
Malam sudah larut, sepasang mata masih setia menatap wajah kedua anak kembarnya. Dia tak pernah bosan, memandangi wajah indah malaikat kecilnya. Banyak hal yang terjadi dalam dua hari ini,pertemuannya dengan masa lalunya membuat raga dan jiwa Laila goyah.
Dia tersenyum miris, mengapa baru sekarang Raja datang dan meminta maaf padanya. Mungkin kalau dulu saat baru-baru mereka berpisah, Laila mau memaafkan Raja dan balikan dengan pria itu.
Nyatanya pria itu baru datang saat usia anaknya hampir genap enam tahun. Banyak hal yang terjadi dalam beberapa tahun ini. Rasa sakit yang takkan terobati, belum juga sembuh, luka itu kembali terbuka lebar, membuat rasa sakitnya masih sama.
Mungkin bagi sebagian orang mudah bersatu dengan pria yang memberinya luka. Tetapi, Laila tidak. Dia belum bisa memaafkan dengan ikhlas, jujur saja bayangan saat Raja mengusirnya itu masih jelas dalam kepalanya.
Tatapan hina itu menusuk ulu hatinya, meski sudah beberapa tahun yang lalu, tetapi bayangan itu masih ada. Dia tidak tahu harus bagaimana sekarang. Memaafkan? Sangat sulit. Melupakan? Apalagi?
"Apa aku tolak saja ya pria itu? Jujur saja, Bunda takut kalau kalian kenapa-kenapa. Semenjak ada kalian! Bunda, tidak peduli lagi yang namanya pasangan hidup, suami atau apalah itu! Karena yang Bunda pentingkan kebahagiaan kalian!"
"Mudah bagi Bunda nikah lagi, tapi takkan mudah ada ayah tiri yang tulus mencintai kalian!"
Laila bermonolog pada dirinya sendiri. Dia belum juga memberitahukan anak-anaknya tentang calon ayah baru mereka.
Laila mengalihkan pandangannya menatap langit-langit kamar sederhananya itu. Dia memikirkan masa depannya, tak ingin salah mengambil langkah. Laila mengusap pipinya yang basah.
Dia buru-buru menikah, karena takut akan kehadiran Raja. Tetapi, dilihat dari raut wajah pria itu, tak menunjukkan bahwa dia akan merebut si kembar. Hanya ada rasa ingin dekat dengan anak-anak.
"Apa aku jadi janda aja ya? Sepertinya tidak buruk?"
Laila mencengkram erat selimutnya. Tiba-tiba ingatannya saat pertama kali menjadi janda setelah bercerai dengan suaminya terlintas bak film.
Omongan menyakitkan orang-orang tentang janda begitu jahat. Begitu mudah masyarakat menilai buruk janda.
Flashback on.
Setelah bercerai dengan suaminya. Laila pulang ke rumah yang dibangun olehnya dan suami untuk mengambil barang-barangnya. Namun, saat keluar dari rumah, dia melihat orang-orang menatapnya dengan sinis.
"Lihat! Baru dua tahun menikah udah jadi janda. Pasti suaminya nggak tahan sama dia, makanya minta cerai," bisik tetangga A membuat telinga Laila panas.
Laila yang dulunya memang berani pun langsung membalas omongan tetangganya itu tak kalah sarkas.
"Eh, Buk. Itu mulut di jaga! Jangan asal nyablak, udah tua bukannya banyak ibadah, malah banyak ghibah dan fitnah! Saya sumpahin sakaratul mautnya susah!" balas Laila menatap sinis ibu-ibu tukang ghibah.
Bagi orang-orang yang tinggal di kontrakan dalam gang pasti pernah merasakan apa yang dirasakan oleh Laila. Di ghibahin dan dipandang sebelah mata.
"Oho … wajar saja tuh muka bonyok di tampar mantan suami, rupanya begini mulutmu ya!" tuduh tetangga A seraya berdecak pinggang.
Sontak saja mata Laila berkaca-kaca mendengarnya. Orang-orang hanya menilai dari luarnya saja, sang suami yang manipulatif sangat pintar playing victim. Mereka tidak tahu seberapa sering suami Laila melakukan KDRT.
Baru kali ini Laila membalas omongan mereka, karena dirinya sudah tak tahan lagi.
"Ingat, Buk! Ibuk punya anak gadis, semoga saja anak Ibuk tidak merasakan apa yang saya rasakan!"
Laila pun segera menghilang dari sana. Dia sudah tak tahan tinggal di kontrakan itu. Akhirnya Laila pindah ke kampung sebelah.
Perjalanan hidup Laila sangatlah pelik. Terlalu banyak lika-liku yang dia jalanin, tak pernah ia dapatkan kebahagiaan hakiki. Baik dari orang tua, teman atau suami.
Akhirnya Laila melamar menjadi guru honorer di sekolah swasta. Dia di terima di sana. Namun, status jandanya membuat guru laki-laki di sana sering kali memandang genit dirinya. Tak jarang mereka melecehkan Laila.
Pelecehan pertama yang dia dapat dari kepala sekolah. Saat itu Laila di panggil ke ruang kepala sekolah.
__ADS_1
"Ada apa ya, Pak?" tanya Laila sopan.
Pria tua itu segera mendekati Laila, dan memeluk erat tubuh Laila. Membuat tubuh wanita itu bergetar ketakutan.
"Pak, jangan! Lepasin?!" teriak Laila berusaha mendorong pria tua itu.
"Halah, jangan sok jual mahal, Buk Laila! Saya tahu Anda telah lama kepengen, 'kan? Anda, 'kan, janda! Pasti sudah lama haus belaian!" tuduh pria jahat itu membuat harga diri Laila luluh lantak.
Dia menangis sesenggukan, sekuat tenaga dia mendorong pria itu, namun tak bisa. Karena tenaga Laila kalah darinya, namun wanita itu tak kehabisan ide, dia menendang tutut nya pria tua Bangka itu.
Bugh.
"Akhk … j*lang, sialan!" umpat pria tua itu kesal.
"Saya akan melaporkan Bapak ke dinas pendidikan!" ancam Laila lalu berniat membuka pintu, namun tak bisa.
Kepala sekolah pun tertawa terbahak-bahak. Dia memegang remote control pintu itu.
"Kau lupa kalau pintu ruangan saya itu punya akses remote control? Kalau mau buka atau kunci, harus dengan remote ini?"
Pria tua itu memegang remote control. Tersenyum kejam dan hina membuat Laila menangis ketakutan.
"Tolong jangan lecehkan saya, Pak! Saya bisa melaporkan Bapak ke dinas pendidikan!"
Laila berusaha keras untuk keluar dari sana. Tubuhnya gemetar ketakutan.
"Dan kau kira mereka akan percaya? Laila … Laila, kamu ini janda tanpa anak. Semua guru disini juga tidak suka dengan kehadiran mu yang dianggap menggoda wali murid!" tukas pria tua Bangka itu mendekati Laila.
"Saya tidak pernah menggoda siapapun. Saya datang ke sini untuk bekerja!" tegas Laila di tengah ketakutannya.
"Kamu tidak menggoda, tapi statusmu yang janda akan mudah membuat orang-orang percaya kalau kamu penggoda."
Lihatlah, betapa buruknya status janda. Banyak sekali orang-orang yang berpendidikan tinggi tapi minim sisi kemanusiaan. Mereka memandang hina status janda, lalu memuliakan **** di luar nikah.
Laila yang mendengarnya pun sakit hati. Tua Bangka itu menendang satu kursi yang berada di dekat Laila, mengenai lutut wanita itu, hingga membuat Laila yang sedang meratapi kesedihan nya itu jatuh ke lantai.
Bugh.
"Auch!"
Tua Bangka itu langsung menindih Laila di lantai. Saat itu yang ada dipikiran Laila kalau sampai dia berhasil di lecehkan, mungkin dia akan mengakhiri hidupnya.
"Jangan, Pak! Tolong?! Tolong … siapapun tolong saya … hiks?!"
Wanita itu berteriak sekeras mungkin. Berharap orang-orang akan menolongnya.
"Ruangan ini kedap suara bodoh!" umpat tua Bangka itu.
Namun, saat si tua Bangka hampir mencium Laila, pintu ruangan itu terbuka menampakkan seorang pria tampan bersama dengan lima pria dewasa lainnya berdiri di belakangnya.
Degg.
Tubuh tua Bangka itu menegang saat melihat kehadiran lima donatur tetap.
__ADS_1
"Pantas saja kau tidak mendengar suara ketukan pintu! Ternyata kau sedang melakukan hal hina!" desis pria itu seraya mengepalkan tangannya erat.
"Tolong saya," lirih Laila dengan suara parau membuat lima pria di sana murka.
"Pak Raja … i-ini–,"
Belum juga kepala sekolah menyelesaikan ucapannya. Raja segera menendang tubuh pria itu dari atas tubuh Laila.
"Mulai hari ini jabatan mu ku copot! Telpon polisi, Bram!" titah Raja dingin.
Lalu dia berlutut, membantu Laila bangun.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Raja lembut membuat Laila menggelengkan kepalanya. Bibirnya terjatuh rapat sekuat tenaga menahan tangisnya.
"Penampilan mu berantakan seperti ini, masih saja bilang tidak apa-apa!" dengus Raja merapikan rambut Laila membuat tangis wanita itu langsung pecah.
Raja langsung menarik wanita itu ke dalam pelukannya. Dia berusaha menenangkan Laila.
"Suttt … ada aku di sini! Kamu akan!" Raja terus menepuk punggung Laila yang bergetar.
Sejak saat itu Laila dan Raja dekat. Sangat mudah membuat wanita yang sedang butuh bantuan jatuh cinta.
Flashback off.
*
*
Guys, mungkin ini hanya cerita fiksi, tapi percayalah kalau di luar sana banyak sekali janda yang dipandang hina oleh manusia yang dirinya sendiri lebih hina.
Mari kita jadi manusia cerdas yang tidak menilai orang lain hanya berdasarkan status nya.
TIDAK ADA WANITA YANG MAU JADI JANDA!! Terkecuali keadaan yang memaksa mereka harus memilih jadi janda.
Yuk, hargai status sosial orang lain. jangan merasa paling hebat dan tinggi dari orang yang menurut manusia statusnya rendah. Boleh jadi, status nya rendah di mata penduduk bumi, tapi, tinggi di mata penduduk langit.
Author udah crazy up ini 😎👀 dan lihat komentarnya beluk ada yang sampai 💯 😭
Padahal niatnya mau 10 bab hari ini. Terus bab nya panjang2 lagi.
Kopinya jangan lupa.
Bersambung.
Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰🥰
Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️🙏
Mampir juga ke novel temen author yang nggak kalah Bagus ☺️😁 cocok baca sambil nungguin author up lagi.
__ADS_1