Kesalahan Masa Lalu

Kesalahan Masa Lalu
Bab 93. You Are My World


__ADS_3

Di tengah Kebahagian dan canda tawa sarapan pagi yang terlambat, tiba-tiba handphone Cintya berbunyi. Lalu Cintya mengambil handphone yang berada di dalam tasnya. kemudian melihat identitas penelpon.


"Binjour,"sapa Cintya.


"Bonjour madame,"jawab Penelpon.


Kemudian Cintya mendengarkan setiap perkataan, Penelpon. Melihat mimik Cintya kening Kanaya berkerut.


"Ada apa Cin?"tanya Kanaya.


"Handphone mu, dimana?"tanya Cintya.


"Ketinggalan di kamar aku lupa membawanya,"jawab Kanaya.


"Pantesan, Mark menelpon ku,"ucap Cintya.


"Mark? ada apa?"tanya Kanaya.


"Perusahaan di Perancis ada masalah,"jawab Cintya.


"Beberapa Gaun hasil desain mu telah di sabotase orang dan telah beredar di seluruh Perancis, dan Mark sedang menyelidiki pelakunya,"ucap Cintya.


"Sittt, kapan kejadiannya?"tanya Cintya.


"Jelasnya tidak di ketahui, tapi salah seorang pelanggan kita datang ke kantor dan memperlihatkan hasil desain mu, dan Mark menelusurinya dan ternyata di setiap mall dan butik hasil desain mu telah di pajang,"ucap Cintya.


"Apa?"seru Kanaya.


"Aku tidak pernah memajang desain ku di mall dan juga butik kecuali, Butik kita sendiri,"ucap Kanaya.


"Sittt, siapa yang berani mencuri desain ku?"ucap Kanaya dengan dingin dan tajam.


"Desain?"tanya Edward seraya menatap wajah istrinya.


"Sepertinya ada orang dalam yang melakukannya Nay,"ucap Richard seraya menatap wajah adiknya dengan prihatin.


"Daddy akan mencari tahu pelakunya,"ucap Daddy Ded.


"Tidak usah Dad,aku akan mencari tahu sendiri, aku tidak akan pernah membiarkan mereka mengkhianati ku,"ucap Kanaya dengan dingin dan tajam seraya mengepalkan kedua tangannya menahan amarah.


"Kau belum menjawab pertanyaan ku?"tanya Edward yang nampak bingung.


"Pertanyaan yang mana?"tanya Kanaya.


"Desain?"tanya Edward seraya menatap wajah istrinya dengan tatapan penuh tanda tanya.


"Aku seorang Desainer di Perancis,"ucap Kanaya.


"Dan mereka memanggil ku Miss Key,"ucap Kanaya.


"Miss Key,"seru Edward.


Kedua mata Orang tua Edward terbelalak mengetahui desainer ternama di Perancis yang selalu di eluk-elukkan dunia adalah menantunya sendiri.

__ADS_1


"Jadi kamu?"tanya Mami Edward.


"Iya benar,"ucap Kanaya.


"Astaga pantesan gaun pengantin mu beda dari yang lain,"ucap Mami Edward.


Kanaya hanya tersenyum tipis melihat Mertuanya.


"Kenapa kamu tidak menceritakannya pada kami nak?"tanya Papi Edward.


"Apa yang harus Nay ceritakan Pi?"tanya Kanaya seraya menatap Papi Edward.


"Siapapun aku, aku hanyalah seorang Kanaya Bimantara,"ucap Kanaya seraya tersenyum kecil.


"Kenapa kamu selalu memakai topeng Nay?"tanya Mami Edward.


"Aku sengaja menggunakannya untuk menutupi identitas ku dan juga Gerald,"ucap Kanaya, tersenyum sendu.


Kemudian menatap kedua orang tua Edward lalu berkata lagi.


"Tapi sekarang semua itu tidak penting lagi."


Kemudian menoleh pada Edward dan tersenyum menatap wajahnya, Edward yang mengerti arti tatapan itu, mengelus lembut rambut Kanaya lalu mengecup keningnya.


"Mengapa kamu menyembunyikan dari ku Nay? aku suami mu,"ucap Edward.


"Baru kemarin kau menjadi suaminya,"ucap Richard.


"Seandainya Mommy tidak menemukan topengnya itu, kami juga nggak akan tahu Ed,"cap Mommy Lingga.


"Seandainya mami tahu dari kemarin-kemarin mami tidak akan memaksa manajer butik mu, agar bisa ketemu dengan desainernya itu,"ucap Mami Edward dengan nada sewot. mengingat bagaimana dia memohon untuk bertemu dengan desainer idolanya.


"Semua desain mu keren Nay, astagaaaa jadi selama ini mami menggunakan pakaian desain mantu sendiri ya,"ucap Mami Edward.


"Ini Nay, yang mami pakai ini, desain kamu Nay,"ucap Mami Edward. seraya menunjuk gaun yang dipakainya dengan heboh.


"Iya Mi, Kanaya tahu,"ucap Kanaya.


"Mam bolehkah aku ikut?"tanya Gerald.


"Kamu sekolah nak,"jawab Kanaya.


"Bukankah aku selama ini homeschooling?"tanya Gerald.


"Aku kangen dengan pengasuh ku mam,"ucap Gerald lagi dengan nada sendu.


"Baiklah kamu boleh ikut,"ucap Kanaya.


"Cin, siapkan segalanya besok pagi kita akan berangkat,"ucap Kanaya.


"Asyikkkk,"seru Gerald. seraya tertawa gembira.


Kanaya hanya tersenyum menatap putranya tidak bisa di pungkiri jika hubungan Gerald dan juga asisten rumah tangganya sekaligus pengasuh Gerald memiliki hubungan yang sangat dekat, layaknya seorang ibu bagi Gerald.

__ADS_1


...****************...


Jam Pun terus berdetak saatnya mereka berkemas dan kembali ke mansion mereka masing-masing. Kanaya dan Edward yang telah berada di kamar hotel duduk di sofa. Kanaya merebahkan kepalanya di kedua paha Edward.


"Maaf ya,"ucap Kanaya seraya menatap wajah tampan suaminya.


"Loh kok minta maaf sih yang?"tanya Edward. seraya menundukkan kepalanya menatap wajah istrinya.


"Bulan madu aku batalin karena sebentar lagi kak Richard nikah sama Cintya, terus sekarang aku harus ke Perancis,"jawab Kanaya.


"Hemmm, ke Perancisnya kan bareng aku yang,"ucap Edward. kemudian tersenyum menatap wajah istrinya.


"Malah lebih bagus di Perancis kita bisa sekalian bulan madu dan bikin adek buat Gerald,"ucap Edward. Seraya mengedipkan sebelah matanya menggoda Kanaya.


"Aishhh,"ucap Kanaya. Kedua pipinya merona memerah.


"Hahahahahaaa,"tawa Edward.


Kemudian menundukkan wajahnya dan mencium kedua pipi Kanaya lalu beralih mencium bibir mungil istrinya. Ciuman yang lembut yang membuat keduanya terhanyut dalam gelora asmara. Kemudian Edward semakin memperdalam ciumannya. Dalam dan semakin dalam, sehingga mereka lupa bahwa mereka harus segera pulang ke mansion.


Kanaya yang terhanyut dengan ciuman Edward, mengalungkan tangannya pada leher Edward seolah melarang Edward melepaskan ciumannya. Dan dengan lihay tangan Edward pun bergerilya, lalu mereka pun melakukan aktifitas mereka yang membuat mereka berpeluh di sekujur tubuh mereka


Setelah selesai mereka pun terkulai lemas tak berdaya, Edward memiringkan tubuhnya menatap wajah istrinya dengan senyum lembut penuh cinta.


"You are my Life,"ucapnya.


Kemudian tersenyum lembut pada Kanaya. Kanaya pun membalas senyum Edward, tangannya membelai wajah suaminya lalu berkata.


"You are my world."


Kemudian mereka pun saling menatap dengan tatapan penuh cinta dan kebahagian.


"Aku sangat berharap secepatnya Kanaya junior hadir di dalam rahim mu aku ingin sekali merasakan bagaimana menjadi seorang suami saat istrinya mengandung. Banyak sekali yang ku lewatkan saat Gerald hadir di dalam rahim mu,"ucap Edward sendu.


"Lupakan semuanya, kita hanya bisa berharap dan berdoa agar kita di berikan keturunan lagi dan kamu akan melihat perut ku yang gendut, tubuh ku yang melar, dan kedua pipi ku yang tembem,"ucap Kanaya. Seraya tertawa lepas mengingat bagaimana tubuhnya yang naik drastis saat mengandung Gerald.


"kenapa kamu tertawa?"tanya Edward.


"Kamu tidak tahu saat aku mengandung Gerald tubuh ku Segede drum hahahaaaa,"ucap Kanaya.


"Tapi aku bahagia karena aku bisa mengandung dan melahirkan Gerald. kamu tidak akan pernah tahu kebahagiaan seorang ibu saat merasakan janinnya menendang dinding rahimnya,"ucap Kanaya. Seraya tersenyum bahagia mengingat bagaimana dia merasakan pergerakan janinnya dan juga tendangannya, lalu Kanaya berkata lagi.


"Gerald sangat aktif."


Sebuah senyum menghias wajahnya lalu Kanaya menatap wajah Edward.


"Ingin rasanya aku merasakannya yang,"ucap Edward, dengan senyum sendu membayangkan perjuangan Kanaya saat mengandung Gerald kemudian seulas senyum kesedihan terlihat di wajahnya.


Kanaya yang melihat senyum sedih di wajah suaminya. Kanaya pun berkata dengan nada menghiburnya.


"Kamu akan merasakannya juga saat aku mengandung adik Gerald."


"Semoga saja secepatnya aku sudah tidak sabar lagi,"ucap Edward. Kemudian tersenyum membayangkan perut Kanaya yang gendut.

__ADS_1


__ADS_2