Ketika Istriku Tak Lagi Manja

Ketika Istriku Tak Lagi Manja
Ekstra Part : Kekejaman Diko


__ADS_3

Flashback on.


Pernikahan Laila dan Diko sudah berada di ujung tanduk. Kerap kali keduanya bertengkar, karena Diko yang berubah. Atau lebih tepatnya menunjukkan karakter aslinya setelah punya uang banyak.


Ada saja kesalahan Laila di katanya yang membuat keduanya adu mulut. Seperti saat ini, masakan Laila tidak seenak dulu. Rasanya sama, hanya saja Diko yang tak lagi memandang kebaikan dan kelebihan istrinya.


Dia telah disesatkan oleh n*fsu dan setan.


"Loh, kok nggak kamu habisin makanan kamu, Mas?" tanya Laila lembut pada sang suami yang berwajah masam.


Diko mengelap mulutnya dengan tisu. Pria itu menatap datar Laila yang menatapnya dengan pandangan lembut.


"Masakan mu tidak seenak dulu. Lain kali tidak usah masak, karena aku akan makan di luar!" tandas Diko tanpa rasa kasihan pada istrinya yang sudah lelah bekerja sekaligus memasak untuknya.


Wajah Laila berubah sendu. Sang wanita mengepalkan tangannya erat. Dia juga sudah muak dengan tingkah laku suaminya yang makin hari makin menjadi-jadi.


"Masakan aku yang sudah tidak enak, atau selera kamu yang sudah berubah, Mas?" tanya Laila dengan suara serak menahan air mata sekaligus amarahnya.


Diko yang mendengarnya terkejut. Tak lama kemudian dia tersenyum dingin, menatap datar istrinya yang telah menemaninya dari nol sampai berada di puncak kesuksesannya.


"Sepertinya kamu sudah mengerti apa yang terjadi. Jadi, aku tidak harus bersusah-susah untuk menjelaskannya."


Diko berkata dengan nada santai lalu bangkit berdiri. Laila ikut bangkit, dia mencekal tangan Diko dengan erat membuat pria itu membalikkan badannya menghadap Laila.


"Kenapa? Kenapa kamu bisa berubah seperti ini, Mas? Ke mana Mas Diko yang lembut dan penyayang, huh?! Ke mana tatapan lembutmu, Mas? Kenapa sekarang kamu berubah menjadi dingin seperti ini. Mungkin kalau wajah kamu berubah, aku tidak tahu lagi siapa kamu, Mas. Kardna sikap kamu sudah tidak seperti Mas Diko, pemuda baik dan lembut yang aku kenal!"


Laila bertanya pada sang suami. Dia meneteskan air matanya, merindukan sang suami yang dulunya penyayang dan lembut padanya. Kehidupan mereka memang tidak terlalu mewah, terkesan sederhana, karena keduanya bukan orang kaya.


Tetapi, Laila adalah istri setia, sedangkan Diko pekerja keras. 

__ADS_1


Diko menarik tangannya kembali. Dia mengibaskan tangannya seolah ingin menghilangkan jejak Laila di sana.


"La, roda dunia setiap harinya berputar. Selera manusia juga begitu, saat kita kecil, kita akan suka makan permen, karena manis. Tapi, saat kita dewasa, kita tahu kalau permen tidak baik untuk kesehatan kita. Begitupun aku …"


Diko berkata dengan nada diplomatis menatap lekat wajah Laila yang kini telah berair.


Laila menggelengkan kepalanya tak percaya. Dia menahan Isak tangisnya agar tak.lepad kendali.


"Jadi, maksud kamu … aku bukan istri yang baik untukmu? Begitu? Setelah apa yang aku korbankan untukmu? Apa layak aku kamu samakan dengan permen anak-anak, Mas?" tanya Laila dengan nada tinggi membuat Diko murka.


Plak.


Diko menampar pipi Laila dengan sangat keras membuat wanita itu terhuyung ke kanan dan menabrak kursi kayu. Dada Laila terasa nyeri, karena terkena ujung kursi.


Tetapi, luka fisik yang di terimanya tak sesakit luka batin yang diberikan oleh Diko.


"Aku suamimu, Laila! Jangan coba-coba kamu tinggikan suaramu di hadapan ku, atau aku hajar kamu lebih parah dari ini?!" bentak Diko dengan suara tinggi membuat Laila tertawa getir.


"Apakah layak seorang suami menampar istrinya sendiri, huh?! Apakah layak?! Kamu berubah, Mas. Kamu berubah semenjak kamu naik jabatan dan punya gaji banyak?!" teriak Laila meluapkan emosinya.


Alhasil, Diko ikut murka dan langsung menendang tubuh Laila membuat sang wanita meringkuk kesakitan demi melindungi perutnya.


Bugh


Bugh.


"Sepertinya kamu harus kuberi pelajaran agar kamu jera dan setelah kita bercerai, kamu tahu bagaimana cara menghargai suami barumu nanti!" desis Diko tersenyum dingin lalu beranjak ke dalam gudang rumah mereka.


Sontak mendengar ucapan Diko membuat Laila terkejut bukan main.

__ADS_1


Bercerai? Benarkah? Mereka akan bercerai? Tetapi, mengapa bisa? Mereka berdua menikah atas dasar cinta. Bukan, paksaan atau perjodohan.


Tak berselang lama Diko kembali datang membawa kunci Inggris membuat Laila melebarkan bola matanya. 


Sang wanita merangkak berusaha untuk berlari. Namun, Diko dengan gerak cepat memukul kepala Laila.


Bugh.


Tes.


Cairan kental merembes keluar dari kepala Laila membuat wanita menyedihkan itu menatap suaminya dengan sorot mata tak percaya.


"Lain kali jangan tinggikan suaramu di hadapanku, Laila. Kamu tahu sendiri, kalau aku tidak suka wanita pembangkang, bukan! Jadilah, wanita baik-baik yang tetap lembut dan menerima semua perlakuan suami barumu nanti. Karena aku! Sudah tidak mau menjadi suamimu lagi," desis Diko seraya membelai pipi istrinya yang basah.


Laila hanya bisa meneteskan air matanya. Kecewa terhadap suaminya yang telah ia temani dari nol hingga sukses.


"Baik, kalau emang itu mau mu. Ceraikan aku, Mas. Tapi, satu yang harus kamu ingat! Beda istri maka akan beda rezeki?! Allah itu maha adil, Mas?!" ujar Laila penuh penekanan dengan surat pelan.


"Aku tidak takut! Aku sangat rajin dan pekerja keras. Pasti rezeki ku akan terus mengalir banyak! Tidak peduli saat denganmu, atau dengan istri baruku nanti!" balas Diko dengan nada mengejek membuat Laila tersenyum getir dengan bibir pucat nya.


"Ingat, Mas. Kamu yang membuangku. Maka jangan harap memungut ku kembali! Dan semoga kelak, saat kamu jatuh miskin, istri barumu tidak meninggalkan mu," ucap Laila tersenyum penuh arti seraya menatap dalam bola mata suaminya.


*


*


Mungkin ini hanya novel, tetapi, di luar sana sangat banyak wanita yang menjadi korban KDRT. Buat wanita-wanita kuat di luar sana. Tetap semangat, jangan menyerah! Allah nggak tidur. Jika pasangan kita tidak mampu membahagiakan kita. Maka, tak usah salahkan mereka. Cukup kita yang bergegas mencari kebahagiaan kita sendiri. Meskipun, kata egois kerap kali orang-orang lontarkan untuk kita.


Kebahagiaan kita adalah tanggung jawab kita. Bukan orang tua, anak, keluarga atau pasangan. Jangan takut dibilang egois! Karena sesekali, kita perlu egois untuk mempertahankan Kebahagiaan dan kewarasan kita ❤️🌹

__ADS_1


Salem aneuk Nanggroe Aceh ❤️🥰


__ADS_2