
"Dia," lirih Raja dengan bibir bergetar. Pria tampan itu tak tahu harus berekspresi seperti apalagi. Terkejut pastinya ketika melihat sosok anak kecil yang sangat mirip dengannya.
Mungkin dengan bocah laki-laki tadi, dia hanya merasakan debaran jantungnya berdegup kencang. Tetapi, sekarang kesadaran nya seperti di hantam oleh palu.
Berpikir keras bagaimana caranya mereka sangat mirip. Bocah perempuan itu berjalan dengan cara menghentakkan kakinya ke tanah. Dia memasang raut wajah cemberut, matanya berkaca-kaca mungkin saja kesal pada kakaknya karena membuatnya menunggu terlalu lama.
"Adek," panggil bocah laki-laki itu merasa bersalah, telah membuat adiknya menunggu terlalu lama.
"Apa?! Hik … Adek capek nungguin di sana. Abang malah di sini. Tahu begini Adek nggak akan mau main sama Abang, lebih baik Adek ikut bunda ke pasar!" teriak bocah perempuan itu meluapkan kekesalannya pada sang kakak.
"Hey, gadis kecil." Raja menyapa bocah perempuan di hadapannya.
Sontak saja bocah perempuan itu menatap tajam ke arah pria dewasa yang menjadi biang kerok. Membuat kakak nya terlalu lama meninggalkan nya.
Apalagi pria dewasa itu memanggilnya gadis kecil. Dia sangat tak suka itu.
"Jangan panggil aku gadis kecil, Paman. Namaku Riska!" sentak bocah perempuan itu tak takut.
Bocah laki-laki yang bernama Risky itupun menepuk jidatnya sendiri.
"Maafkan Adek ku, Paman. Dia terlalu sering menonton Shiva. Makanya dia tidak suka di panggil anak kecil atau gadis kecil!" ujar bocah laki-laki itu membuat Raja terkekeh kecil.
Dia tahu kartun apa itu, sebab dulu putra selingkuhan istrinya juga sangat suka dengan kartun itu. Raja tersenyum miris mengingat sosok anak yang ia sayangi ternyata anak selingkuhan istrinya.
"Tidak apa-apa, apa kalian kembar?" tanya Raja penasaran membuat bocah laki-laki itu menganggukkan kepalanya. Mereka berdua kembar.
"Benar, Paman. Namaku Risky, ini Adek ku Riska."
Raja pun tersenyum tipis. Dia mengusap puncak kepala gadis itu hati-hati. Untung saja dia tidak memberontak atau marah-marah seperti tadi.
"Ini, ambil, Sayang. Beli apa yang kamu mau!" Raja mengeluarkan uang seratus ribu dari dompetnya.
__ADS_1
Riska melihat kakaknya juga punya. Risky menganggukkan kepalanya, bertanda kalau tidak apa-apa, mereka mengambil nya.
"Terima kasih, Paman," ujar Riska dengan nada pelan. Pipinya memerah karena malu sebab tadi membentak pria dewasa di hadapan nya.
"Kalian tadi main bola berdua?" tanya Raja melihat bola karet yang di peluk oleh Riski.
"Benar, Paman."
"Apa paman boleh ikut bermain?" Raja merasa sangat ingin bermain dengan anak kembar di hadapannya.
Apalagi gadis kecil di hadapannya ini terlihat sangat mirip dengannya.
"Boleh, Paman!" jawab mereka serempak dengan penuh semangat.
*
*
"Riska dan Risky pasti senang, karena aku berhasil mendapatkan jagun manis. Apalagi kalau nanti aku buat sayur bening pakai jagung! Pasti mereka akan makan nasi dengan lahap," gumam Laila dalam hati.
Memiliki dua malaikat kecil membuat Laila bahagia. Meski banyak sekali ujian hidup yang menghampiri nya. Dari dijauhi oleh warga sekitar, karena asal usul anak-anaknya yang tidak jelas.
Namun, seiring berjalannya waktu. Para warga pun merasa iba melihat Laila mengurus anak kembarnya dengan susah payah.
Walaupun, tak sedikit orang yang membencinya sampai sekarang. Setidaknya Laila merasa senang, sebab ada saja orang-orang yang menolongnya.
"Neng Laila beli sayur apa?" tanya ibu yang sedang menjemur padi.
"Seperti biasa, Bu. Saya beli bayam, jagung, toge dan tahu."
"Owalah, Ndak beli ikan toh?"
__ADS_1
"Indak, Bu. Anak-anak ku tidak suka ikan, mereka sukanya ayam. Alhamdulillah masih ada stok ayam di kulkas."
Laila pun melanjutkan langkahnya. Jarak antara rumah dan pasar sekitar sepuluh menit bila berjalan kaki. Laila benar-benar sangat menikmati kehidupannya dari kota.
Di sini dia banyak belajar tentang kehidupan dan ilmu agama. Awalnya dia cuma sholat Maghrib saja. Tetapi, karena dia tinggal di daerah yang banyak para ustadz dan ustadzah. Dia merasa malu kalau tidak sholat.
Awalnya terpaksa lama-kelamaan terbiasa.
"Neng Laila!" panggil ustadzah Robiah berdiri di depan pintu rumahnya.
Laila pun menoleh ke arah kiri. Dia melihat ustadzah yang mengajari nya ilmu agama.
"Iya, Ustadzah." Laila berjalan mendekati gerbang rumah sang Ustadzah.
Laila di persilahkan masuk. Keduanya duduk di kursi halaman rumah ustadzah Rabiah.
"Begini, Neng. Saya punya kabar baik untuk, Neng."
"Kabar baik apa, Ustadzah?" tanya Laila penasaran.
"Ada laki-laki yang mau ta'aruf sama, Neng Laila!" jawab ustadzah Robiah membuat Laila tersedak ludahnya.
*
*
Komentarnya yang banyak dong, author bakal semangat banget kalau banyak baca komentar atau dapat kopi 😔☺️
Bersambung.
Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰🥰
__ADS_1
Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️🥰