Ketika Istriku Tak Lagi Manja

Ketika Istriku Tak Lagi Manja
Dia Telah Pergi


__ADS_3

Tak terasa malam berganti pagi, gelapnya awan hitam berubah menjadi cerahnya mentari di temani awan putih dan langit biru. Burung-burung berkicau atas udara, banyak keturunan Adam telah bangun dan beraktivitas.


Seorang pria tampan perlahan membuka matanya. Sejenak pria itu berusaha mengumpulkan nyawanya. Dia menguap pelan lalu mengucek matanya.


"Sis, udah jam berapa?"


Haikal bertanya dengan suara serak memanggil sang istri. Biasanya bila pagi datang, jendela kamar akan dibukakan oleh sang istri.


"Sis … kamu lagi di kamar mandi, ya?"


Suara Haikal sedikit keras. Mengira sang istri berada dalam kamar mandi. Karena tak mendengar suara apapun, segera saja Haikal bangun dari ranjangnya. Pria itu berjalan menuju kamar mandi dengan tubuh polosnya.


"Ke mana sih, Siska?"


Haikal bermonolog pada dirinya sendiri. Pria itu mencuci wajahnya sekalian dengan membersihkan dirinya, tak lupa dia mandi wajib. Sebab, tubuhnya sudah sangat lengket, karena percintaan panas nya semalam bersama sang istri.


Haikal terkekeh kecil. Dia melihat banyak sekali tanda cinta yang diciptakan oleh istrinya di dada dan perutnya.


"Selama menikah, baru semalam dia agresif! Ternyata n*fsu bumil lebih buas dari biasanya."


Haikal bergumam pelan. Ingin sekali dia mengulang aktivitas panasnya lagi. Tetapi, teringat kalau hari ini dia memiliki pertemuan bisnis dengan klien luar negeri saat siang tiba.


Setelah selesai mandi, Haikal keluar kamar dan melihat jam di dinding menunjukkan pukul 07:30 WIB. Pria itu menghela nafas lega, untung saja pagi ini dia tidak memiliki rapat.


Jadi, tidak apa-apa kalau sesekali Haikal terlambat datang, karena memang biasanya dia selalu telat waktu ke kantor.


"Selalu cocok dengan gayaku." Haikal tersenyum senang saat melihat pakaian kantor yang dipilihkan oleh Siska.


Setelah memakai setelan kantor. Dia keluar kamar, suasana rumah begitu sepi. Haikal melihat Bibi Mey sedang membersihkan debu di atas meja ruang tamu.


"Bi, Reihan sudah berangkat sekolah?" Haikal bertanya pada pelayan nya dengan ekspresi datar.


"Sudah, Pak. Tadi jam 06:58 WIB, Den Reihan pergi di antar sopir."


"Reihan sudah sarapan?" Kembali Haikal bertanya.

__ADS_1


"Sudah, Pak. Den Reihan sarapan nasi goreng buatan saya. Tadinya si Aden capek tungguin Bapak sama Ibuk turun, jadinya saya suruh aja si Aden sarapan. Biar nggak telat sekolah!"


Bibi Mey menjelaskan membuat Haikal menghentikan langkahnya. Pria itu mengernyitkan dahinya seperti orang kebingungan.


"Istri saya belum turun?" tanya Haikal dengan perasaan was-was.


"Belum, Pak. Dari subuh saya datang, saya belum lihat Ibuk turun!"


Bibi Mey menjawab jujur membuat tubuh Haikal membeku. Pria itu menahan nafasnya sejenak, sontak saja jantungnya berdetak kencang. Nyaris lompat dari tempatnya.


"Tidak mungkin." Haikal bergumam pelan lalu berbalik, berlari menaiki anak tangga.


Bibi Mey melihatnya pun heran. Dia penasaran apa yang telah terjadi, tampaknya sesuatu yang buruk.


*


*


Haikal berlari masuk ke dalam kamarnya. Pria tampan itu sangat takut kalau apa yang dipikirkan nya terjadi. Segala kemungkinan besar menghantui pikirannya. Pria tampan itu tidak mau kalah sesuatu yang ia takutkan terjadi.


Dia tahu kamarnya kosong, tetapi terus saja memanggil nama istrinya. Berharap ada sahutan dari Siska. Kamu Haikal melangkah menuju lemari pakaian. Di bukanya lemari.


Degg.


Kaki Haikal nyaris luruh ke lantai. Sebagian pakaian Siska sudah tak ada. Koper besar milik istrinya pun menghilang. Mata pria itu langsung berkaca-kaca, wajahnya merah padam menahan amarah.


"Tidak mungkin! Siska tidak mungkin pergi tanpa pamit."


Haikal berusaha positif thinking. Pria tampan itu mengeluarkan ponselnya guna menghubungi sang istri.


"Tolong jawab panggilan aku, Siska!" Haikal mengusap wajahnya frustasi.


Suara dering ponsel terdengar oleh Haikal. Segera saja pria itu mencari sumber suara dan ternyata ponsel istrinya berada di atas meja rias.


Haikal mengambil ponsel istrinya. Pria itu tanpa sadar meneteskan air matanya. Dia sangat takut kehilangan dan sekarang istrinya telah menghilang.

__ADS_1


"Ya Tuhan … aku mohon, Siska. Jangan pergi!"


Haikal berkata pelan. Tangannya bergetar memegang ponsel istrinya. Perasaan menyesal langsung menyerang ke ulu hatinya.


Pria itu merasa sudah bernafas rasanya. Seolah dunianya hancur berkeping-keping. Istrinya yang dulu bila pergi ke suatu tempat, pasti akan menghubungi dan meminta izin nya.


Lalu, sekarang Siska pergi tanpa pamit.


Adilkah? Kenapa rasanya sangat sakit? Rasa takut dan gelisah bercampur menjadi satu.


"Bodoh-bodoh … bodoh! Haikal bodoh?! Kenapa juga kamu ketiduran semalam! Kalau saja kamu terjaga, pasti Siska tidak akan pergi!"


Haikal memukul kepalanya sendiri. Pria itu seperti orang gila. Dia menjambak rambutnya, karena frustasi.


Sakit sekali rasanya ditinggalkan.


"Akkk … jangan tinggalkan aku, Siska!" teriak Haikal memandang kursi rias. Pria itu tidak sengaja melihat gelas kopi buatan Siska semalam.


Terdapat kertas berwarna biru di bawahnya. Haikal langsung mengambil kertas tersebut.


Untuk suamiku tercinta, Mas Haikal.


"Siska," gumam Haikal pelan membuka surat tersebut.


*


*


Terkadang seseorang harus merasakan kehilangan agar bisa menghargai kehadiran seseorang. 🌹


100 komentar bisa nggak? 🥲😮‍💨


Bersambung.


Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰🥰

__ADS_1


Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️


__ADS_2