
Sementara itu di sebuah kamar rumah sakit Edward terbaring lemah tak berdaya. Tatapannya kosong, hidupnya entah akan seperti apa, perusahaan yang dibangunnya hancur seketika hanya karena kesalahannya dimasa lalu yang tak dapat di maafkan.
Tak lama kemudian pintu kamar pun terbuka, Masuklah Putra Kusuma, sambil berjalan tatapan matanya menatap putra semata wayangnya itu.
"Bagaimana keadaan mu?" tanya Putra Kusuma, seraya menghampiri Edward yang terbaring diatas brankar tempat tidur rumah sakit.
"Seperti yang Papi lihat," jawab Edward.
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Papi Edward.
"Entahlah Pi, aku bingung dengan situasi ini," ucap Edward.
"Kesalahan mu telah membuat kita benar-benar terpuruk. Papi tidak bisa membantu mu," ucap Papi Edward.
"Aku tahu itu Pi, aku benar-benar menyesal," ucap Edward.
"Penyesalan mu sudah terlambat Edward, saat ini kita berada di ambang kehancuran, Papi sudah menduga semua ini, awalnya mereka menggerogoti sedikit demi sedikit, agar kita kelimpungan, dan Papi pikir Papi bisa mengatasi semuanya tetapi, kau dengan gegabah mendekati Cucu mereka sehingga membuat Putri kesayangan mereka marah," ucap Papi Edward.
"Aku terpaksa melakukannya Pi, dia juga putra ku bukan?" Ucap Edward.
"Dia memang putra mu, tetapi seharusnya kau menyesali perbuatan mu terlebih dahulu, dan meminta maaf padannya, lalu mendekatinya, bukan membuatnya marah, sebelum kau mendapatkan maaf darinya, kau malah diam-diam menemui Gerald," ucap Papi Edward.
"Dan asal kau tahu Gerald sangat membenci mu, dia anak yang pintar yang tak mudah kau bohongi, atau dekati," ucap Papi Edward.
"Aku memang salah, tetapi Kanaya sangat sulit didekati," ucap Edward seraya menghela nafas panjang.
"Jika aku berada di posisi Kanaya aku pun akan melakukan itu," ucap Papi Edward dengan nada tajam, matanya tak lepas memandang wajah putranya yang pucat dan lebam yang tampak membiru.
"Kau tahu, aku baru tahu ada seorang perempuan sekuat Kanaya, berani mengambil resiko mempertahankan bayi yang ada dalam kandungannya, menghindar dari keluarganya demi nama baik kedua orang tuanya, membiayai hidupnya dengan bekerja keras di negara asing, tanpa seorang pun yang menemaninya," ucap Papi Edward.
"Dan saat itu usianya masih sangat muda, masih menginjak 17 tahun Edward kau bisa bayangkan itu hah..! entah dimana kau simpan otak mu saat itu," Seru Papi Edward.
"Papi tak habis pikir dengan mu Edward, walaupun saat itu kau di jebak, seharusnya saat Kanaya datang menemui mu, kau tidak bertindak gegabah dan tidak mengusirnya Edward, bukan hanya mengusirnya tetapi kau mencaci maki dan menghinanya serta mempermalukannya, seharusnya saat itu kau bertanggungjawab," ucap Papi Edward.
"Papi tidak tahu apa yang terjadi pada mami mu jika mengetahui semua perbuatan mu pada Kanaya," ucap Papi Edward lagi.
"Maafkan Aku Pi, aku mengaku salah, saat itu aku sangat kebingungan" ucap Edward.
"Kau bingung karena kau di butakan oleh Wanita itu bukan?" ucap Papi Edward.
"Wanita yang hanya menginginkan harta mu saja, wanita yang bisanya hanya berfoya-foya, wanita yang mengobral cinta pada setiap pria, wanita itu yang kau inginkan, bukankah Papi sudah mengatakan pada mu sejak dulu, tinggalkan wanita itu," ucap Papi Edward.
"Dan sekarang semua sudah terjadi dan kau tidak bisa kembali ke masa lalu, sekarang kau bangkit perbaiki diri mu dan kehidupan mu, ingat yang kau hadapi adalah Seorang Bimantara kau tahu bukan siapa mereka," ucap Papi Edward.
"Iya aku tahu Pi, setelah aku keluar dari rumah sakit ini aku akan menyelesaikan hutang ku di masa lalu terhadap Kanaya dan juga putra ku," ucap Edward.
"Bagus, jadilah pria sejati yang penuh dengan tanggung jawab," ucap Papi Edward. seraya melangkah kakinya berjalan keluar dari ruangan kamar Edward.
__ADS_1
"Maafkan Papi Edward, saat ini Papi tidak akan pernah membantu mu, Papi ingin kau menjadi pria yang bertanggung jawab atas semua yang kau lakukan, dan juga Papi tidak ingin kau kembali pada wanita murahan itu lagi, jika kau mengalami kebangkrutan wanita itu tidak akan mengejar mu lagi," ucap Papi Edward dalam hati, seraya menghela nafas panjang.
Secara diam-diam Putra Kusuma mengerahkan orang-orang terbaiknya untuk mencari tahu kebenaran 10 tahun yang lalu. Dan saat mengetahui itu, Putra Kusuma pun ingin memberi pelajaran pada putranya itu. Putra Kusuma pun mengetahui jika wanita dimasa lalu Putranya itu memiliki siasat untuk mendekati Edward kembali setelah dia meninggalkan Edward demi pria yang lebih kaya dari Edward saat itu. Dan ketika Pria itu mencampakkannya Wanita itu pun kembali ke Jakarta.
"Sepertinya aku harus menjelaskan pada mami, sebelum dia mengetahui ini dari Orang lain, aku memiliki firasat yang tidak baik dengan semua yang terjadi,"Ucap Papi Edward kemudian mengendarai mobilnya menuju mansionnya.
sesampainya di mansion Papi Edward pun masuk kedalam mansion dan mencari Istrinya Narindra Kusuma. Tiba-tiba dari arah dapur istrinya tergesa-gesa menghampirinya.
"Syukurlah Papi sudah pulang," ucap Narindra Kusuma mami Edward.
"Ada apa mi?" tanya Papi Edward seraya mengeryitkan keningnya tatapan matanya penuh tanda tanya pada istrinya.
"Eden, dia ditangkap polisi dan sekarang berada di sel tahanan," ucap Mami Edward.
"Hah..! bagaimana bisa?"tanya Papi Edward.
"Entahlah, menurut berita TV yang mami lihat, Eden terlibat penipuan," ucap mami Edward.
"Ya Tuhan, masalah apa lagi ini," ucap Papi Edward, kemudian mendudukkan tubuhnya dengan lesu di sofa.
"Masalah satu belum selesai, sekarang ditambah lagi si Eden membuat masalah. Apakah tidak ada pria baik di keluarga Kusuma ini?" tanya Papi Edward seraya menutup matanya dan menyenderkan kepalanya kebelakang sofa yang didudukinya.
Mendengar perkataan suaminya, mami Edward pun menatap wajah suaminya dengan penuh tanda tanya kemudian bertanya.
"Apa maksud Papi? apa yang terjadi?"
Mami Edwar yang mendengar semua perkataan Papi Edward, sontak terkejut kemudian menutup mulutnya dengan tangannya, tatapan matanya menatap wajah suaminya dengan tatapan seolah-olah tak percaya.
"Katakan bahwa ini tidak benar Pi?" tanya Mami Edward.
mendengar perkataan istrinya Papi Edward pun menoleh dan menatap Wajahnya.
"Dan yang lebih parah, Wanita itu adalah Kanaya Bimantara, Putri dari Deddy Bimantara dan juga Lingga Bimantara adik dari Richard Bimantara," ucap Papi Edward menatap wajah istrinya dengan tatapan sendu.
"Ya Tuhan," ucap Mami Edward.
"Dan saat ini perusahaan Edward anak yang tak tau diri itu diambang kehancuran dan juga Kusuma Group pun terkena imbasnya," ucap Papi Edward. mendengar perkataan suaminya mami Edward sangat syok mendengar semua yang di lakukan putranya. Kemudian memejamkan matanya berusaha menenangkan diri. Jantungnya berdegup kencang. kecewa, marah, kesal semuanya bercampur aduk. seandainya saat ini Edward berada di depannya, entah apa yang akan dilakukannya, perasaan gagal dalam mendidik putra semata wayangnya itu, membuat Mami Gerald merasakan kesedihan yang sangat dalam.
"Selama ini mami tidak pernah mengajarkan dia menjadi seorang pengecut," ucap Mami Edward seraya menatap Wajah suaminya, tak terasa air matanya menetes di kedua pelupuk matanya
"Mami tak bisa membayangkan bagaimana Kanaya menjalani hidupnya," ucap Mami Edward
"Dan kau tahu mam, saat itu usia Kanaya berapa? saat itu usianya baru menginjak 17 tahun, dan akibat hinaan, cacian dan juga dipermalukan, dan Edward menyuruh Kanaya Menggugurkan kandungannya. Kanaya kabur dan menghilang dari keluarganya hanya demi menyelamatkan nama baik keluarganya dan juga mempertahankan bayi yang ada dalam kandungannya," ucap Papi Edward.
"Biarkan perusahaan anak itu bangkrut dan jangan sampai Papi membantunya," ucap Mami Edward geram.
"Kita harus memberikan pelajaran pada anak itu," ucap Mami Edward lagi.
__ADS_1
"Lalu Kusuma Group kita masih memiliki perusahaan yang lain yang berada diluar negeri, yang tidak diketahui oleh orang lain. Kita bisa memikirkan caranya agar Kusuma Group tidak jatuh bangkrut," ucap Mami Edward.
"Apa yang mami katakan, itu juga yang Papi lakukan saat ini," ucap Papi Edward.
"Dan mengenai Eden, biarkan kedua orang tuanya yang mengurus pria bengal itu, Papi sudah pusing dengan tingkah lakunya selama ini," ucap Papi Edward.
"Mami ingin kerumah sakit menemui Edward," ucap Mami Edward kemudian bangkit berdiri dari sofanya dan berjalan keluar menuju halaman mansion dimana mobil Suaminya di parkir, diikuti oleh Papi Edward.
Kemudian mereka pun masuk kedalam mobil, lalu Papi Edward pun melajukan mobilnya menuju rumah sakit tempat Edward di rawat.
Sesampainya di rumah Sakit. Papi Edward pun memarkirkan mobilnya di parkiran, kemudian Papi dan mami Edward pun memasuki rumah sakit, mami Edward yang sudah terlihat geram, berjalan dengan tergesa-gesa menuju kamar Edward, sesampainya di depan pintu kamar VIP rumah sakit. tanpa mengetuk pintu mami Edward pun membuka pintu tersebut kemudian melangkahkan kakinya mendekati Brankar tempat tidur Edward. Dimana saat itu Edward sedang memejamkan matanya, tertidur pulas.
"Aww.., seru Edward seraya mengaduh kesakitan, kemudian membuka matanya. melihat maminya berkacak pinggang dengan tatapan tajam mengarah ke wajahnya.
"Mami kenapa sih? datang-datang bukannya nanyain kondisi anaknya malah mukul, udah tahu aku lagi babak belur gini," ucap Edward kesal.
"Apa perlu mami tambahin babak belur di wajah kamu itu hah..!" seru mami Edward dengan nada dingin dan tajam menatap Edward, seraya mengangkat tangannya dan memukul lengan Edward.
"Mam Sakittt," ucap Edward. Papi Edward yang melihat istrinya marah hanya diam menatap istrinya memukul putranya.
"Pi, mami kenapa sih?" tanya Edward seraya meringis menahan sakit.
"Kamu bertanya kenapa Edward?" seru mami Edward dengan nada penuh amarah.
"Papi sudah menceritakan semuanya pada mami, kau benar-benar anak tak tahu diri, kami tidak pernah mengajarkan mu seperti itu Edwarddddd Kusumaaaaa," teriak Maminya.
"Mam, pelan sedikit, ini rumah sakit," ucap Papi Edward menegur istrinya.
"Biarin, biar semua orang tahu kalau anak ini, anak kurang ajar," ucap Mami Edward.
"Maafkan Edward mi, Edward menyesal, tapi..," ucap Edward sebelum meneruskan perkataannya maminya menyela.
"Tapi tidak sepenuhnya kesalahan mu, itu kan maksud mu hah," seru mami Edward.
"Iya mam," ucap Edward.
"Kau dasar anak tak berguna, mami tidak mau tahu kau harus bertanggungjawab dan dalam waktu satu bulan, kau harus bawa cucu mami ke rumah, camkan itu," ucap Mami Edward.
"Satu bulan mi?" tanya Edward.
"Iya satu bulan, kau pikir pake otak mu itu," ucap Mami Edward kemudian menghampiri suaminya dan menariknya pergi keluar dari kamar Edward. sementara Edward hanya terdiam menatap kepergian maminya.
"Bagaimana aku bisa melakukannya? belum lagi perusahaan ku yang diambang kehancuran," ucap Edward seraya meringis kesakitan.
"Semua badan ku terasa sakit ditambah mami memukuli ku," gumamnya lagi dengan nada kesal. Kemudian Edward pun terdiam, pikirannya berkecamuk, ingatannya kembali pada saat dia dengan sengaja mendekati Gerald yang saat itu akan pulang dengan sepedanya.
"Aku tidak mengingkari jika aku merasakan sesuatu yang aneh saat aku berada di dekat Gerald," ucap Edward dalam hatinya.
__ADS_1