
Tiga hari berlalu, pasca pertemuan nya dengan Raja, semenjak itu juga hubungan mereka dekat. Tetapi, Laila tetap membatasi jarak antara mereka, agar Raja tak melewati batas. Pria itu selalu bertanya bagaimana keadaan si kembar, Laila juga sering mengirimkan foto atau video berdurasi pendek si kembar. Saat mereka belajar mengaji, bermain, menonton Upin dan Ipin, bahkan foto mereka tertidur pun.
[Riska benar-benar cantik, dia mirip aku versi perempuan.]
Raja mengomentari foto Riska yang sedang memakai makeup khusus anak-anak yang Laila beli memakai uang yang di berikan oleh Raja. Sudah lama Riska menginginkan nya, tetapi Laila tak punya uang.
Tersenyum kecil wanita itu, membenarkan kalau memang Riska sangat mirip dengan Raja versi perempuan.
"Semoga saja sikapnya tidak sepertimu."
Laila membalas pesan Raja membuat pria di seberang sana terbahak-bahak.
[Aamiin … aku juga berdoa seperti itu, nggak lucu kalau dia mengikuti jejak ku yang suka mempermainkan hati lawan jenis]
Belum sempat membalas pesan tersebut, Raja lebih dulu mengirimkan pesan lagi intinya, membuat wanita itu langsung menggigit bibir bawahnya bingung.
[Kapan kau akan bilang pada mereka, kalau aku adalah ayah mereka? Masa sih kamu tega sama aku bilang sama mereka aku udah meninggal? Jahat bener?]
Raja kembali mengirimkan pesan pada Laila membuat wanita cantik itu bingung. Dia hanya mampu terdiam beberapa saat.
Laila menoleh melihat putra dan putrinya sedang menonton televisi. Wanita itu menarik nafasnya dalam-dalam, lalu ia hembuskan perlahan.
"Sayang, sini sama Bunda. Ada hal penting yang mau Bunda bicarakan sama Abang dan Adek!" panggil Laila membuat si kembar mengalihkan atensi ke arahnya. Mereka pun segera melangkah mendekati Laila yang duduk di kursi kayu dekat pintu.
"Ada apa, Bun?" tanya si kembar pada Laila.
Wanita berkerudung hitam itu pun menarik nafasnya dalam-dalam. Dia menatap kedua anaknya secara bergantian, sulit baginya untuk jujur sekarang, karena pastinya Riska dan Risky akan bertanya banyak hal. Sebab dari awal Laila selalu mengatakan ayah kerja sudah meninggal.
"Abang dan Adek rindu sama ayah, tidak?" tanya Laila serius membuat wajah Riska dan Risky langsung berubah sendu.
"Adek rindu, Bun."
"Abang juga. Kata Bunda ayah sudah meninggal, tapi, bunda tidak pernah ajak kami ke kuburan ayah!" balas Risky parau membuat hati Laila gundah gulana.
__ADS_1
Dia merasa sangat bersalah pada anak-anaknya.
"Maafkan bunda ya. Sebenarnya ayah Abang dan Adek masih hidup. Tapi, dulu bunda dan ayah bertengkar, jadinya, bunda marah sama ayah. Makanya bilang kalau ayah sudah meninggal!"
Laila berbicara dari hati ke hati dengan kedua anaknya. Agar mereka mengerti maksud Laila. Sontak saja Riska dan Risky membesarkan bola mata mereka.
Terkejut mendengar fakta ayah mereka masih hidup. Ada rasa bahagia menjalar dalam hati.
"Beneran, Bun. Ayah masih hidup?" tanya Risky semangat membuat Laila menganggukkan kepalanya.
"Bener, Abang dan Adek nggak marah sama, Bunda. Karena sudah bohong?" tanya Laila membuat Risky dan Riska menggelengkan kepalanya.
"Kata guru ngaji, berbohong itu memang dosa, tapi, orang yang berbohong itu pasti punya alasan mengapa dia harus berbohong. Dan berbohong itu ada dua macam, berbohong karena niat ingin membohongi itu berdosa, sedangkan ada berbohong yang dibolehkan yaitu berbohong demi kebaikan."
"Abang dan Adek nggak tahu masalah orang dewasa, karena adek masih kecil. Tapi, Abang percaya kalau bunda sayang sama kami dan pastinya mau yang terbaik untuk kami!"
Risky membalas dengan bijak membuat mata Laila berkaca-kaca seperti lampu bohlam. Dia tidak menyangka kalau Risky akan sehebat ini. Dia begitu pandai berbicara, selalu saja setiap kata-kata yang keluar dari mulut Risky mampu membuat hati Laila yang kacau menjadi tenang.
*Terus kalau ayah masih hidup, kenapa ayah nggak pulang, Bun? Apa karena ayah dan bunda masih bertengkar?' Tanya Riska polos membuat Laila menggelengkan kepalanya lembut.
"Ayah sebenarnya sudah pulang, tapi, tidak bisa tinggal satu rumah dengan bunda, karena bunda masih marah sama ayah. Jadi, ayah tinggal di rumah yang beda sama kita!" jelas Laila dengan kata-kata yang mudah dipahami oleh Riska dan Risky.
"Di mana rumah ayah, Bun?" tanya Riska polos membuat Laila tersenyum manis.
"Rumah ayah di kota. Dan ini dia ayah kalian!"
Laila menampilkan layar ponselnya ke arah Riska dan Risky. Mereka terkejut saat melihat sosok pria menatap mereka dalam layar dengan mata berkaca-kaca.
"Paman Raja?" seru mereka serempak.
[Halo, Abang, Adek. Paman adalah ayah kalian]
*
__ADS_1
*
Raja di seberang sana terkejut saat Laila tiba-tiba mengajak video call. Saat dia ingin berbicara, terdengar suara Laila berbicara tentang ayah si kembar dengan anak-anaknya.
Jantung Raja berdegup kencang, takut penolakan dari anak-anaknya. Namun, saat mendengar Risky dan Riska dengan bijak menyikapi ucapan Laila membuat hatinya berdecak kagum dengan pola pikir anak-anaknya.
[Rumah ayah di kota. Dan ini dia ayah kalian]
Tiba-tiba Raja terkejut saat Laila menampilkan wajah Riska dan Rizky menghadap layar ponsel.
[Paman Raja]
Pria dewasa itu tersenyum ramah. Dia melambaikan tangannya lembut.
"Halo, Abang, Adek. Paman adalah ayah kalian." Raja memperkenalkan dirinya dengan penuh percaya diri.
Si kembar di seberang sana pun bingung melihatnya.
[Loh, kok dari paman berubah jadi ayah, Bun? Apa bunda nggak salah orang?] tanya si kembar pada Laila di seberang sana membuat kepercayaan diri Raja luluh lantak.
Dia terbengong menatap layar ponselnya.
*
*
Gimana? Mau lagi?? Udah 5 bab loh.
Bersambung..
Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰🥰
Salem aneuk Nanggroe Aceh ❤️
__ADS_1