
"Assalamualaikum, Istriku. Siska Larasati binti Ja'far!" ujar Haikal lantang tersenyum penuh arti membuat tubuh Siska membeku.
Telinganya berdengung, seolah dunia berhenti untuk sesaat. Tatapan mata Siska bertemu dengan mata indah Haikal. Keduanya saling menyiratkan kerinduan mendalam.
Siska bertanya-tanya dalam hati, akankah penyamaran nya terbongkar di hari pertama dia menyamar? Padahal dia sudah berharap dari jauh-jauh hari penyamaran nya berhasil dan dia akan membuat suaminya kesal
Wanita berkerudung hitam itu lupa satu hal. Bahwa, seorang pria akan mudah mengenali wanita yang dicintainya meski tertutup rapat dengan kain.
Cukup mendengar suara dan cara berjalannya saja dia sudah tahu kalau di hadapan nya adalah wanita yang ia cintai.
Naluri seorang suami yang merindukan istrinya sangatlah kentara dan Haikal memiliki itu.
"Maaf, A-anda salah orang!" Siska berkata dengan terbata-bata. Wanita itu segera melangkah ke depan ingin segera keluar dari kurungan Haikal.
Pria itu tidak akan membiarkan Siska lolos kali ini. Segera saja saat Siska memegang gagang pintu dia mencekal tangan istrinya dan membalikkan tubuh wanita itu menghadapnya, kemudian dia himpit Siska ke pintu kamar.
Haikal mendekatkan wajahnya dengan wajah Siska. Sampai hidung keduanya bersentuhan. Pria tampan itu menatap dalam sorot mata istrinya.
"Aku tidak akan salah orang. Setiap malam, setiap detik dan setiap menit aku selalu memikirkan mu. Aku memandangi foto mu di keheningan malam, ku peluk dan ku cium harum pakaian mu. Berharap kalau suatu saat aku bisa memeluk tubuhmu langsung, tanpa ada pakaian yang terpasang di tubuhmu."
Haikal berkata dengan nada tegas penuh kerinduan. Dia menyatukan keningnya dengan kening Siska. Pria tampan itu memejamkan matanya perlahan, berusaha menormalkan emosinya agar tak meledak-ledak.
Tubuh Siska bergetar, telinga nya seakan rusak. Dia menolak kenyataan bahwa suaminya amat sangat merindukan nya.
Semua ini terlalu tiba-tiba. Selama pernikahan mereka, tak pernah sekalipun Haikal merindukan nya. Pria itu selalu memasang wajah muak bila Siska berdekatan dengannya.
__ADS_1
Lalu sekarang? Pria itu menyatakan perasaan rindu yang terpendam selama mereka berpisah.
Bisakah Siska bahagia? Istri yang dulu tak dirindukan, kini begitu di agungkan keberadaan nya. Sampai-sampai pakaian yang ia tinggalkan begitu berharga bagi suaminya.
Dulu, tersungkur Siska di keheningan malam mengadu pada sang pencipta betapa ingin dia dirindukan suaminya.
Dulu, menangis tersedu-sedu di temani sepi dan sunyi, karena sang suami menolak kehadiran nya.
Dulu dan dulu. Banyak sekali rasa sakit yang di terima oleh wanita hebat itu.
Wanita hebat yang rela menelan mentah-mentah rasa malu, demi memiliki pria yang ia cintai, meski ia sadar betul pria itu tak mencintai nya.
Dia rela mengabaikan rasa sakitnya asalkan bisa mempertahankan rumah tangga nya.
Delapan tahun bukanlah waktu yang cepat.
Tanpa sadar cairan bening membasahi pipi wanita itu di balik cadar hitamnya.
"Aku merindukan mu, sangat-sangat merindukanmu. Setiap aku pulang kerja, selalu berdoa kalau kamu kembali pulang dan menyambut ku seperti yang kamu lakukan setiap hari nya!"
"Aku menyalahkan diriku sendiri, karena keegoisan ku, kamu pergi. Saat aku tinggal sendirian di rumah yang aku bangun untuk kita ini. Aku sadar …"
Haikal menjeda perkataan nya. Pria tampan itu menarik nafasnya dalam-dalam. Dia tidak ingin menangis di hadapan istrinya.
"Aku sadar betapa tersiksanya merindukan seseorang yang telah pergi tak tahu ke mana, tak tahu kapan dia akan kembali pulang."
__ADS_1
"Hampir aku gila karena jatuh cinta pada orang yang tidak ada di dekatku! Kadang juga aku berbicara sendiri."
"Oh begini yah, rasanya mencintai seseorang yang tidak ada di dekat kita. Oh ini yang di namakan rindu! Ah … ternyata cinta sendirian itu tidak enak. Apa ini yang Siska rasakan dulu? Kenapa dia bisa bertahan dengan rasa rindu dan cinta yang menyakitkan ini?"
Haikal meluapkan segala perasaan dan emosinya. Pria tampan itu menjatuhkan kepalanya di pundak sang istri.
Tubuh Siska semakin bergetar saat mendengar suara Isak tangis Haikal terdengar memilukan.
"Aku rindu kamu, Siska. Aku cinta kamu … tolong jangan pergi lagi, please … don't go. Don't leave me alone!" lirih Haikal menangis pelan.
*
*
Kopi mana kopi, mata udah merem ini 👀🥴
Kalau tembus komentar 100 langsung colek lagi di Ig. 🤣🏃
Bersambung.
Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰🥰
Rekomendasi novel temen author yang nggak kalah seru nya. mampir yah 🥰
__ADS_1