
"Dulu, Medina memberikan ku foto Laila bersama pria tua yang tak lain adalah rekan bisnis ku sendiri. Mereka berdua berada di kamar hotel yang sama!" cerita Raja pada kedua temannya.
Dulu Memang benar kalau Raja dan Medina hampir bercerai, namun tak jadi karena Medina berjanji akan berubah menjadi istri yang baik. Tetapi, itu semua hanya taktik wanita itu, dia tidak mau bercerai sebab tekanan orang tuanya.
Bram dan Dino hanya bisa menggelengkan kepalanya, mereka berdua tak tahu harus berkata apa lagi, karena di sini Raja memang sangat bersalah. Pria ini taunya cuma main campakkan anak orang saja, demi istri durhaka seperti Medina.
Padahal Laila lebih tulus dari Medina yang tukang selingkuh itu.
"Terus kamu percaya sama si ular Medina itu?" tanya Bram serius tak habis pikir dengan sahabatnya satu ini.
Raja menganggukkan kepalanya pelan. Dino dan Bram Hanya bisa geleng-geleng kepala tak percaya. Raja si singa bisnis, dan gampang di kibulin ternyata bisa dikadalin sama istri sendiri.
"Kau benar-benar goblok. Mau aja ditipu sama si Medina!" umpat Dino kesal.
Raja hanya bisa menggaruk kepalanya yang tak gatal. Dia juga tak tahu harus berkata apa, emosi nya kala itu sudah sampai di ubun-ubun. Cemburu buta pada Laila, mengira wanita itu memberikan tubuhnya pada pria tua itu.
"Setelah aku cari tahu, ternyata Laila tidak bersalah! Dia hanya membantu rekan ku yang mabuk masuk ke dalam kamar hotelnya, kemudian Laila segera keluar dari sana!"
Raja berkata dengan suara pelan, merasa bersalah dan bodoh. Dia sadar diri telah banyak melakukan kesalahan, sejak bertemu dengan Riska dan Risky, dia menyuruh bawahannya yang berada di Jakarta, untuk mengecek kamar hotel yang di tempati rekan kerjanya beberapa tahun yang lalu.
Dia pun melihat dengan mata kepala sendiri, kalau Laila tak melakukan hal menjijikkan. Wanita itu tidak mengkhianati nya.
"Dan setelah tahu semuanya, kamu tidak ada niatan untuk minta maaf padanya?" tanya Dino menatap Raja dengan diri mata tak percaya.
Ada ya manusia seperti Raja. Untung sahabat, kalau bukan sudah Dino karungin terus dia lempar ke rawa-rawa biar di makan buaya janda.
"Aku malu, No. Niat buat minta maaf sih ada, tapi aku malu! Rasanya seperti menjilat ludah sendiri!" cicit Raja pelan membuang wajahnya ke sembarang arah, karena tak sanggup bertatapan dengan dua sahabatnya.
Keduanya menatap Raja seolah ingin mengikuti pria itu hidup-hidup. Geram rasanya, dia tak habis pikir ada manusia seperti Raja yang tak tahu malu.
Di mana-mana kalau orang bersalah, harusnya minta maaf. Tetapi, Raja tidak, dia terlalu banyak rasa malu.
Padahal, saat menghina Laila dulu urat malunya seolah putus. Tidak ingat kalau suatu saat nanti yang namanya karma pasti datang menghampiri nya.
"Makanya, Ja. Jadi, manusia itu kalau mau ngomong ingat karma. Jangan asal nyeletuk dan sumpah serapah orang lain, gampang bagi Tuhan membuat skenario di mana kamu mendapatkan karma yang setimpal!" celetuk Bram dengan nada kesal.
Dia tidak tahu harus berkata apa lagi, karena di sini yang menjadi biang keroknya adalah Raja sendiri, pria itu seolah tak punya malu ingin dekat dengan anak kembarnya.
Anak kembar yang lahir dari rahim wanita yang dulunya di sakiti oleh Raja. Benar-benar sedeng itu orang, pikir Bram dan Dino.
__ADS_1
"Dan sekarang kamu udah dapat karmanya, anak yang kamu sayang dan kamu banggakan dulu tak lain tak bukan anak istrimu dengan selingkuhannya. Terus, kamu malah menghina anak kandungmu sendiri yang kala itu masih kecil seperti kecebong dalam rahim ibunya! Sudah berkali-kali lipat karma yang kamu dapatkan!" timpal Dino membuat Raja semakin frustasi.
Dia bercerita pada dua sahabat nya berharap mereka memiliki rencana agar dia bisa mendapatkan maaf Laila, atau punya cara agar bisa dekat dengan anaknya.
Tetapi, yang ia dapatkan tak lain tak bukan muhasabah diri atau siraman rohani dari keduanya. Seolah-olah semua dosa yang Raja lakukan di masa lalu terpampang jelas di depannya sekarang.
"Woii?! Aku cerita sama kalian, karena aku butuh solusi. Bukan siraman rohani, kalau mau khutbah! Noh di masjid!" sentak Raja dengan nada kesal membuat Bram dan Dino jengkel.
"Eh manusia tak tahu diri, sesekali manusia sepertimu memang harus di beri ceramah, agar ingat dosa mu di masa lalu!" tukas Dino menatap tajam Raja.
Raja hanya bisa memutar bola matanya malas, dia hanya bisa berdecak kesal saat ini.
"Sebenarnya kalian ini sahabatku atau bukan sih? Kenapa argumen kalian seolah-olah Laila yang paling benar!" sindir Raja membuat Bram dan Dino tersenyum sinis.
"Emang Laila benar! Kamu yang salah di sini, jadi, solusi yang bisa kamu beri adalah kamu harus minta maaf sama Laila. Berjuang agar dia percaya dan cinta sama kamu lagi! Eh tunggu-tunggu … kamu cinta sama Laila?" tanya Dino serius membuat wajah Raja memerah.
Pria itu salah tingkah, masih teringat bagaimana cantiknya Laila memakai mukenah di pertemuan pertama mereka. Apalagi di masjid. Aura yang keluar dari Laila sangatlah adem dan menyejukkan hati Raja, meski kala itu Laila sedang marah padanya.
Ah … membayangkan pertemuan pertama mereka, membuat pipi Raja memanas. Janda dua anak itu sangat menggoda, pantas saja banyak anak muda yang suka pada janda.
Raja tak menjawab, membuat Dino dan Bram paham. Mereka tertawa lepas melihat Raja yang salah tingkah dengan pertanyaan mereka.
"Tidak usah kamu jawab! Kami sudah tahu jawabannya!" tandas Dino mencoba menahan senyum.
Sedangkan Raja sibuk mengipasi wajahnya dengan tangan. Entah tangannya itu kipas angin? Ternyata orang yang salah tingkah sangat lucu dan bodoh.
"Ekhm … sebenarnya aku tidak cinta sama, Laila ya. C-cuma a-aku tetap harus bisa mendapatkan hatinya lagi, agar aku bisa bersama si kembar!"
Raja menjawab dengan nada gugup membuat Dino dan Bram saling beradu pandang.
Tanpa berbicara, dua sahabat itu paham apa yang harus mereka lakukan.
"Bersama si kembar atau ibunya si kembar? Hemm … ayo jawab, Ja. Pilih Emaknya atau anak-anaknya?" goda Dino dan Bram mencolek pinggang Raja membuat pria itu salah tingkah.
Wajah Raja semakin memerah antara malu bercampur kesal.
Gini amat punya sahabat sengklek batin Raja kesal.
"Apaan sih kalian? Jangan colek aku ah … sial! Menjauh dariku!" Raja bergidik ngeri melihat dua sahabatnya yang tampak menjijikkan.
__ADS_1
"Pake malu-malu segala, nggak mau ngaku kalau suka sama emaknya juga! Halah … lagu lama … selalu pura-pura nggak cinta, padahal hatinya udah meledak-ledak kayak kembang api!" ejek Bram membuat Raja semakin kesal.
"Jawab yang serius, Ja. Kamu suka sama Laila apa enggak?" tanya Dino dengan nada serius membuat Raja langsung berdehem keras.
"E-nggak!" jawab Raja terbata-bata tak berani menatap wajah Dino.
"Baguslah kalau begitu! Aku rencananya mau tambah istri, sepertinya Laila cocok jadi istri keduaku!" celetuk Dino santai membuat Raja langsung menatapnya tajam.
"Jangan bilang laki-laki yang mau ta'aruf dengan Laila itu kamu?" tanya Raja dengan nada dingin membuat Dino tersenyum remeh.
"Kalau iya memang kenapa?" tantang Dino membuat Raja mengepalkan tangannya erat.
"Kau!"
Suara dering ponsel Raja berbunyi membuat pria itu tak jadi menghajar Dino.
"Halo, Dav. Gimana hasilnya?" tanya Raja serius.
[99% dia anakmu]
Degg
*
*
Yuk vote hari Senin buat dukung Laila dan si kembar 😘🥰❤️
kalau hari ini author up 10 bab gimana? bakal dapat dukungan apa? soalnya ini akhir bulan 😅😅
Bersambung.
Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰🥰
Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️🙏
Mampir juga ke novel temen author yang nggak kalah serunya. Cocok buat nostalgia saat pesantren dulu. Rekomendasi buat semua usia.
__ADS_1