
Seorang wanita cantik duduk termenung seorang diri di kamar nya. Dia menatap lurus keluar jendela, teringat masa-masa di mana dia sedang bahagia nya bersama mantan suaminya.
Dulu mereka hidup bahagia dengan kesederhanaan, Laila menjadi istri yang ceria dan baik. Tetapi, masalah datang saat jabatan suaminya menjadi manager di sebuah perusahaan bidang teknologi Jakarta.
Sang suami sering marah-marah, bahkan selingkuh di belakang Laila. Wanita itu mencoba tetap setia dan mempertahankan pernikahan mereka, namun semuanya hancur saat sang suami bermain tangan, Laila di hajar saat menyebut wanita simpanan suaminya murahan.
Pada akhirnya Laila pun menyerah. Dia menggugat cerai sang suami ke pengadilan agama. Mereka bercerai di dunia pernikahan tiga tahun.
Tidak memiliki anak, membuat Laila mudah melupakan suaminya. Lalu, ia bertemu dengan Raja, wali murid nya sendiri.
"Andai aku tidak bertemu denganmu, Mas. Pastinya aku tidak akan sampai tergoda untuk merusak rumah tangga orang lain," gumam Laila pelan.
Wanita itu hidup dengan penuh penyesalan. Andai saja dia tak punya anak kembar, mungkin saat ini Laila sudah berpulang ke Rahmatullah.
"Bunda, Adek lapar." Suara bocah kecil terdengar menyedihkan. Membuat Laila segera menghapus air matanya, lalu menoleh ke arah pintu.
Terlihat putrinya yang berusia lima tahun, menatapnya dengan sorot mata polos tanpa dosa. Hati Laila bergetar setiap kali melihatnya, karena wajah Riska anak perempuan nya, sangat mirip dengan pria tak bertanggung jawab itu.
Laila tersenyum lembut. Dia pun beranjak menghampiri putri kecilnya. Dia menggendong sang anak dengan santai.
"Uluh uluh … putri bunda baru bangun tidur udah lapar. Gimana tidurnya? Nyenyak hemm?"
Laila mencium pipi gembul putrinya membuat Riska tertawa geli. Dia berusaha menjalani lehernya dari sang bunda, tetapi tak bisa.
"Ha ha … Bunda, geli! Ha ha … ampun, Bunda," ujar bocah kecil itu di sela-sela tawanya.
Laila pun baru menghentikan aksinya, dia merasa sangat senang, memeluk dan mencium anak-anaknya membuat kesedihan yang ada dalam hati Laila menguap tak tersisa.
"Duduk di sini dulu, ya! Bunda goreng ayam dulu," suruh Laila lembut.
Tak berselang lama, saudara kembar Riska datang. Bocah laki-laki itu mengucek matanya, mereka baru saja bangun tidur siang.
Tadinya setelah bermain, keduanya mandi lalu tidur.
"Bunda," rengek Risky membuat Laila tersenyum manis. Dia pun memeluk putranya, lalu ia cium pipi bocah kecil itu.
"Kenapa hemm? Di gigit nyamuk lagi?" tanya Laila lembut, seraya membersihkan noda di mata putranya tanpa rasa jijik.
__ADS_1
Risky menggelengkan matanya. Dia menatap sendu sang bunda.
"Tadi Abang mimpi ayah pulang!" jawab Risky polos membuat jantung Laila bak di tusuk sembilu tajam.
Wanita itu merasa sangat sedih, sudah payah ia rawat putar putrinya dan berharap mereka tidak bertanya tentang ayah atau melupakan pria tak bertanggung jawab itu. Tetapi, tetap tak bisa.
Riska dan Risky tetap membutuhkan sosok ayah. Kerap kali mereka bertanya di mana ayah, tetapi Laila menjawab kalau ayah mereka sudah meninggal.
Namun, yang namanya anak-anak tetap saja bertanya hal yang sama, sampai mereka mengerti apa maksud dari meninggal atau sengaja ditinggalkan.
"Bunda, memang ayah bisa pulang? Bukannya ayah sudah meninggal? Kata Mpok Jamila, orang yang sudah meninggal tidak bisa pulang lagi?" tanya Riska polos.
Memang di banding Risky, Riska lebih cepat tanggap. Gadis kecil itu lebih pintar dari Risky. Dia juga lebih berani.
Laila tersenyum kecut. Entah berapa banyak kebohongan yang ia katakan pada putra-putri nya. Demi memuaskan pertanyaan anak-anaknya, tetap saja tak bisa.
Apalagi Risky yang notabenenya suka sekali bertanya, karena keingintahuan nya terhadap segala sesuatu lebih besar daripada Riska.
"Apa yang dikatakan Mpok Jamila, benar. Ayah sudah meninggal, dan orang meninggal tidak bisa pulang lagi!" bohong Laila menambah rasa sakit di dalam hatinya.
Mungkin saja bila Raja mau mengakui mereka adalah anaknya, Laila tidak akan berbohong. Dengan senang hati dia akan menceritakan sosok Raja, meskipun mereka telah berpisah.
*
"Jangan harap aku mau menjadi ayah dari anak haram mu itu!" teriak Raja kala itu membuat Laila hancur.
*
Kembali lagi pada Laila dan anak-anak. Risky yang sangat merindukan sosok ayah tak puas dengan jawaban yang di berikan oleh Raja.
"Tapi, Bun."
"Siapa yang mau paha ayam goreng?" tanya Laila dengan nada gembira membuat Riska dan Risky tersenyum girang. Mereka melupakan pembicaraan tentang ayah hanya karena ayam goreng.
"Abang!"
"Adek!"
__ADS_1
Riska dan Risky berseru gembira. Mereka mengangkat tangan membuat Laila tertawa kecil. Begitulah yang di lakukan oleh Laila, agar lolos dari keingintahuan anak kembarnya.
"Oke kalau begitu. Abang dan Adek duduk dulu! Bunda bakal goreng paha ayam kesukaan Adek dan Abang!" titah Laila dengan senyuman manis terlukis di wajahnya.
Mereka pun tersenyum cerah. Dengan senang hati menunggu ayam goreng buatan bunda mereka.
Lima tahun yang lalu, Laila menerima sejumlah uang dari Siska. Dia menggunakan uang itu untuk pergi ke desa dan membuka usaha online shop. Dia memesan berbagai produk yang memang di butuhkan oleh warga di sekitarnya, lalu menjual dengan harga terjangkau.
Usahanya terkesan lebih monoton. Tak kaya dan tak juga rugi. Dia menolak membuka usaha di kota, karena Laila merasa dia tidak cocok lagi hidup di kota.
Dia merindukan suasana desa. Apalagi biaya hidup di kota sangatlah mahal, belum lagi biaya sekolah putra putrinya bila besar nanti.
Sampai saat ini Laila sangat jarang berkomunikasi dengan Siska maupun Haikal. Dia benar-benar ingin keluar dari masa lalunya. Tak ingin menyusahkan orang lagi.
*
*
Sedangkan di lain tempat. Seorang pria dewasa berumur 39 tahun turun dari mobilnya. Dia melihat suasana pedesaan sangatlah memanjakan matanya. Membuat hati pria itu adem, banyak warga yang menatapnya penuh kekaguman. Maklum saja orang-orang desa sangat jarang bertemu dengan orang kota yang penampilan nya sangat rapi dan segar seperti nya.
"Sepertinya aku akan merasa nyaman tinggal di sini, Bram," ujarnya pada asisten.
Raja tersenyum kecil menikmati angin sepoi-sepoi menerpa kulitnya.
Bugh.
Sebuah bola mengenai kaki pria itu. Membuatnya menunduk dan melihat sosok anak kecil sedang mengambil bolanya.
"Maaf, Paman. Aku tidak sengaja," kata bocah kecil itu mendongak menatap Raja.
Degg.
*
*
Bersambung.
__ADS_1
Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰🥰
Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️🙏