
Suasana yang menegangkan dan menyedihkan, tangisan berganti dengan kelegaan dan senyum menghias di bibir mereka. Kanaya yang baru saja membuka mata, mengerjapkan matanya dan menatap orang-orang di sekelilingnya.
"Mam," ucap Gerald.
"Jangan lakukan itu lagi," ucapnya lagi seraya menangis tersedu. Kanaya menatap putranya dan mengulurkan tangannya. Kemudian Gerald memegang tangan Kanaya dan mengecupnya berkali-kali.
"Kau membuat ku ketakutan mam," ucapnya seraya tersedu-sedu.
"Jangan menangis nak," ucap Kanaya terbata-bata.
"Princess, tolong jangan membuat kami takut," ucap Richard.
"Kamu membuat mami jantungan dan hampir saja jantung mami copot," ucap Mommy Lingga seraya terisak menangis menatap wajah putri kesayangannya dengan tatapan sendu.
"Princes jangan lakukan itu lagi, kau hampir saja membuat Daddy kehilangan nyawa," ucap Daddy Ded, menatap wajah putrinya, air matanya tak terasa menetes tak bisa di bayangkan jika kehilangan Kanaya putri satu-satunya, setelah 10 tahun menghilang dan hampir saja kehilangannya lagi.
Kanaya mengeryitkan keningnya seraya meringis menatap sesosok yang sangat di bencinya itu, pria yang sudah membuatnya menjauh dari keluarganya. Kemudian Kanaya memejamkan matanya, entah apa yang dirasakannya. Semua hal yang terjadi bagai kilasan sekuel film, terbayang bagaimana dia ingin menyentuh putranya, dan juga kedua orang tuanya yang menangis tetapi tangannya tak bisa menyentuh mereka.
Saat dia ingin bicara pada kakaknya, suaranya pun tak terdengar, semuanya terlihat olehnya tetapi Kanaya tak bisa menyentuh mereka, teriakan Gerald, teriakan Mommy nya, teriakan Daddy nya dan yang lebih mengherankan, teriakan, dan juga tangisan seorang pria di masa lalu nya yang telah membuatnya jatuh terpuruk, menangis dan merasa terhina, dipermalukan. Terngiang semua yang dikatakan ole pria itu. Kemudian Kanaya membuka matanya menatap Edward yang tersenyum padanya dan menatap sendu wajah Kanaya. Kemudian tatapan Kanaya beralih pada dua sosok pria paruh baya dan juga wanita paruh baya yang berdiri di sebelah Edward. Tatapan mereka menatap wajah Kanaya dan tersenyum padanya.
"Syukurlah nak, kamu sudah sadar," ucap Mami Edward seraya tersenyum lembut pada Kanaya.
"Papi juga bersyukur kamu sudah siuman," ucap Papi Edward tersenyum menatap Edward.
Tak lama kemudian Dokter dan Suster masuk, kemudian menghampiri brankar tempat tidur Kanaya
"Permisi tuan-tuan dan nyonya-nyonya, tolong jangan berkerumun seperti ini, biarkan pasien istirahat," ucap Dokter. Lalu Dokter memakai stetoskopnya dan memeriksa Kanaya, dengan sangat teliti, kemudian menatap layar monitor seraya tersenyum.
"Lepas monitornya Sus," ucap Dokter pada suster. Suster pun melepas kabel yang menempel pada dada Kanaya.
"Bagaimana kondisi putri saya Dok?" tanya Mommy Lingga dengan penuh kecemasan.
"Kondisi putri anda stabil nona, tekanan darahnya sudah kembali normal, Jantungnya pun kembali normal awalnya kami sangat kuatir dengan jantung nona Kanaya, karena jantung nona Kanaya sangat lemah, mungkin karena shock atau karena benturan, tetapi Puji Tuhan, saat ini semuanya telah normal kembali, dan untuk memastikan semua baik-baik saja kami akan melakukan rontgent pada jantung dan CT Scan pada kepala Pasien."Ucap Dokter.
"Lakukan yang terbaik buat Putri saya dok," ucap Daddy Ded.
"Anda tidak perlu kuatir Tuan kami akan melakukan yang terbaik untuk Putri anda, Baiklah kami permisi," ucap Dokter kemudian melangkahkan kakinya berjalan keluar dari Kamar Kanaya.
__ADS_1
Semua yang menyimak perkataan Dokter tersenyum dengan lega. Kanaya hanya memejamkan matanya, Sementara Gerald dan Edward tak beranjak sedikit pun dari sisi Kanaya. Tak lama kemudian Kanaya pun tertidur. Melihat Kanaya tertidur, Daddy Ded dan Mommy Lingga serta kedua orang tua Edward berjalan keluar dari kamar Kanaya, meninggalkan Edward dan juga Gerald.
"Nak, Istirahatlah di sofa Itu, Papi akan menjaga Mami mu disini," ucap Edward.
"Tidak aku kan disini saja," ucap Gerald, seraya menatap maminya tak ingin beranjak dari sisi Kanaya.
"Baiklah Papi akan ke kantin, kamu belum makan siang bukan?" tanya Edward.
"Aku tidak lapar," ucap Gerald.
"Baiklah," ucap Edward. Kemudian melangkahkan kakinya berjalan keluar kamar Kanaya.
"Kamu mau kemana Nak?" tanya Mami Edward.
"Aku akan ke kantin rumah sakit, Membeli makanan untuk Gerald mam, Aku titip Kanaya," ucap Edward.
"Aku akan pergi bersama mu," ucap Richard dengan nada dingin kemudian melangkahkan kakinya berjalan menuju kantin, diikuti oleh Edward.
"Tuan Deddy, saya tahu putra saya telah melakukan banyak kesalahan pada putri anda, tetapi tidak bisakah tuan dan nyonya memberikan satu kesempatan padanya untuk memperbaiki semua kesalahannya," ucap Putra Kusuma seraya menatap Daddy Ded penuh harap.
"Ijinkan dia mempertanggungjawabkan apa yang sudah di lakukannya pada Kanaya," ucap Mami Edward.
"Aku akan memberikannya ijin untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya pada putri ku, tetapi jika satu kali lagi dia melakukan kesalahan, maka aku akan menghukumnya kembali tanpa ampun, bahkan akan lebih parah dari apa yang telah aku lakukan padanya," ucap Daddy Ded seraya membalas tatapan Putra Kusuma.
"Aku yang akan menjaminnya Tuan, dia tidak akan melakukan kesalahan lagi," ucap Putra Kusuma tegas.
"Baiklah aku pegang ucapan mu," ucap Daddy Ded.
Selama ini Daddy Ded mencari informasi tentang bagaimana Putra Kusuma memberikan pelajaran pada Edward semua yang dilakukan Daddy Ded mengetahuinya, tak ada yang bisa luput dari mata Daddy Ded, kecuali saat Kanaya menghilang Dia kehilangan informasi karena Putrinya sendirilah yang menutup seluruh akses informasi tentangnya sehingga Daddy Ded kehilangan jejak.
Dia baru mengetahui semua informasi itu tanpa sengaja ketika seorang informannya memberitahu, saat ditugaskan mencari siapa yang membuli cucu kesayangannya dengan mengatakan anak haram, saat bersekolah di Perancis dulu.
Sejak saat itu Daddy Ded selalu ber antisipasi, apalagi saat mengetahui Kanaya ingin pergi dari rumah ketika sebuah majalah menyebarkan berita tentang Kanaya dan juga cucunya.
Sementara itu Edward yang berada di Kantin bersama Richard, duduk di sebuah meja menunggu pesanan mereka seraya meminum kopi.
"Aku tahu kau tidak percaya pada ku," ucap Edward seraya menatap wajah Richard.
__ADS_1
"Tetapi percayalah, tidak ada sedikit pun niat untuk menyakiti hati adik mu, mungkin kau tidak percaya pada ku jika aku katakan semua yang aku lakukan bukan hanya sebagai bentuk penyesalan ku, dan ingin memperbaiki kesalahan ku.
"Tetapi saat aku berada di singapura, Aku memikirkan semua pertemuan kami dan saat itulah aku menyadari jika aku mencintai adik mu, maka dari itu aku meninggalkan pekerjaan ku disana dan kembali kesini, tetapi sebelum aku mulai menemuinya, kecelakaan itu menimpa Kanaya. Kau mungkin tidak tahu bagaimana rasanya saat melihat orang yang kita cintai terbujur dengan bersimbah darah.
"Aku menyadari ternyata aku sangat mencintai adik mu, dan kau tahu saat dokter brengsek itu mengatakan Kanaya meninggal aku ingin benar-benar mencekik lehernya, dan menyumpal mulutnya serta menghancurkan rumah sakitnya," ucap Edward. Tatapan matanya hampa, tangannya memegang sendok dan mengaduk-aduk kopi dalam cangkir.
"Jika saat itu benar-benar Kanaya ku meninggal, aku tidak bisa bayangkan apa yang terjadi dalam hidup ku," ucapnya lagi seraya menumpahkan semua kesedihannya sekilas terbayang bagaimana jantungnya hampir berhenti ketika mendengar perkataan dokter. Kemudian Edward menatap Wajah Richard dan berkata.
"Apapun akan aku lakukan untuk mendapatkan adik mu, aku tidak perduli dengan ancaman mu atau dengan mu dan keluarga mu, aku akan memperjuangkannya, aku tidak ingin kehilangan Kanaya ku ibu dari putra ku, Dengar Richard Bimantara aku mencintai adik mu dan aku tidak akan membiarkan mu mengambil Kanaya dari ku," ucap Edward seraya menatap tajam Richard.
Richard yang melihat Tatapan Edward terkejut mendengar semua yang dikatakannya, selama ini dia berteman dengan Edward belum pernah dia melihat Edward seperti ini.
"Aku tahu siapa kau dan juga kekuasaan keluarga mu, tetapi aku Edward Kusuma tidak akan takut pada mu dan juga keluarga mu. Kanaya adalah milik ku dan dia akan menjadi milik ku, sekalipun kau kakaknya, tidak berhak menghalangi ku untuk mendapatkannya." ucap Edward lagi.
"Dan sekali lagi aku katakan Kanaya milik ku, akan menjadi milik ku," ucap Edward.
"Siapapun itu tidak bisa merebutnya dari ku, tidak kau dan juga kedua orang tua mu," ucapnya lagi.
"Apakah kau sudah selesai berbicara?" kau tahu telinga ku tuli mendengar rengekan mu," ucap Richard.
"Bagaimana jika Kanaya menolak mu?" tanya Richard.
"Aku akan berjuang mendapatkannya," jawab Edward. Richard menatap Edward di kedua matanya terlihat kerapuhan dan juga keteguhan, cintanya yang besar terlihat di kedua mata Edward. Kemudian Richard pun berkata.
"Jika kau mencintai adik ku, perjuangkanlah dia, dan pertahankan dia, bukan hanya kau yang mencintai adik ku, di luar sana banyak pria yang mengejarnya, jika kau tidak segera mengikatnya jangan salahkan aku jika suatu saat nanti ada pria yang memintanya pada orang tua ku dan menikahinya,"ucap Richard seraya menatap Edward dengan tatapan mengejek kemudian berkata lagi
"Dan sepupu mu yang bernama Eden, dan juga James Lawrence, berhati-hati lah padanya, kau tahu saat ini aku sedang mengawasinya." ucap Richard.
"Eden? James? apa yang dia lakukan?" tanya Edward.
"Dan bagaimana kamu mengenal James?" tanya Edward.
"Mata kami dimana-mana, dan sepertinya silsilah keluarga mu sungguh pelik," ucap Richard.
"Sepertinya keponakan ku sudah kelaparan,"ucapnya lagi seraya menoleh pada pelayan kantin yang berjalan kearah membawa kantong kresek berisi kotak makanan pesanan mereka.
Tak lama kemudian pelayan kantin datang membawa pesanan mereka, lalu Edward pun mengeluarkan 10 lembar uang merah dan menyerahkannya pada ibu pelayan kantin.
__ADS_1
"Tuan uangnya sangat banyak," ucap pelayan tersebut.
"Ambillah dan bagikan juga pada yang lain," ucap Edward. Kemudian bangkit berdiri dari kursinya, lalu berjalan beriringan bersama Richard kembali ke kamar Kanaya.