Ketika Istriku Tak Lagi Manja

Ketika Istriku Tak Lagi Manja
Gara-gara Haikal


__ADS_3

Benar saja apa yang di takutkan oleh Siska. Haikal menjadi singa kelaparan yang berhasil mendapatkan mangsa pertamanya. Entah berapa kali Haikal melakukan nya, membuat Siska tidur karena kelelahan, sedangkan pria itu masih saja bermain di atas tubuhnya.


Haikal yang sadar kalau istrinya sudah lebih dulu ketiduran, segera saja ia tuntaskan hasratnya. Lalu ikut bergabung terbang ke alam mimpi bersama istrinya.


Dikecupnya kening Siska dengan penuh cinta kasih.


"Terima kasih, Istriku!" bisik Haikal pelan lalu tidur memeluk erat tubuh ramping istrinya.


Kedua anak manusia itu baru saja menyelesaikan tugas mereka. Beribadah bersama demi mendapatkan pahala.


Ada rasa suka dan bahagia dalam hati mereka. Sebab pertama kali melakukan hal itu karena sama-sama cinta.


Haikal memang mengajar istrinya habis-habisan, tetapi lebih kelembutan dan perasaan. Sehingga, Siska ikut menikmati tempo nya.


*


*


Pagi sudah mulai tiba, sepasang suami istri tampak telah rapi. Mereka harus segera pulang, sebab dada Siska sudah mulai sakit, karena terlalu ketat oleh ASI.


"Apa masih sakit?" tanya Haikal ketika mendengar istrinya meringis pelan. Saat ini mereka sedang dalam perjalanan pulang.


"Masih, Mas. Semalam kita tidur di hotel tanpa persiapan, biasanya kalau aku jauh. Aku selalu bawa pompa ASI!" jawab Siska seraya mencengkram erat gamisnya.


Haikal merasa bersalah, dia tidak tahu apa-apa tentang Siska.


"Maafkan aku," lirih Haikal pelan penuh rasa bersalah. Pria itu sangat sensitif dengan rasa sakit istrinya. Entah kapan ia memiliki kepekaan itu.

__ADS_1


Berbeda dengan dulu, kalau Siska sakit. Dia khawatir, tetapi jarang merasa bersalah. Malah dia akan menyalahkan Siska karena ceroboh. Mungkin karena rasa cinta itu sudah hadir, makanya Haikal berubah sekarang.


Siska menggenggam tangan suaminya. Dia merasa bersyukur, karena sang suami sudah berubah menjadi lebih baik.


"Tidak apa-apa kok, Mas. Palingan bentar lagi juga ASI nya keluar sendiri. Kita juga hampir sampai rumah!" balas Siska berusaha menenangkan suaminya.


Haikal menganggukkan kepalanya pelan. Dia segera mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Untung saja jalanan tak macet.


*


*


Satu jam perjalanan, akhirnya mereka tiba di rumah. Benar, apa yang di katakan oleh Siska. Bajunya sekarang sudah basah oleh ASI yang keluar dengan sendirinya.


Terdengar suara tangis bayi, membuat Haikal dan Siska segera berlari masuk ke dalam rumah orang tua Haikal.


Dia melihat ibu mertuanya sedang berusaha menenangkan Beby. Semua orang menatap mereka dengan tatapan marah bercampur kesal.


"Kalian ini bagaimana sih? Pergi kok nggak bilang-bilang. Mana ASI yang Siska tinggalkan cuma sebotol!" sentak ayah Haikal marah menatap kedua anak dan menantunya.


Untuk pertama kalinya Siska di marahi oleh ayah mertuanya. Wanita itu merasa sedih, wajar memang kalau mertuanya marah. Sebab, mereka lupa memberi kabar.


"Jangan marahin, Siska, Pa. Dia tidak salah. Yang salah itu aku, karena lupa kabarin ke rumah, padahal semalam Siska sudah suruh aku buat kabarin ke kalian kalau kami nginap di hotel!" jelas Haikal membela istrinya.


"Kal … Kal! Kamu memang dari dulu egois! Selalu utamakan keinginan kamu, sampai lupa dengan kewajiban mu! Ini anak kalian, loh yang menangis, karena kehausan. Bukan anak kucing!"


Sang ayah kembali memarahi kecerobohan Haikal. Pria dewasa itu hanya bisa menundukkan kepalanya bersalah.

__ADS_1


Sedangkan Siska segera mengambil alih Beby.


"Sudah coba jauh susu formula yang biasa aku kasih, Ma?" tanya Siska khawatir.


Wanita itu segera menghempaskan bokongnya di sofa, lalu memasukkan Beby ke dalam jilbab panjangnya. Wanita itu membuka resleting depan gamisnya, segera ia beri ASai putri kecilnya.


"Sudah! Tapi, dia nggak mau! Mungkin dia rindu ibunya" balas sang ibu jujur.


Beby langsung terdiam, dia menyesap sumber air nya. Terdengar suara Beby yang masih terisak-isak pelan.


"Maafin, Mama ya, Sayang!" Siska merasa bersalah pada putri kecilnya. Dia menepuk bokong Beby pelan, agar sang putrinya merasa nyaman.


"Kamu, Kal. Lain kali kalau mau belah duren, kabar-kabar dulu ke rumah. Biar kamu nggak khawatir! Di telpon nggak di angkat, SMS nggak di balas, di WA cuma centang abu-abu!" omel sang ibu pada putra semata wayangnya itu.


"Maaf, Ma," jawab Haikal pelan merasa bersalah.


*


*


Bersambung.


Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰🥰


Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️🙏


Mampir juga ke novel author yang nggak kalah bagusnya, bisa mampir sambil nungguin novel ini up 🥰

__ADS_1



__ADS_2