
Keesokan harinya, Laila bangun lebih cepat dari kemarin lagi. Tubuhnya sudah mulai sehat kembali, perutnya sudah tak lagi nyeri. Dia harus membersihkan rumah, memasak untuk anak-anaknya dan mengurus keperluan si kembar yang harus berangkat sekolah.
Saat keluar kamar, dia melihat mainan yang dibelikan oleh Raja kemarin sore. Wanita itu menghela nafas berat, tidak pernah berpikir sedikitpun akan menerima barang dari Raja lagi. Namun, mau bagaimana, anak-anaknya kemarin menatapnya penuh harap.
Tak sanggup baginya untuk menolak. Lalu, apakah Laila masih ada rasa untuk Raja? Entahlah, yang tampak saat ini adalah kebencian saja.
Kali ini Laila tak lagi polos, di sudah pernah jatuh ke dalam lobang yang dibuat oleh Raja. Sekarang, dia telah belajar dari masa lalu. Tak ingin lagi jatuh ke dalam lobang yang sama.
"Huff … terserah dia ajalah! Yang penting jangan menyakiti si kembar dan tidak mengusik ku," gumam Laila dengan nada kesal.
Dia merasa jengkel akan kejadian Raja. Padahal dia sudah enak hidup tenang di desa, namun harus kembali runyam karena bertemu dengan Raja.
Dia akan memberikan keringanan untuk Raja bermain dengan anak-anaknya, tapi jangan coba-coba mendekati Laila. Ingin sekali burung beo nya Raja Laila kutuk jadi telur penyu.
Wanita itu membersihkan rumahnya dengan telaten. Dilihatnya jam di dinding menunjukkan pukul setengah tujuh lagi, saatnya dia membangunkan anak-anak untuk bersiap-siap berangkat ke sekolah.
Laila masuk ke dalam kamarnya. Tersenyum geli ketika melihat kaki Riska berada di wajah Risky. Anak gadisnya ini benar-benar sangat lasak kalau tidur.
"Cantiknya Bunda, jagoannya Bunda. Bangun, Nak!"
Laila duduk di ranjang, lalu membelai puncak kepala anak-anaknya. Riska dan Risky hanya bergumam serak. Mereka malah memunggungi Laila.
"Nak, Abang … Adek! Bangun, anak-anak, Bunda. Udah jam setengah tujuh loh. Waktunya bangun biar nggak terlambat sekolah!"
Setelah berkali-kali Laila membangunkan anak-anaknya dengan penuh kasih dan cinta. Barulah keduanya membuka mata mereka perlahan. Mereka menatap Laila dengan sorot mata sayu.
"Udah pagi ya, Bun. Kok, nggak bangunin Abang?" tanya Risky setengah sadar membuat Laila tertawa kecil.
Dia langsung mencium gemas pipi dan leher anak laki-lakinya itu. Membuat Risky geli dan membuka matanya lebar.
"Aaa … geli, Bunda!" rengek Risky berhasil menghentikan Laila.
Wanita itu menjauhkan wajahnya dari leher Risky. Tak ingin membuat anaknya kesal.
"Kalau begitu. Ayo bangun, mandi dan makan nasi goreng buatan Bunda!" rayu Laila membuat Riska yang sedari tadi pura-pura tidur langsung membuka matanya.
"Yeay … nasi goreng!" teriaknya semangat.
Alhasil Laila dan Risky hanya bisa memutar bola mata mereka. Malaikat kecil Laila satu ini memang sangat banyak akalnya.
Sudah bangun, namun masih pura-pura tidur.
"Kamu ini yah! Bikin bunda gemes. Sana bangun! Bunda juga goreng telur mata sapi buat kalian. Nanti siang baru bunda goreng ayam! Karena ayam di kulkas udah habis!" jelas Laila membuat kedua anaknya mengerti.
Mereka berdua segera beranjak dari kasur. Bersiap-siap untuk membersihkan tubuh mereka.
Kali ini Laila tak ikut memandikan Riska dan Risky. Karena dia harus mengejar waktu untuk memasak.
__ADS_1
Laila memasak nasi goreng kampung kesukaan anak-anaknya. Tidak butuh lama akhirnya dia mampu menyelesaikan masakannya telat waktu.
Laila juga menyiapkan bekal untuk anak-anaknya. Agar tak banyak jajan sembarangan di sekolahnya nanti.
*
*
Sebuah mobil Pajero sport warna hitam terparkir rapi di depan rumah Laila. Dia menunggu anak-anaknya keluar rumah.
Raja melihat wajahnya di cermin, memperhatikan keriput yang berada di lingkaran matanya.
"Hais! Aku harus pintar merawat diri. Umurku tahun depan sudah empat puluh tahun. Laila, dia masih tiga puluh satu tahun. Dia lebih muda dariku! Kalau aku tua yang ada dia malu punya mantan seperti ku," ujar Raja bermonolog pada dirinya sendiri.
Dia menyisir rambutnya. Lalu segera turun dari mobil ketika melihat Riska dan Risky keluar rumah.
Raja juga melihat pria paruh baya membawa becak khusus muatan barang-barang. Bedanya tidak ada barang di sana, tergantikan lima orang anak kecil yang memakai seragam sekolah paud.
"Apa-apaan ini?" tanya Raja pada dirinya sendiri saat melihat lima anak kecil itu mengedipkan mata ke arahnya.
*
*
"Jangan jajan sembarangan di sekolah ya! Kalau ada yang lebih, kasih buat Bunda. Biar Bunda tabung!" ujar Laila membuat raut wajah Riska dan Risky cemberut.
Sepertinya semua emak-emak juga seperti Laila. Katanya tabung, padahal beli beras.
"Riska, Risky! Ayokk!" teriak Mamat cs membuat si kembar langsung menoleh ke arah temannya itu.
Mereka berdua langsung tersenyum cerah. Sudah menjadi kebiasaan bagi anak-anak di desa berangkat sekolah menggunakan becak. Tukang becaknya juga ayah di Mamat.
"Bunda, kamu pergi dulu ya!"
Riska dan Risky segera mencium punggung tangan ibunya. Setelah melihat si kembar naik becak barulah Laila masuk ke dalam rumah, karena dia sedang memasak air di dapur.
*
*
"Pak, pak tunggu dulu!" panggil Raja menghentikan tukang becak.
Enak saja si bapak main bawa si kembar ke sekolah pakai becak. Dia sudah bangun dari jam tiga subuh karena tak bisa tidur, tidak sabar buat mengantar anaknya ke sekolah.
"Iya, Pak. Ada apa ya?" tanya Pak Asep pada Raja.
Kali ini Riska dan Risky tak menghiraukan Raja, karena mereka terlalu lalai berbicara dengan teman-temannya.
__ADS_1
"Riska dan Risky biar saya yang antar ke sekolah!" pinta Raja membuat pria paruh baya itu menatap Tajam dengan sorot mata penuh selidik.
"Anda siapanya si kembar?" tanya Pak Asep heran.
"Saya paman mereka!"
"Abang, Adek. Kalian kenal Paman ini?"
Sontak saja di kembar menoleh ke arah Raja. Mereka tersenyum cerah melihat Raja.
"Kenal, Pak De!" balas keduanya serempak.
"Abang, Adek. Kalian mau ke sekolah bareng paman, nggak?" tawar Raja yakin sekali anak-anaknya pasti akan setuju.
"Tidak, Paman. Abang dan Adek suka naik becak ke sekolah rame-rame bareng temen!" tolak Risky dengan polos membuat senyuman Raja langsung pudar.
Pak Asep tersenyum penuh kemenangan.
"Anda mungkin punya Pajero sport, tapi bagi anak-anak desa, naik becak ke sekolah rame-rame, lebih nyaman daripada naik Pajero sport!"
Pak Asep kembali menyalakan becaknya. Menancap gas pergi dari sana. Risky dan Riska melambaikan tangannya ke arah Raja dengan polos.
"Da da, Paman Raja!" seru keduanya serempak.
Raja hanya bisa terbengong melihat nya. Penolakan si kembar menciptakan luka mendalam di hatinya.
Apalagi anak-anaknya lebih memilih naik becak daripada naik Pajero sport.
"Pajero ku kalah dengan becak tiga roda," gumam Raja bodoh.
*
*
Udah 7 bab nih. Please bantu dong 😔🤗
Bersambung.
Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰🥰
Dalem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️🙏
Mampir juga ke novel temen author yang nggak kalah serunya. Di jamin menghibur.
__ADS_1