
"Jadi sebenarnya Oma di jodohkan dengan Opa Kusuma?"tanya Kanaya.
"Iya benar,"ucap Kakek Pratama.
"Lalu bagaimana dengan Paman Wahyu?"tanya Kanaya.
"Setelah pembicaraan malam itu kakek buyut mu dan juga kakek Pratama memperketat penjagaan bukan hanya itu sahabat Oma mu Bernie Aubert Beaufort sengaja datang ke Indonesia, membantu kami menjaga Oma mu,"ucap Kakek Pratama tersenyum mengingat Bernie sahabat adiknya.
"Apakah hubungan mereka sangat dekat?"tanya Kanaya.
"Mereka berteman sejak kecil klan Kasendra memiliki hubungan bisnis dengan keluarga mereka,"ucap Kakek Pratama. lalu berkata lagi.
"Dulu kami saling mengunjungi."
"Wow keren,"seru Cintya.
"Aku gak nyangka ternyata kalian memiliki hubungan baik dengan keluarga bangsawan itu, seluruh Perancis tahu bahwa mereka membatasi pertemanan mereka,"ucap Cintya.
"Tapi sebenarnya tidak seperti itu mereka melakukan itu hanya sebagai bentuk pertahanan saja karena posisi mereka mengharuskan seperti itu, tetapi sebenarnya mereka adalah keluarga bangsawan yang sangat ramah dan perduli pada setiap orang,"ucap Pratama.
"Terkadang seseorang menilai orang lain dari luarnya saja,"ucap Kanaya membenarkan perkataan Kakek Pratama.
"Kamu benar Nak,"ucap Kakek Pratama.
"Sepertinya kita semua sudah sangat lelah, lebih baik kita lanjutkan lagi besok ceritanya,"ucap Opa Hendra.
"Iya benar Opa,"ucap Kanaya.
Kemudian melirik jam yang ada di pergelangan tangannya.
"Kemana anak mu Nay?"tanya Opa Hendra.
"Gerald nginep di rumah Edward Opa,"jawab Kanaya.
"Kapan cicit ku pulang kesini?"tanya Opa Hendra.
"Kemungkinan besok,"jawab Kanaya.
"Opa belum melihat putra ku kan? kelamaan di gunung sih,"ucap Kanaya dengan nada mengejek Opanya.
"Ishh, anak ini,"ucap Opa Hendra.
"Emang iya, di telpon susah banget nyambungnya,"ucap Kanaya.
"Hehehee,"tawa kecil Opa Hendra.
"Baiklah sepertinya sudah sangat larut lebih baik kita istirahat terlebih dahulu,"ucap Daddy Ded.
"Oke Dad,"ucap Kanaya.
Kemudian mereka bangkit berdiri berjalan menuju kamar masing-masing, sedangkan Kakek Pratama dan juga istrinya menuju kamar tamu yang telah disiapkan oleh Bi Wati.
Sementara itu Opa Hendra yang telah berada di dalam kamarnya, menatap sekeliling ruangan kamarnya, kemudian berjalan mendekati sebuah Foto berpigura yang melekat di dinding kamar, Foto dirinya yang sedang memeluk Istrinya Keila Kasendra, tangan kanannya meraba wajah istrinya.
"Sayang aku kembali ke rumah ini,"ucap Opa Hendra dalam benaknya.
"Kanaya sangat mirip dengan mu, seandainya kau melihatnya, dia sangat cantik seperti mu kei,"ucap Opa Hendra lagi.
Kemudian tangannya mengelus wajah istrinya dengan lembut seolah-olah foto itu adalah wujud istrinya. Kemudian memejamkan kedua matanya membayangkan wajah istrinya yang tersenyum lembut saat menatapnya, sepasang mata bening itu tak pernah sedikit pun memancarkan kemarahan. sepanjang hidupnya dia mengabdikan dirinya untuk berbuat baik, dia sangat mudah terenyuh melihat orang-orang yang berada dalam kesusahan, dan tanpa berpikir panjang apapun akan dilakukan olehnya untuk membantu orang-orang tersebut.
Opa Hendra tersenyum mengingat semua kenangan tentang istrinya, lalu membuka kedua matanya dan menatap kembali foto yang ada di depannya itu.
"seandainya kamu masih hidup Kei,"ucapnya lalu menghela nafas panjang dan menghembuskannya. Kemudian melangkahkan kakinya dan tanpa mengganti pakaiannya Opa Hendra membaringkan tubuhnya diatas tempat tidurnya. Lalu memejamkan mata dan akhirnya dia pun terlelap.
__ADS_1
...****************...
Jam 8 Pagi setelah sarapan, mereka duduk di kursi taman mansion, Kanaya dan juga Daddy Ded serta Cintya sengaja mengambil libur hari ini untuk menemani Kakek Pratama dan juga Opa Hendra.
"Apakah Kak Richard belum pulang juga dari semalam?"tanya Kanaya.
"Kakak mu masih tidur Nay,"ucap Mommy Lingga.
"Bagaimana kelanjutan cerita semalam?"tanya Kanaya seraya menatap Kakek Pratama dan juga Opa Hendra.
"Sabarlah Nay, kita menunggu keluarga Kusuma,"jawab Kakek Pratama.
Tak lama kemudian dari arah belakang, Gerald berlari menghampiri maminya.
"Mamiiiiii,"teriak Gerald
"Apakah kamu tidak lelah berlari seperti itu?"tanya Kanaya seraya tersenyum pada putranya.
"No mam,"jawab Gerald. Kemudian memeluk maminya. Sementara itu orang tua Edward dan juga Edward berjalan menghampiri mereka di wajah mereka terulas senyum menatap Gerald yang memeluk maminya lalu pada semua orang yang ada di taman mansion.
"Siapa mereka?"tanya Gerald pada Maminya seraya menatap wajah Opa Hendra dan juga Kakek Pratama dan istinya Ayu.
"Mereka adalah Opa, dan Kakek buyut serta Nenek buyut mu,"jawab Kanaya.
"Benarkah?"tanya Gerald.
"Ya benar nak, dan kau lupa memeluk Opa dan Oma Mu ini hah,"ucap Daddy Ded.Seraya memutar kedua bola matanya
"Hehehe aku lupa,"ucap Gerald cengengesan. kemudian menghampiri Opa dan Omanya lalu memeluk mereka. Gerald pun menghampiri Opa Hendra dan juga Kakek pratama dan istrinya Ayu.
"Wallahhh gantengnya,"seru Nenek Ayu. seraya memegang wajah Gerald dengan kedua tangannya.
"Iya dong nek, siapa dulu dong maminya,"ucap Gerald. Seraya mengedipkan matanya pada nenek Ayu.
"Wallahhhh Nak, kamu ikut nenek aja ya tinggal sama kakek dan nenek mu ini."ucap Nenek Ayu, lalu berkata lagi.
"Mau ya?"
"Eh jangan Nek, aku bisa kesepian nggak ada Gerald,"ucap Kanaya.
"Kamu masih muda bisa bikin anak lagi yang banyak, nenek sudah jatuh cinta sama anak mu ini,"ucap Nenek Ayu.
"Tidak boleh, Gerald tinggal sama Opa buyut aja."ucap Opa Hendra.
"Sama Nenek Ayu aja, jangan mau sama Opa Buyut mu itu,"ucap Nenek Ayu.
"Ishhhh kenapa kalian jadi memperebutkan aku sih?"tanya Gerald.
"Apakah karena aku ganteng,"ucapnya lagi dengan narsis seraya menaikkan kedua alisnya.
"Ganteng di lihat dari puncak gunung Himalaya pake sedotan,"seru sebuah suara yang menghampiri mereka.
"Yakkkkk.., uncle sirik aja bawaannya sama aku,"ucap Gerald.
"Siapa yang sirik? gantengan juga Uncle,"ucap Richard.
"Iya bener gantengan Uncle dilihat dari puncak gunung Himalaya pake sedotan yang ketutup, aku masih mending sedotannya gak ke tutup jadi masih keliatan walaupun sedikit. kalai sedotannya ketutup gimana mau lihat,"ucap Gerald.
"Ishhh Dasar Bocah,"ucap Richard.
"Ishhh Dasar Bocah tua, aunty Cintya jangan mau sama Uncle Richard, Uncle Richard kan jelek,"ucap Gerald.
"Siapa bilang Aunty Cintya gak mau sama Uncle?"tanya Richard.
__ADS_1
"Aku yang bilang, Aunty Cintya kan pasti nurut omongan aku,"ucap Gerald seraya menjulurkan lidahnya pada Richard.
"Stop, kalian ini kalau ketemu pasti aja berantem,"ucap Mommy Lingga.
"Uncle Richard yang mulai tuh Oma,"sungut Gerald.
"Gerald yang mulai Mom,"ucap Richard.
"Richard kamu diam,"ucap Mommy Lingga kemudian menatap tajam Richard.
"Wekkk, rasain dimarahin Oma,"ucap Gerald seraya menjulurkan lidahnya.
"Kamuu,"seru Richard.
"Kalian ini kalau ketemu kayak Tom and Jerry,"seru Mommy Lingga. Lalu menggelengkan Kepalanya.
Kemudian Gerald berlari menuju Cintya yang duduk di sebuah kursi berdekatan dengan Kanaya, Gerald menyusup ditengah-tengah Cintya dan Maminya Lalu mendorong sedikit tubuh Cintya kedepan dan menyembunyikan wajahnya di belakang tubuh Cintya.
"Aunty Cantik tolong aku,"ucap Gerald. Richard menghampiri Cintya tangannya terulur ingin meraih Gerald.
"Richard tarik tangan mu,"ucap Cintya menatap Tajam Richard.
"Nggak aku akan memberi pelajaran bocah ini,"ucap Richard.
Kemudian mengulurkan tangannya dan menggelitik Gerald.
"Stop Richard, kamu tuh ya kayak anak kecil aja, kamu duluan yang godain Gerald,"ucap Cintya dengan nada tegas.
"Sekarang lepaskan tangan mu dan duduklah disana,"ucap Cintya.
"Oke oke baiklah,"ucap Richard mengalah.
Daddy Ded yang memperhatikan interaksi Richard dan juga Cintya. Menatap mereka dengan pandangan penuh arti dan berkata dalam benaknya.
"Aku tidak salah pilih, hanya Cintya yang mampu menjadi istri Richard."
Sementara itu Mommy Lingga yang melihat Richard patuh dengan perkataan Cintya tersenyum lebar menatap putranya itu yang telah duduk di sebelah Opa Hendra.
"What Mom?"tanya Richard yang melihat mommy Lingga menatapnya tak berkedip sedikit pun dengan senyum lebar menghias wajahnya.
"Nothing,"ucap Mommy Lingga.
"Gara-gara kalian besan datang malah di anggurin,"ucap Mommy Lingga. kemudian menghampiri Mami Edward dan Juga Papi Edward begitu pun dengan Daddy Ded, mereka saling bersalaman lalu mempersilahkan Papi dan Mami Edward duduk. Kanaya menghampiri calon mertuanya menyalami mereka. Lalu duduk kembali ke kursinya.
"Aku gak di salamin juga nih Nay,"ucap Edward seraya mengedipkan sebelah matanya menggoda Kanaya.
"Ishhhh Papi genit,"ucap Gerald.
"Gak apap-apa dong sama istri sendiri,"ucap Edward.
"Calon istri,"ucap Richard dengan nada penuh penekanan.
"Mulai lagi deh,"ucap Kanya.
"Tuh calon suami mu yang mulai,"ucap Richard.
"Stop kalian ini ya kalau ketemu gak dimana-mana selalu aja bikin kesel,"ucap Kanaya.
"Sekarang tutup mulut kalian dan diam,"ucap Kanaya dengan nada dingin dan tajam.
Mendengar perkataan Kanaya Edward, Richard dan Gerald diam tak berkutik sedikit pun. Lalu Kanaya menatap Gerald dan berbicara pada putranya.
"Gerald pergilah ke kamar mu nak,"ucap Kanaya Lalu menatap putranya.
__ADS_1
"Oke mam,"ucap Gerald. Kemudian bangkit berdiri dari kursinya lalu mengecup pipi maminya dan berjalan memasuki mansion.