
Raja benar-benar melakukan apa yang dia katakan. Pria itu tak lagi bekerja menjadi CEO, dia telah menyerahkan jabatan itu pada adik-adik nya, tak takut hartanya berkurang atau adiknya kaya. Sebab pada dasarnya, mereka di didik menjadi saudara yang saling menyayangi tanpa itu dengki.
Raja membeli rumah yang berada dekat dengan rumah Laila. Cukup jalan kaki sekitar lima menit, maka mereka akan tiba di rumah Raja.
Dia telah berjanji akan mengejar cinta Laila lagi, meski sangat sulit. Tetapi, dia akan tetap berusaha untuk menempuh jalan yang susah itu, karena raja yakin suatu saat nanti hati Laila pasti akan terketuk oleh perjuangan Raja, tak mengapa kalau mereka berpisah sekarang, sebab raja sudah memutuskan untuk terus menjadi duda bila memang Laila tidak mau menjadi istrinya, asalkan Laila tetap menjadi janda sampai tua nanti.
Maklum saja Raja adalah tipikal pria yang sangat mudah cemburu jadi bila ada pria yang mendekati Laila, Raja yang akan menjadi pelindung Layla, istilah kata raja adalah pawang Laila.
Tak terasa sudah tiga tahun Raja tinggal di desa yang sama dengan anak-anaknya, pria itu benar-benar menjadi sosok Ayah impian anak-anak di desa sana, karena raja sangat pintar membuat si kembar tertawa bahagia, tak tahu saja anak-anak di desa itu kalau Raja pernah jahat di masa lalu.
"La, kamu beneran nggak cinta lagi sama aku?" tanya Raja serius pada Laila yang sedang menjemur pakaian.
Pria itu berada di sana untuk mengantarkan anak-anaknya ke sekolah. Raja sengaja membeli mobil pickup agar anak-anak mau ke sekolah bersamanya. Sebab, Raja belum terlalu pandai membawa becak.
Laila yang mendengar pertanyaan Raja pun hanya bisa menghela nafas berat, saat ini dia memang sudah benar-benar memaafkan Raja, tetapi untuk bersama lagi akan terasa sangat sulit, sebab Dia sering sekali mengingat masa lalu segala rasa sakit yang pernah raja torehkan di hatinya masih membekas.
"Maaf, Mas. Aku belum bisa! Sampai saat ini aku tidak pernah merasakan yang namanya cinta pada lawan jenis, kalaupun ada itu hanya untuk Risky saja. Lainnya tidak!"
Laila menjawab dengan lugas, wanita cantik itu tidak mau menikah dengan orang yang tidak ia cintai, lagipula dia juga telah memutuskan untuk menjadi janda saja karena dia lebih nyaman sendiri tanpa peraturan tanpa kekanan dan tanpa beban.
Raja kembali menerima penolakan dari Layla, tetapi pria itu tetap Kekeh ingin terus berjuang mendapatkan cinta Laila, sebab Dia sangat yakin yang namanya perjuangan pasti akan ada hasilnya, meskipun Laila tidak mau lagi menikah dengannya, setidaknya Raja pernah berjuang, sehingga tidak akan ada lagi penyesalan yang menghantui relung hati Raja.
"Baiklah, La. Aku yakin kalau suatu saat nanti perjuangan ku membuahkan hasil. Mungkin tidak sekarang, bisa saja di masa depan. Bisa berbaikan dengan kamu saja aku sudah sangat bersyukur."
Raja menerima penolakan Laila dengan hati yang lapang. Dia tidak merasa sedih, karena telah berdamai dengan lukanya. Dia telah meyakinkan dirinya, bahwa rasa sakit karena penolakan Laila tidak sebanding dengan rasa sakit yang dirasakan Laila pada masa lalu.
"Terima kasih sudah tidak egois seperti dulu lagi," ujar Laila membuat Raja berdecak kesal.
"Kau memujiku, tapi dalam pujian itu tersirat hinaan."
Laila yang mendengar Raja mengomel pun tersenyum tipis. Dia terus melanjutkan pekerjaan nya.
"Ayah, Bunda. Adek dan Abang sudah siap!" seru si kembar membuat keduanya mengalihkan atensi ke arah si kembar yang tampak sangat menawan.
Si kembar mendekati mereka, lalu segera mencium punggung tangan Laila, berpamitan berangkat sekolah.
"Bunda, adek dan Abang berangkat sekolah dulu ya!" ujar Risky ceria membuat Laila tersenyum manis.
Si kembar memang sangat baik mereka tidak pernah rewel atau meminta hal-hal yang aneh dari Laila maupun Raja, seolah mereka mengerti bahwa Laila dan raja pasti memiliki alasan untuk tidak tinggal di rumah yang sama, setidaknya mereka bahagia sebab memiliki sosok Ayah yang dulunya hanya ada Laila.
"Belajar yang baik ya, Nak. Biar jadi orang berguna kelak!" balas Laila lemah lembut membuat Riska dan Risky menganggukkan kepala mereka.
__ADS_1
"Pasti, Bunda."
"Kalau begitu aku hantar mereka dulu ya! Awas, jangan rindu!" Raja tetap menggoda Laila membuat wanita itu memutar bola mata malas.
"Rindu apanya, hampir 24 jam aku lihat kamu, Mas!" celetuk Laila membuat Raja tertawa.
"Siapa tahu nanti tiba-tiba aku menghilang atau pergi jauh, kamunya rindu!" balas Raja seraya mengerlingkan matanya genit.
"Ck … kamu memang gak pernah berubah. Selalu saja genit," gumam Laila pelan tersenyum tipis.
Raja segera mengantarkan anak-anaknya beserta Mamat CS ke sekolah Laila menatap mobil pick up itu perlahan menghilang dari pandangannya.
*
*
Saat tiba di gerbang sekolah, anak-anak segera melompat dari mobil pick up mereka mencium punggung tangan Raja sebagai bentuk penghormatan kepada orang tua, mereka semua mengucapkan terima kasih karena raja sudah mau mengantarkan mereka selama beberapa tahun ini, pria dewasa itu tersenyum manis karena dia telah merasa dekat dengan anak-anak di desa ini.
"Nggak apa-apa, justru Paman senang bisa hantar kalian sekolah. Belajar yang rajin ya! Eh, ini ada uang jajan buat kalian!"
Raja mengeluarkan dompetnya dari saku celana. Dia memberikan dua lembar uang merah pada Mamat, untuk dibagikan pada yang lain.
"Kamu yang bagi ya, Mat. Bagi yang adil! Si kembar nggak usah di kasih lagi!" Raja mengusap puncak kepala Mamat, bocah bertubuh berisi itu meski tampangnya bandit, hatinya hello Kitty. Sama seperti ayahnya pak Asep.
Anak-anak mendoakan hal-hal baik untuk Raja. Cukup tiga bulan Raja tinggal di desa, dia sudah paham mengapa Laila tidak mau pindah ke kota lagi. Karena memang penduduk di sana sangat baik dan ramah, walau terkadang mulutnya masih suka ghibah. Tetapi, kepedulian terhadap sesama sangatlah besar.
Anak-anak pun langsung masuk ke dalam rumah sekolah.
*
*
Hari sudah menjelang siang, Laila yang sedang memasak di dapur pun terkejut, saat mendengar suara ketukan pintu rumahnya.
"Hais, palingan, Mas Raja," gumam Laila pelan.
Wanita itu segera mematikan api kompor. Lalu segera beranjak membuka pintu rumah. Tampak dia orang pemuda desa memasang raut wajah khawatir dan panik.
"Eh, Dek Rahmat, Dek Abdul! Tumben datang ke sini?" tanya Laila pada pemuda itu.
"Gawat, Kak. Mas Raja kecelakaan! Sekarang sedang kritis di rumah sakit!" lapor keduanya membuat lutut Laila lemas. Dia berpegangan pada sisi pintu. Terkejut bukan main mendengar pria yang selama ini mengejarnya kecelakaan.
__ADS_1
Teringat pertemuan nya tadi pagi. Di mana Raja mengatakan suatu hal yang ternyata tak lain adalah sebuah kode akan mendapatkan musibah.
"Kalau tiba-tiba aku menghilang atau pergi jauh, kamu jangan rindu ya!"
Laila menutup mulutnya tak percaya. Matanya berkaca-kaca, memanas karena menandakan cairan bening keluar membasahi pipinya.
"Tolong bawa saya ke sana! Saya mau lihat keadaan ayah anak-anak saya!" pinta Laila dengan suara parau.
*
*
Sebelumnya.
Setelah mengantarkan anak-anak ke sekolah. Dia segera menancap gas untuk pergi ke kebun nya. Jalanan yang harus ia lewati berada di tengah-tengah hutan. Terbiasa membawa mobil kecepatan tinggi membuat Raja tampak santai menyetir mobil. Dia sangat merindukan bukan puasa dan memutar lagi Opick yaitu "Marhaban ya Ramadhan".
"Marhaban tiba, marhaban tiba … Allahu Akbar?!" teriak Raja tiba-tiba saat sedang bernyanyi, ketika melihat tiga babi hutan melintasi jalanan.
Brakk.
Raja yang latah pun membanting stir mobil ke kanan dan menabrak pohon beringin, membuat kaca depan mobil pecah dan kepala Raja terbentur stir mobil. Keadaan mobil hancur sekali, pintu mobil sopir terbuka saking dahsyatnya benturan mobil Raja menghantam pohon beringin.
Tubuh Raja condong sebagian keluar dari sisi mobil, darah segar mengucur deras dari kepalanya. Pandangan Raja mengabur, dadanya terasa sesak. Pria itu merasa berada di penghujung hidup.
Kelatahan Raja membawa petaka bagi pria itu. Ada sebuah peraturan di mana tidak boleh orang latah tiba-tiba terkejut saat sedang mengendarai mobil, memegang benda tajam atau berada di tepi jurang. Karena mereka bisa saja melukai orang lain, atau menyakiti diri sendiri.
"Allah … Allah," lirih Raja tanpa suara.
Terbayang wajah Laila dan anak-anaknya di kepala Raja. Dia belum mendapatkan hati ibu si kembar.
"Allahku … apakah ini akhir dari hidupku? Apa Engkau lebih dulu punya rencana yang lebih bagus untukku? Baiklah, Allahku … hamba ridho pada takdir-Mu. Terserah bagaimana ending kisah cinta hamba, karena hamba tahu, Engkau punya skenario terbaik untuk hamba," doa Raja dalam hati sebelum kesadaran nya menghilang sepenuhnya.
*
*
Huwaa … author sakit hati 😭😭 mau lagi nggak??
Bersambung.
Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰😘
__ADS_1
Salem aneuk Nanggroe Aceh ❤️🥰