
Sesampainya di kursi taman Edward terlebih dahulu sampai, dengan bersorak gembira dan berjoget meliuk-liukan tubuhnya dia pun berkata.
"Kau lihat jika urusan lomba lari dari dulu aku selalu menjadi pemenangnya,"dengan nada bangga.
"Kau benar jika urusan lari aku memang kalah dari mu, secara kamu sudah terbiasa di kejar bencong hahahahaa,"ucap Edward seraya tertawa.
"Dasar semprul,"seru Edward.
Kemudian Richard dan Edward tertawa terbahak-bahak mengingat kisah mereka saat Edward lari terbirit-birit di kejar oleh bencong. Lalu mereka pun terdiam dan menoleh pada kedua orang tua mereka dan juga semua orang yang duduk di kursi taman, yang melihat mereka dengan tatapan heran dan penuh tanda tanya.
"kalian kenapa menatap kami seperti itu?"tanya Richard.
"Kalian nggak kemasukan jin kan?"tanya Daddy Ded
"Kerasukan Jin?"tanya Edward.
secara kalian tadi adu mulut, terus saling kejar, lalu duduk di bawah pohon mangga. balik kesini lomba lari ketawa-ketawa lagi, kayak orang kerasukan jangan-jangan kerasukan jin pohon mangga lagi,"ucap Daddy Ded.
"ishh.., Daddy aneh-aneh aja hari gini mana ada jin,"ucap Richard.
"Ada tuh di belakang kakak,"seru Kanaya seraya menunjuk belakang Richard.
"Kamu ini ikut-ikutan aja sama Daddy,"sungut Richard. kemudian duduk di kursi taman.
...****************...
"Baiklah sepertinya hari sudah siang lebih baik kita makan siang terlebih dahulu,"ucap Mommy Lingga.
"Betul Tante perut ku sudah keroncongan ini, cacing udah pada ngamuk,"ucap Edward.
"Ishhh dari dulu kalau urusan perut cepet banget,"ucap Richard.
"Iyalah daripada kelaparan bikin penyakit,"ucap Edward.
"Mulai lagi deh,"ucap Kanaya.
"Iya nih bentar akur bentar berantem,"ucap Cintya seraya menggelengkan kepalanya.
"Karena hari ini kita meliburkan diri maka mari kita isi dengan bersenang-senang,"ucap Richard.
"Setujuuu,"ucap semuanya kompak kemudian merek tertawa lepas, menghilangkan segala beban pikiran.
"Gimana kalau kita makan sambil menggelar tikar disini,"ucap Mami Edward.
"Bener tuh Jeng,"ucap Mommy Lingga.
"Ya udah ayo kita siapin semuanya yang laki-laki cari tikar,"ucap Mommy Lingga.
"Siap bos,"seru Daddy Ded dan Richard.
__ADS_1
Kemudian mereka pun berjalan kedalam mansion mencari tikar yang akan mereka gelar di taman mansion, walaupun cuaca di luar panas tetapi di taman mansion suasana terasa adem. Sementara itu kakek Pratama dan Opa Hendra duduk diam memperhatikan mereka yang sibuk mempersiapkan makan siang.
Lalu Kakek Pratama menoleh pada Opa Hendra.
"Waktu begitu cepat berlalu,"ucap Opa Hendra.
"Kau benar,"ucap Kakek Pratama.
"Tenanglah Mas semua akan baik-baik saja,"ucap Opa Hendra.
"Aku belum bisa tenang jika masalah ini belum selesai,"ucap Kakek Pratama.
"Mereka tidak akan berani berbuat apapun,"ucap Opa Hendra.
"Kita akan bersatu mengatasi masalah ini,"ucap Opa Hendra lagi.
Tak lama kemudian Kanaya datang menghampiri mereka dan duduk di sebelah Opa Hendra. lalu berkata.
"Opa aku ingin bertanya,"ucap Kanaya.
"Apa yang ingin kau tanyakan nak?"tanya Opa Hendra.
"Mengenai keluarga kita bagaimana Opa menemukan Oma ku dan bagiamana Oma bisa menjadi Keluarga Bimantara,"ucap Kanaya.
Opa Hendra menghela nafas panjang, dia sangat mengenal cucunya Kanaya, sifat penasarannya itu sangat besar dan dan sebelum dia mendapatkan jawaban maka dia akan terus bertanya atau mencari tahu sendiri.
"Malam itu Opa dan teman-teman Opa mencari teman Opa yang sedang mencari kayu bakar sedari siang, tetapi tak juga pulang ke kemah. Kami mencarinya hingga tengah malam tapi kami tak menemukannya hingga kami mencari jauh ketengah hutan."
"Opa sangat terkejut ketika tubuh Opa menimpa tubuh seseorang, Opa mengira itu adalah teman Opa yang sedang kami cari, lalu saat Opa membalikkan tubuhnya Opa lebih sangat terkejut lagi karena ternyata orang tersebut seorang wanita. Saat itu tubuhnya di penuhi dengan darah," ucap Opa Hendra.
Kemudian menghela nafas panjang dan menghembuskannya. kedua matanya menatap lurus menerawang mengingat kejadian malam itu. Lalu berkata lagi.
"Opa mengira wanita itu telah meninggal tetapi saat Opa memeriksa nadi di pergelangan tangannya ternyata wanita itu masih hidup, lalu Opa menggendongnya dan bersama dengan teman-teman Opa membawanya keluar dari hutan.
"Kami meminta bantuan pada penduduk setempat lalu dengan bantuan penduduk setempat kami merawat dan mengobati lukanya. Malam itu kami tidak bisa membawanya ke rumah sakit atau kemana pun karena cuaca yang tidak mendukung dan juga tempat itu adalah sebuah perkampungan yang sangat jauh dari kota.,"ucap Opa Hendra seraya menatap sendu wajah Kanaya.
"Karena cuaca dan jalanan yang licin tidak memungkinkan kami untuk membawa Oma mu ke rumah sakit di kota, akhirnya dengan pengobatan tradisional penduduk merawat Oma mu sambil menunggu kondisi jalanan yang tak mungkin di lalui. Kondisi Oma mu saat itu sangat parah, sekujur tubuhnya di penuhi luka, dan juga tangan kirinya patah, sehingga kami harus membuat gips dari kayu agar Oma mu tak merasa kesakitan, yang membuat kami merasa aneh adalah wajahnya,"ucap Opa Hendra.
"Wajahnya?"tanya Kanaya seraya menatap Opa Hendra dengan penuh tanda tanya.
"Wajahnya tak terluka seperti luka yang lainnya, hanya goresan kecil dan juga lebam, dan sobekan pada Kepalanya,"ucap Opa Hendra tersenyum miris jelas terlihat kesedihan pada wajahnya yang masih terlihat tampan di usianya yang sudah tua.
"Berhari-hari Oma mu tak membuka matanya, bahkan merintih pun tidak, dan saat jalanan bisa di lalui, kami membawa Oma mu ke kota ke sebuah rumah sakit, saat itu rumah sakit tidak seperti sekarang, kemudian Opa menghubungi Opa Buyut mu dan meminta bantuannya, lalu hari itu juga Opa buyut mu mendatangi rumah sakit dan kami membawa Oma mu keluar negeri untuk melakukan pengobatan,"Ucap Opa Hendra. lalu berkata lagi.
"Perlu waktu yang sangat panjang untuk menyembuhkan Oma mu, berbagai macam operasi di lakukan oleh tim dokter saat itu, hingga Oma mu bisa sembuh secara fisik, dan perlu waktu bertahun-tahun menghilangkan traumanya."
"Dan saat Oma mu sembuh Opa dan Oma buyut mu mengangkatnya sebagai anak." lalu tersenyum menatap Kanaya.
"Saat pertama Opa melihatnya Opa jatuh cinta pada Oma mu, dan sangat sulit menghilang cinta Opa padanya, Perjuangan mendapatkan Oma mu sangatlah panjang karena Opa tidak mendapatkan restu dari Opa dan Oma buyut mu, mereka tak ingin kehilangan putri angkatnya walaupun yang akan menjadi suaminya adalah anak kandung mereka,"ucap Opa Hendra.
__ADS_1
"Lalu bagaimana kalian di restui?"tanya Kanaya.
"Membutuhkan perjuangan yang sangat panjang hingga akhirnya Opa dan Oma mu merestui hubungan kami dan menikahkan kami,"jawab Opa Hendra.
"Dan Opa termakan karma sendiri hahahahaaa,"ucap Kanaya seraya tertawa.
"Ya kau benar dan itu adalah karma manis yang membuat Opa sangat bahagia,"ucap Opa Hendra. Lalu menatap wajah Cucu kesayangannya itu.
"Jika Daddy mu tidak ada maka Opa tidak akan mendapatkan Richard dan juga Kamu Nay, dan Opa sangat bersyukur mendapatkan seorang anak laki-laki yang baik seperti Daddy mu,"ucap Opa Hendra.
Kanaya tersenyum menatap Opanya di wajah tua itu terlihat suatu kesedihan dan juga kebahagian.
"Dan Opa berhasil mendidik Daddy menjadi sehebat ini, aku bangga memiliki Opa seperti Opa dan juga Daddy seperti Daddy ku,"ucap Kanaya kemudian memeluk Opa nya. lalu terdengarlah sebuah suara.
"Dan apakah Daddy mu ini tidak mendapatkan pelukan juga?"tanya Daddy Ded yang sedari tadi diam-diam mendengarkan perbincangan mereka.
Kemudian Kanaya melepaskan pelukannya dari Opa nya lalu mencari sumber suara Daddy nya.
"Daddy disini Princess,"ucap Daddy Ded.
Mendengar suara Daddynya dari bawah kursi, Kanaya pun menunduk wajahnya kebawah mencari suara Daddy nya, benar saja Daddy nya berbaring di rumput taman mansion di belakang kursi mereka.
"Astaga Daddy sejak kapan ada di bawah, mana kayak anak kecil lagi berbaring seperti itu?"tanya Kanaya.
"Sejak tadi,"ucap Daddy Dengan nada santai.
"Bukannya Daddy dan Kak Richard serta Edward dan juga Om Putra kedalam mencari tikar?"tanya Kanaya.
"Sudah beres tuh,"seru Daddy Ded seraya menunjuk tikar-tikar yang telah di gelar.
"Yang lainnya kemana?"tanya Kanaya.
"Tuh,"seru Daddy Ded seraya menunjuk pada Richard, Edward dan juga Papi Edward serta Gerald yang sedang bermain bola kaki.
"Kami di usir oleh para wanita,"sungut Daddy Ded.
"Jangan katakan, kalian mengganggu para Mommy di dapur,"ucap Kanaya seraya memutar bola matanya malas.
"Ishh kamu ini sama aja kayak mommy kamu,"ucap Daddy Ded.
"Aishhh, kalian mau sampai kapan berbicara seperti itu?"tanya Opa Hendra yang bingung melihat Anak dan cucunya yang berbicara melalui kolong kursi, cucunya menundukkan kepalanya kebawah kursi sedangkan anaknya dengan santai berbaring di atas rumput Jepang taman mansion seraya memiringkan tubuhnya menghadap Kanaya.
"Bisa-bisa leher mu keseleo Nay,"ucap Kakek Pratama, seraya tersenyum geli melihat mereka.
"Aishhh Daddy,"seru Kanaya seraya mengangkat wajahnya.
"Hahahahaaa,"tawa Daddy Ded. Kemudian bangkit berdiri dan berjalan menghampiri Kanaya, lalu merentangkan tangannya. Begitu pun Kanaya bangkit berdiri lalu menyusup masuk kedalam pelukan Daddy nya lalu mendongakkan kepalanya dan menatap Daddy nya seraya tersenyum manis.
"Thank you Dad,"ucap nya seraya memeluk Daddynya.
__ADS_1
"You are welcome My Princess,"ucap Daddy Ded seraya mencium pucuk kepala putrinya.
Kakek Pratama dan Opa Hendra menatap mereka dengan senyuman menghias wajah mereka dalam benak Opa Hendra terucap sebuah kalima terima kasih pada Deddy Bimantara yang telah menjadi suami yang baik dan juga ayah yang baik bagi kedua cucunya.