
Laila mengelus dadanya yang terasa sakit. Bukan karena penyakit, melainkan sakit hati sebab luka lama yang terkubur kini terbuka dan kembali menganga, gara-gara bertemu dengan Raja. Pria itu benar-benar biang masalah, dia sangat takut bila Raja merebut anak-anaknya.
"Riska dan Risky itu anakku, tidak ada yang boleh mengambilnya dariku. Aku yang mengandung, aku yang melahirkan dan menyapihnya."
Laila bermonolog pada dirinya sendiri. Suara ponsel Laila yang berada di dalam kamar pun berdering. Sehera wanita itu masuk ke dalam kamar, dahi Laila berkerut ketika melihat nomor masuk.
Ragu-ragu dia menerima panggilan dari nomor tak dikenal itu.
"Halo," sapa Laila penasaran.
[Salam dulu, baru halo! Assalamualaikum!]
Mata Laila terbelalak mendengar suara yang sangat tak asing baginya. Siapa lagi kalau bukan Raja Baskoro, pria paling menyebalkan sedunia. Dia sangat pandai membuat Laila darah tinggi.
Nafas Laila terdengar memburu, entah dari mana Raja mendapatkan nomor ponselnya.
"Kamu?! Bagaimana bisa kamu mendapatkan nomor ponsel ku?!" tanya Laila dengan nada suara dingin.
[Ayah anak kembar mu ini orang kaya. Gampang bagiku untuk mendapatkan apa yang aku mau kecuali maafmu! Itu sangat sulit! Jadi, mohon kerja samanya yah agar aku cepat dapat maaf darimu!]
Terdengar suara Raja seperti menggoda Laila membuat telinga wanita itu panas nyaris mengeluarkan api panas.
"Dasar gila?!" umpat Laila segera mengakhiri panggilan tersebut.
Laila ingin segera memblokir nomor Raja agar pria itu tidak bisa menghubunginya lagi. Tetapi, sebelum itu, sebuah pesan video masuk.
Karena penasaran, Laila pun membuka video itu.
[Seorang ayah berinisial (H) di kota (S) tega mencabuli anak tirinya hingga berkali-kali. Perilaku bejat sang ayah tiri terbongkar di kala korban berinisial (K) melaporkan pada tantenya, kalau dia sudah tak lagi perawan. Dia mengatakan tak berani mengadu pada ibu dan pamannya, karena diancam oleh ayah tirinya.]
Sontak saja Laila sebagai wanita dan seorang ibu merasa hancur hatinya membaca berita tersebut. Berapa hina manusia jahat itu, tega mencabuli putri tirinya sendiri.
Nomor masuk itu kembali memanggil Laila. Dia pun menerima panggilan dari Raja untuk kedua kalinya.
[Kau sudah melihatnya, bukan? Aku tidak ingin si kembar punya ayah tiri, karena aku ayah kandung mereka masih hidup. Mau sejahat apapun aku di masa lalu, aku tidak bisa hidup dengan tenang kalau anak-anakku tinggal satu atap dengan pria lain. Mungkin pria yang mau ta'aruf denganmu awalnya memang baik dan sayang pada mereka.]
[Tapi, bagaimana kalau Riska dewasa dan tumbuh jadi gadis cantik nanti? Apakah kasih sayang itu masih suci, seperti ayah dan anak pada umumnya? Atau berganti menjadi hasrat buas predator k*lamin? Aku setuju kamu mencari ayah baru untuk si kembar, kalau aku ayah yang jahat. Tapi, kau tahu sendiri bagaimana caraku menyayangi anak-anak bukan?]
Raja berbicara dengan nada serius dan tenang di seberang sana. Pria itu berada dalam mobilnya, dia melihat rumah Laila dari luar. Sangat kecil namun bersih.
Laila yang mendengarnya pun terdiam sejenak. Apa yang dikatakan oleh Raja memang benar. Jujur saja Laila juga merasa sangat takut untuk menikah lagi, takut sekali anak-anaknya Rai mendapatkan kasih sayang dari ayah tirinya.
Bagaimana kalau pria itu hanya cinta pada Laila saja? Bagaimana bila dia hanya ingin tubuh Laila saja?
Bagaimana bila suatu hari nanti, pria itu membentak atau memukul si kembar?
__ADS_1
Sungguh, membayangkannya saja dia tidak sanggup. Laila saja cukup merasa bersalah sebab semalam membentak si kembar. Memukul saja dia tak pernah mau senakal apapun anak-anaknya.
Karena apa? Dia adalah ibu mereka. Nyawa ia pertaruhkan untuk melahirkan Riska dan Risky.
Tak perlu menjawab. Semua ibu pasti setuju, tidak ada yang boleh memukul anak-anaknya, kecuali dia sendiri.
Bahkan, seorang ibu akan menjadi garda terdepan bagi anak-anaknya bila ayah si anak lepas kendali ingin menghajar mereka.
"Kamu juga ayah yang jahat! Apa kamu lupa? Dulu kamu menyebut mereka dengan sebutan anak haram."
Setelah mengatakan itu, Laila segera mematikan ponselnya. Kali wanita itu luruh ke lantai dingin, dia menangis seorang diri di dalam kamar.
Laila menepuk dadanya yang terasa sesak. Mengapa baru sekarang Raja datang? Ke mana saat Laila di hina dan di maki oleh tetangga lamanya? Ke mana saat orang-orang menghina anak dalam kandungannya anak haram?
Sakit … ya Allah demi apapun hati Laila sangatlah sakit.
Tidak ada wanita yang menjadi janda. Kecuali, keadaan yang memaksa mereka menjadi janda.
Semua wanita setuju pasti memiliki mimpi yang sama yaitu menikah dengan orang yang tepat. Sekali seumur hidup.
"Apa yang harus hamba lakukan ya, Allah? Hiks … capek ya Allah … capek!" Laila menangis tersedu-sedu seorang diri.
Inilah Laila yang sebenarnya. Dia lemah, tetapi pura-pura kuat di hadapan anak-anaknya.
*
*
"Maafkan aku, La. Maafkan aku!"
Raja memukul setir mobilnya dengan keras sampai punggung tangannya memerah dan lecet berdarah.
Dia merasa gagal menjadi ayah yang baik. Tetapi, dia masih berharap bisa memperbaiki hubungan nya dengan Laila dan si kembar. Dia masih ingin menjadi ayah yang baik.
"Aku salah! Maafkan aku!" lirih Raja pelan.
Pria tampan itu tidak tahu harus mau bagaimana lagi. Saat ini kepalanya terasa sangat sakit, dadanya sesak.
Mata Raja menangkap siluet anak-anak yang sedang mengayuh sepeda mereka melalui kaca spion mobilnya.
*
*
Riska dan Risky sangat senang karena mendapatkan coklat dari Fatimah. Hari sudah mulai petang, mereka pun beranjak pulang ke rumah masing-masing.
__ADS_1
"Abang, coklatnya enak ya!" celetuk Risky yang berada di kursi belakang.
Risky menganggukkan kepalanya.
"He'um, coklatnya enak sekali! Abang baru pertama kali makan coklat seenak itu."
"Kita suruh bunda beli aja gimana?" tanya Riska dengan raut wajah ceria.
Risky yang mendengarnya pun tersenyum senang. Tidak ada salahnya meminta pada sang ibu untuk membeli coklat yang sama.
"Tunggu Bunda sembuh dulu. Biasanya setiap Minggu Bunda bakal ajak kita ke kota, buat ambil barang. Nanti, kita suruh beli sama bunda!" balas Risky cerdas membuat Riska mengangguk kepalanya mengerti.
"Itu seperti mobil paman Raja!" tunjuk Riska pada mobil Pajero yang berada di depan rumah mereka.
"Yeay ada Paman Raja!" sorak Risky senang.
Risky berhenti mengayuh sepedanya, mereka berdua langsung turun dari sepeda saat berada di dekat mobil Raja.
Pria dewasa itu langsung turun dari mobilnya.
"Hey, tampan dan cantik!" sapa Raja semangat, senyuman cerah terpasang di wajahnya. Rasa sedih yang tadinya ada, kini pulih ketika bertemu dengan anak kembarnya.
Namun, …
"Abang, Adek! Pulang … udah mau magrib!" seru Laila yang sudah berdiri di depan pintu rumah.
Sontak saja situasi antara Laila dan Raja kembali menjadi tegang dan dingin.
*
*
Nih udah 4 bab loh. Mau 6 bab lagi? Yukk setiap bab 100 komentar. Biar author sembagat up nya 🥰😊🙏
Saling bantu kita, agar sama-sama adil. Author nulis, kakak baca, komentar, like, vote dan gift bagi yang punya koin. ❤️❤️
Bersambung.
Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰🥰
Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️🙏
Mampir juga ke novel temen author yang nggak kalah bagusnya. Di jamin bakal seru, silahkan mampir sambil nungguin author up. 🌹🌹
__ADS_1