
Sepanjang perjalanan Gerald memikirkan semua perkataan Edward. Dalam hatinya ada kerinduan untuk memeluk Papinya, tetapi teringat isakan Maminya, ejekan setiap temannya, membuatnya merasakan kebencian pada pria bernama Edward itu. Sesampainya di depan kamar maminya, Gerald pun membuka pintu, lalu masuk kedalam, terlihatlah maminya yang duduk ditepi ranjang rumah sakit.
"Loh Mami mau ngapain?" tanya Gerald bergegas menghampiri maminya.
"Nggak ngapa-ngapain, mami cuma pegel tidur seharian," ucap Maminya seraya mengerucutkan bibirnya.
"Jangan sampai mami mau kabur lagi dari rumah sakit," ucap Gerald seraya menatap penuh selidik pada maminya. Kanaya yang mendengar perkataan putranya itu, memelototkan matanya.
"Enak aja, mami cuma mau duduk gini aja," ucap Kanaya.
"Ayo ngaku," ucap Gerald seraya mendelik pada Maminya.
"Idih ini anak, mami bilangin juga ngeyel," ucap Kanaya dengan nada sewot.
"Ngomong-ngomong kamu dari mana?" tanya Kanaya seraya menatap Gerald penuh selidik.
"Cari angin mam, Mami tidur, Oma juga tidur, daripada bengong mending jalan-jalan aja," ucap Gerald seraya nyengir pada maminya.
"Gaya anak kecil keluyuran dirumah sakit," ucap Maminya.
"Oma kemana mam?' tanya Gerald.
"Keruang Dokter, mami pengen pulang, mami bosen disini,"ucap Kanaya.
"Tumben Oma mau dengerin mami," ucap Gerald.
"Kalau Oma gak dengerin mami kamu, dia ngancam mau kabur dari rumah sakit," ucap Mommy Lingga dari arah pintu, seraya melangkah kakinya menghampiri Kanaya dan juga Cucunya Gerald
"Kalau udah ngancem gitu, Opa kamu aja takut," ucap Mommy Lingga seraya mendengus kesal menatap Kanaya.
Kanaya yang mendapatkan tatapan horor dari Mommy nya hanya nyengir, seraya menatapnya.
"Boleh pulang sekarang kan Mom?" tanya Kanaya.
"Belum boleh, dokter belum mengijinkan, kalau kondisi kamu udah pulih baru dokter bisa ngijinin kamu pulang," jawab Mommy Lingga.
"Wahhh dokter ini ngajak perang aku dong," ucap Kanaya seraya mendengus kesal. Melihat mimik wajah maminya yang kesal Gerald tertawa seraya berkata mengejek Maminya.
"Hahahahaaa..., Mami ngambek kayak anak kecil,"
"Iya bener Ge, Mami kamu kayak anak kecil," ucap Mommy Lingga lalu ikutan tertawa bersama cucu kesayangannya.
Waktu pun terus berlalu setelah 4 hari berada di rumah sakit, Kanaya pun diperbolehkan pulang oleh dokter. Senin pagi, setelah sarapan Gerald pun pamit pada mami dan Omanya untuk berangkat sekolah, diantar oleh Opanya dn tak ketinggalan pengawal yang ditugaskan untuk menjaganya.
"Opa, tidak bisakah mereka menjauh sedikit dari ku?" tanya Gerald pada Opanya.
__ADS_1
"Tidak," ucap Opanya.
"Hufff, aku bosan melihat wajah mereka yang menyeramkan itu," ucap Gerald pada Opanya yang sibuk membaca setiap email pada Handphonenya. Tak lama kemudian mobil pun sampai di depan sekolah Gerald kemudian Gerald pun turun dari mobil Opanya dengan wajah cemberut melangkahkan kakinya memasuki sekolahnya.
"Apa bedanya aku sekolah di sekolah elite dengan sekolah biasa, jika para pengawal itu selalu membuntuti ku, kemana pun aku pergi," ucap Gerald bersungut-sungut.
"Kamu kenapa Ge?" tanya teman sebangku Gerald seraya mendekati Gerald yang sedang berjalan sambil bersungut-sungut.
"Tuh, apa kamu tidak lihat dua patung berjalan yang berada di belakang ku," ucap Gerald.
"Loh emang kenapa? biarin ajalah Ge, semua kan demi kebaikan kamu, supaya nggak ada lagi yang mengejek kamu," ucap teman sebangkunya itu.
"Sudah nggak usah manyun gitu," ucapnya lagi. lalu mereka berdua pun berjalan menuju ke kelas mereka.
Sementara itu, Kanaya yang merasa jenuh di mansion tanpa melakukan apapun, memutuskan untuk membuat Brownies kesukaan putranya. Kemudian Kanaya keluar dari kamarnya menuruni anak tangga menuju halaman mansion. di halaman mansion terlihatlah Pak Iwan yang sedang mengelap kaca mobilnya.
"Pak Iwan," seru Kanaya.
"Iya Non," ucap Pak Iwan.
"Anterin saya ke mini market depan," ucap Kanaya.
"Baik non," ucap Pak Iwan.
Kemudian Kanaya masuk kedalam mobil tak lama kemudian mobil pun melaju dengan kecepatan sedang. sesampainya di mini market, Kanaya keluar dari mobil lalu melangkahkan kakinya berjalan memasuki mini market tersebut. Setelah membeli bahan-bahan kue brownies, dan membayarnya di kasir Kanaya berjalan keluar dan memberikan kantong kresek pada Pak Iwan agar memasukkannya kedalam mobil.
"Loh Nona mau ngapain ke seberang jalan?" tanya Pak Iwan.
"Aku mau beli mie ayam Pak, udah lama aku gak makan mie ayam itu," jawab Kanaya.
"Naik mobil aja non, atau saya yang beliin," ucap Pak Iwan.
"Gak usah mang, kalau pake mobil, jalannya muter," ucap Kanaya, kemudian melangkahkan kakinya berjalan menuju penjual mie ayam langganannya. Pak Iwan hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat Kanaya berjalan kaki, dalam hatinya berkata.
"Nona Kanaya, sangat berbeda dari kebanyakan orang kaya yang lainnya," Lalu Pak Iwan pun membuka pintu mobil dan menaruh belanjaan Kanaya di bagasi mobilnya.
"Nona Kanaya kok lama banget ya?" tanya Pak Iwan dalam hati seraya melihat jam dipergelangan tangannya.
"Mending aku susul aja deh," ucap Pak Iwan Kemudian membuka pintu mobil, lalu menutupnya kembali.
"Lebih baik aku jalan saja, kalau naik mobil takutnya berselisih jalan," ucap Pak Iwan lagi dalam hatinya kemudian Pak Iwan pun melangkahkan kakinya berjalan menuju Penjual mie ayam. Tetapi langkahnya terhenti ketika melihat Kanaya menyebrang jalan seraya menenteng kresek berisi mie ayam. Tak lama kemudian dari arah kiri jalan sebuah mobil melesat dengan sangat kencang, melihat mobil tersebut Pak Iwan berteriak.
"Nonaaaaaaa awasssssssss," teriak Pak Iwan
Pak Iwan pun berlari sekencang mungkin, menghampiri Kanaya. Tetapi sungguh naas mobil tersebut telah menghantam tubuh Kanaya, sehingga Kanaya terpental jauh. Seketika orang-orang berkerumun mengelilingi tubuh Kanya. Pak Iwan membelah Kerumunan tersebut, matanya terbelalak melihat tubuh Kanaya terbaring tak berdaya di jalan, dengan berlumuran darah.
__ADS_1
"Pak tolong," Teriak Pak Iwan dengan panik seraya mengangkat tubuh Kanaya.
"Nona, bangun nona," seru Pak Iwan.
"Pak, tolong Pak tolong," seru Pak Iwan.
Lalu seorang pria menghampiri Pak Iwan, dan alangkah terkejutnya ketika melihat Kanaya yang berlumuran darah di gendong oleh Pak Iwan.
"Kanaya," seru Pria tersebut.
Kemudian meraih Kanaya dari Gendongan Pak Iwan dan berlari menuju mobilnya diikuti oleh Pak Iwan.
"Bapak masuk duluan, dan pegang kepala Kanaya, cepat Pak," ucap Pria itu. Lalu Pak Iwan pun masuk kedalam mobil, setalah Pak Iwan masuk Pria itu pun memasukkan Kanaya dan membaringkan kepala Kanaya di kedua belah Pahanya. Pak Iwan pun dengan sangat hati-hati memegang kepala Kanaya agar tak goyang selama dalam perjalanan menuju rumah sakit.
"Nona, bangun nona," ucap Pak Iwan dengan nada penuh kepanikan.
"Nona, ayo buka matanya," ucap Pak Iwan lagi.
"Pak tolong lebih cepat Pak," ucap Pak Iwan.
"Tenang Pak, ini sudah sangat cepat," ucap Pria itu.
"Kanaya ayo buka mata mu Nay," seru pria itu.
"Pak berbicaralah terus pada Kanaya," ucap Pria itu Pada Pak Iwan.
"Nonaaaa, buka mata mu nona," seru Pak Iwan seraya meneteskan air matanya.
Tak lama kemudian Mobil pun sampai di rumah sakit, Lalu pria itu pun keluar dari mobil dan berlari memasuki rumah sakit dan berteriak memanggil dokter dan suster.
"Dokterrrr, susterrrr tolong,"
sementara itu Pak Iwan yang cemas menunggu di dalam mobil dengan cepat menggendong Kanaya keluar dari mobil dan berlari masuk kedalam rumah sakit. Dokter dan suster yang mendorong Brankar tempat tidur, berlari menghampiri Pak Iwan diikuti oleh pria itu, lalu Pak Iwan pun membaringkan Kanaya dengan sangat hati-hati, Kemudian Dokter dan suster pun bergegas mendorong brankar tersebut menuju ruang ICU. Sesampainya di ruang ICU.
"Maaf, sebaiknya Bapak-bapak tunggu diluar saja," ucap Suster menahan Pak Iwan dan Pria itu masuk kedalam Ruang ICU.
Pak Iwan dan Pria itu pun menunggu di depan ruang ICU dengan raut wajah cemas dan penuh kekuatiran.
Tak lama kemudian Suster pun keluar.
"Keluarga pasien," ucap Suster.
"Pasien kehilangan banyak darah, dan golongan darah O saat ini tidak ada di Bank darah rumah sakit." ucap Suster.
"Golongan darah saya O, anda boleh mengambilnya," ucap Pria tersebut.
__ADS_1
"Baiklah Pak, mari ikut saya," ucap suster. Kemudian Pria itu pun mengikuti suster ke ruang pemeriksaan, dan berbaring di atas brankar tempat tidur rumah sakit. kemudian
Suster memasukkan sebuah jarum steril, ke kulit di bagian siku dalam, proses pengambilan darah pun dilakukan.