Ketika Istriku Tak Lagi Manja

Ketika Istriku Tak Lagi Manja
S2 : Ayah Baru Untuk Si Kembar


__ADS_3

Guys, author mohon bantuan nya untuk kasih bintang 5 yah, please. Buat yang baca!!!,. Karena ada beberapa oknum yang kasih bintang 1. Itu dapat membuka karya author hancur berantakan 😮‍💨😮‍💨🥺


...----------------...


Raja mengikuti putranya dari belakang menggunakan sepeda motor. Dia melihat Risky mengayuh sepedanya dengan kecepatan tinggi bagi anak-anak pada umumnya. Dalam hati Raja mengkhawatirkan keselamatan putranya.


"Aduh, Bang. Kalau bawa sepeda hati-hati, ingat umur baru 5 tahun. Perjalanan hidup masih panjang!" Raja menggerutu dalam hati.


Seorang pengendara motor melintasi jalanan yang sama dengan kecepatan tinggi. Membuat Raja mengumpat kesal dalam hati. Takut sekali kalau sesuatu yang buruk terjadi pada Risky.


"Sialan tuh orang. Bawa motor macam bapaknya yang buat jalan. Kalau sampai si Risky kenapa-kenapa. Awas aja!"


Raja menggerutu kesal dalam hati. Delapan menit mengayuh sepeda, akhirnya Risky sampai di rumahnya. Raja memarkirkan motornya tak jauh dari rumah Laila. Dia ingin memastikan Risky masuk ke dalam rumah.


Terlalu penasaran dengan kondisi Laila yang kata Risky sakit, membuat pria itu nekat untuk turun dan mengintip dari luar. Dia ingin melihat kondisi wanita masa lalunya itu.


Raja melihat sekeliling nya,memastikan kondisi aman dari tetangga julid. Syukurlah tidak ada orang yang berada di luar, saat ini sedang musim panen padi. Para warga pastinya sudah pergi ke sawah masing-masing.


"Aman," gumam Raja pelan.


Segera dia melangkah hati-hati, dilihatnya ada jendela terbuka di sisi kanan rumah. Raja menebak mungkin itu jendela kamar Laila. Benar saja, saat tiba di sana dia mengintip, melihat Laila duduk bersandar di tepi ranjang kayu.


Raja yang melihatnya meringis, sedih sekali melihat ranjang Laila terbuat dari kayu dan hanya selapis kasur busa zaman dulu.


"Apa badannya tidak sakit tidur di situ?" batin Raja bertanya-tanya.


*


*


"Assalamualaikum." Risky memberi salam dengan nada ceria saat memasuki rumahnya. Dia segera masuk ke dalam kamar sang ibu.


"Wa'alaikumussalam," jawab Laila pelan.


"Dek, ambil piring dua dan sendok tiga!" titah Risky pada sang adik yang sedang bermain boneka hello Kitty nya di dekat Laila.

__ADS_1


"Oke, Bang." Riska segera turun dari ranjang, lalu berlari ke dapur dan mengambil piring plastik dan tiga sendok makan.


Bocah kecil itu masuk ke dalam kamar. Laila berusaha bangkit untuk duduk bersandar di tepi ranjang.


"Bunda mau Abang suapin?" tanya Risky lembut membuat Laila menggelengkan kepalanya pelan.


"Bunda, bisa makan sendiri, Bang." Laila menjawab dengan suara serak. Dia tak ingin merepotkan anak-anaknya lagi.


Risky segera membuka bungkusan nasi. Dia memberikan Laila yang pake telor asin, karena ia tahu kalau ibundanya sangat suka dengan telur asin.


"Ini buat bunda yang pake telor asin!" Risky tersenyum cerah memberikan piring nasi kepada Laila.


Wanita itu menerimanya, aroma nasi uduk Bude Lilis memang sangat harum. Riska dan Risky menyantap makanan mereka dengan khidmat di lantai, sedangkan Laila berada di atas ranjang.


"Bunda, habis makan jangan lupa minum obat ya." Risky mengingatkan sang ibu membuat Laila tersenyum manis.


Mereka tak sadar kalau di luar sana ada seorang pria dewasa yang menyaksikan obrolan mereka dengan sorot mata berkaca-kaca.


"Iya, Bang."


Setelah selesai makan nasi. Riska mengambilkan obat pereda nyeri haid untuk Laila. Wanita dewasa itu pun meminum obat tersebut.


Anak kembar itu sangat suka menonton kartun Upin dan Ipin.


"Oke, Bunda. Nanti kalau bunda butuh apa-apa, panggil kamu ya!" balas Riska semangat.


Laila tersenyum mendengarnya.


"Siap, Sayang."


Kedua bocah kecil itu berlari keluar kamar. Tak lupa membawa piring kotor dan membuang sampah bekas nasi mereka.


Laila merenung, dia menatap langit-langit kamar. Memikirkan masa depan anak-anaknya.


"Ya Allah," lirih Laila seraya meneteskan air matanya. Banyak hal yang harus ia tanggung sendirian, beberapa bulan lagi anak-anaknya akan masuk TK, dan pastinya Laila butuh biaya banyak.

__ADS_1


"Aku harus cepat sembuh, agar bisa kerja lagi! Kalau kelamaan sakit, tabungan ku bakal menipis," gumam Laila pelan.


Dia mengelus perutnya yang terasa sangat nyeri. Suara dering ponselnya membuat Laila segera mengambilnya, dia melihat nama ustadzah Robiah tertera di layar ponselnya.


Segera dia tekan tombol hijau.


"Assalamualaikum, Ustadzah."


[Wa'alaikumussalam, Neng. Suara kamu kok serak? Lagi sakit ya?]


"Cuma nyeri perut karena datang bulan saja, Ustadzah. Ada hal penting apa, ustadzah?" tanya Laila penasaran.


Sebab sang ustadzah akan menghubungi nya bila ada hal penting.


[Ini, Neng. Tentang ta'aruf kemarin, insya Allah besok malam dia akan ke rumah saya. Alhamdulillah setelah dia melihat CV mu, dia ingin lanjut ke tahap selanjutnya, yaitu bertemu kamu. Kebetulan dia yatim piatu, kamu juga begitu. Jadi, saya dan Abah yang akan mendampingi kalian besok.]


Laila mendengarnya dengan baik. Teringat dirinya telah menyetujui untuk melakukan ta'aruf. Dia pun sudah bertukar CV dengan pria yang ingin ta'aruf.


Dia ingin bangkit dari masa lalu dan butuh pelindung untuk dirinya dan anak-anak, agar kelak saat Raja datang untuk merebut anak-anaknya, ada suami yang melindungi mereka.


Terlebih lagi pria yang ingin ta'aruf dengannya juga kaya. Bukan matre, tetapi Laila lebih realistis. Dia punya dua anak dan pastinya biaya hidup akan lebih banyak.


"Baik, Ustadzah. Kalau begitu saya mau ngomong sama anak-anak dulu, kalau sebentar lagi mereka bakal punya ayah baru. Agar mereka tidak kaget nantinya!" ujar Laila membuat seseorang di luar sana terkejut bukan main.


Bugh.


Suara orang jatuh membuat Laila segera menoleh ke arah jendela.


"Sebentar, Ustadzah." Laila segera bangkit perlahan dari ranjang guna mendaki jendela kamarnya.


*


*


Bersambung.

__ADS_1


Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰🥰


Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️🙏


__ADS_2