
Sesampainya di rumah sakit, Siska dan Haikal segera bertanya pada pihak administrasi di mana balita bernama Risky Febriansyah berada. Setelah mengetahui ruangan anak Laila, keduanya bergegas ke sana.
Haikal membuka pintu ruangan dengan sangat pelan. Dia melihat Laila sedang menenangkan Riska, adik kembar Risky.
Benar, Laila melahirkan anak kembar. Wanita itu merasa sangat bahagia, sebab memiliki penguat hidup. Mungkin bila tidak ada mereka, Laila memilih untuk mengakhiri hidupnya.
"Assalamualaikum." Siska dan Haikal memberi salam, membuat Laila berbalik menatap kedua tamunya itu.
Buah tangan yang di bawa oleh Siska jatuh begitu saja. Terkejut melihat wajah Laila babak belur, begitupun Haikal yang tercengang melihat wajah Laila.
Apa yang sebenarnya terjadi?
"Wajah kamu kenapa?" tanya Siska tak mampu menahan rasa penasaran nya.
Laila tak menjawab, dia merasa asing dengan Siska. Sebab penampilan wanita itu sangat tertutup, wajahnya juga berlapis cadar.
"Ini Siska. Istriku!" Haikal memperkenalkan istri tercintanya. Membuat Laila merasa rendah diri, dia malu dan merasa bersalah.
"Hai, Mbak." Laila menyapa Siska dengan canggung. Dia menundukkan kepalanya tak berani menatap Siska. Teringat tentang kelicikan nya di masa lalu, hampir saja merobohkan rumah tangga wanita bercadar di hadapannya.
"Wajah kamu kenapa?" Siska mengulangi pertanyaan nya membuat mata Laila berkaca-kaca. Tanpa bisa di tahan, butiran kristal keluar dari pelupuk matanya, membasahi pipi.
Haikal yang mengerti situasi. Pun segera mengambil alih Riska yang terlelap dalam gendongan Laila.
"Biarkan aku yang menggendong nya!" pinta Haikal membuat Laila tanpa ragu memberikan anaknya pada pria itu.
"Kalian bicaralah berdua. Aku akan menunggu di luar!"
Haikal memilih keluar, guna memberi waktu untuk istrinya berbicara dengan Laila. Berharap mereka berdua melakukan deep talk, sehingga bisa saling mengenal dan mengerti satu sama lain.
__ADS_1
"Ayo, duduk dulu. Kemudian ceritakan padaku apa yang terjadi padamu!" ajak Siska lembut menggenggam tangan Laila.
Janda dua anak itu pun menangis pilu. Dia menutup mulutnya, guna menahan tangis. Siska ikut terbawa suasana, sebagai seorang wanita, dia sangat peka dan tak bisa melihat orang menangis.
Apalagi dia juga seorang wanita.
"Menangis lah sampai kamu lega!" Siska memeluk Laila dan mengelus punggung wanita itu. Dia benar-benar mennagis dalam dekapan Siska.
Hidup tanpa orang tua dan suami, membuatnya sangat rapuh. Di tambah dia janda dengan dua anak, di Indonesia, status janda sangatlah hina.
Mereka menganggap janda sebagai wanita tak baik, gatal dan lain sebagainya.
"Maaf, Mbak. Baju Anda basah gara-gara air mata saya!" Laila meminta maaf setelah selesai menangis. Hatinya sedikit lega setelah menumpahkan tangisan yang ia tahan dari beberapa hari yang lalu.
"Nggak apa-apa, ini cuma baju, kok. Sekarang coba ceritakan pada ku, apa yang terjadi dengan mu, sampai wajah kamu babak belur seperti ini?"
Siska bertanya hati-hati, Laila yang sudah baikan pun bercerita pada Siska. Terserah bagaimana pendapat Siska nantinya, dia hanya butuh teman curhat sekarang.
Mantan suaminya pun ikut menghina Laila, dia bersyukur segera menceraikan Laila kala itu. Awalnya Laila hanya diam saja, namun saat istri baru mantan suaminya menghina anak-anak nya dengan kata-kata tak baik, barulah Laila murka.
Dia menghajar istri baru mantan nya itu dengan sekuat tenaga. Mantan suaminya pun tak terima, lalu menghajar Laila habis-habis. Saat itu mereka berada di taman, kebetulan suasana sedang sepi, karena banyak orang-orang sedang melaksanakan ibadah Jumat.
Sehingga, tidak ada yang menolong nya. Setelah menghajar Laila habis-habisan, mereka berdua kabur. Karena kesakitan, Laila demam keesokan harinya, berefek samping pada ASI nya yang tak lancar, hingga putranya ikut demam tinggi.
Siska yang mendengarnya pun tak mampu menahan air matanya. Dia turut berduka cita dengan musibah yang menimpa Laila.
"Mungkin ini karma saya, Mbak. Karena saya hampir merusak dua rumah tangga sekaligus. Yang pertama rumah tangga ayah anak kembar saya, kedua adalah rumah tangga, Mbak!, Saya minta maaf, Mbak … saya benar-benar menyesal! Maafkan saya!"
Laila kembali menangkup kedua tangannya di depan dada. Dia meminta maaf dengan tulus pada Siska, wanita yang telah ia sakiti hatinya.
__ADS_1
Siska pun segera memeluk Laila dengan erat. Dia sudah memaafkan Laila, namun dia tidak bisa melupakan kejahatan Laila.
"Saya sudah memaafkan kamu dari dulu. Tapi, untuk melupakan, maaf! Saya belum bisa!" ujar Siska terus menepuk punggung Laila yang bergetar.
Janda dua anak itu tersenyum haru. Kali ini dia benar-benar tulus meminta maaf, dia kapok menjadi pelakor.
"Terima kasih, Mbak."
*
*
Sedangkan di sisi lain, Haikal sedang menimang Riska, dia terus menepuk bokong balita itu agar tidur nyenyak.
"Pak Haikal!" sapa seorang pria dewasa membuat Haikal menoleh ke samping. Wajah pria itu langsung suram ketika melihat sosok pria berwajah tampan, mirip sekali dengan balita yang berada dalam gendongan nya.
"Baj*ngan ini," batin Haikal geram.
*
*
Guys, Laila benar-benar udah insyaf yah. Jadi, jangan benci lagi sama dia dan kehidupan nya lebih parah daripada Siska. Nanti bakal author ceritakan bagaimana kisah pilu Laila sampai berubah menjadi wanita liar.
❤️❤️🥰
Jangan lupa kopi dan vote nya yah 🤣❤️🙏
Bersambung.
__ADS_1
Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰🥰
Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️🙏