Kesalahan Masa Lalu

Kesalahan Masa Lalu
Bab 41. Janji Edward pada Gerald


__ADS_3

Melihat Edward memasuki kamar Kanaya, Daddy Ded menatap tajam pada Edward.


"Biarkan saja Dad, jangan membuat keributan disini kasian putri ku," ucap Mommy Lingga.


Mendengar perkataan Istrinya Daddy Ded hanya diam tak bergeming seraya menghela nafas meredam kemarahannya. Walau bagaimana pun Dia telah menolong Kanaya, sehingga Daddy Ded sedikit melunak. Tak lama kemudian Edward mendekati Brankar dimana Kanaya terbaring, lalu jarinya membelai Wajah Kanaya dengan sangat lembut.


"Apakah ini sakit Nay?" tanya Edward.


"Maafkan aku yang telah melukai mu, aku berjanji apapun akan aku lakukan untuk menebus semua kesalahan ku di masa lalu," Ucap Edward lagi.


"Bangunlah Nay, apakah kau tidak ingin memukul ku lagi? aku lebih suka melihat mu marah dan memukul ku, daripada melihat mu seperti ini, kau tahu saat kau marah, kau terlihat sangat cantik, aku tidak percaya itu adalah kamu Nay," ucap Edward. Kedua matanya berkaca-kaca.


"Seumur hidup ku, aku belum pernah merasakan ketakutan, dan saat aku melihat mu, dengan berlumuran darah saat itu aku sangat takut Nay, aku tidak tahu mengapa aku bisa merasakan ketakutan seperti ini, kau ingat saat kita bertemu di bandara, saat kau menatap ku penuh kebencian dan juga kedua mata mu menangis, saat itu aku merasakan sesuatu yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya, lalu kau pergi menjauh, aku mengikuti mu, tetapi aku menerima telpon dan akhirnya aku pergi dan saat aku melihat kembali kepada mu, kau sudah menghilang, aku tahu saat di restaurant itu kau melihat ku, dan mengenali ku bukan? tetapi kau pergi begitu saja sehingga aku tak bisa mengejar mu, kau bersembunyi dari ku Nay, bangun lah Nay pukul aku, aku rela kau pukuli, apakah kau tidak kasian pada Gerald Nay, buka mata mu jangan tertidur terus, Gerald membutuhkan mu Nay, ku mohon bangunlah, berikan pada ku kesempatan sekali saja Nay, ku mohon." Ucap Edward seraya menangis.


Richard terkejut melihat Edward yang menangisi adiknya seperti itu, seingat Richard, Edward belum pernah menangis seperti itu. Richard pun memperhatikan Edward dengan seksama, dan bertanya-tanya dalam hatinya.


"Bisakah seorang Edward Kusuma menangis seperti itu?"


"Tak berapa lama kemudian Edward menatap mata kedua orang tua Kanaya lalu berkata.


"Om, Tante, tolong biarkan saya disini menemani Kanaya, ijinkan saya Om, Tante," ucap Edward memohon.


Daddy Ded dan Mommy Lingga serta Richard yang mendengar permohonan Edward menatap tajam padanya.


"Tuan, Nyonya, maaf bukan maksud saya ikut campur, tetapi alangkah baiknya Tuan dan Nyonya mengijinkan Tuan Edward menunggu nona Kanaya di sini," ucap Pak Iwan yang sedari tadi berdiri di pojok ruangan, bersama Bi Wati, berikan kesempatan padanya untuk menebus kesalahannya. Maaf Nyonya, Tuan, bukankah karena darah Tuan Edward juga telah menolong Nona Kanaya, dan juga saat di tempat kejadian nona Kanaya tertabrak Tuan Edward yang membantu saya membawa nona Kanaya, seandainya tidak ada Tuan Edward saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan Tuan, nyonya," ucap Pak Iwan.


"Baiklah, biarkan dia disini," ucap Mommy Lingga, seraya menatap Daddy Ded dan juga Richard.


"Richard Jemput lah Gerald di sekolah, dan Pak Iwan pulanglah ganti pakaian mu," ucap Mommy Lingga seraya menatap Pakaian Pak Iwan yang di penuhi dengan darah.


"Bi Wati ikutlah Pak Iwan, bawakan pakaian ku dan juga pakaian suami ku," ucap Mommy Lingga.


Tak lama kemudian pintu kamar Kanaya terbuka masuklah Dokter dan Suster memeriksa Kanaya.


"Bagaimana keadaan Putri saya Dok?" tanya Mommy Lingga.


"Keadaannya masih sama," ucap Dokter.


"Dokter apakah tidak sebaiknya putri saya di bawa keluar negeri saja?" tanya Daddy Ded.


"untuk saat ini kondisi pasien tidak memungkinkan Tuan," ucap Dokter.


"Maaf tuan dan nyonya lebih baik sebagian tunggu di luar saja, hanya satu orang yang dapat menunggu pasien," ucap Dokter.

__ADS_1


"Baik dok," ucap Daddy Ded.


"Saya permisi tuan, nyonya," ucap Dokter seraya melangkah kakinya berjalan keluar dari kamar Kanaya.


Daddy Ded, Mommy Lingga dan juga Richard serta Pak Iwan dan juga Bi Wati, keluar dari kamar Kanaya, tinggal lah Edward di dalam kamar Kanaya duduk terpaku menatap wajah Kanaya yang pucat pasi.


"Sampai kapan kamu akan seperti ini Nay? Apakah tidur mu Terlalu lelap sehingga kau enggan membuka mata mu? Bukalah mata mu sejenak saja, agar aku bisa melihat indahnya mata mu, itu atau tatapan marah mu pada ku," ucap Edward. Seraya memegang telapak tangan Kanaya dan memperhatikan telapak tangan itu seraya berkata lagi.


"Kau tahu Nay, aku lebih suka tangan ini menampar ku, dibandingkan melihat tangan ini tak bergerak sedikit pun,"


"Apakah kau ingin menyiksa ku dengan cara seperti ini?" tanya Edward.


"Jawablah Nay, jangan diem saja," ucap Edward. Kemudian membaringkan kepalanya di sisi Kanaya, pandangannya menatap telapak tangan Kanaya yang digenggam lembut olehnya.


Sementara itu di balik pintu Daddy Ded dan Mommy Lingga serta Richard memperhatikan Edward dan mendengarkan setiap perkataan Edward, hati mereka terenyuh mendengar setiap perkataan Edward. Seraya menghela nafas panjang Richard pun berkata.


"Sekarang dia sudah mendapatkan hukumannya sendiri, aku belum pernah melihatnya seperti ini," ucap Richard, kemudian menatap kedua orang tuanya dan berkata.


"Aku akan menjemput Gerald," ucapnya kemudian berjalan pergi meninggalkan kedua orang tuanya yang termenung melihat Edward di dalam kamar Kanaya.


Satu jam kemudian Richard dan Gerald pun datang, Gerald yang bingung mengapa uncle nya membawanya ke rumah sakit, berlari menghampiri Opa dan Omanya.


"Opa, Oma, kenapa ada disini?" tanya Gerald seraya duduk ditengah-tengah Opa dan Omanya.


"Loh Oma kenapa menangis?" Tanya Gerald.


"Mami mu sakit nak," ucap Daddy Ded.


"Sakit? loh bukannya tadi pagi Mami baik-baik saja?" tanya Gerald.


"Mami mu mengalami kecelakaan tadi siang," ucap Daddy Ded.


"Kecelakaan?" tanya Gerald, kemudian Gerald pun terkejut dan menatap Oma dan Opanya.


"Mami dimana sekarang Opa?" tanya Gerald kemudian bangkit berdiri.


"Tenang nak, mami mu ada di dalam, ayo," ucap Opanya seraya menuntun Gerald dan membawanya masuk kedalam kamar Kanaya. Sesampainya di dalam kamar Kanaya Gerald terbelalak melihat kondisi maminya.


"Mamiiiii," teriak Gerald.


"Mami kenapa?" tanya Gerald seraya memeluk tubuh Kanaya. Edward yang melihat putranya menangis seraya memeluk Kanaya menghampirinya dan berusaha melepaskan pelukan Gerald dari Kanaya seraya berkata.


"Jangan seperti ini nak, mami akan kesakitan jika kamu memeluknya seperti ini, mami mu baru saja di operasi," ucap Edward seraya berusaha melepaskan pelukan Gerald.

__ADS_1


Daddy Ded dan juga Richard yang melihat itu berjalan menghampiri Gerald, tetapi langkahnya terhenti ketika tangan Mommy Lingga memegang tangan Daddy Ded dan juga Richard. Lalu mereka menatap Mommy Lingga dengan penuh tanda tanya, Mommy Lingga hanya menggelengkan kepalanya pada mereka tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


"Lepaskan aku. Aku ingin bersama mami ku, kau pergilah jangan dekati aku," seru Gerald seraya terisak menepis tangan Edward yang berada di pundaknya.


"Kau bisa memeluknya jika Mami mu sudah sembuh, apakah kau tidak melihat perban yang ada di tangan mami mu, dan apakah kau ingin luka yang ada pada tubuh mami mu mengeluarkan darah lagi?" tanya Edward.


Kemudian Edward berusaha membujuk Gerald sehingga Gerald melepaskan pelukannya pada maminya, kedua matanya menatap sekujur tubuhnya.


"Maafkan aku mam, aku tidak bermaksud menyakiti mu," ucap Gerald di sela Isak tangisnya.


"Stttt, berhentilah menangis, kasian mami jika mendengar mu menangis," ucap Edward.


"Kau ingin mami mu cepat sembuh bukan? jika ingin mami mu cepat sembuh tersenyumlah, dan berikan senyuman mu pada mami mu, berbicaralah padanya agar mami mu mendengar setiap perkataan mu, saat ini mami mu membutuhkan dukungan mu," ucap Edward. kemudian Edward mensejajarkan tubuhnya dengan cara menekuk kedua lututnya di lantai sehingga kutunya menjadi penopang tubuhnya, dan mereka dapat saling bertatapan, Gerald pun tak perlu mendongakkan kepalanya untuk melihat wajah Edward.


Gerald hanya diam mendengar perkataan Edward, dan menatap wajah Edward, lalu Edward pun memeluk Gerald dengan erat, mereka pun saling berpelukan Gerald menangis terisak, menyayat hati Edward kemudian berkata.


"Aku tidak mau kehilangan mami. Mami satu-satunya orang yang aku miliki sekarang ini," ucap Gerald seraya menangis terisak.


"Hei, kau tidak sendirian, kau memiliki Opa dan Oma, dan paman mu Richard dan juga aku Papi mu," ucap Edward.


"Tatap Papi nak," ucap Edward. Kemudian Gerald pun menatap Edward. Tatapannya sendu, wajahnya menyiratkan kesedihan yang mendalam, air matanya tak henti-hentinya menetes di kedua belah pipinya.


"Kau ingat apa yang Papi katakan pada mu di taman rumah sakit?" tanya Edward.


"Maukah kau memberikan ku satu kesempatan saja untuk menjadi Papi mu?" tanya Edward, seraya menatap penuh harap pada Gerald.


"Setidaknya berikan Papi kesempatan sampai mami mu sembuh untuk menjaga kalian," ucap Edward.


Gerald menatap wajah Papinya tak ada lagi kesan dingin pada tatapan anak berusia sepuluh tahun itu, yang ada hanya tatapan seorang anak yang mengharapkan pelukan seorang ayah, pelukan yang dapat menguatkannya.


"Apakah kau bisa memegang janji mu dan tidak menyakiti mami ku lagi?" tanya Gerald.


"Papi berjanji nak," ucap Edward, seraya menatap putranya dengan penuh harap.


"Peganglah janji mu itu tetapi jika kau mengingkarinya maka aku sendiri lah yang akan menjauhkan mu dari mami ku," ucap Gerald menatap tajam Edward.


"Papi berjanji pada mu," ucap Edward. Seraya menatap putranya.


"Terima kasih nak," ucap Edward seraya memeluk putranya dengan erat harapan baru telah didapatkan walaupun Edward tahu akan sulit mendapatkan kepercayaan Kanaya dan juga kedua orang tua serta kakaknya.


Hatinya terasa lega entah apa yang dirasakannya saat dia bisa memeluk Gerald, seperti sesuatu merasuk kedalam hatinya sesuatu yang tak bisa diungkapkan oleh kata-kata, perasaan bahagia, perasaan senang. Entahlah semua rasa itu ada dalam benaknya.


"Sekarang hapuslah air mata mu," ucap Edward seraya melepaskan pelukannya dan menghapus air mata Gerald di kedua pelupuk matanya.

__ADS_1


Daddy Ded, Mommy Lingga dan Richard yang menyaksikan adegan ayah dan anak itu, merasa terharu dan iba pada mereka.


__ADS_2