Kesalahan Masa Lalu

Kesalahan Masa Lalu
Bab 37. Pertemuan Papi dan Anak 2


__ADS_3

"Ke toilet kok lama banget nak?" tanya Daddy Ded.


"Iya Opa, perut aku mules, hehehee..," ucap Gerald seraya tertawa kecil menghilangkan kegugupannya kemudian duduk di kursinya.


"Mules?" Tanya Daddy Ded.


"Iya Opa, tapi udah nggak, cumaaa...!" jawab Gerald.


"Udah ah ntar jijik lagi kalau diomongin,"ucap Gerald.


"Ya udah kalau gitu, ayo kita makan," ucap Daddy Ded. Kemudian Daddy Ded dan Gerald pun menyantap makanan yang ada di atas meja.


"Ahhhhh kenyangnya," ucap Gerald. Daddy Ded tersenyum menatap Gerald. kemudian melambaikan tangannya pada pelayan restoran. Tak lama kemudian pelayan restoran pun datang seraya membawa dua kotak nasi dalam kantong kresek restoran tersebut, dan menyerahkannya pada Daddy Ded.


Setelah membayar tagihan, Daddy Ded dan juga Gerald serta Pak Sopir berjalan keluar dari restaurant tersebut menuju halaman parkir dimana mobil mereka diparkir. Kemudian mereka pun memasuki mobil. Lalu Pak Sopir pun melajukan mobil mewah tersebut menuju rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit Daddy Ded dan Gerald turun dan berjalan memasuki rumah sakit menuju Kamar Kanaya berada. Sesampainya didalam kamar, Gerald berlari menghampiri maminya.


"Mam," seru Gerald kemudian mengecup pipi maminya. Melihat putranya wajah Kanaya tampak berseri. kemudian mendudukkan tubuhnya diatas pembaringannya.


"Sini duduk sama Mami," ucap Kanaya seraya menepuk kasur. Gerald pun duduk di atas Kasur di sebelah maminya.


"Mami gak istirahat?" tanya Gerald.


"Mami cape tidur terus," ucap Kanaya.


"Mommy makan siang dulu, nih Daddy bawa kepiting asam manis dan tempura," ucap Daddy Ded seraya menyerahkan kantong kresek yang dibawanya kepada Mommy Lingga.


Kemudian mommy Lingga mengambil kantong kresek tersebut lalu mengeluarkan kotak nasi berisi kepiting dan asam manis lengkap dengan seporsi nasi. Mommy Lingga pun menyantap makan siang nya dengan lahap.


"Mami udah makan obat?" tanya Gerald.


"Udah nak," jawab Kanaya, seraya tersenyum menatap Putranya.


"Mami sekarang istirahat," ucap Gerald. kemudian Gerald pun turun dari tempat tidur, lalu berjalan menuju sofa di sebelah Omanya.


Waktu pun terus berlalu tak terasa jam didinding menunjukkan pukul 3 sore, Gerald menatap maminya yang tertidur, begitu pun Omanya yang tertidur di sofa panjang yang disediakan oleh pihak rumah sakit, sedangkan Opanya telah kembali ke perusahaannya.


Dengan langkah perlahan Gerald berjalan menuju pintu dan membukanya, lalu berjalan keluar dari kamar maminya, dengan perlahan menutup pintu. Agar mami dan juga Omanya tak terbangun. Gerald pun berjalan menyusuri lorong rumah sakit menuju taman rumah sakit dimana Gerald berjanji menemui Edward Kusuma.

__ADS_1


Sesampainya di taman rumah sakit terlihatlah Edward duduk di kursi taman. kemudian Gerald pun menghampirinya dan duduk di sebelahnya.


"Akhirnya kamu datang juga nak," ucap Edward.


"Apakah anda sudah menunggu lama?" tanya Gerald.


"Tidak juga, aku baru saja sampai 5 menit yang lalu," ucap Edward seraya menatap Gerald.


"Apa yang ingin anda katakan? aku tidak memiliki waktu banyak, aku takut mami dan Oma ku terbangun dan mencari ku," ucap Gerald. seraya menatap tajam Edward.


"Bagaimana keadaan Mami mu?" tanya Edward.


"Mami ku sudah membaik," ucap Gerald.


"Aku minta maaf atas semua yang terjadi pada mami mu dan juga kamu,"ucap Edward.


"Apakah hanya itu yang ingin kamu katakan pada ku?" tanya Gerald.


"Tidak, banyak yang ingin aku katakan pada mu," ucap Edward.


"Aku benar-benar meminta maaf pada mu," ucap Edward.


"Saat di Perancis aku melihat ibu mu di sebuah restoran, aku mencarinya tetapi aku tak menemukannya, dan saat aku kembali ke Indonesia, aku sangat terkejut melihat mami mu,yang ternyata adalah adik dari teman ku, dan terlebih lagi aku terkejut melihat mu yang sangat mirip dengan ku, aku mencoba mencari tahu, tetapi aku tak bisa menemukan informasi tentang mu, hingga Papi ku, mengajak ku ke sekolah mu dan aku melihat mu bersama dengan mami mu, saat itu terjawab lah semua keingintahuan ku tentang mu, aku berusaha ingin menemui mu dan mami mu, tetapi kalian sangat sulit dijangkau, semua orang yang aku suruh untuk mengikuti mu, semata-mata hanya ingin mengetahui apa yang kamu lakukan, dan jika ada waktu sedikit saja, aku ingin menemui mu dan berbicara pada mu, tetapi semua sia-sia apapun yang aku lakukan, tak bisa membodohi Opa dan Uncle mu."


"Semua orang menghukum ku, Opa mu, Mami mu, Uncle mu,dan juga Kedua orang tua ku, aku tahu mereka berhak melakukan itu karena aku pantas mendapatkan hukuman itu," ucap Edward lagi seraya tersenyum miris menertawakan dirinya yang pengecut hanya demi wanita yang sangat di cintainya yang sangat pandai memperdayainya atas nama Cinta.


Sehingga dia tega menghina dan mempermalukan wanita yang mengandung benihnya dan memintanya untuk menggugurkan kandungannya.


"Aku tahu semua yang terjadi di masa lalu mu bersama ibu ku, dan aku juga tahu siapa kau, dan juga wanita kekasih mu dulu sehingga kau tega berbuat keji pada ibu ku," ucap Gerald dengan geram.


Mendengar perkataan Gerald. Edward sangat terkejut.


"Bagaimana kamu bisa mengetahui semua itu?" tanya Edward seraya menatap Gerald dengan tatapan tak percaya.


"Tidak perlu kau tahu bagaimana aku mengetahui semua itu," ucap Gerald dengan dingin dan tatapan tajam.


Melihat tatapan Gerald seperti itu padanya sesaat Edward terhenyak dan bertanya-tanya, bagaiman bisa anak seusia Gerald mengetahui segalanya, dan tatapan itu seperti tatapan seorang pria dewasa, yang mengancam pada lawan bicara, penekanan kalimatnya membuat siapa saja akan berpikir dua kali untuk melakukan sesuatu yang menyinggungnya.

__ADS_1


Bahkan wanita mantan kekasihnya dia pun mengatakan mengetahuinya.


"Aku tidak bisa membela diri pada mu, aku hanya berharap Kamu dan Mami mu memberikan satu kesempatan pada ku untuk memperbaiki semua kesalahan ku di masa lalu," ucap Edward.


"Apa yang ingin kau lakukan jika kesempatan itu aku berikan?" tanya Gerald.


"Apapun yang kamu inginkan, aku ingin menebus 10 tahun yang lalu dengan seluruh sisa waktu ku, cinta, kasih sayang, semuanya," ucap Edward seraya menatap Gerald dengan tatapan sendu.


Gerald menatap kedua mata Edward yang dipenuhi dengan penyesalan, dia tahu apa saja yang dilakukan oleh Opa, Uncle dan juga maminya pada pria yang ada di hadapannya itu. Secara diam-diam Gerald mencari tahu apa yang Opa, Uncle dan Maminya lakukan pada Edward dan juga keluarganya, bahkan dia pun tahu bahwa perusahaan Kusuma bangkrut karena Opa, dan Uncle serta maminya menggoncangkan perusahaan mereka dan juga menarik semua investor pada perusahaan Kusuma, banyak yang diketahui oleh Gerald.


Bahkan Gerald pun tahu perusahaan tersembunyi Putra Kusuma yang tak di ketahui oleh siapapun, kecuali Narindra Kusuma.


Dan Gerald pun tahu selama 6 bulan ini apa saja yang dilakukan oleh Pria yang duduk di sebelahnya itu, untuk membangun kembali perusahaannya yang hampir bangkrut dan akhirnya dapat kembali seperti semula lagi.


Gerald adalah anak yang sangat pintar yang memiliki IQ diatas rata-rata baginya sangat mudah mencari informasi apapun, jika berada di depan laptop atau handphonenya. Buah jatuh tak jauh dari pohonnya benih Edward Kusuma yang tertanam dalam Rahim Kanaya Bimantara dua gen yang memiliki otak yang cerdas dan cemerlang, bersatu sehingga membuat kepintaran pada anak berusia 10 tahun ini diatas rata-rata.


"Apakah kamu benar-benar menyesal dengan semua perbuatan mu?" tanya Gerald seraya menatap Tajam Edward.


"Ya," ucap Edward seraya menghela nafas panjang.


"Sepertinya sangat sulit membuat Gerald percaya pada ku, saat ini aku seperti menghadapi pria dewasa." ucap Edward dalam hatinya.


"Aku akan memikirkannya," ucap Gerald lalu bangkit berdiri dari kursinya, dan hendak berjalan, sebelum melangkahkan kakinya Gerald mendengar perkataan Edward.


"Tunggu nak, apakah aku bisa memiliki nomor handphone mu?" tanya Edward.


Gerald menatap Edward keningnya berkerut seolah-olah berpikir lalu dia pun menengadahkan tangannya pada Edward.


"Berikan ponsel mu," ucapnya.


Kemudian Edward memberikan ponselnya pada Gerald. Lalu Gerald pun mengambilnya dan mengetikkan sebuah nomornya lalu menyerahkannya pada Edward.


"Terima Kasih nak," ucap Edward.


"Sama-sama, aku permisi," ucap Gerald.


Kemudian melangkahkan kakinya berjalan menjauh dari Edward. yang duduk termenung menatap belakang punggung Gerald dari kejauhan hingga menghilang dari pandangannya.

__ADS_1


"Kamu dewasa sebelum waktunya nak, Maafkan Papi yang telah menelantarkan mu, dan membuat mu menjadi seperti sekarang ini," ucap Edward, seraya menghela nafas panjang kemudian mengusap wajahnya dengan kedua belah telapak tangannya, pikirannya sangat kacau, lalu dia pun bangkit berdiri berjalan menuju mobil yang diparkir nya di halaman parkir rumah sakit.


__ADS_2