
Siska bernafas lega, karena berhasil menyadap ponsel suaminya. Wanita itu menggigit ujung kukunya, gugup sekali menunggu pesan masuk dari si kepala kelinci.
"Ya Allah, bila memang suami hamba melakukan kesalahan di luar sana, bila memang benar Mas Haikal bermain api di belakang hamba. Mohon ya, Rabb! Hamba mohon pada-Mu Yang Maha Benar. Hanya kepada-Mu hamba mengadu. Bila Yang Maha Benar saja tidak mengabulkan, maka kepada siapa lagi hamba memohon ya, Rabb."
Siska berdoa dalam hati. Wanita itu berharap kebenaran terkuak, agar dia bisa mengambil sikap ke depannya.
Pintu kamar mandi terbuka. Haikal melihat istrinya sedang menengadah tangan ke atas.
"Berdoa kok pake baju terbuka," sindir Haikal membuat Siska terkejut. Lalu menurunkan tangannya, wanita itu memasang wajah cemberut. Memang benar pakaian yang ia pakai saat ini cukup terbuka.
"Mendingan aku pakaian terbuka tapi masih mau berdoa, daripada kamu, Mas! Pakaian tertutup tapi malas berdoa … wleee!"
Siska menjulurkan lidahnya mengejek sang suami. Haikal merasa gemas dengan sang istri, ah lidahnya di julurkan. Membuat Haikal berpikiran kotor.
"Lidahnya mau aku gigit?" tanya Haikal datar seraya memakai celana yang telah disiapkan oleh Siska.
Sontak saja Siska menutup mulutnya. Wanita itu terkekeh geli, lucu sekali dengan perangai suaminya. Wajahnya datar dan dingin, namun pikirannya kotor.
"Ish … pikiran kamu kotor banget sih, Mas! Aku penasaran … kalau di luar rumah, pikiran kamu kotor juga nggak?"
Siska berkata dengan nada manja. Wajah Haikal tetap datar dan dingin.
"Kamu kira aku pria gampangan yang otaknya cuma di s*langkangan perempuan?" ketus Haikal dengan nada kesal.
Siska tersenyum cerah. Entah mengapa dia merasa yakin dengan perkataan suaminya. Siska langsung merangkak memeluk suaminya yang sedang duduk di tepi ranjang dan memeluk erat leher suaminya yang sedang mengancing pakaian piyama.
"Aigo … ternyata iman suami ku ini walaupun sholat nya bolong-bolong tetap kuat! Nggak suka jajan di luar."
Siska mencium leher Haikal gemas membuat bulu kuduk pria itu merinding. Hasrat kelakian nya yang tadi ia tahan pun langsung bangkit kembali.
Segera Haikal berbalik lalu mencium rakus bibir istrinya. Kedua manusia itu berciuman panas, saling bertukar Saliva, dorong mendorong tak mau lepas.
Tangan Haikal berkelana mencari tempat yang sangat ia sukai. Pria tampan itu semakin berhasrat saat tangan Siska ikut meraba tubuhnya.
Siska tersenyum penuh arti di sela-sela ciuman mereka. Wanita itu melirik ke arah jam yang telah menunjukkan pukul 07:50 WIB. Sebentar lagi Maghrib.
__ADS_1
"Hihihi … rasain kamu, Mas."
Saat Haikal menyentuh aset Siska yang bawah.
Mic masjid depan lorong kompleks mereka di ketuk oleh marbot. Suara Tilawatil Qur'an pun terdengar membuat pria itu menghentikan aksinya.
"Haiss … aku harus mandi lagi!" teriak Haikal kesal saat adik kecilnya sudah tegak.
"Hihihi … makanya, Mas. Kalau mau minta jatah, lihat-lihat waktu dan kondisi dulu!" ejek Siska seraya tertawa mengejek membuat Haikal mendengus kesal.
"Kamu sengaja ya!" tuduh Haikal geram.
"Sengaja apanya, Mas?" tanya Siska turun dari ranjang berjalan mundur.
"Sengaja kamu nggak nolak aku tadi waktu ciuman, karena kamu tahu kalau sebentar lagi Magrib!" tukas Haikal berjalan mendekati istrinya.
Siska tertawa lepas lalu berlari masuk ke dalam kamar mandi.
"Maaf!" teriak Siska lalu tertawa terbahak-bahak membuat Haikal geram dengan tingkah laku istrinya.
"Hahaha." Wanita itu tertawa lepas di dalam kamar mandi.
*
*
Siska sedang membacakan kisah Nabi 25 untuk putranya agar sang putra segera tidur. Seperti biasa, Reihan akan memeluk erat pinggang Siska.
"Nabi Yusuf pun memaafkan kesalahan semua saudaranya dan mengajak mereka tinggal di istana!" Siska membacakan paragraf terakhir kisah Nabi Yusuf.
Di lirik nya sang putra telah tertidur membuat Siska tersenyum manis. Dia bernafas lega karena putranya akhirnya terlelap.
"Gantengnya anak mama," lirih Siska seraya mencium kening putranya.
Ponsel baru Siska bergetar atas nakas. Segera dia mengambilnya, tangan Siska bergetar. Dia merasa gugup untuk membuka pesan masuk.
__ADS_1
Ting.
"Bismillah," gumam Siska pelan lalu memberanikan diri untuk membuka pesan masuk.
[Mas, pokoknya aku nggak mau cerai. Kamu harus jadi ayah anakku, kalau tidak aku akan beberkan ke media kalau aku ini istri kedua kamu]
Degg.
Jantung Siska berdetak kencang. Ponselnya langsung jatuh dari tangannya, air mata Siska mengalir deras tanpa bisa ia tahan. Nafasnya tersengal-sengal.
Hiks … hiks …
Siska menangis dengan suara tertahan. Dia memukul dadanya yang terasa sesak, Reihan yang tadinya tidur pun terjaga saat mendengar suara tangisan ibunda nya.
"Mama … mama kenapa?" tanya Reihan takut melihat ibunya menangis sesenggukan dengan nafas yang terhentak-hentak.
"Hiks …" Siska tak menjawab melainkan terus memukul dadanya yang terasa sesak.
"Papa … papa!" teriak Reihan kencang membuat Haikal yang sedang menonton berita di ruang tamu pun langsung berlari masuk ke kamar anaknya.
"Ada apa, Bang?" tanya Haikal panik. Dia terkejut melihat istrinya menangis tersedu-sedu seraya memukul dada tak hentinya.
"Mama, Pa. Tolongin mama!" teriak Reihan panik dengan air mata yang sudah berlinang.
"Siska! Hey hey … sadarlah!" Haikal segera mencekal tangan istrinya. Namun, Siska langsung mendorong Haikal dengan kasar.
"Jangan sentuh aku, Sialan!" jerit Siska histeris membuat Haikal membeku.
*
*
Bersambung.
Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰🥰
__ADS_1
Salem aneuk Nanggroe Aceh ❤️