
Laila segera menarik tangannya. Tak enak hati membuat orang yang lebih tua mencium punggung tangannya. Apalagi melihat ibu Raja menangis gara-gara meminta maaf padanya.
"Yang salah itu putra Anda, Nyonya. Jadi, tidak perlu Anda minta maaf. Lagian saya juga sedang berusaha memaafkan kesalahan putra Anda! Jadi, tidak perlu bersedih lagi!"
Laila berkata dengan nada lemah lembut dan sopan. Membuat hati wanita tua itu menghangat, dia sangat senang, karena nyatanya Laila lebih dari ekspetasi nya. Dari aura Laila yang keibuan dan pekerja keras juga sederhana membuat Ibu Raja jatuh hati padanya.
Raja hanya mampu menundukkan kepalanya tak berdaya, dia terlalu malu untuk sekedar bertatap muka dengan Laila maupun ibunya. Menyakiti wanita maka sama saja menyakiti ibunya.
Tetapi, Raja lupa akan hal itu. Dia terlanjur melukai Laila. Namun, percayalah, hanya Laila yang ia sakiti. Wanita lainnya tidak.
"Terima kasih, Cantik. Kamu sudah berlapang hati memaafkan anak Ibu." Wanita tua itu mengelus punggung tangan Laila. Dia menggenggam nya dengan sangat lembut, membuat hati Laila merasa hangat. Karena dia dapat merasakan ketulusan ibu Raja.
Berusaha memasang wajah baik-baik saja, padahal Laila sudah sangat terharu dengan kebaikan Ibu Raja yang menurunkan harga dirinya meminta maaf atas segala kesalahan Raja. Terlebih lagi keluarga Raja yang sangat welcome padanya.
"Dan, tolong bawa cucu ayah main di luar! Sekalian turunin semua oleh-oleh untuk si kembar dan temen-temennya!" titah sang ayah dengan penuh wibawa.
Dani mengangguk paham, karena pastinya sang ayah ingin berbicara serius dengan Raja dan Laila.
"Baik, Yah. Ayo, cantik dan tampan. Kita ambil oleh-oleh buat kalian dan temen kalian si Mamat cs!" ajak Dani pada si kembar membuat dua anak itu tertawa senang.
"Yeay … oleh-oleh. Ayo, Paman. Kita lihat oleh-olehnya!"
Si kembar menggenggam tangan Dani, mereka keluar dari rumah meninggalkan orang tua yang tampak sedang berbicara serius.
Laila merasa sangat gugup. Tetapi, berusaha baik-baik saja.
"Jadi, bagaimana dengan hubungan kalian? Mau bersatu atau tetap pisah?" tanya sang ayah dengan nada diplomatis. Penuh wibawa dan sangat bijak.
Raja menatap Laila dengan sorot mata penuh harap. Tetapi, Laila langsung membuang wajahnya menatap ayah Raja.
__ADS_1
"Berpisah, Tuan. Saya masih nyaman sendiri dan saya sedang berada dalam fase berusaha memaafkan anak Anda. Belum juga memaafkan, apalagi bersatu dengannya! Mohon pengertiannya, Tuan."
Laila berbicara dengan lugas membuat Raja merasa sesak. Hatinya terasa sakit, seperti di hantam oleh balok. Dia tidak berkutik, karena telah berjanji pada diri sendiri untuk tidak memaksa kehendak Laila.
Ayah dan ibu Raja pun menghela nafas panjang. Mereka mengerti bagaimana perasaan Laila, pastinya sangat sakit dan masih benci pada Raja.
"Baiklah, Nak. Kami tidak akan memaksamu untuk menerima putra kami. Karena kami tahu pasti sangat sulit untukmu bersama dengan pria laknat, bejat, setan, iblis, jahat, buaya, kadal buntung–,"
Belum juga pria tua itu melanjutkan perkataannya. Dimas langsung mengusap pundak ayahnya.
"Sabar, Yah. Ingat! Ayah sholat, jangan sampai pahala sholat ayah berkurang gara-gara mengumpat setan itu!" ujar Dimas berusaha menenangkan ayahnya yang kalau sudah marah akan lepas kendali.
Raja hanya bisa menggigit bibir bawahnya. Mata pria itu berkaca-kaca, sudah di tolak oleh wanita yang dia cintai, ditambah di hina oleh ayahnya sendiri di hadapan wanita yang dicintainya.
Haduh, Mak … ke mana perginya harga diri Raja?
"Sudah jatuh, tertimpa tangga pula," batin Raja menangis pilu.
"Jangan terlalu keras bekerja, ya. Mulai kedepannya kamu fokus merawat anak-anak dan merawat diri kamu. Soal uang, ada Ibu dan Ayah yang akan memberikan untukmu. Anggap saja itu sebagai tebusan dosa kami sebagai orang tua karena gagal mendidik Raja dengan baik sampai-sampai dia menyakitimu hingga begitu dalam!"
Wanita tua itu berbicara dengan lemah lembut. Suaranya begitu tenang sehingga membuat telinga siapapun yang mendengarnya sangat sejuk. Laila menundukkan wajahnya, menyembunyikan pipinya yang basah.
Seumur hidup tidak ada siapapun yang berbicara seperti itu padanya. Laila tumbuh kembang sendirian, punya orang tua tetapi mereka tak tulus menyayangi Laila.
Itulah sebabnya Laila sangat tulus menyayangi anak-anaknya, jangan sampai si kembar merasakan apa yang dia rasakan di masa lalu.
"Terima kasih, Nyonya," ujar Laila pelan dengan suara parau.
"Jangan panggil, Nyonya. Lucu kalau si kembar dengar kamu panggil saya dengan panggilan Nyonya. Padahal saya adalah nenek mereka, otomatis ibu kamu juga! Panggil saya ibu, oke!"
__ADS_1
Wanita tua itu menarik Laila ke dalam pelukannya. Sontak saja air mata yang sedari tadi mati-matian Laila tahan tumpah begitu saja. Dia menangis sesenggukan di pundak ibu Raja.
Ayah Raja mencubit pinggang Raja, membuat pria itu menggigit bibirnya agar tak berteriak, sebab malu si dengar oleh Laila.
"Ayah benar-benar nggak habis pikir sama kamu. Teganya menyakiti wanita sebaik dia. Andai kalau tahu kamu jadi begini, Ayah masukin kamu kembali ke dalam rahim ibumu waktu lahir dulu," bisik pria paruh baya itu menguatkan cubitannya membuat Raja tak sanggup menahan teriakkan nya lagi.
"Akkkkk … sakit, Ayah?!" teriak pria itu kencang dengan suara laki nya membuat Laila yang sedang menangis terkejut.
Si kembar yang berada di luar ikut terkejut.
"Astaghfirullah … suara siapa itu?" tanya Risky yang tidak ngeh kalau itu suara ayahnya.
Dani yang paham kalau itu suara teriakan kakak sulungnya pun tertawa senang dalam hati.
"Tutup telinga kalian, itu suara wewek gombel lagi berak!" titah Dani membuat Risky dan Riska dengan patuh menutup telinga mereka.
"Pasti wewek gombel nya lagi sembelit, makanya teriak kencang begitu! Karena eek nya nggak keluar-keluar," gumam Risky pelan membuat Dani tertawa tanpa suara membuang wajahnya ke arah lain.
*
*
Mau lagi?? 🤭🤭
Sebenarnya cerita ini bakal tamat malam ini. Tapi, tenang aja bakal ada ekstra part nya.
Kenapa tamat? Karena memang sudah waktunya. Bab nya aja sudah 100 episode lebih hehe 🥰❤️🤭
Bersambung.
__ADS_1
Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰🥰
Salem aneuk Nanggroe Aceh ❤️🙏