"Kita akan melakukan Rontgent dan juga CT-scan jam 10 nanti," ucap Dokter lagi.
"Saya permisi tuan, nyonya," ucap Dokter.
"Terima kasih dok," ucap Edward.
sepeninggal Dokter, suster meminta Edward dan juga Gerald keluar. Kemudian Suster pun membersihkan tubuh Kanaya dengan waslap dan juga mengganti pakaiannya. Setelah Suster keluar Gerald dan Edward pun masuk kembali.
"Wah Mami ku sudah cantik," ucap Gerald seraya menghampiri Kanaya dan mengecup pipinya perlahan.
Edward hanya tersenyum memandang mereka tak mampu berbuat seperti yang dilakukan Gerald, dia takut jika Kanaya marah padanya, sehingga hanya menatap Gerald dengan iri yang bebas mengecup Kanaya. Tak lama kemudian Daddy Ded dan juga Mommy Lingga memasuki kamar Kanaya, dan melihat Kanaya tampak segar, walaupun wajahnya terlihat sangat pucat tetapi tak mengurangi kecantikannya.
Daddy Ded pun melakukan hal yang sama.
"Mommy tak bisa bebas memeluk mu lagi," ucap Mommy Lingga.
"Daddy juga sama," ucap Daddy Ded seraya cemberut.
"Yahhh Opa kayak anak kecil aja," ucap Gerald menatap mimik Opanya seraya tersenyum geli. Mendengar perkataan Gerald Daddy Ded memelototkan matanya, kemudian tertawa.
Beberapa menit kemudian Papi Edward dan Mami Edward pun masuk kedalam kamar Kanaya, di tangan mereka menenteng paper bag dan juga rantang yang di jinjing oleh Mami Edward, mereka pun mendekat pada Kanaya.
"Bagaimana keadaan mu nak?" tanya Mami Edward seraya menatap Kanaya, seraya tersenyum lembut.
Kanaya hanya tersenyum kecil pada mami Edward, yang membuat mami Edward terkejut menatap senyum Kanaya lalu berkata.
"Terima Kasih," ucapnya kemudian membuka rantang yang di bawanya, terciumlah bau wangi aroma masakan dari dalam rantang. Lalu Mami Edward mengambil rantang paling atas dan menaruhnya di atas meja kecil disamping tempat tidur Kanaya, dan 3 rantang lagi di berikanya pada Papi Edward.
"Ayo sarapan dulu," ucap Mami Edward seraya menyendok bubur dari dalam rantang.
"Wah bubur ayam," ucap Gerald.
"Sini Oma Suapin," ucap Mami Edward, kemudian mami Edward menyuapi Kanaya bubur, Kanaya hanya menatap Mami Edward. Pandangan matanya bertatapan dengan mami Edward yang tersenyum dengan penuh kasih sayang.
"Kamu tahu Nay, Dari dulu mami ingin sekali memiliki seorang putri, tapi semua itu hanya angan-angan saja," ucap Mami Edward.
"Tetapi sekarang Mami menemukan Kamu, bisakah mami menjadi mami mu dan kamu menjadi putri ku?" ucap Mami Edward lagi dengan nada sendu. Sejenak Kanaya tertegun mendengar perkataan Mami Edward dan kemudian membuka mulutnya, Mami Edward tersenyum seraya memasukkan sendok yang berisi bubur. Lalu dia pun menyedok bubur kembali dan menyuapi Gerald.
Edward yang melihat itu tersenyum menatap mereka bertiga dalam benaknya timbul perasaan bahagia yang tak dapat di ungkapkan sehingga kedua matanya berkaca-kaca berharap selanjutnya akan seperti ini. Setelah bubur dalam rantang itu habis, Kanaya tersenyum dan berkata.
"Terima kasih," dengan perlahan. Mendengar ucapan terima kasih dari Kanaya Mami Edward menatap Kedua mata Kanaya, dari kedua pelupuk mata Mami Edward, meneteskan air mata. lalu memeluk Kanaya dengan lembut tak ingin pelukannya menyakiti Kanaya.
__ADS_1
"Terima Kasih nak," ucap Mami Edward. Kemudian melepas pelukannya dari Kanaya.
"Bukankah om belum makan?" tanya Gerald pada Edward seraya menghampiri Edward.
"Om," ucap Edward dan kedua orang tua Kanaya serta kedua orang tua Edward dalam hati mereka.
"Bukankah Mami ku sudah bangun dan makan?" tanya Gerald. Kemudian mengambil rantang yang berisi nasi dan juga rendang, melihat rendang, Gerald pun membuka rantang yang lainnya dan melihat ayam dan juga cap cay, Gerald pun mengambil rantang yang berisi ayam dan capcay, Kemudian memberikannya pada Edward.
"Makanlah," ucap Gerald. Mendengar perkataan Gerald yang memerintahnya makan seperti pada anak kecil, dalam benaknya merasakan kesedihan dan juga secercah kebahagian, kesedihan yang dirasakan saat Gerald hanya memanggilnya dengan sebutan om, dan secercah kebahagiaan saat Gerald menyuruhnya makan.
Melihat Edward hanya menatapnya, anak berusia 10 tahun itu pun mengambil sendok dan menyuapi Edward.
"Makanlah," ucap Gerald singkat seraya mengarahkan sendok yang berisi nasi pada mulut Edward. Bagaikan Kerbau yang dicocok hidungnya Edward pun membuka mulutnya dan memakan nasi yang di suapkan kemulutnya oleh putranya sendiri. Semua yang menyaksikan Gerald meneteskan air mata jelas terlihat kerinduan seorang ayah dan kerinduan seorang anak, tetapi Gerald tak ingin mengakuinya secara langsung, dia masih terlihat malu untuk mengatakannya.
"Wahhh, enak nih disuapin, uncle juga mau dong," ucap Richard dari arah pintu.
"Makan sendiri wekkk, tuh masih ada rendang," ucap Gerald seraya menjulurkan lidahnya pada uncle nya.
"Lah itu ada anak tua yang disuapin masa uncle sendiri gak disuapin," ucap Richard, seraya mendekat pada Gerald.
"Yakkkk, uncle dari kemarin kan udah makan," ucap Gerald tak acuh.
"Dasar pelit," ucap Richard seraya mencebikkan bibirnya pada Gerald.
"Biarin wekkkk," ucap Gerald.
Richard menatap Wajah Gerald kemudian berkata.
"Bahagia mu saat ini berbeda, dari sebelumnya, semoga saja Laki-laki itu, tidak mengecewakan mu lagi," ucap Richard, kemudian melangkahkan kaki berjalan menuju brankar tempat tidur Kanaya.
"Bagaimana kondisi mu Princess," ucap Richard seraya mengecup kening Kanaya dan memeluknya dengan lembut. Lalu berkata lagi.
"Jangan lakukan itu lagi,"
"Maaf," ucap Kanaya perlahan seraya menatap wajah kakaknya, melihat Kanaya menatap kakaknya dengan lembut, Edward berjalan mendekat dan menarik tangan Richard. Kemudian menatap Richard dengan tajam. Kening Richard berkerut menatap Edward kemudian tertawa terbahak-bahak.
"Cihhh, dasar bucin loe," seru Richard dengan nada geli.
"Eh dia itu adik aku," ucap Richard.
"Iya dia adik kamu, tapi milik aku," ucap Edward.
"Yeyyy, dia tuh udah dari lahir milik aku kali, secara aku kan kakaknya." ucap Richard seraya mengejek Edward.
"Aku pun sedari kecil sudah mengenalnya dan berjanji padanya," ucap Edward.
"Sedari kecil? mimpi kamu," ucap Richard.
"Tidak aku tidak mimpi, aku bertemu Kanaya saat dia berusia 7 tahun," ucap Edward ketus.
"Hah..!" seru Richard.
"Lebih mimpi di siang bolong lagi," ucap Richard.
"Tidak," ucap Edward dengan ada tegas kemudian mengeluarkan sebuah kalung liontin berbentuk hati dari lehernya dan membuka liontin tersebut, didalam liontin tersebut terdapat foto seorang anak kecil berusia 7 tahun yang sedang tersenyum manis.
"Bagaimana kau bisa mendapatkan ini?" tanya Richard.
"Sekarang kau percaya?" tanya Edward.
"Itulah sebabnya aku katakan pada mu Kanaya adalah milik ku sampai kapan pun." ucap Edward tegas seraya menatap Semua yang ada di dalam kamar Kanaya. Semua yang melihat liontin berbentuk hati itu dan terdapat foto Kanaya didalamnya, tertegun dan bertanya-tanya, bagaimana Edward memiliki foto Kanaya.
__ADS_1