Ketika Istriku Tak Lagi Manja

Ketika Istriku Tak Lagi Manja
Healing Ke Pesantren


__ADS_3

Siska berdiri di depan bangunan megah berupa pesantren. Hatinya yang tadi panas, resah dan gelisah berubah menjadi sejuk, damai dan tenang. Tempat inilah yang nantinya akan menjadi tempat tinggal Siska.


Mungkin bila dulu dia akan pergi ke luar negeri untuk menenangkan diri. Maka sekarang dia lebih memilih untuk menenangkan diri di pondok pesantren.


Ternyata benar, kalau kita mencoba memperbaiki sholat kita. Maka Allah akan memperbaiki hidup kita, sama halnya yang seperti Siska rasakan. Kali ini masalahnya besar, tetapi hatinya lebih tenang sebab mengandalkan Allah sebagai penolong nya.


Berbeda dengan dulu-dulu sebelum sholat, bawaannya mau mati saja kalau di terpa masalah.


"Neng Siska?" Seorang ustadzah menghampiri wanita cantik berpakaian tertutup itu.


Siska memuji kerudung segi empat, hanya menutupi rambutnya saja.


"Benar, saya Siska!" Wanita itu mengangguk kepalanya sopan. Dia merasa malu bertemu dengan seorang ustadzah yang pakaian nya tertutup rapi dan hijabnya menutupi dada sampai perut.


"Alhamdulillah, saya sudah dari subuh nungguin Neng Siska! Perkenalkan saya Aisyah, adik ipar Ibuk Fatimah. Sebelumnya saya sudah mendengar banyak tentang Anda dari kakak ipar saya! Senang sekali saya bertemu dengan wanita hebat seperti Anda!"


Ustadzah Aisyah berkata dengan lemah lembut. Seraya merangkul bahu Siska dengan bersahabat membuat Siska nyaman dan malu-malu kucing.


"Saya juga sudah mendengar sedikit banyak tentang ustadzah dari Ibuk Fatimah. Senang berkenalan dengan Anda."

__ADS_1


Siska membalas dengan ramah. Sang Ustadzah tersenyum di balik cadarnya.


"Ah … kalau begitu mari saya antar ke kamar Anda agar Neng Siska bisa beristirahat. Kasihan dedek bayi nya, pasti capek!" ujar ustadzah membuat Siska tersenyum manis.


Dia mengelus perutnya yang sudah tampak besar. Rasa hangat menjalar dalam hatinya seolah sang anak berkata bahwa dia baik-baik saja.


Siska bersyukur di masa kehamilan keduanya, dia tidak terlalu bergantung pada Haikal. Bahkan, kadang kalau dekat dengan suaminya. Dia mual-mual tak jelas.


Di tengah perjalanan menuju kamar Siska. Seorang ustadz muda keluar dari ruangan kepala pondok. Ustadz muda itu melihat Siska sekilas lalu menundukkan wajahnya sopan.


"Assalamualaikum Gus Abbas!" sapa ustadzah Aisyah pada rekannya yang sama-sama mengajar di pondok pesantren.


"Wa'alaikumussalam, ustadzah Aisyah." Suara pria berbaju Koko itu terdengar sangat tenang. Enak sekali di dengar.


"Bismillah, semoga suara anakku juga memenangkan seperti Gus ini." Siska berdoa dalam hati. wanita itu benar-benar menyebalkan, tak tahu saja dia kalau suaminya di rumah sedang histeris karena kepergian nya.


Tetapi, tidak apa-apa. Sesekali Haikal yang menangis dan dia yang tertawa.


"Gus, kenalin ini sahabat nya Kak Fatimah! Namanya Neng Siska." Sang Ustadzah memperkenalkan Siska pada Gus Abbas.

__ADS_1


"Nama saya Siska, bukan Neng Siska!" ralat wanita itu cepat membuat ustadzah tersenyum lebar. Sedangkan Gus Abbas tetap mempertahankan wajah datarnya meski dalam hati dia ikut tersenyum.


"Iya namanya Siska."


"Kalau begitu saya pamit dulu, Ustadzah. Jam istirahat sudah selesai! Saya mau mengajar dulu."


Gus Abbas langsung pergi meninggalkan Siska dan ustadzah Aisyah. Kedua wanita itu pun kembali melanjutkan perjalanan nya.


"Nah, ini kamar Anda. Maaf kalau tidak sebesar kamar Anda di rumah." Ustadzah Aisyah meminta maaf membuat Siska tak enak hati.


"Tidak apa-apa, saya kemari untuk belajar agama sekaligus menenangkan diri. Bukan untuk liburan! Jadi, tidak masalah kamarnya kecil atau besar, sebab yang saya butuhkan di sini adalah ilmu."


Siska berkata dengan polos membuat ustadzah Aisyah tersenyum lebar menampakkan giginya di balik cadar. Ternyata benar apa yang dikatakan oleh kakak iparnya kalau Siska adalah wanita yang polos dan ramah.


*


*


Bersambung.

__ADS_1


Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰😘


Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️


__ADS_2