Ketika Istriku Tak Lagi Manja

Ketika Istriku Tak Lagi Manja
Nama Dari Haikal


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan yang lumayan jauh, akhirnya Haikal beserta istri dan anaknya sampai di rumah orang tua pria itu.


Tak sabar dia bertemu dengan anak keduanya, segera saja dia turun dari mobil tanpa memperdulikan Siska dan Reihan yang tertinggal di belakang. Dia benar-benar tak mampu menahan kerinduan nya terhadap sang anak.


"Mas, tunggu kami!" panggil Siska keras tak di hiraukan oleh Haikal.


"Papa, nih! Benar-benar nggak sabaran mau ketemu sama Beby!" celetuk Reihan baru turun dari mobil.


Ibu dan anak itu pun segera berjalan cepat masuk ke dalam rumah, menyusul Haikal yang kini sudah seperti orang gila berteriak memanggil orang tuanya.


"Mama?! Papa! Anak kedua ku, ada di mana?" tanya Haikal dengan suara kencang.


Membuat sang ayah yang sedang meminum kopi di taman belakang pun terkejut. Dia mengelus dadanya, merasa sangat kesal dengan anak semata wayang nya itu.


"Si biang kerong sudah datang! Ck … pasti dia mau mengambil cucu ku!" dengus pria tua itu melipat koran nya, lalu segera bangkit berdiri, melangkah masuk ke dalam rumah.


Haikal melangkah ke ruang tamu, tubuhnya membeku saat melihat sosok balita yang sedang belajar tengkurap. Balita itu tampak kesusahan, terbukti dari suara imutnya yang terdengar sedang mengomel.


"Ya Allah ya Allah … gemes banget sih kamu, Sayang! Cucu Oma memang Masya Allah cantik nya. Ayo, Nak! Sedikit lagi kamu pasti bisa tengkurap!" ujar ibu Haikal semangat tanpa menghiraukan kehadiran Haikal.


Dia sibuk memberi semangat pada cucu perempuan nya agar bisa tengkurap. Sedangkan Bibi Mey asik merekam momen membahagiakan itu.


"Anakku cewek?" gumam Haikal dengan suara bergetar. Senyuman manis terbingkai di wajahnya.


Sangat bahagia, karena bisa memiliki anak perempuan. Sekarang tanggung jawabnya bertambah. Dia sering melihat rekan bisnis nya bercanda ria dengan anak perempuan mereka.


Tak dapat dipungkiri kalau Haikal juga ingin punya anak perempuan. Hanya saja dia gengsi meminta nya pada Siska. Maklum saja, kala itu benih-benih cinta belum hadir.


"Mama, dia putriku, Ma? Ya Allah … aku punya anak cewek!" pekik Haikal bahagia setelah selesai melamun, dia segera menghampiri putri kecilnya.

__ADS_1


Dengan enteng Haikal mengambil alih Beby, padahal balita itu hampir berhasil tengkurap.


Sang ibu langsung memukul pundak Haikal dengan keras. Dia merasa sangat kesal, sebab putranya itu telah merusak suasana bahagia.


"Kamu ini benar-benar biang kerok! Beby, hampir saja berhasil tengkurap, kamu malah main gendong saja!" sentak sang ibu menatap Haikal dengan galak.


Haikal mengerucutkan bibirnya.


"Anak-anak ku, terserah aku mau gendong, Ma!" balas Haikal tak kalah sengit dari ibunya.


Segera saja dia melihat dengan teliti wajah putri kecilnya. Ternyata sangat mirip dengan wajahnya. Sepertinya gen Haikal lebih mendominasi.


"Waw, dia benar-benar seperti replika ku, Ma. Lihatlah! Hidung, mata, bahkan cara dia melihat itu sama seperti ku!" puji Haikal bangga dengan hasil jerih payahnya di atas ranjang.


Siska yang baru saja tiba pun memajukan bibirnya. Dia sendiri sebagai seorang ibu yang mengandung, melahirkan dan menyusui merasa tak adil.


"Semoga saja sifat Beby tidak seperti mu! Biarlah wajah kalian saja yang mirip. Tapi, akhlak jangan sampai mirip!" ujar ayah Haikal yang baru saja tiba.


Mendengar ucapan sang ayah, raut wajah Haikal berubah masam. Dia tidak menyalahkan atau membenarkan ucapan ayahnya, tetapi, dalam hati kecil dia mengakui kalau ayahnya benar.


Sebab, sifatnya cuma baik dalam pekerjaan.


"Beby? Nama anak kita Beby?" Haikal menoleh bertanya pada Siska membuat wanita cantik itu tersenyum manis.


Dia menganggukkan kepalanya cepat.


"Aku belum memberi nama lengkapnya. Tapi, aku memanggil nya Beby!" balas Siska ceria melihat putrinya sudah wangi dan imut memakai baju warna pink.


"Kenapa tidak sekalian kamu beri nama lengkap, Sayang?" tanya Haikal penasaran, keceplosan memanggil Siska 'sayang' di hadapan orang tuanya.

__ADS_1


Sontak saja pipi Siska merona, dan kedua mertuanya senyam-senyum tak jelas. Ayah Haikal melirik istrinya, lalu bergumam pelan.


"Sayang," gumam nya di balas cekikikan oleh istrinya.


"Sayang," balas wanita tua itu tersenyum geliembuat Haikal malu.


"Karena aku ingin kamu yang melengkapi namanya, Mas!" balas Siska berusaha bersikap biasa-biasa saja. Padahal dalam hati dia sudah sangat malu.


Haikal yang mendengarnya pun merasa senang bukan main. Dia sudah menyiapkan nama anaknya dari usia kandungan Siska dua bulan. Masing-masing gender ia pilih satu nama.


"Beby Adiba Afsheen Myesha. Artinya anak perempuan cerdas sebagai karunia kehidupan yang senantiasa bersinar seperti bintang langit!" kata Haikal tegas dan lantang menyebut nama lengkap putri kecilnya.


Membuat semua orang tersenyum senang. Merasa suka dan setuju dengan nama pilihan Haikal.


Pria tampan itu mencium kening dan pipi gembul putrinya. Lalu berbisik pelan di telinga balita itu.


"Tumbuhlah menjadi perempuan baik dan polos seperti mama mu, tapi, kau harus kuat dan berani seperti, Papa," bisiknya pelan seolah-olah putri kecilnya itu mengerti.


*


*


Ada yang penasaran dengan Layla? Next bab bakal author jelasin.


Bersambung.


Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰😘


Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️

__ADS_1


__ADS_2