
Raja menatap tajam Laila, pria itu mengepalkan tangannya erat. Darahnya berdesir hebat, ingin sekali dia beri pelajaran pada Laila karena sudah berani menyebutnya dengan kata-kata tak baik di hadapan anak-anak.
Laila yang lepas kendali pun tersadar, saat mendengar suara imut Riska.
"Bunda, jangan marah. Adek takut … hiks." Riska sekuat tenaga menahan tangisnya. Untuk pertama kali dia mendengar sang ibu berkata-kata kotor, biasanya sang ibu selalu lembut dan berkata yang baik-baik saja.
Mendengar suara putri kecilnya, membuat Laila merasa sangat bersalah. Seolah ada baru besar menghantam kesadaran dirinya, dia menengadah agar cairan bening yang menumpuk di matanya tak keluar.
Laila harus kuat. Janda dua anak itu harus tegar, agar tak lagi dihinakan oleh pria masa lalunya itu. Setelah di rasanya tenang, barulah Laila kembali berbicara dan menatap Raja dengan sorot mata penuh kebencian.
"Tolong jangan pernah dekati anak saya lagi! Saya mohon?!" Laila berkata dengan nada tegas penuh penekanan.
Raja hanya bisa bungkam. Dia terlalu pusing memikirkan kemungkinan anak kembar di hadapannya ini adalah anak-anaknya.
Bila iya! Entah apa yang harus dilakukan oleh Raja agar mendapatkan ampunan dari Laila dan anak kembarnya.
"Baiklah," jawab Raja datar lalu mengelus kepala Risky penuh kasih sayang.
Laila hanya bisa menahan rasa kesal dan amarahnya agar tak meledak-ledak. Dia tidak ingin anak-anaknya kembali takut atau sedih.
"Abang, Adek ayo pulang! Mama sedang tidak enak badan. Maunya istirahat aja!"
Laila berkata jujur, saat ini dia merasa sulit untuk bernafas dengan baik. Wajahnya berubah pucat dan kepalanya terasa sangat sakit.
Bertemu dengan Raja membuat anxiety (gangguan kecemasan) Laila kambuh. Dia harus segera pulang untuk istirahat, bila terlalu lama berhadapan dengan Raja bisa saja membuat Laila jatuh tak sadarkan diri.
Bayangkan saja, bagaimana keadaan seseorang saat bertemu dengan orang yang menjadi luka baginya.
Seorang wanita baik-baik, di goda, diberi harapan, dijanjikan pernikahan, lalu dihamili, kemudian dicampakkan begitu saja dengan cara yang tidak baik. Diperlakukan seolah-olah dia adalah wanita penggoda, padahal sebaliknya.
Laila takkan mau menjadi simpanan Raja, bila saja pria itu tak menggoda dan memberikan harapan kehidupan bahagia setelah menikah.
Nyatanya dia hanya dijadikan pelarian saja.
Sakit? Ah … Laila stres dan hampir bunuh diri, untung saja ada Haikal dulu yang menolong nya.
Ada Haikal dan Siska yang memberikan pertolongan saat dia susah.
Kembali lagi pada Riska dan Risky, mereka berdua merasa sangat khawatir mendengar ibunya sakit.
"Bunda, sakit? Ayo, kita pulang, biar nanti Abang panggil Buk Bidan buat periksa, Bunda!"
Risky segera menggandeng tangan ibunya. Dia merasa sangat khawatir, takut suatu hal buruk terjadi pada ibunya.
__ADS_1
Raja yang melihat wajah Laila pucat pasi pun sedikit merasa khawatir. Terlihat bibir wanita itu mengering dan pucat.
Dia ingin bertanya atau membantu Laila, tetapi tidak ada keberanian. Dia sangat sungkan karena sadar diri.
"Ayo pulang, Bun."
Laila dan anak kembarnya beranjak dari sana. Raja hanya mampu melihat punggung ketiganya dengan sorot mata nanar. Ada rasa sesak dalam hatinya melihat keluarga yang tak lengkap itu.
Raja membuka telapak tangannya dan melihat sehelai rambut warna hitam berada dalam genggaman nya.
"Bila memang benar mereka anak-anakku. Entah bagaimana caranya aku meminta maaf pada Laila," gumam Raja pelan.
*
*
Saat tiba di rumah, Laila langsung masuk ke dalam kamar. Dia merebahkan tubuhnya atas ranjang, mukena masih terpasang di badannya. Laila sudah tak mampu lagi untuk sekedar melepas mukenanya.
Riska dan Risky segera baik ke atas ranjang. Sang adik duduk di dekat kaki Laila dan memijat kaki sang ibunda tercinta.
Sedangkan sang kakak berada di dekat kepala,bertugas memijat kepala sang ibunda. Mereka sangat khawatir melihat ibunya tampak sakit.
Dulu saat Riska dan Risky berusia beberapa bulan, Laila sering mengalami anxiety atau gangguan kecemasan, dikarenakan hinaan orang-orang sekitar kontrakan nya dulu. Dia di cap wanita tak baik dan pelakor.
Laila tak membalas mereka karena sadar, tidak akan ada asap tanpa api. Mereka tak mungkin jahat padanya tanpa sebab.
Setiap wanita yang sudah menjadi pelakor, maka sanksi sosial yang didapatkan cukup membuat mereka jera.
Namun, semenjak dia pindah ke desa, perlahan anxiety nya sembuh. Karena begitu banyak orang-orang baik yang menerima Laila.
Tetapi, saat bertemu dengan Raja tadi. Penyakit anxiety nya kambuh, dia mengalami gangguan kecemasan. Takut sekali kalau Raja kembali mengacaukan hidupnya.
"Bunda, Abang panggil Buk Bidan yah! Biar Bunda di periksa!" ujar Risky lembut membuat Laila menggelengkan kepalanya cepat.
"Jangan pergi ke mana-mana, Bunda nggak mau jauh sama kalian!" Laila menggenggam tangan kecil Risky.
"Abang, Adek! Kalian nggak bakal tinggalin, Bunda, 'kan?" tanya Laila tiba-tiba menatap kedua anaknya penuh harap.
Takut kalau sampai Raja merayu anak-anaknya, membuat anak kembarnya ikut bersama Raja dan meninggalkan nya.
Bagaimanapun Raja adalah ayah kandung mereka.
"Nggak, Bun. Abang dan Adek akan tetap ada bersama bunda selalu!" Risky berkata dengan nada tegas dan sungguh-sungguh.
__ADS_1
Riska ikut membenarkan dengan menganggukkan kepalanya. Gadis kecil itu merangkak memeluk ibunya yang tampak menggigil.
"Tapi, kalau nanti ada orang yang kasih mainan banyak dan rumah bagus untuk Abang dan Adek, dengan syarat kalian harus tinggalin, Bunda. Apa kalian bakal mau tinggalin, Bunda?"
Laila bertanya serius menatap dalam bola mata kedua anaknya. Dia merasa sangat takut kalau kedua malaikat kecilnya pergi meninggalkannya. Dia takut Riska dan Risky termakan bujuk rayu Raja, sama seperti dirinya dulu.
Jujur saja pertanyaan Laila pada malam ini, membuat kedua anak kembar nya bingung. Tetapi, mereka tetap menjawab pertanyaan Laila, agar sang ibunda tenang.
"Abang memang suka mainan banyak."
"Adek juga suka punya rumah bagus seperti istana princess."
"Tapi, kalau di suruh pilih antara mainan dan Bunda. Abang, bakal pilih bunda. Abang bisa hidup tanpa mainan, tapi, tidak bisa hidup tanpa, Bunda!" jawab Risky cerdas dengan senyuman lembut terpasang di wajah tampan nya.
"Adek juga, buat apa rumah bagus, kalau nggak ada bunda di dalamnya. Lebih baik tinggal di rumah sederhana, tapi ada Bunda!" tambah Riska ceria dengan senyuman polos tersemat di wajah cantiknya.
Sontak saja mendengar jawaban dari anak-anaknya membuat Laila merasa sangat tenang. Dia tersenyum kecil.
"Terima kasih, Sayang. Kalian adalah malaikat kecil, Bunda. Pelita yang dikirimkan Allah dalam kehidupan Bunda yang dipenuhi kegelapan! Jangan tinggalkan, Bunda, ya. Bunda nggak tahu harus seperti apa kalau nggak ada kalian!"
Laila meneteskan air matanya, dia tidak mempunyai siapa-siapa di dunia ini kecuali anak-anaknya.
"Udah, jangan sedih lagi! Nanti mama jelek!" canda Risky membuat Laila tersenyum dengan mata berair.
Percayalah, gombalan anak sendiri, lebih menyenangkan daripada gombalan pria buaya buntung.
"Dek, tolong ambilkan obat, Bunda yang ada dalam laci!" pinta Laila lembut pada buah hatinya..
Dia tak sanggup banyak bergerak. Karena memang tubuhnya lemah tak berdaya.
"Baik, Bunda." Riska segera melaksanakan perintah ibunya. Tak lupa dia mengambil segelas air untuk ibunya.
Laila meminum obatnya dengan mudah. Dia selalu menyetok obat anxiety nya, takut kalau tiba-tiba sakit.
*
*
Mau up lagi? Yuk komentar banyak biar author up kilat😉
Bersambung.
Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰🥰
__ADS_1
Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️🥰