Kesalahan Masa Lalu

Kesalahan Masa Lalu
Bab 99. Ketenangan Yang Menghanyutkan


__ADS_3

Sesampainya di rumah, Edward menggendong Kanaya keluar dari dalam taksi, dengan tergesa-gesa Edward melangkah berjalan memasuki rumah.


"Kenapa Kanaya Ed?"seru Mommy Lingga seraya menghampiri Kanaya yang berada di pelukan Edward.


Mommy Lingga, Daddy Ded, Opa Hendra dan juga Kakek Pratama, serta Nenek Ayu baru saja sampai di perancis, mereka duduk di sofa ruang tamu menunggu kedatangan Kanaya dan Edward serta Cintya dan Richard. saat mereka baru saja sampai, pelayan mengatakan mereka pergi dengan terburu-buru dan tak mengatakan akan pergi kemana.


"Kanaya pingsan mom,"ucap Edward. Seraya membaringkannya diatas sofa ruang tamu. lalu berteriak memanggil pelayan rumah.


"kenapa bisa?"tanya Daddy Ded.


Kemudian melangkahkan kaki berjalan menghampiri putrinya.


"Nay,"seru Mommy Lingga, yang telah berada di samping Kanaya. Tangannya mengelus kepala Kanaya dengan lembut lalu berkata lagi.


"Bangun Nak, ini mommy."


"Edward ada apa dengan cucu ku?"tanya Opa Hendra.


"Gerald di culik kek,"ucap Edward.


"Apa..!"seru Opa Hendra, Daddy Ded, serta yang lainnya.


"Kenapa bisa?"tanya Daddy Jonathan dengan nada dingin dan tajam menatap nyalang wajah Edward.


"Entahlah Dad, pagi tadi kepala ku sakit dan aku beristirahat di dalam kamar dan saat aku bertanya pada Kanaya di mana Gerald, Kanaya mengatakan putra ku ke taman, dari situlah aku mengetahui Gerald di culik,"jawab Edward.


Kemudian menghela nafas panjang, dan menghembuskannya. lalu berkata lagi.


"semalam aku melihat sekelebat bayangan di depan rumah, aku tak sengaja melihatnya saat aku akan naik keatas menuju kamar. Lalu aku keluar dan di depan pintu aku menemukan secarik kertas."


"Apa isinya?"tanya Daddy Ded tajam.


"Mereka mengancam kehidupan kami,"jawab Edward.


"Jadi saat aku lihat kamu duduk termenung di sini, kamu sedang memikirkan itu?"tanya Richard dengan dingin dan tajam menatap Edward. Lalu berseru.


"Mengapa kamu tidak mengatakan pada ku hah..!"


"Sebenarnya saat kamu masuk kekamar, aku akan menceritakan semuanya pada mu, tetapi aku menunggu waktu yang tepat karena aku tidak ingin membuat Kanaya kuatir. Itulah sebabnya aku menanyakan Gerald berharap Kanaya pergi mencarinya,"ucap Edward. Lalu melanjutkan perkataannya.


"Dan di luar dugaan ternyata putra ku tidak di rumah dan belum kembali sampai sesiang itu."


Tak lama kemudian pelayan rumah datang menghampiri mereka.


"Désolé, messieurs, madames. Puis-je vous aider ?" (Maaf tuan-tuan, nyonya-nyonya, apakah ada yang bisa saya bantu )tanya Pelayan rumah.

__ADS_1


"Oh Seigneur..! Qu'est-il arrivé à Mme Kanaya?"( Ya Tuhan apa yang terjadi pada nyonya Kanaya )tanya Pelayan. seraya menghampiri Kanaya.


"Prenez l'huile éolienne que Kanaya utilise habituellement," ( ambilkan minyak angin yang biasa Kanya gunakan) ucap Cintya.


"Ok Madame," (baik nyonya)ucap pelayan tersebut lalu dengan tergopoh-gopoh berlari menuju sebuah kotak obat yang menempel didinding dapur.


Kemudian mencari minyak kayu putih yang selalu disediakan oleh Kanaya di kotak obat. setelah mendapatkan minyak kayu putih. pelayan tersebut kembali berlari menghampiri Kanaya dalam benaknya berkata dalam bahasa Perancis.


"Baru aku merasa jika rumah ini terlalu besar, nyonya Kanaya semoga kamu baik-baik saja nyonya."


Sesampainya di ruang tamu dimana Kanaya terbaring, pelayan rumah memberikan minyak kayu putih pada Cintya. Lalu Cintya membuka tutup minyak kayu putih tersebut dan meletakkannya pada hidung Kanaya.


"Nay, bangun nak,"ucap mommy Lingga, kemudian mengalihkan pandangannya pada Daddy Ded, dengan tatapan memohon lalu berkata.


"Dad tolong putri ku Dad."


"Mom.., sabarlah tanpa mommy mengatakan apapun Daddy akan mencari cucu ku,"jawab Daddy Ded.


"Gerald, Gerald dimana kamu nak,"ucap Kanaya, kedua matanya masih terpejam.


"Sayang bangun yang,"ucap Edward.


Seraya mengelus wajah Kanaya kedua matanya menatap wajah Kanaya dengan tatapan sendu terlihat jelas di kedua matanya, yang di penuhi dengan kekuatiran.


"Dimana putra ku?"tanya Kanaya pada Edward.


"Tenang yang, kita akan menemukan putra kita,"jawab Edward.


Kanya menatap wajah Edward, sebuah tatapan yang dipenuhi dengan kesedihan. Lalu berkata.


"Putra ku belum makan dia pasti kelaparan di luar sana, aku ingin mencarinya dan menyuapinya."


"Sayang jangan seperti ini, percayalah kita akan menemukan putra kita,"ucap Edward. Seraya meraih Kanaya membawa kedalam pelukannya.


Tak lama kemudian pecahlah tangis Kanaya, tangisan seorang ibu yang kehilangan anaknya, ratapan seorang ibu yang mengkuatirkan anaknya.


Beberapa menit kemudian tangisannya pun berhenti dan wajahnya berubah tanpa ekspresi sedikit pun. kedua tangannya terkepal tatapannya lurus kedepan. Edward yang merasakan perubahan Kanaya merenggangkan pelukannya dan menatap wajah Kanaya yang tanpa ekspresi, tetapi matanya menyiratkan suatu kemarahan yang tak dapat di bendungnya lagi.


Semua mata menatap Kanaya dengan penuh kekuatiran melihat wajah Kanaya dengan ekspresi seperti itu, Mommy Lingga dan Cintya mencucurkan air mata melihat keadaan Kanaya lalu Mommy Lingga berkata.


"Sayang."


Lalu mengelus punggung Kanaya dengan lembut, elusan seorang ibu yang berusaha menenangkan putrinya.


Kemudian kedua mata Kanaya berkeliling menatap satu persatu yang ada di ruang keluarga lalu berkata dengan dingin sangat dingin.

__ADS_1


"Aku tidak apa-apa."


"Kalian tidak perlu kuatir, karena aku baik-baik saja."dengan nada yang sama.


"Cin, hubungi Mark,"ucap Kanaya lagi masih dengan nada yang sama.


"Baik Nay,"ucap Cintya.


Kemudian Cintya merogoh saku celananya dan mengambil handphonenya lalu menghubungi Mark.


"Dad, aku pinjam orang-orang mu,"ucap Kanaya seraya menolehkan wajahnya pada Dady Ded.


"Kak Richard dan Edward kalian bergeraklah,"ucap Kanaya lagi.


"As you wish princess,"ucap Richard.


Kemudian mereka pun terdiam dengan pikiran masing-masing sementara itu Daddy Ded, Richard dan Edward sibuk dengan handphone mereka.


Tiba-tiba kakek Pratama bersuara, membuat semua orang menoleh padanya.


"Besok pagi kalian akan ikut dengan ku menemui Bernie,"ucapnya dengan dingin.


"Sudah saatnya kalian memperkenalkan diri kalian padanya dan kita akan meminta bantuan padanya,"ucapnya lagi dengan nada yang sangat tenang.


Tetapi ketenangannya itu, bagaikan aliran air mengalir dengan tenang, tetapi mengandung makna yang berbeda.


Sebentar lagi ketenangan itu akan menjadi sebuah ombak yang sangat dahsyat bagaikan air bah yang meluluh lantahkan.


Kemudian Kedua matanya menatap satu persatu yang ada diruangan tamu tersebut.


Nenek Ayu menatap wajah suaminya lalu memegang tangannya berusaha menenangkan Kakek Pratama.


Lalu kakek Pratama menoleh pada istrinya dan berkata.


"Aku tidak apa-apa." Lalu tersenyum.


Trauma masa lalu belum menghilang dari ingatan Kakek Pratama intuisinya sebagai keturunan Keluarga Kasendra membuatnya sangat peka. Lalu Kakek Pratama menatap Kanaya dan berkata.


"Tenangkan diri mu, kau tidak akan bisa berpikir jika semua isi pikiran mu di penuhi dengan amarah."


Mendengar perkataan Kakek Pratama, Kanaya menolehkan wajahnya lalu menatap wajah Kakek Pratama.


"Istirahatlah."ucap Kakek Pratama dengan nada yang sangat tenang.


Sedangkan Kanaya hanya diam menatap Kakek Pratama tanpa mengucapkan sepatah katapun, mereka pun saling bertatapan tiba-tiba mata Kanaya berkilat, sehingga membuat semua yang berada di ruangan itu merinding, Opa Hendra yang menyaksikan itu hanya bisa menghela nafas panjang lalu menghembuskannya.

__ADS_1


__ADS_2