
Hari Minggu Pagi, Gerald menghampiri Kanaya yang sedang duduk di sofa ruang keluarga bersama kedua orang tuanya dan juga kakaknya Richard.
"Mam, ketaman yuk," ajak Gerald.
"Oke, tapi udah sarapan ya," ucap Kanaya.
"Aku pengen makan bubur ayam mam, yang ditaman itu," ucap Gerald.
"Wahhh.. Opa juga mau tuh," ucap Daddy Ded.
"Oma juga mau," ucap mommy Lingga.
"Ya udah kita kesana aja sarapan bubur ayam," ucap Kanaya.
"Uncle juga ikut," ucap Richard.
"Ya udah ayo, kita jalan aja sekalian olah raga Giman?' tanya Kanaya seraya bangkit dari sofanya, diikuti oleh kedua orang tuanya dan juga kakaknya.
"Oke mam, ayo," ucap Gerald.
Mereka pun berjalan beriringan keluar dari mansion, sepanjang perjalanan wajah mereka tampak bahagia, bercanda, tertawa hingga tak terasa mereka pun sampai di taman. Gerald yang kegirangan berkeliling melihat tiap gerobak jajanan, matanya berbinar melihat cilok dan juga cireng.
"Wahhh.. aku mau itu," ucap Gerald.
Kanaya yang melihat putranya kegirangan melihat cilok dan cireng hanya tersenyum.
"Mang cilok dan cireng satu masing-masing satu bungkus ya," ucap Kanaya.
Kemudian menghampiri gerobak bubur ayam, dan memesan 5 mangkok bubur ayam. setelah memesan Bubur ayam. Kanaya dan kedua orang tuanya serta kakak dan juga Gerald duduk di bangku kosong yang disediakan oleh tukang bubur ayam.
"Hemmm, enak, lezat," ucap Gerald seraya menyantap bubur ayam dengan lahap.
"Mam tiap pagi kesini beli bubur ayam ya mam, aku suka emmm enak," ucap Gerald seraya menyuapkan sendok berisi bubur ke dalam mulutnya.
"Makannya pelan-pelan nak," ucap Kanaya seraya tersenyum melihat putranya makan dengan lahap.
kemudian Gerald pun berteriak memanggil mang tukang bubur.
"Mang aku mau di bungkus satu ya," ucap Gerald.
"Eh.., Bocah kamu tuh ya rakus amat," ucap Richard, seraya tersenyum menggoda keponakannya.
"Biarin wekk," ucap Gerald.
Seraya mencebikkan bibirnya pada pamannya. Richard hanya tersenyum menatap keponakannya. Kemudian Richard pun melanjutkan makan bubur ayamnya.
"Kenyang," ucap Gerald. Lalu mengelus perutnya.
"Cilok ama cireng belum habis," ucap Kanaya.
"bentar lagi aku makan mam," ucap Gerald. kemudian bangkit berdiri.
__ADS_1
"Kamu mau kemana?" tanya Kanaya.
"Kesana mom," Jawab Gerald. Seraya menunjuk ke arah anak-anak yang sedang bermain bola kaki di lapangan.
kemudian Gerald pun berlari menghampiri mereka, dan ikut bermain bersama anak-anak tersebut. Tak lama kemudian salah satu dari anak menendang bola dengan keras sehingga bola pun menggelinding jauh keluar lapangan, lalu Gerald berseru kepada teman-temannya.
"Aku yang akan mengambil bolanya," seru Gerald. Kemudian berlari mengejar bola tesebut.
"Ini bola mu," ucap sebuah suara bariton dari seorang Pria.
Tanpa melihat orang tersebut Gerald mengambil bola dari tangan pria itu.
"Terima kasih Paman," ucap Gerald. Kemudian mendongakkan kepalanya melihat wajah pria itu.
"Kau," ucap Gerald.
Lalu membalikkan tubuhnya dan berlari, tetapi langkahnya terhenti ketika pria itu memanggilnya dan berbicara padanya serta menarik tangan Gerald.
"Gerald tunggu nak, Papi mohon," ucap Pria itu.
Pria itu ternyata Edward yang telah memaksakan dirinya keluar dari rumah sakit. Bahkan saat dokter tidak mengijinkannya, Edward pun mengancam dokter tersebut. karena takut dengan ancaman Edward akhirnya dokter pun mengijinkannya.
"Saya tidak mengenal anda tuan," ucap Gerald. Kemudian menarik tangannya hingga terlepas.
"Papi mohon, dengarkan Papi," ucap Edward.
"Anda bukan Papi ku. Aku tidak memiliki Papi."ucap Gerald.
"Ya Tuhan, anak ku sangat mirip dengan ku," ucapnya dalam hati.
"Pergilah,aku tidak ingin melihat mu lagi," ucap Gerald.
"Biarkan Papi bicara pada mu, sebentar saja," ucap Edward.
"Sudah ku katakan pada mu, aku tidak memiliki Papi, dan aku bukan anak mu," ucap Gerald dengan nada geram.
"Walaupun kau tidak mengakui ku, tetapi aku tetap Papi mu," ucap Edward.
"Anda salah tuan, anda bukan Papi ku, Anak anda sudah meninggal sejak kau katakan pada mami ku untuk menggugurkan anak anda." ucap Gerald.
"Aku sangat membenci mu, membenci mu," ucap Gerald.
Kemudian membalikkan tubuhnya, dan alangkah terkejutnya saat dia membalikkan tubuhnya. Tatapan matanya melihat maminya yang sedang berdiri bersedekap, menatap tajam Edward.
"Apakah kau belum puas mendekati anak ku? bukankah kau sudah aku peringatkan jangan pernah mendekati putra ku? apakah kau belum paham juga?" tanya Kanaya dengan nada dingin dan tajam menatap Wajah Edward.
"Apa yang harus aku lakukan agar aku bisa berbicara sebentar saja dengan kalian," ucap Edward, seraya menatap wajah Kanaya yang dingin tanpa ekspresi.
"Tidak ada yang bisa kau lakukan, karena aku tidak akan pernah mengijinkan mu berbicara pada putra ku, atau pada diri ku sendiri, pergilah menjauh dari kehidupan kami," ucap Kanaya. Edward yang mendengar perkataan Kanaya, menatap mata Kanaya, yang ada di dalam mata itu hanya sebuah kebencian. kemudian Edward duduk bersimpuh dan memohon pada Kanaya.
"Berikan aku waktu sedikit saja agar kita bisa berbicara," ucap Edward.
__ADS_1
Mendengar perkataan Edward. Kanaya hanya tersenyum sinis kemudian membalikkan tubuhnya dan berlalu dari hadapan Edward, Seraya memegang tangan Gerald.
Sambil berjalan mengikuti langkah kaki mami nya, Gerald menoleh kebelakang dan menatap Edward, ada perasaan kasian pada anak usia yang akan menginjak 10 tahun itu pada Edward yang masih dalam keadaan bersimpuh di tanah.
"Tunggu mam," ucap Gerald. mendengar perkataan putranya Kanaya pun menghentikan langkahnya, san menatap Gerald dengan penuh tanda tanya.
"Ada apa Gerald?" tanya Kanaya.
"Aku akan mengembalikan bola ini pada teman ku, mami duluan saja, setelah mengembalikan bola aku akan menyusul mami," ucap Gerald.
"Baiklah," ucap Kanaya seraya menatap Gerald dan bola yang ada di tangannya. kemudian Gerald pun berlari ke tengah lapangan Dan memberikan bola pada temannya.
"Maaf ya, aku lama mencari bola ini," ucap Gerald.
"Oke, Gerald, gak apa-apa kok," ucap Salah satu temannya.
"Makasih ya, aku pulang dulu," ucap Gerald. Kemudian Gerald pun beranjak pergi kembali dimana mami dan Oma, Opanya serta Uncle nya berada. Kepalanya sejenak menoleh pada Edward yang masih duduk bersimpuh dan menundukkan kepalanya.
"Mengapa dia masih disana," ucap Gerald dalam hatinya. Kemudian Gerald pun berlari menghampiri Edward.
"Paman berdirilah, pulanglah," ucap Gerald. Edwar yang mendengar perkataan Gerald mengangkat wajahnya dan menatap Wajah Gerald.
"Pulanglah sebelum mami ku mendatangi mu dan menghajar mu lagi, apalagi sekarang ada uncle dan juga Opa dan Oma ku," ucap Gerald seraya menatap wajah Edward tanpa ekspresi, di satu sisi ingin rasanya memeluk Edward dan merasakan pelukan seorang ayah seperti teman-teman lainnya, dan di satu sisi dia sangat membenci pria yang ada dihadapannya itu, ketika tanpa sengaja Gerald menguping pembicaraan Maminya saat berbicara dengan Opa dan Oma nya, dan bagaimana Maminya menangis terisak mengingat semua perlakuan Pria yang ada di hadapannya itu.
Kemudian Gerald menatap tajam pria yang ada dihadapannya itu.
"Aku sangat membenci mu, kau yang telah membuat mami ku selalu menangis dan bersedih,"ucap Gerald dengan dingin dan lalu berlalu meninggalkan Edward yang terpaku menatap kepergian Gerald.
Sesampainya di gerobak penjual bubur ayam, Gerald pun menghampiri maminya.
"Ayo mam, kita pulang," ucap Gerald.
Kemudian Kanaya bangkit berdiri diikuti oleh Opa dan Omanya serta uncle nya. tanpa mereka sadari sepasang mata memperhatikan mereka dari kejauhan.
"Sepertinya Cucu ku memang sangat membenci Papinya," ucapnya kemudian melangkahkan kakinya pergi dari taman itu, dan berjalan menghampiri putranya yang duduk terpaku diatas tanah.
"Bangunlah," ucapnya. mendengar suara seorang wanita Edward pun menengadahkan wajahnya menatap suara itu.
"Mami," Seru Edward terkejut.
"Sedang apa mami disini?" tanya Edward.
"Menurut mu?" tanya Maminya seraya tersenyum sinis.
"Bangunlah dan perjuangkan mereka. benahi diri mu, dan juga perusahaan yang hampir bangkrut itu," ucap Maminya.
"Kau seperti ini, seperti pengecut dan juga banci kaleng-kalengan," ucap Mami Edward seraya tersenyum sinis mengejek Putranya.
Mendengar perkataan Maminya dan ejekan maminya Edward pun bangkit berdiri, seraya berkata.
"Akan aku buktikan pada mami, aku Edward Kusuma bukan pengecut dan juga bukan banci kaleng-kalengan." kemudian melangkah kakinya pergi meninggalkan maminya yang tersenyum menatap belakang punggung putra semata wayangnya seraya tersenyum.
__ADS_1
"Inilah putra ku," ucapnya lagi. kemudian Mami Edward pun melangkahkan kakinya menuju mobil yang ada di ujung lapangan di mana sopirnya telah menantinya, kemudian memasuki mobil tersebut dan mobil pun berlalu meninggalkan taman itu.