
Hari sudah pagi, Laila tak kunjung bangun. Wanita itu sedang sakit, tubuhnya lemas ditambah perutnya sakit, efek datang bulan. Memilih tidur di ranjang, membuat Riska dan Risky yang sudah rapi berangkat sekolah khawatir melihat sang ibunda.
"Bunda … bunda, bangun!" Risky membangunkan ibunya dengan sentuhan lembut. Dia menggoyangkan lengan ibunya pelan.
Perlahan pemilik bulu mata lentik itu membuka matanya. Dia menoleh ke samping dan melihat anak-anaknya sudah rapi dengan baju sekolahnya.
Riska dan Risky berusia hampir enam tahun, mereka sekolah di salah satu paud yang berada di dekat rumah Laila.
"Bunda, masih sakit?" tanya Riska dengan suara parau dan mata berkaca-kaca. Dia sangat menyayangi ibunya, cuma Laila satu-satunya yang mereka miliki. Perjuangan sang ibunda untuk merawat dan mencukupi kebutuhan mereka bukanlah hal yang mudah.
Keduanya menjadi saksi hidup perjuangan sang ibu.
"Bunda, cuma sakit perut aja, Dek. Bunda lagi datang bulan!" balas Laila pelan dengan suara serak. Dia mengulurkan tangannya untuk membelai pipi anaknya.
"Ya udah kalau gitu, Abang libur sekolah aja. Biar bisa jagain, Bunda." Risky bersuara dengan nada polosnya membuat dada Laila terasa sesak.
Bukan karena sakit, tetapi terharu. Mereka berdua masih sangat kecil, namun keduanya sangat memahami kondisi ibunya. Terkadang melihat Laila kelelahan menyortir barang dagangan online, Riska dan Risky datang untuk memijat kepala dan pundaknya.
"Adek, juga mau libur, nggak mau Adek sekolah, tapi, bunda sakit. Nanti, kalau ada apa-apa, 'kan. Adek bisa ikut bantu jagain, Bunda!" tambah Riska polos tak mau hanya abangnya yang menjaga sang ibunda.
"Nggak apa-apa, Dek. Kamu sekolah aja, biar Abang yang jagain, Bunda!" suruh Risky tak ingin sang adik ikut bolos.
"Nggak mau! Kata Bu Guru sekolah itu memang penting, tapi, lebih penting menjadi anak yang baik. Kalau Adek sekolah saat Bunda sakit, berarti Adek bukan anak yang baik. Karena anak yang baik tidak akan meninggalkan ibunya saat sakit!"
Riska menjawab dengan cerdas. Seperti biasa, dia selalu membuat Laila merasa takjub. Kedua anaknya memiliki kecerdasan dalam berpikir.
Mendengar jawaban panjang lebar Riska membuat Laila maupun Risky kalah telak. Mereka tidak mungkin berdebat lagi, sebab jawaban yang diberikan Riska sangat luar biasa.
"Ya sudah kalau begitu! Abang dan Adek ganti baju, gih. Terus bunda mau minta tolong sama Abang buat beli nasi 2 uduk bungkus di tempat, Bude Lilis. Soalnya bunda nggak sanggup masak hari ini, nggak apa-apa, 'kan. Kalau bunda beli nasi di luar?"
Laila menatap kedua anaknya serius. Riska dan Risky menganggukkan kepalanya cepat.
"Nggak apa-apa, asalkan bunda istirahat banyak agar bisa sehat lagi."
Laila mencubit hidung Risky gemas.
"Kamu ini, kalau bicara sangat bisa buat Bunda terbang melayang!" gemas Laila membuat Risky dan Riska tertawa lepas.
*
*
Seorang pria dewasa bersama dua karyawannya sedang sarapan di sebuah rumah makan kecil dan sederhana. Mereka bertiga makan begitu lahap, karena makanannya sangat enak dan mantap.
"Nasi uduk nya berasa seperti masakan ibu di rumah! Mantap banget!" ujar Bram pada Raja dan Dino. Saat ini mereka sedang berada libur, bahasa yang digunakan pun bukan bahasa formal.
"Bener, jadi, kangen Ibuk di rumah. Semenjak nikah aku udah jarang makan masakan Ibuk!" jawab Dino menganggukkan kepalanya.
"Emang, istri Lo nggak masak?" tanya Raja menatap Dino.
"Ya bisa lah, cuma beda rasanya masakan istri dan Ibuk, Ja. Meski dua-duanya enak, tapi rasanya itu loh, beda banget, Ja. Saat kita makan masakan, Ibuk. Kita bisa protes kalau masakannya asin atau hambar, dan ibuk kita oke-oke aja. Tapi, kalau masakan istri sesekali asin atau hambar, kita lebih memilih diam. Daripada jujur malah nyakitin hati istri! Ya walaupun di mulut dia bilang senang, karena kita jujur. Tapi, yang namanya wanita, lain di mulut lain di hati. Bilangnya seneng sambil senyum, eh di belakang kita dia nangis, karena merasa nggak bisa masak enak untuk kita!"
__ADS_1
Dino bercerita membuat Raja tersenyum tipis. Dia tidak pernah makan masakan istrinya, karena dulu Medina tidak mau tangannya bau bawang.
"Bener banget, nasehat nyokap gue, sebelum menikah. Jangan banyak protes kalau nanti masakan istri asin atau hambar. Makan saja, tanpa harus protes, dia juga tahu kalau masakannya asin atau hambar, karena dia juga makan masakannya."
Mereka bertiga adalah teman masa kuliah dulu. Bedanya Raja lebih kaya dari mereka, dia merangkul kedua sahabatnya agar bisa maju bersama.
"Eh, berapa lama hasil tes DNA keluar?" tanya Raja teringat dengan anak Laila.
"Seminggu paling lama, Ja. Nanti kalau sudah, pasti David bakal kabarin lagi!" jawab Bram santai.
"Bude! Beli nasi uduk dua bungkus!"
Tiga pria dewasa itu mengalihkan seluruh atensi mereka ke arah bocah laki-laki tampan yang baru saja turun dari sepeda kecilnya.
Raja menjatuhkan sendok nya, ketika melihat Risky berada di hadapannya.
"Gila! Kalau bener itu anak Lo, ganteng bener dia, Ja. Wajahnya mirip model cilik!" bisik Dino pada Raja.
"Lo belum lihat yang ceweknya, No. Kalau lihat, pasti bakal kaget. Karena wajahnya mirip banget sama, Raja," celetuk Bram pelan.
*
*
Risky mengayuh sepeda kecilnya menuju rumah makan yang berada di desanya. Bocah tampan itu tampak bersemangat untuk mencapai tujuan. Saat tiba di sana, segera dia turun dari sepedanya.
"Bude! Beli nasi uduk dua bungkus!" pinta Risky dengan suara menggemaskan nya.
"Uluh uluh … anak siapa ini? Kenapa tampan sekali?" Bude Lilis menggendong Risky, karena merasa terlalu gemas. Bocah laki-laki itu anteng dalam gendongan wanita paruh baya itu.
"Anaknya Bunda Laila!" jawab Risky tertawa geli sebab Lilis mencium pipi dan telinga nya.
"Haisss … rasanya Bude pengen tak culik kamu! Uhhh … gantengnya Masya Allah!" puji Bude Lilis.
"Cepetan, Bude. Bunda lagi sakit! Abang harus cepat pulang! Kasihan bunda belum makan di rumah!" ceplos Risky memasang wajah cemberut.
Bude Lilis pun tertawa, dia segera menurunkan tubuh Risky. Lalu mengambil kertas bungkus nasi.
"Pake apa, Bang? Telor, ikan sambel atu ayam?" tanya Bude Lilis pada anak laki-laki itu.
"Satunya pake ayam tapi dua, yang paha. Satunya lagi pake telor asin! Banyakin sambel nya ya, Bude!" pinta Risky cepat.
"Bunda mu sakit apa, Bang? Udah berobat?"
Bude Lilis bertanya seraya membungkus nasi pesanan Risky.
"Semalam Bunda demam, sekarang demamnya sudah hilang, tapi, perut bunda sakit, karena datang bulan! Bunda belum minum obat, tunggu Abang bawa pulang nasi, setelah makan baru minum obat!" jelas Risky panjang lebar menjawab semua pertanyaan Bude Lilis dengan jelas dan tepat.
Raja yang menyaksikan nya pun tersenyum lebar tanpa sadar. Melihat Risky tumbuh kembang dengan sangat pintar membuat dirinya bahagia.
"Owalah, Abang dan Adek jangan banyak tingkah di rumah ya, kasihan Bunda lagi sakit!" nasehat Bude Lilis seraya memberikan bungkusan nasi uduk pada Risky.
__ADS_1
"Pasti, Bude." Risky memberikan uang lafa Bude Lilis.
Setelah mengambil kembalian, Risky segera beranjak dari sana.
"Hati-hati ya, Bang."
"Siap, Bude!" balas Risky santai lalu kembali mengayuh sepedanya.
Raja yang melihatnya pun segera bangkit berdiri.
"Kunci motor mana?" pinta Raja pada Bram.
"Mau ke mana, Lo?" tanya Bram heran seraya memberikan kunci motor.
"SSG!" balas Raja cepat membuat Bram dan Dino heran.
"Apaan tuh?" tanya Dino penasaran.
"Suka-suka gue!" jawab Raja membuat Dino dan Bram tersedak ludahnya.
"Sialan Lo!"
*
*
Author harap dengan kisah Laila, semua pembaca khususnya wanita termasuk author sendiri, jangan pernah mau menjadi simpanan pria beristri. Percayalah! Sanksi sosial untuk pelakor itu sangat mengerikan, kita hidup di negara yang penuh norma. Meski sudah bertaubat, tetap saja label pelakor selalu tersemat dalam diri kita. Seolah di kening kita sudah ada stempel pelakor.
Buat yang sudah terjerumus, yukkk kembali ke jalan yang benar. Kasihan rumah tangga orang, ada anak yang butuh keluarga lengkap, ada istri yang butuh cinta suami seutuhnya.
Kita para wanita sangat berharga, Allah memuji dan menyanjung tinggi kehormatan wanita dalam Al-Qur'an. Jangan sampai kita sendiri menjatuhkan diri ke dalam kubangan dosa.
Karena apa? Kita terlalu berharga untuk pria hidung belang yang sudah beristri.
"Oh dia baik, dia beda sama yang lain!"
Percayalah, saudariku. Nelayan hanya memberi umpan pada ikan yang berenang di laut lepas, setelah ikannya berhasil di tangkap. Maka, nelayan tidak akan memberinya umpan lagi.
Tapi, ini bukan tentang ikan.
Dan pria baik tidak mungkin mengkhianati istrinya.
*
*
Mau up lagi? Yukk kopi, komentar 100 dan like yang banyak. Biar author semangat update.
Bersambung.
Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰😘
__ADS_1
Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️🥰