Ketika Istriku Tak Lagi Manja

Ketika Istriku Tak Lagi Manja
Papa jahat! [Hancur Hati Haikal]


__ADS_3

Plak.


Tiga kali berturut-turut Haikal di tampar. Pria itu hanya terdiam tanpa membalas atau membela diri. Suara Isak tangis ibu dan para Tante, juga anaknya terdengar pilu. Semua orang sudah tahu kepergian Siska, empat hari berlalu dan Siska masih belum kembali.


"Huwaa … Abang mau mama! Abang mau mama, Oma!" Reihan menangis histeris seraya menghentakkan kakinya di lantai.


Bocah kecil itu sudah amat merindukan ibunya. Mau sedewasa dan secerdas Reihan, bocah itu tetaplah anak kecil yang tak bisa jauh dari ibunya. Dia masih terlalu haus belai kasih seorang ibu.


Ibu Haikal menarik tubuh cucunya itu masuk ke dalam pelukan. Reihan memberontak, namun tenaga wanita tua itu lebih besar. Sehingga Reihan jatuh ke dalam pelukan neneknya itu.


"Iya-iya, Sayang. Mama kamu pasti bakal pulang, kok! Abang yang sabar yah. Harus jadi anak baik, kalau enggak Mama Siska bakal marah."


Ibu Haikal berkata dengan lembut, berusaha membujuk cucunya agar diam. Reihan pun hanya bisa menangis sesenggukan dalam pelukan wanita tua itu.


"Benar-benar suami tidak tahu untung kamu, Haikal! Papa benar-benar gagal mendidik kamu untuk menjadi laki-laki sejati. Entah apa yang akan terjadi pada Siska di luar sana! Bahkan, ATM mu saja tak dibawanya!"


"Dapat istri manja dan tulus seperti Siska, bukannya bersyukur malah kufur. Kamu tuntut dia untuk menjadi wanita mandiri!"


Belum sempat sang ayah menyelesaikan perkataannya. Haikal lebih dulu menyela.


"Aku tidak pernah menuntutnya menjadi wanita mandiri!" bantah Haikal membuat sang ibu melepaskan pelukan Reihan, lalu segera bangkit dan menghadiahkan tamparan keras pada pipi putranya untuk pertama kali dalam hidupnya.


Plak.


Tubuh Haikal membeku. Wajahnya terpental ke samping menandakan sang ibu menamparnya sangat keras. Semua orang terkejut melihatnya, mereka tidak pernah menyangka kalau wanita paruh baya itu tega menampar putranya.


"Tidak pernah menuntutnya kamu bilang?! Tapi, cara kamu memperlakukan Siska selama ini sangatlah buruk. Kamu bahkan kerap kali menghina nya, karena tidak bisa memasak! Secara tidak sadar tingkah mu itu mendorong Siska untuk menjadi wanita mandiri!"


"Asal kamu tahu! Selama ibu Mama dan Papa tahu betul bagaimana kondisi rumah tangga mu. Mama tahu seperti apa kamu memperlakukan, Siska. Bukan Siska yang mengadu, tapi Bibi Mey selalu bercerita kalau diam-diam Siska menangis. Diam-diam dia melamun, kadang juga kalian bertengkar sampai Siska mau bunuh diri!"

__ADS_1


"Kamu semua tahu, Haikal!" bentak sang ibu dengan nada tinggi.


Air matanya mengucur deras membayangkan bagaimana perasaan menantunya selama ini menghadapi sikap putranya yang dingin dan cuek.


"Untung yang jadi istri kamu itu, Siska! Bukan wanita lain yang sukanya mengeluh di sosial media, kalau suaminya dingin, jahat, dan bahkan selingkuh saat dia sedang hamil!"


Sontak saja Haikal terkejut, matanya membulat sempurna, tak menyangka kalau ibunya tahu hubungannya dengan Laila.


"Ma … aku bisa jelasin."


"Nggak perlu! Mama tidak butuh penjelasan mu lagi. Kali ini mama benar-benar kecewa sama kamu! Menantu kesayangan mama sekarang benar-benar pergi!"


Sang ibu menatap putranya dengan sorot mata penuh rasa kecewa.


"Tapi, Siska berjanji akan kembali," sanggah Haikal yakin membuat semua orang yang di sana tertawa hambar.


"Kapan? Besok? Minggu depan? Bulan depan? Tahun depan? Atau sepuluh tahun yang akan datang saat calon anakmu berusia 9 tahun? Kapan, Kal? Kapan, huh?"


Hatinya dilanda kegelisahan. Pertanyaan sang ibu menciptakan rasa takut teramat pekat dalam jiwanya.


Takut sekali istrinya tak kembali. Gemetar bila memang benar, istrinya pergi tanpa berniat pulang.


Tidak tidak … Siska tidak akan pergi jauh darinya. Istrinya itu sangat mencintai Haikal.


Namun, pria itu lupa kalau manusia sangatlah unik. Hari ini cinta, besok bisa benci, hari ini kawan besok bisa menjadi lawan.


"Papa."


Reihan memanggil ayahnya dengan suara serak. Membuat Haikal mengalihkan atensi nya kepada sang putra.

__ADS_1


Dia melihat putranya menatapnya penuh kecewa. Mampu menusuk hati Haikal sampai ke yang paling dalam.


"Papa jahat … Papa bukan lagi idola, Abang!" ujar Reihan serak membuat Haikal meneteskan air matanya deras.


Kaki pria itu langsung luruh ke lantai. Menangis sesenggukan seraya memukul dadanya yang terasa sesak.


Semua orang menatapnya iba dan marah. Mereka semua pergi keluar dari rumah mewah itu, meninggalkan Haikal sendirian di dalam rumahnya.


"Pak, tolong tetap asasi putra saya agar tidak melakukan hal bodoh!" titah Ayah Haikal pada orang suruhannya.


"Siap, Pak."


Kembali lagi pada Haikal yang kini telah hancur. Berkali-kali dia memukul dadanya yang terasa sesak. Namun, rasa sesak itu tetap ada. Seolah telah mengakar ke hati yang paling dalam.


"Aakk … Siska sayang, tolong kembali! Jangan tinggalkan aku, Sis. Aku sakit, Sis. Aku di hajar, Papa. Mereka semua menyalahkan ku, tidak ada yang mau membela dan mengerti aku, Sis. Bahkan, Reihan pun pergi! Hiks … aku butuh kamu, Sayang!"


Haikal meraung mengagungkan nama Siska yang telah bertahta dalam hatinya. Berharap sang kekasih kembali pulang, lalu memeluknya sampai luka itu hilang.


Seperti dulu. Saat semua orang menyalahkan nya, hanya Siska yang membela nya.


Flashback on.


Waktu itu …


*


*


Bersambung.

__ADS_1


Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰🥰


Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️


__ADS_2