Ketika Istriku Tak Lagi Manja

Ketika Istriku Tak Lagi Manja
S2 : Meminta Izin Laila


__ADS_3

Laila mendengar suara anak-anaknya yang sudah pulang. Segera wanita itu beranjak membuka pintu rumahnya, dia melihat si kembar tampak bahagia bertemu dengan Raja. Sungguh, pemandangan di hadapannya sangat mengharukan.


Apakah begini rasanya melihat si kembar menyambut kepulangan ayahnya? Laila akui kalau saat ini Raja tersenyum tulus pada anak-anaknya.


Dia akui kalau Raja memang sangat menyayangi anak-anak. Seperti di masa lalu saat mereka masih bersama, namun luka yang diberikan oleh Raja sangatlah besar. Dia tidak bisa melupakan semuanya dengan cepat seperti membalikkan tangannya.


Ada luka yang telah membekas. Ada sakit yang masih terasa. Ada trauma yang belum sembuh. Dan semua itu berasal dari Raja.


Bagaimana bisa dia menerima Raja kembali, kalau dirinya belum bisa menerima perbuatan pria itu di masa lalu.


Terserah bagaimana penjelasan Raja nanti, yang jelas semuanya telah terjadi. Dia telah terluka oleh hinaan orang-orang karena hamil tanpa suami.


Teringat akan istri Raja. Apa pria itu gila? Bagaimana nantinya bila istri Raja tahu tentang kehadiran si kabar. Pastilah sangat buruk.


Laila tahu betul bagaimana karakter Medina yang sangat jahat. Dialah yang telah menebar isu kalau Laila pelakor di kontrakan lamanya.


"Tidak! Aku tidak mau mengulangi kisah yang sama," lirih Laila pelan.


Segera dia berteriak memanggil anak-anaknya agar kembali pulang.


"Abang, Adek! Pulang, Sayang. Sudah Maghrib ini!" seru Laila menatap lembut keduanya tanpa menghiraukan Raja yang terkejut mendengar suaramu.


Senyuman manis di wajah Raja karena senang bertemu dengan anak-anaknya, perlahan berganti dengan senyuman getir. Bahkan, untuk berbicara dengan anak-anaknya, Laila tidak memberikan nya waktu.


Apakah perbuatannya sangat keterlaluan? Mengapa sekedar untuk berbicara dengan anak-anaknya, Laila tidak memberikan waktu?


Raja tahu dirinya salah. Tetapi, Laila juga salah, karena bagaimanapun dia adalah ayah kandung si kembar. Terlepas dirinya yang jahat di masa lalu.


Si kembar menoleh ke arah ibunya. Mereka tersenyum cerah.


"Baik, Bunda!" Risky dan Riska berseru dengan patuh. Lalu mereka menoleh ke arah Raja yang kini berdiri di hadapan mereka.


"Paman, kami masuk rumah dulu ya! Sudah Maghrib, sebentar lagi Abang dan Adek mau ke masjid bareng temen-temen!" ujar Risky dengan nada polosnya.


Dia memandang Raja penuh kekaguman. Wajah Raja yang sangat tampan dan mirip dengan Riska membuat Risky suka pada pria dewasa ini.


Raja tersenyum tipis. Dia mengusap puncak kepala Risky dan Riska lembut penuh kasih sayang.


"Iya! Tapi, sebentar. Paman ada hadiah untuk kalian berdua!" Raja berkata dengan penuh semangat membuat wajah si kembar berbinar bahagia.


Mereka tidak menyangka akan mendapatkan hadiah dari Raja. Keduanya beradu pandang. Senang sekali mendapatkan hadiah dari pria dewasa. Seumur hidup hanya teman-teman dan ibunya yang memberikan hadiah padanya.


"Hadiah? Tapi, kami tidak ulang tahun, Paman!" celetuk Riska dengan raut wajah bingung, tetapi tak menutupi kalau dirinya bahagia.


Raja tersenyum geli.


"Beri hadiah tidak harus saat ulang tahun."

__ADS_1


Raja menjawab dengan santai, lalu membuka pintu mobil belakangnya. Mengeluarkan mainan terbaru yang ia beli khusus untuk anak kembar tercintanya.


Ada boneka Teddy bear, mobil-mobilan dan helikopter. Mata si kembar berbinar terang melihatnya.


Sontak saja Riska dan Risky berteriak saling senangnya. Mereka lupa kalau ada sang ibu yang menyaksikan itu semua dari belakang.


Laila hanya bisa terdiam, dia menengadah agar air matanya tak tumpah. Sekuat tenaga dia berusaha untuk tetap waras, meski hatinya sedari tadi berdegup kencang, dan kepalanya sangatlah ribut.


Pastinya, kita semua pernah berada di fase yang mana isi kepala kita ribut. Seperti orang berdebat, padahal suasana sangatlah tenang.


Biasanya hal itu terjadi saat kita dewasa. Ada kalanya setiap orang dewasa merindukan masa kecilnya. Di mana bila menangis, cukup makan eskrim langsung terdiam.


Saat dewasa, mau makan es krim satu bungkus atau satu bakul tetap saja masalah tak hilang.


Kembali lagi pada Laila yang kini beradu pandangan dengan Raja. Keduanya saling bertukar pandang.


Laila memandangi Raja dengan sorot mata tak dapat di artikan, sedangkan Laila memandangi Raja dengan sorot mata penuh penyesalan.


Laila segera membuang wajahnya ke sembarang arah. Dia tidak ingin merasa menjadi orang jahat.


"Ini untuk kami semua, Paman?" tanya Risky penuh gembira. Raja menganggukkan kepalanya cepat.


"Tentu, ini untuk Abang dan Adek. Mobil dan helikopter ini untuk Abang, boneka Teddy bear dan mainan masak-masak ini buat Adek!"


Raja menurunkan mainan itu di aspal depan rumah Laila. Riska dan Risky langsung menoleh ke belakang memandangi Laila dengan sorot penuh harap.


Laila tak sanggup untuk menolak, karena dia tahu. Dirinya takkan mampu membelikan mainan mahal itu.


Kadang saat dia pergi ke kota, terpaksa memilih jalur lain, saat melihat toko mainan. Mau sepintar apapun Riska dan Risky, mereka dia tetaplah anak-anak yang kalau menginginkan sesuatu harus ada.


Laila menganggukkan kepalanya.


"Yeayy … Bunda baik sekali!" puji Riska dan Risky senang.


Raja tersenyum kecil, setidaknya dia merasa bahagia dan bersyukur, karena Laila mengizinkan si kembar untuk menerima pemberian nya.


Ada rasa senang yang tak bisa dijabarkan dengan kata-kata. Membayangkan si kembar memainkan mainan yang ia beli, sangatlah menyenangkan.


Apalagi kalau membayangkan dirinya ikut bermain dengan si kembar.


Ah … rasanya sangat menggembirakan.


"Tapi, mainannya terlalu banyak, Paman! Tangan Abang cuma punya dua!" celetuk Risky bingung.


"Tenang, Bang. Tangan Adek ada empat!" ceplos Riska membuat Raja dan Risky bingung.


"Tangan mu dua loh, Dek!" seru Risky dengan dahi berkerut terpasang di wajahnya.

__ADS_1


"Empat kalau ditambah dua kaki adek, Bang," balas Riska semangat membuat Raja tertawa lepas.


Ya Allah … anak gadisnya sangat lucu.


Risky yang mendengarnya pun menghela nafas berat.


"Dek … Dek … Abang lagi serius, kamu malah bercanda!" dengus Risky cemberut.


Raja menghentikan tawanya, dia menghapus matanya yang berair, karena lelah tertawa.


"Tenang … biar Paman yang bawa masuk ke dalam rumah kalian!" kata Raja santai membuat Riska dan Risky tersenyum ceria.


Raja segera mengangkat semua mainan yang dia bawa untuk anak-anaknya. Laila segera masuk ke dalam. Dia duduk di kursi kayu. Rumah Laila kecil, namun rapi. Hanya ada ruang tamu dengan dua kursi kayu, televisi, dapur, kamar mandi dan satu kamar.


Raja melangkahkan kakinya penuh semangat ingin masuk ke dalam rumah Laila. Namun, saat dia berada di depan pintu.


"Di situ saja!" tegas Laila tanpa menatap Raja.


Tubuh pria itu terhenyak mendengarnya.


"Baiklah," jawab Raja tersenyum tipis menutupi rasa sesak dalam hatinya. Dia menurunkan semua hadiah di depan pintu bagian dalam rumah Laila.


"Terima kasih," tambah Raja tersenyum tulus membuat Laila membuang wajahnya ke arah lain.


'Sabar, Ja. Bismillah … bangun nanti malam, sholat tahajud dan minta di sepertiga malam. Pasti Laila mau membuka hatinya untukmu. Ingat kata Pak Ustadz! Bila usahamu tak berbuah hasil, karena dikalahkan takdir. Maka, biarlah doamu di sepertiga malam bertarung dengan takdir!' batin Raja menyemangati dirinya sendiri.


Raja segera beranjak dari sana, namun sebelum itu dia berbisik di telinga si kembar.


"Baik, Paman," jawab keduanya seraya tersenyum cerah.


Laila hanya bisa mengerutkan keningnya. Dia penasaran dengan yang dikatakan oleh Raja pada anak-anaknya.


'Apa yang pria itu katakan?' batin Laila bertanya-tanya.


*


*


Nih udah 5 bab guys 😘. Mau lagi?? Yuk please, 100 komentar per bab nya dan kopi jangan lupa biar author kagak ngantuk hehe 😂🙏😎


Bersambung.


Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰🥰


Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️🙏


Mampir juga ke novel temen author yang nggak kalah serunya. Di jamin bakal suka. Bisa mampir sambil nungguin author up 🙏🥰❤️🌹

__ADS_1



__ADS_2