Ketika Istriku Tak Lagi Manja

Ketika Istriku Tak Lagi Manja
S2 : Ayah? Ayah? Ayah?


__ADS_3

Akhirnya Laila menjelaskan kalau Raja adalah ayah mereka. Si kembar pun paham, pantas saja Raja begitu baik pada mereka dan memberikan banyak hadiah juga uang. Ternyata Raja adalah ayah mereka.


"Jadi, mulai sekarang adek dan Abang panggilnya bukan paman, tapi ayah! Mengerti?"


Laila menatap lembut kedua anak-anaknya. Riska dan Risky pun mengangguk kepala mereka semangat. Keduanya tersenyum senang, mereka memiliki ayah.


Tokoh yang selama ini mereka butuhkan telah kembali. Raja menjadi ayah mereka, keduanya tersenyum lebar, langsung kembali menatap layar ponsel. Menampilkan wajah tampan Raja memenuhi layar ponsel.


"Ayah! Ayah di mana? Kenapa nggak ke sini main bola bareng adek dan Abang?" tanya Risky semangat.


Riska juga tak ingin kalah. Dia berusaha merebut ponsel untuk berbicara dengan ayah tercintanya.


"Abang, adek juga mau ngomong sama ayah!" rengek Riska membuat Risky langsung membiarkan Riska yang memegang ponsel. Saat ini keduanya lebih tertarik berbicara dengan Raja, daripada menonton Upin dan Ipin. Laila tersenyum tipis, ada rasa lega dalam hatinya.


Meski ada rasa tak terima dari sisi jahatnya, karena Raja terlalu jahat padanya dulu. Tetapi, dia tetap berlapang hati untuk membiarkan Raja bermain dengan anak-anaknya.


Dia belum sepenuhnya ikhlas memaafkan Raja. Tetapi, dia akan mencoba memaafkan, bagaimanapun Raja sekarang adalah partner nya untuk merawat anak-anak.


Belum terpikirkan oleh Laila untuk bersatu kembali dengan Raja. Karena dia masih betah sendiri. Ternyata benar kata orang, wanita jangan dibiarkan terlalu lama sendiri atau terlalu mandiri. Bisa-bisa dia seumur hidup akan sendiri, karena nyaman dengan kesendirian.


"Ayah … ayah, kerja?" tanya Riska saat melihat penampilan Raja kali ini sangat rapi, rambut pria itu licin karena telah dipakai Pomade.


[Iya, ayah kerja, Nak. Ini ayah lagi di kantor!]


Raja menjawab dengan penuh cinta di seberang sana. Percayalah pipinya sudah merah merona. Di panggil ayah oleh anak-anaknya membuat Raja malu-malu kucing.


"Kantor itu apa, Ayah? Sejenis sawah atau ladang juga, kah?" tanya Riska penasaran dengan raut wajah polosnya membuat Laila menepuk jidatnya. Dia lupa mengajarkan anak-anaknya tentang kantor.


Sebab, mereka tinggal di daerah yang tidak ada pekerja kantoran. Dominan petani dan nelayan. Jadi, baik si kembar atau anak-anak yang lain belum mengetahui ada pekerjaan selain petani dan nelayan.


Raja di seberang sana pun tertawa terbahak-bahak. Dia merasa sangat lucu, andai saja dia bisa pulang, pastilah Raja akan ke desa dan mencubit gemas pipi gembul dua anak kembarnya itu.


[Sayang, kantor itu bukan sawah atau ladang. Tapi, kantor adalah tempat orang-orang kantoran bekerja. Hemm … Adek tahu dokter?]


Raja bertanya pada putri kecilnya. Risky yang mendengarnya pun langsung menjawab.


"Abang tahu, Yah. Dokter itu yang menolong orang sakit, kerjanya di rumah sakit!" jawab Risky cepat membuat Raja tersenyum lebar.


[Pintarnya anak ayah. Nah, kalau dokter kerjanya di rumah sakit, kalau ayah kerjanya di kantor. Nantilah kalau ada waktu insya Allah, ayah akan ajak adek dan Abang jalan-jalan ke kantor ayah. Untuk sementara ini ayah perlihatkan kantor ayah. Kalian mau lihat seperti apa kantor ayah?]

__ADS_1


Raja bertanya pada kedua anaknya. Sontak saja si kembar langsung menganggukkan kepala mereka penuh semangat.


"Mau, Ayah!" jawab mereka serempak.


Laila yang melihat si kembar lalai dengan Raja pun segera bangkit untuk kembali bekerja. Dia ingin menyortir barang yang ia terima dari reseller.


"Adek, Abang. Bunda kerja dulu ya!" ujar Laila pelan membuat keduanya menganggukkan kepala mereka.


"Semangat, Bunda!" Keduanya mencium pipi Laila membuat wanita itu merasa hangat.


*


*


Raja tersenyum senang, dia merasa hari-harinya yang sangat berat, kini telah berlalu sejak si kembar tahu dirinya ayah mereka.


"Nah, yang ini ruangan ayah! Besar, bukan?" tanya Raja pada anak-anaknya setelah memperlihatkan seluruh ruangannya yang lebih besar daripada rumah Laila.


[Wahh, sangat besar, Yah.]


Si kembar tersenyum lebar di sebelah sana.


"Tapi, walaupun besar tetap tidak berharga, kalau tidak ada Abang dan Adek di sini!" balas Raja jujur membuat kedua anaknya tersenyum malu. Mereka tahu saat ini sang ayah sedang menggoda mereka.


[Ajak bunda juga, 'kan?]


"Tentu, dong. Kan di mana ada bunda harus ada Adek dan Abang. Nggak boleh kalau nggak ada, biar nanti ayah bisa bawa kalian ke studio photo. Biar kita bisa foto keluarga di sana!" jelas Raja penuh semangat tak sadar kalau seseorang telah masuk ke dalam ruangan nya.


"Foto keluarga apa, Ja?"


Raja tersentak kaget saat mendengar suara bariton yang tak asing di telinga nya. Dia menoleh ke belakang, sudah ada sang ayah berdiri tepat di belakangnya.


"Ayah!" pekik Raja terkejut.


[Ayah] si kembar juga ikutan terkejut mendengar suara ayahnya yang tinggi.


"Ayah!" Pria tua itu ikutan menyebut ayah, membuat ketiga manusia beda generasi itu sama-sama terkejut.


Buru-buru si Raja mengakhiri panggilan tersebut.

__ADS_1


"Sayang, ayah kerja dulu yah. Bentar lagi ayah telpon! Assalamualaikum."


Pria itu segera memasukkan ponselnya ke dalam saku. Lalu berdehem keras guna menormalkan ekspresi nya.


"Anak siapa tadi, Ja? Kenapa mereka memanggil mu ayah, dan kamu juga menyebut dirimu ayah mereka?" tanya pria tua itu penasaran.


Tadinya dia ke kantor anaknya untuk memaksa Raja menikah. Sebab pria itu sudah terlalu lama jadi duda.


"Anak orang lah, Yah. Masak anak kambing!" sungut Raja dengan wajah masam. Sebab kedatangan ayahnya yang selalu seperti jelangkung datang tak dijemput, pulang tak diantar. Semua saja suka tiba-tiba ada di belakang Raja.


"Yang bilang anak kambing juga kamu. Bukan ayah!" tukas pria tua itu menatap tajam anaknya.


"Ah capek ngomong sama ayah!" Raja menghentakkan kakinya di lantai lalu berjalan menuju kursi kebesarannya.


"Capek apanya. Baru dua kalimat kamu ngomong. Udah capek aja!" celetuk sang ayah membuat Raja memutar bola matanya malas.


"Ya capek karena setiap ayah datang kemari pasti buat paksa aku kawin dengan pilihan ayah."


Raja mengomel seperti anak perawan. Pria itu kesal dengan keluarganya, setiap pertemuan keluarga, pasti dia yang dipojokkan, karena tak punya pasangan.


Memang sudah menjadi kebahagiaan orang-orang, saat menyudutkan teman, keluarga atau saudara yang belum menikah.


"Ya kamu memang harus kawin. Udah lima tahun kamu jadi duda, takutnya malah nggak kawin karena belok!" sungut sang ayah membuat Raja tersedak ludahnya.


"Aku masih lurus, Yah. Kalau lihat cewek montok si Ono tetap bangun! Enak aja katain anak sendiri belok. Mau belok atau kurus, gini-gini sekali tembak langsung kembar!" tukas Raja memelototi sang ayah.


Pria tua itu langsung menatap Tajam dengan sorot mata tajam.


"Apa maksudmu, Ja? Kembar?" tanya sang ayah membuat Raja menelan ludahnya kasar.


'nih mulut, kagak bisa jaga rahasia. Main lurus aja kalau ngomong macam jalan tol,' batin Raja menggerutu kesal.


*


*


Komentar yang banyak 🥰❤️ udah 6 bab nih.


Bersambung.

__ADS_1


Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰🥰


Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️🙏


__ADS_2