Kesalahan Masa Lalu

Kesalahan Masa Lalu
Bab 42. Ratapan dan Tangisan Duka.


__ADS_3

"Mami, bangun mam," ucap Gerald air matanya tak berhenti menetes, tangannya menggenggam telapak tangan Kanaya. Edward menatap putranya dengan tatapan sedih, kedua tangannya merangkul Gerald, seraya berkata.


"Sabarlah Nak, percayalah mami mu akan sembuh," ucap Edward.


Tak lama kemudian terdengarlah bunyi tittttt, dilayar monitor dan garis lurus. Edward terkejut dan menoleh kearah monitor, kemudian berteriak..


"Nay bangun Nay," teriaknya. kemudian berlari keluar, mencari dokter.


Daddy Ded dan Mommy Lingga serta Richard yang sedang berada di luar duduk di kursi tunggu, terkejut mendengar teriakan Edward. dan semakin terkejut melihat Edward berlari tanpa mengindahkan mereka. Lalu mereka pun bergegas masuk kedalam kamar Kanaya. Terlihatlah Gerald yang berteriak memanggil maminya, seraya menggoyangkan tubuh Kanaya.


"Mam, bangun mam, jangan tinggalin aku, mamiiiiiii, bangunnnnn!" teriak Gerald seraya berlinang air mata.


"Jangan tinggalin aku mam, aku mohon bukalah mata mu mam," ucap Gerald dengan nada meratap.


"Nay bangun Nay," teriak Mommy Lingga dan Deddy Dad, serta Richard.


"Princess bangun," teriak Richard.


"Ayo Nak, bangun," ucap Daddy Ded. Mereka menangis seraya mengguncang tubuh Kanaya. Teriakan dan tangisan menggema di ruangan Kanaya, tak lama kemudian dokter dan suster masuk dengan tergopoh-gopoh menghampiri brankar Kanaya.


"Permisi, biarkan saya memeriksa pasien," ucap Dokter.


"Suster alat pemacu jantung," seru dokter.


Suster pun memberikan alat pemacu jantung pada dokter. alat pemacu jantung pun di tempelkan pada dada Kanaya. Lalu dokter pun memacu jantung Kanaya.


"Ayo Nyonya, bangun," ucap dokter.


Dokter melakukannya lagi, lagi dan lagi tapi garis lurus di layar monitor itu tetap menandakan garis lurus, tak ada sedikit pun pergerakan, sehingga dengan terpaksa dokter menatap mereka dan berkata.


"Maaf kami sudah melakukan yang bisa kami lakukan," ucap Dokter seraya menatap Semua yang ada Diruangan Kanaya.


"Dengan menyesal kami menyatakan pasien telah meninggal dunia," ucap Dokter.


"Duwarrrr, serasa di sambar petir semua orang yang mendengar perkataan dokter, tercengang tak percaya.


"Tidakkkkkkk," teriak Mommy Lingga.


"Itu tidak mungkin, putri ku tidak mungkin meninggal, kau bohong dokter," seru Mommy Lingga seraya memeluk tubuh Kanaya.


sementara itu suster melepas infusan dan peralatan medis yang menempel di tubuh Kanaya.


"Kau bohong dokter," ucap Edward seraya menarik kerah baju Dokter dan menatap tajam.


"Kanaya ku tidak akan mungkin meninggal, dia harus sembuh, lakukan sesuatu dokterrrrrr," teriak Edward kemudian mendorong Dokter hingga jatuh tersungkur.


"Bangun kau akan ku hajar kau, Kanaya tidak mungkin meninggalkan ku, kau tahu aku akan menghancurkan rumah sakit ini," teriak Edward. seraya melayangkan tangannya kearah dokter, sebuah tangan memegang tangan Edward.


"Cukup Edward," seru Putra Kusuma, Papi Edward.


Yang memegang tangan Edward adalah putra Kusuma yang datang bersama dengan istrinya Narindra Kusuma.


Saat Edward menghubunginya dan menceritakan kejadian yang menimpa Kanaya saat itu mereka berada di Jerman sedang melakukan perjalanan bisnis bersama istrinya. Saat itu pun mereka langsung berangkat menuju bandara kembali ke Indonesia. Dan alangkah terkejutnya saat memasuki kamar Kanaya melihat situasi yang sedang menegangkan dan saat melihat kondisi putranya dan juga teriakan Gerald, Daddy Ded, Mommy Lingga dan juga Richard barulah mereka mengerti bahwa Kanaya telah tiada.

__ADS_1


"Aku akan menghajar dokter itu Kanaya tidak mungkin Pergi, lepaskan aku Pi," ucap Edward


"Hentikan nak, ini sudah menjadi takdir dari Kanaya," ucap Papi Edward.


"Takdir? dimana takdir itu Pi, aku baru saja menemukannya, aku kembali kesini demi Kanaya, lalu apakah takdir itu adil Pi?" seru Edward seraya menangis tubuhnya melorot ke lantai dingin rumah sakit, lalu tangannya memukuli lantai.


"Edward sudah cukup," ucap Mami Edward seraya berjongkok dan memeluk putranya itu. Tak lama kemudian Edward bangun dan berjalan menghampiri brankar tempat tidur Kanaya.


"Hei perempuan tidak tahu diri, apakah kau ingin tidur terus seperti ini hah?" tanya Edward dengan nada menghina.


"Apakah kau telah kalah dan menyerah sehingga dengan pengecut kau mengalah pada alat ini?" ucap Edward dengan nada mengejek, tatapannya dingin tetapi air matanya mengalir deras.


"Perempuan murahan, bangun kau, bukankah kau ingin membalas dendam pada ku hah," teriak Edward. semua yang berada di ruangan ini terkejut mendengar teriakan Edward dengan cepat Richard mencengkram kerah baju Edward dan menatap tajam pada Edward.


"Berani-beraninya kau menghina adik ku bajingan," ucap Richard kemudian melayangkan pukulannya pada wajah Edward


"Kau tidak tahu apa-apa," teriak Edward lalu memukul Richard. Daddy Ded dan juga Putra Kusuma melerai mereka.


"Stop cukup, berhenti jika kalian tidak berhenti aku akan menyeret kalian keluar," ucap Daddy Ded.


Edward dan Richard saling menatap tajam dan tatapan penuh ancaman di kedua pelupuk mata mereka tergenang air mata yang ingin menyeruak keluar. lalu Edward mendorong tubuh Richard dan menghampiri brankar Kanaya.


"Kau lihat hah..! Kakak mu itu demi kau berani menghajar siapapun untuk melindungi mu, dan kau lihat Gerald anak mu menangis seperti itu kau lihat semua orang disini meratapi mu, Bangunlah Nay, bangun, aku berjanji pada mu untuk menebus semua kesalahan ku pada mu, jika kau seperti ini bagaimana aku menebus semua kesalahan ku hah," teriak Edward. Kemudian tangan Edward mengguncang tubuh Kanaya.


"Bangun kau perempuan murahan ku, bangunnnnn," teriak Edward lalu memeluk Kanaya, seraya menangis terisak.


"Mami, bangun mam," teriak Gerald. seraya mengguncang tubuh Kanaya.


Semua yang menyaksikan Gerald dan juga Edward menangis tersedu, mereka pun meratap memanggil nama Kanaya.


"Permisi Tuan," ucap Suster kami akan mempersiapkan pasien untuk di bawa ke kamar Jenazah," ucap Suster. Mendengar perkataan Suster Edward dan Gerald melepaskan pelukannya dari tubuh Kanaya dan menatap tajam Suster dan dokter yang ada di hadapannya.


"Kalian berani membawanya, maka kalian akan mendapatkan akibatnya, pergilah dari sini, kami tidak ingin melihat mu, Dia masih hidup, siapapun yang mendekat akan aku beri pelajaran," ucap Gerald dan Edward bersamaan.


Dokter dan suster yang mendengar perkataan Papi dan anak secara bersamaan dan mendapatkan tatapan tajam dari mereka terkejut mendengarnya. Dalam hati mereka bagaimana mereka bisa mengatakan hal sama.


"Tapi tuan, sudah waktunya kami membawanya ke kamar jenazah dan tolong keluarga yang lain membantu kami untuk mengurus kepulangan Jenazah.


"Tidak ada satu pun yang boleh membawanya," ucap Edward dan Gerald bersamaan. Kemudian membalikkan tubuh mereka menghadap Kanaya.


"Tolong tenangkan mereka agar kami bisa mengurus jenazah pasien secepatnya," ucap Dokter pada Daddy Ded dan yang lainnya. Mendengar perkataan Dokter Daddy Ded hanya menatap dokter tanpa menjawab tatapannya kosong tanpa ekspresi kemudian dokter dan suster pun keluar dari kamar Kanaya.


"Kau lihat mereka akan membawa mu, aku tidak akan membiarkan mereka membawa mu" ucap Edward.


"Aku dan putra ku akan membawa mu pergi dari sini," ucap Edward kemudian menundukkan tubuhnya dan menggendong Kanaya, semua orang terkejut melihat Edward.


"Nak, cukup sudah jangan lakukan itu," ucap Mami Edward seraya merangkul Edward.


"Lepaskan Kanaya nak," ucap Papi Edward.


Mommy Lingga memeluk Gerald.


"Bersabarlah nak, semua sudah menjadi jalan takdir mami mu," ucap Mommy Lingga.

__ADS_1


"Tidak Oma, mami ku masih hidup, aku tahu itu," ucap Gerald seraya memeluk Omanya dan terisak.


"Lepaskan Kanaya nak, baringkan kembali, di tempat tidur," bujuk Papi Edward.


"Tidak Pi, aku akan menggendongnya, dan membawanya," ucap Edward, seraya menatap Wajah Kanaya dengan tatapan kosong dan berkata.


"Mereka akan membawa mu Nay, tetapi aku tidak akan membiarkannya,"


kemudian Edward duduk diatas brankar sambil menggendong Kanaya, siapapun yang mendekat ingin mengambil tubuh Kanaya, di tepisnya, kakinya yang bebas bergerak menendang siapapun itu.


Gerald pun melepaskan pelukannya dari Omanya lalu mendekat pada Papinya dan turut duduk di brankar tempat tidur di sebelah Edward.


"Mam, saat aku bertemu Papi, aku sangat membencinya mam, tetapi saat kami berbicara di taman itu, aku merasa kasihan padanya tetapi aku selalu teringat tangisan mami, maka aku mengabaikannya, bahkan saat Papi berusaha menghubungi ku, aku selalu mematikan telponnya, dan sekarang bisakah aku meminta satu permintaan pada mu mam," ucap Gerald seraya menatap Wajah Kanaya yang memejamkan mata, wajahnya pucat pasi, tak ada aliran darah sedikit pun.


"Bisakah mami bangun dan membuka mata mami? dan memberikan ku seorang Papi? aku Telah menemukan Papi ku, tetapi saat aku menemukannya kenapa mami pergi?" tanya Gerald.


"Mami ku mohon bangunlah, mami tahu saat teman-teman ku bersama Ayah mereka, aku sangat sedih mam, aku menangis melihat mereka, aku membayangkan jika aku diposisi mereka, alangkah bahagianya aku," ucap Gerald seraya tersenyum menatap wajah maminya lalu menangis tersedu.


"Setiap malam aku berdoa agar aku bisa seperti mereka mam," ucapnya lagi.


"Aku iri pada mereka yang memiliki keluarga yang lengkap," ucap Gerald kemudian menatap maminya dan berkata lagi.


"Jika harus seperti ini, aku akan ikut mami saja," seraya memegang tangan maminya.


Tak lama kemudian matanya terbelalak melihat maminya dan tatapan matanya melihat tangan maminya yang bergerak, kemudian telapak tangannya menggengam telapak tangan Gerald.


"Mamiiiiii," teriak Gerald.


"Papiii, tangan mami bergerak," seru Gerald


Edward terkejut melihat telapak tangan Kanaya. kemudian berseru.


"Cepat panggil Dokter,"


Semua yang berada di situ mendekat pada Gerald dan melihat telapak tangan Kanaya yang menggenggam telapak tangan putranya. Kemudian Richard berlari keluar ruangan dan memanggil Dokter. Tak lama kemudian dokter dan suster pun masuk kedalam kamar Kanaya.


"Baringkan Pasien," seru Dokter. Edward pun membaringkan Kanaya dengan perlahan dan sangat berhati-hati.


Lalu dokter pun memeriksa Kanaya, senyum mengulas wajah dan bibirnya


"Sungguh ini adalah Keajaiban Tuhan, sebuah keajaiban yang tak pernah kami temui, kekuatan cinta kalian telah membawanya kembali," ucap Dokter seraya menatap Edward dan juga Gerald.


"Suster pasang kembali infus dan layar monitornya," ucap Dokter.


"Aku tidak bisa mengatakan apapun," ucap Dokter seraya menatap semua orang yang ada di ruangan Kanaya.


"Pasien Stabil, dan semoga saja keadaannya semakin membaik," ucap Dokter seraya tersenyum. Semua yang mendengar perkataan dokter bernafas dengan lega.


"Baiklah kami permisi dulu, dan saya harap kalian meninggalkan pasien, agar bisa beristirahat," ucap Dokter.


"Baik dok, terima kasih banyak," ucap Daddy Ded.


"Sama-sama Tuan, saya permisi," ucap Dokter.

__ADS_1


__ADS_2