Kesalahan Masa Lalu

Kesalahan Masa Lalu
Bab 97. Perdebatan


__ADS_3

Dua hari sudah penyelidikan di lakukan dan di hari ketiga. Mark datang kerumah Kanaya dan memberikan semua laporan pelaku pencurian desain Kanaya, lalu Kanaya pun tersenyum dan berkata.


"Sudah ku duga."


"Apa yang akan kamu lakukan Nay?"tanya Cintya.


"Aku ingin menyelidiki semuanya sampai tuntas,"ucap Kanaya. Lalu melanjutkan perkataannya.


"Tugas mu Mark, awasi setiap gerak-gerik penghianat itu, dan juga pelaku utama. dan jangan sampai mereka lolos dari pengamatan mu."


"Aku ingin menyelesaikan semua ini sampai tuntas sehingga hidup ku tenang."


"Semua akan kita tuntaskan yang. Dan jangan kuatir kehidupan kita akan selalu dalam ketenangan dan kebahagian,"ucap Edward. Seraya tersenyum menatap wajah Kanaya. Terlihat sangat jelas di mata nya, kekuatiran yang di sembunyikan oleh istrinya.


Mendapatkan tatapan seperti itu dari Edward Kanaya membalasnya dengan senyuman. Lalu berkata.


"I'm ok."


Edward hanya tersenyum dan meraih telapak tangan Kanaya lalu mengecupnya dengan lembut lalu berkata dengan nada mesra.


"I know honey."


"woww., so sweet,"ucap Cintya.


"Iya dong, namanya juga c i n t a,"jawab Edward mengeja kata cinta.


"Elehh, babang Edward cinta matinye segunung yeee,"ucap Cintya dengan nada mengejek. menggunakan logat Betawi.


"Lah itu tahu,"jawab Edward.


"Kirain cuma di mulut aje bangggg..!"seru Cintya.


"Kurang bukti ape?"tanya Edward seraya mengedipkan matanya pada Cintya.


"Iyee bang kurang bukti, coba loe nyebur ke sumur buat buktiin tuh cinte mati abang sama emak Kanaya,"ucap Cintya.


"Emang ada ye, sumur di mari?"tanya Edward.


"Ade bang entar bikin dulu dah,"jawab Cintya.


"Kelamaan,"ucap Edward. seraya tertawa ngakak.


"Udah ih jangan bercanda Mulu, baru aja mau nikah sama kak Richard kamu udah kayak gini Cin, gimana kalau udah nikah tambah tuh sedeng kamu,"ucap Kanaya seraya tersenyum geli.


"Ishhh perasaan ada yang nyebut nama aku deh,"ucap sebuah suara.


Mendengar suara pria mereka pun menoleh kearah suara tersebut Terlihatlah Richard yang berjalan menghampiri mereka, seraya menenteng koper kecilnya.


"Nongol aja nih orang, kayak jelangkung aja,"seru Edward pada Richard yang telah sampai di ruang keluarga, dimana Kanaya Edward dan Cintya serta Mark duduk mengobrol.


"Enak aja jelangkung, elo kali yang jelangkung ngomong sekate-sekate,"ucap Richard. kemudian duduk di sebelah Cintya.

__ADS_1


"Dari Indonesia jam berapa kak?"tanya Kanaya seraya melihat jam yang ada dipergelangan tangannya.


"Tadi malam Nay,"jawab Richard.


"Opa Hendra, kakek Pratama, Daddy dan Mommy besok nyusul,"ucap Richard lagi.


"Hah..!"Seru Kanaya. Lalu berkata lagi.


"Emang Daddy bisa tinggalin perusahaannya?"tanya Kanaya.


"Ya bisalah kayak nggak tahu Daddy aja sih,"ucap Richard dengan nada malas.


"Oh ya kenalin Mark,"ucap Kanaya seraya mengenalkan Mark pada Richard.


"Bonjour monsieur, permettez-moi de me présenter Mark," ( selamat sore Tuan, Perkenalkan saya Mark )ucap Mark seraya menunduk hormat pada Richard.


"Bonjour Mark, je suis le frère de Richard Kanaya,"( Hallo Mark, saya Richard kakak Kanaya )ucap Richard menyambut uluran tangan Mark.


"Mark kepercayaan ku di Perancis,"ucap Kanaya.


Mendengar perkataan Kanaya Richard menatap Mark dengan tatapan dingin dan tajam sebuah tatapan menyelidik, mendapatkan tatapan seperti itu dari Richard kakak dari bosnya itu. Mark pun tersenyum membalas tatapan Richard lalu berkata.


"Anda tidak perlu kuatir Tuan." dalam bahasa Perancis. Lalu melanjutkan perkataannya.


"Aku telah menganggap Nona Kanaya adalah adik ku. Aku dan istri ku telah berjanji untuk mengabdikan diri pada Nona Kanaya."


Kemudian tersenyum lebar dan beralih menatap wajah Kanaya. lalu berkata lagi.


"Kami memiliki hutang budi pada adik anda bahkan jika nona Kanaya menginginkan nyawa ku untuk membayar semua budi baiknya aku akan memberikannya."


"Hutang budi?"tanya Richard.


"Benar tuan., hutang budi yang tidak akan pernah bisa aku ingkari dan lupakan itu akan selalu ada dan tetap ada sampai anak cucu ku nanti,"jawab Mark.


"Baiklah tuan-tuan dan nona-nona saya permisi, sepertinya waktu sudah sangat sore sekali dan saya harus menjemput istri saya,"ucap Mark lagi. kemudian bangkit berdiri.


"Inget apa yang aku katakan pada mu,"ucap Kanaya.


"Baik nona anda jangan kuatir saya akan melakukan yang terbaik untuk anda,"jawab Mark. Seraya menunduk hormat pada Kanaya, lalu melangkahkan kakinya berjalan keluar dari ruang keluarga menuju halaman rumah mewah Kanaya dimana mobilnya terparkir.


"Nggak usah lihat aku kayak gitu juga kali kak,"sungut Kanaya. melihat Richard menatapnya dengan penuh tanda tanya.


"Hutang Budi apaan sih Nay?"tanya Richard. kemudian berkata lagi.


"Si Mark sampai segitunya, kayak kebo yang di cocok hidungnya."


"Ishh ngomong kemana aja, mana ada dia kebo,"ucap Cintya.


"Itu kan perumpamaan aja sayang,"seru Richard seraya mengedipkan sebelah matanya pada Cintya kedipan menggoda kekasihnya.


"Tuh udah dateng pujaan hati, jadi nggak usah ngiri sama kita berdua ya,"seru Edward.

__ADS_1


"Idihh, ngiri sejak kapan kali aku ngiri sama kalian,"seru Cintya.


"Sejak kemarin,"ucap Kanaya. Kemudian mengedipkan matanya pada Cintya.


"Ishhh, ikutan lakinya nih,"ucap Cintya.


"Lah kamu ketularan kak Richard kalau aku sih wajar aja ikutan Edward wong udah sah kok,"ucap Kanaya menggoda Cintya.


"Bentar lagi juga kita sah iya kan sayangggggg,"seru Cintya dengan nada menggoda Richard.


"Iya dong kalau perlu hari ini, gimana?"tanya Richard seraya menaik turunkan kedua alisnya pada Cintya.


"Wah itu mah kebangetan kali,"jawab Cintya.


"Kok kebangetan sih?"tanya Richard.


"Ya iyalah kebangetan, besok nikah siapa yang nikahin?"tanya Cintya.


"Bisalah tinggal bawa aja pendeta nya kesini kan beres,"ucap Richard dengan nada santai.


"Astaga Richard Bimantara, kamu ini bener-bener sedeng, emang pendeta bisa kamu culik begitu aja?"tanya Edward dengan nada mengejek.


"Eh dodol, aku bilang bawa bukan nyulik,"ucap Richard.


"Sama aja kali, kamu kan bilang tinggal bawa aja pendetanya kesini, emang gampang apa bawa pendeta kesini, gimana kalau pendetanya nggak punya pasport secara kerjaan dia kan pelayanan di gereja, belum lagi pelayanan sama jemaat-jemaatnya yang lain,"ucap Edward kemudian menggelengkan kepalanya. lalu berkata lagi.


"Cinta sih cinta tapi nggak gitu juga kali,"dengan nada mengejek Richard.


"Ishh, tinggal nyari pendeta yang ada diperancis aja kan simpel,"ucap Richard.


"Ngomong dong dari tadi nggak semudah itu juga kali, secara elo warga negara Indonesia di sini Perancis prosesnya panjang bro,"ucap Edward seraya mendelik pada Richard.


"Ishh tinggal kerahin orang aja susah amat sih..!" seru Richard.


"Gubrakkkkk..!"seru Edward. Kemudian menepuk keningnya dan berkata.


"Yang mau kawin itu elo atau anak buah elo sih?"tanya Edward.


"Gue dong sama ayang Cintya,"jawab Richard.


"Lah terus kenapa jadi anak buah elo yang ngurusin nikahan elo?"tanya Edward.


"Aishh suka-suka gue dong, yang penting sah,"jawab Richard. lalu berkata lagi.


"Kayak elo aja yang ngurusin nikahan elo."


"Ampun deh gue..! susah ya ngomong sama orang kayak dia ini,"ucap Edward.


Kanaya dan Cintya menggelengkan kepalanya melihat Richard dan Edward.


"Mending kita tinggalin aja mereka, pusing aku lihat kelakuan mereka,"ucap Kanaya.

__ADS_1


"Iya bener Nay, kelakuan mereka melebihi kelakuan Tom and Jerry,"ucap Cintya.


Kemudian Kanaya dan Cintya pun bangkit berdiri meninggalkan Richard dan Edward yang masih dalam perdebatan un faedah mereka.


__ADS_2