Kesalahan Masa Lalu

Kesalahan Masa Lalu
Bab 7. Jakarta dan GB Group


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan Selama 16 jam akhirnya Kanaya dan putranya Gerald sampai dibandara Internasional Soekarno Hatta.


" setelah mengambil bagasi, Kanaya dan putranya pun berjalan menuju Area penjemputan bandara.


"Selamat sore nyonya, selamat datang kembali ke Jakarta ini," ucap Seorang wanita yang menghampirinya.


"Terima Kasih Jeni," ucap Kanaya.


"Mari Nyonya, tuan muda," ucap Jeni.


kemudian Jeni mengambil koper dari tangan Kanaya. Mereka pun berjalan keluar dari bandara tak lama kemudian sebuah mobil BMW 4 series coupe berhenti di depan mereka dan keluarlah seorang supir dari mobil tersebut menghampiri mereka.


"Perkenalkan nyonya, Pak Iwan ini adalah sopir pribadi anda sesuai dengan permintaan nyonya Cintya," ucap Jeni.


"Selamat sore nyonya," ucap Sopir tersebut seraya menundukkan kepalanya dengan hormat.


Kanaya hanya menatap sopir itu dengan dingin seraya menganggukkan kepalanya, lalu Kanaya memasuki mobil bersama Gerald. mobil pun melaju dengan kecepatan sedang. Selama perjalanan Kanaya hanya diam menatap jalan ibukota melalui kaca jendela mobil, kemudian menghela nafas panjang, dan berkata.


"kita ke apartement saja Jen," ucap Kanaya.


"Baik nyonya," ucap Jeni kemudian mobil pun berganti arah menuju apartemen mewah milik Kanaya.


"Ingat Jen.., jangan beritahukan kepada siapapun kedatangan ku ke perusahaan, aku ingin melihat dengan mata kepala ku sendiri kinerja mereka dan kau jangan menjemput ku," ucap Kanaya dengan dingin dan tajam.


"Baik nyonya," ucap Jeni.


"Apakah ada yang anda butuhkan lagi nyonya?" tanya Jeni.


"Tidak ada, kau boleh pulang," ucap Kanaya dengan nada dingin.


" Baiklah, Saya permisi nyonya," ucap Jeni seraya menunduk hormat kemudian berjalan keluar meninggalkan Kanaya bersama Gerald di Apartementnya.


"Gerald istirahatlah, mami akan membangunkan mu saat kita akan makan malam," ucap Kanaya seraya tersenyum lembut.


"Non maman j'en ai marre de me reposer dans l'avion," ( tidak mami aku sudah cape beristirahat di pesawat ) ucap Gerald.


"Gerald, pakailah bahasa Indonesia," ucap Kanaya.


"Ok mam, sorry." ucap Gerald.

__ADS_1


keesokan paginya Kanaya berangkat ke GB Group, perusahaan yang didirikannya dengan susah payah yang akhirnya berkembang menjadi perusahaan yang sangat maju, dengan langkah tegas Kanaya memasuki perusahaannya bersama Gerald, di balik topeng yang dipakainya wajahnya yang dingin dan tatapan matanya yang tajam, membuat siapapun yang melihatnya menjadi sangat enggan padannya, keanggunannya, saat berjalan, pakaian kerja yang melekat ditubuhnya yang ramping bak gitar spanyol, topeng indah yang bertengger di sebagian wajahnya, yang hanya memperlihatkan matanya yang bening dan tajam, hidungnya yang bangir terlihat separuh, dagunya yang runcing membuat setiap orang yang melihatnya penasaran, secantik apa pemilik topeng dengan tubuh semampai itu.semua mata memandangnya dengan penuh pertanyaan, Kanya yang tak mengacuhkan pandangan mereka memasuki lift khusus CEO dan para petinggi perusahaan tak ada satu orang pun yang mampu melarangnya memasuki lift tersebut, semuanya terdiam terpaku menatapnya, hingga pintu lift tertutup. kemudian seorang resepsionis GB group pun tersentak kaget dan berlari mengejar Kanaya yang berada di lift.


"Mampus aku, wanita bertopeng dan anaknya itu memasuki lift khusus pemilik perusahaan ini, sepertinya aku harus segera hengkang dari perusahaan ini, karena ibu Jeni pasti akan memecat ku," ucapnya dengan lesu.


sesampainya di lantai pintu lift pun terbuka, Kanaya keluar dari Lift matanya mengedar di sepanjang lorong seraya berjalan, hingga sampailah di sebuah pintu yang sedikit terbuka, matanya melirik curiga kearah pintu itu, kemudian kakinya melangkah menghampiri pintu itu dan mengintip dari pintu yang sedikit terbuka, matanya yang tajam melihat adegan tak senonoh diatas meja kerja.


"Sitttt..., aku memelihara seorang Direktur yang menjijikkan seperti itu. kemudian tangannya merogoh saku blazernya dan menghubungi Jeni asistennya. dengan tergopoh Jeni menghampiri Kanaya, seraya menundukkan kepalanya dengan hormat.


"Gerald tunggu mami Diruangan mami nak," ucap Kanaya pada putranya yang menatap mami nya penuh tanda tanya.


"Ok mam," ucap Gerald seraya berjalan mencari ruangan maminya.


setelah putranya pergi, Kanaya dengan satu kali sentakan menendang pintu itu dan kedua insan yang sedang berada di atas meja melakukan perbuatan maksiat itu tersentak kaget dan menoleh kearah Kanaya dan Jeni.


"Cihhh, Apakah perusahaan ku ini adalah tempat maksiat," ucap Kanaya dingin dan tajam menatap wajah Direktur dan juga perempuan yang jika dilihat dari pakaiannya adalah seorang karyawan.


"Pakai baju kalian dan keluar dari perusahaan ku," ucap Kanaya dingin dan tajam.


"Jeni urus mereka dalam waktu 30 menit aku tidak ingin melihat wajah mereka berdua," ucap Jeni.


"Siapa kau?" ucap Direktur tersebut setelah menggunakan pakaiannya.


"Kalian mencari masalah, dan aku tidak tahu kau dan sekertaris mu itu adalah dua manusia menjijikkan," ucap Jeni.


"Segera bereskan barang-barang kalian dan pergi dari perusahaan ini, sebelum pemilik perusahaan ini mengamuk dan memblack list kalian," ucap Jeni dingin.


"Apa maksud mu?" ucap Direktur dan sekertarisnya.


"Kalian mendengar yang dikatakan pemilik perusahaan ini bukan? dan dengan apa yang sudah ku katakan barusan," ucap Jeni.


"Kalian tidak bisa memecat kami begitu saja," ucap Direktur.


"Bisa karena kau sudah membuat tempat ini, menjadi tempat maksiat, waktu mu 15 menit lagi, dan ingat tak ada satu pun fasilitas perusahaan yang bisa kau bawa," ucap Jeni. setelah mengatakan itu, Jeni keluar dari ruangan Direktur menuju ruangan Kanaya.


"Apalagi ini," ucap Jeni, melihat pemilik perusahaan menatap tajam sekertaris perusahaan, dengan tergesa Jeni menghampiri Kanaya dan Gerald yang menunjukkan wajah dengan penuh amarah menatap sekertaris perusahaan.


"Ada apa nyonya?" tanya Jeni.


"Apakah seperti ini cara seorang sekertaris menyambut tamu perusahaan?"tanya Kanaya dengan tajam, matanya tak lepas memandang sekertaris perusahaan.

__ADS_1


"Dan apakah pakaian para karyawan wanita hanya memakai sepotong pakaian melekat pada tubuh mereka?" tanya Kanaya pada Jeni.


"Kau jika ingin tetap bekerja disini perbaiki sikap mu dan pakaian mu," ucap Kanaya


Jeni urus sekertaris ini," Ucap Kanaya dingin kemudian menuntun putranya memasuki ruangan CEO.


"Apa yang kau lakukan hah?" tanya Jeni pada Sekertaris perusahaan yang berwajah pucat dan dengan gugup sekertaris itu menjawab.


"Maaf nyonya, anak kecil itu akan masuk ke ruangan CEO dan aku melarangnya masuk," ucap Sekertaris itu.


"Kau bodoh Dewi, anak kecil itu adalah putra pemilik perusahaan ini dan Wanita itu adalah pemilik perusahaan ini," Ucap Jeni.


" Maaf nyonya, saya tidak tahu," Ucap Dewi dengan nada penuh ketakutan.


"Kau dengar semua yang dikatannya bukan? mulai hari ini kau lakukan itu, aku sudah mengatakan pada mu berulang kali mengenai pakaian mu itu, tetapi kau tidak mengindahkannya," ucap Jeni.


"Maaf nyonya," ucap Dewi dengan menghiba.


kemudian Jeni pun berlalu dari hadapan sekertaris tersebut menuju ruangan CEO.


"Tok


"Tok


"Masuk ucap Kanaya.


Mendengar suara dari dalam ruangan Jeni pun masuk.


"Duduklah," Ucap Kanaya dingin. Jeni pun duduk di sofa.


"Mulai hari ini perhatikan pakaian karyawan wanita, aku tidak ingin melihat pakaian mereka setengah telanjang, dan untuk Direktur baru dan juga sekertarisnya,cari kandidat yang memiliki kinerja bagus dan memiliki attitude yang baik, aku tidak ingin perusahaan ku dijadikan tempat maksiat." Ucap Kanaya dengan nada tegas dan dingin.


"Baik nyonya," ucap Jeni.


"Seluruh berkas laporan perusahaan besok pagi sudah harus ada di meja ku," Ucap Kanaya.


"Untuk Saat ini, sudah cukup," Ucap Kanaya. kemudian bangkit berdiri seraya berkata pada putranya.


"Ayo nak, kita ke sekolah mu," Ucap Kanaya. kemudian Kanaya dan Gerald pun beranjak pergi diikuti oleh Jeni Asisten pribadinya.

__ADS_1


__ADS_2