
"Justru tanpamu kami bahagia!" desis Laila penuh penekanan membuat Raja mengepalkan tangannya erat. Dia tidak menyangka kalau Laila akan tega mengatakan hal yang sangat menyakitkan baginya.
Mereka bahagia tanpa Raja?
"Lalu bagaimana denganku? Apa kamu pikir aku bisa bahagia tanpa kamu dan anak-anak? Aku sedang punya masalah besar, La. Dan aku butuh kalian ada di sisiku!" tegas Raja menatap Laila dengan sorot mata penuh harap dan kesedihan.
Laila mencengkram gamisnya erat. Dia menatap Raja dengan sorot mata penuh kebencian, enak sekali pria itu berbicara. Macam dia saja yang ditimpa masalah.
"Lalu, bagaimana denganku yang butuh kamu saat sedang hamil? Di mana kamu saat aku menghadapi masalah gara-gara aku menjadi simpanan mu? Di mana kamu saat aku hamil anakmu dan orang-orang menyebutku murahan dan anakku anak haram? Di mana? Kamu kira kamu saja yang butuh kami?"
"Kami juga butuh kamu! Siang malam aku menangis, bersujud di tengah malam memohon ampun atas dosa-dosa ku agar hidupku tenang dan masalah yang sedang menimpa ku segera Allah angkat! Aku berdoa agar Allah kuatkan punggung ku karena beban yang ku pikul sangat berat! Apa aku pernah datang lagi ladang setelah kamu usir, merengek minta bantuan? Tidak, 'kan? Apa kamu pernah peduli apa yang aku lalui selama ini?"
"Tidak?! Kamu cuma peduli sama diri sendiri!"
Laila meluapkan segala emosi yang terpendam beberapa tahun ini. Dia tak segan menangis di depan Raja. Sungguh saat ini wanita itu ingin pria di hadapannya tahu segala kesusahan dan masalah yang pernah ia hadapi semenjak Raja mencampakkan nya.
Bukan karena ingin membuat Raja iba kepadanya. Tetapi, dia ingin membuat Raja tahu kalau wanita itu pernah lemah, susah, bahkan nyaris mati, tapi dia tidak pernah mendatangi Raja lagi untuk meminta bantuan.
Justru dia mati-matian berusaha bangkit dan berdiri dengan kakinya sendiri. Agar tak lagi di rendahkan oleh orang-orang. Dia ingin membuktikan pada dunia kalau pendosa bisa saja bertaubat dan berubah.
Raja yang mendengar semua keluh kesah Laila pun hanya bisa terdiam. Dadanya terasa sangat sesak, tak tahu kalau seberat itu ujian yang menimpa Laila.
Bukan Laila saja yang menangis, tetapi, Raja Juga meneteskan air matanya. Rasa bersalah amat menyiksa hatinya, membuat pria itu merasa gagal jadi manusia yang baik.
Dia telah menyakiti Laila sampai ke bagian terdalam.
"Maaf," lirih Raja dengan suara parau. Dia menetap Laila dengan sorot mata penuh penyesalan dan kesedihan. Tanpa sadar mata keduanya beradu pandang. Meluapkan segala perasaan melalui pandangan itu.
Biarlah mata yang berbicara kali ini. Keduanya sama-sama bersalah di masa lalu, status mereka juga sama yaitu pendosa. Bukan pula mereka orang baik, karena nyatanya kedua adalah mantan orang jahat.
Kini telah bertaubat menjadi hamba yang taat. Tetapi, bukan berarti menjadikan mereka Malaikat yang suci tanpa dosa.
"Maafkan aku, La. Maafkan aku! Aku salah … aku egois!" Raja memohon ampun pada Laila membuat wanita itu sekuat tenaga untuk menahan tangisnya agar tak pecah.
__ADS_1
Saat ini logika dan hati Laila berperang. Hati menyuruh Laila memaafkan Raja, tetapi logika menyuruh Laila membenci Raja.
Sakit hatinya sudah bertahun-tahun, dirinya belum sembuh dari luka. Hanya saja dia pura-pura sembuh dan melupakan kalau hatinya pernah terluka.
Adakan orang seperti Laila? Hatinya hancur berkeping-keping, tetapi berlagak seperti orang kuat tak pernah terluka.
Dunia ini adalah panggung sandiwara. Orang baik bisa berlagak jahat, dan jahat begitu pandai memakai topeng orang baik.
Yang terluka kadang pura-pura kuat agar orang sekitar tidak iba atau mengkhawatirkan nya.
Ada juga orang yang sudah mati rasa. Karena dia menangis, tetapi dibentak pernah marah, namun dimarahi balik. Hingga kini Laila berada di titik yang sekarang. Bodoh amat dengan orang lain, yang penting anak-anaknya bahagia itu sudah lebih cukup.
Lalu, datang Raja kembali dalam hidupnya membuat perasaan marah, benci, sedih dan terluka kembali nyata hadir ke permukaan.
"Maaf, La," ulang Raja yang kesekian kalinya.
Wanita itu langsung menghapus air matanya kasar. Lalu dia menatap datar Raja.
"Sedang aku usahakan untuk memaafkan mu!" balas Laila membuka suaranya.
"Kamu yang butuh kami, bukan kami yang butuh kamu. Bukankah sudah menjadi peraturan alam siapa yang butuh, dia harus mendatangi orang yang ia butuh. Bukan sebaliknya!" sarkas Laila dengan kata-katanya membuat Raja mengerti.
Dia menganggukkan kepalanya mengerti. Dia tidak akan memaksa Laila untuk mendatanginya. Kali ini dia tidak boleh egois.
Seperti nasehat Doni. Wanita adalah makhluk perasaan dan harus didapatkan dengan penuh perasaan bukan dengan paksaan.
"Aku mengerti. Kali ini aku tidak akan egois lagi! Kamu juga punya hak untuk menolak ku!" balas Raja dengan suara seraknya. Dia segera menghapus air matanya kasar.
Malu sebenarnya dia menangis di hadapan wanita yang dulunya ia buat menangis. Tetapi, mau bagaimana lagi? Allah maha adil, segala yang kita lakukan pasti ada balasannya.
Allah tidak suka hamba yang sombong seolah tidak butuh orang lain. Saat seorang manusia membuat manusia lainnya menangis, maka percayalah! Suatu saat nanti Allah akan buat manusia itu menangis di depan manusia yang dulunya ia buat menangis.
Segala sesuatu di dunia ini ada bayarannya. Baik akan di balas baik, jahat maka akan di balas jahat.
__ADS_1
"Sekarang giliran kamu yang mau bicara apa?"
Raja mempersilahkan Laila untuk berbicara. Wanita itu segera meneguk air mineral di hadapannya. Agar dirinya tenang.
"Kamu mau makan sesuatu?" tawar Raja yang ikutan minum jus alpukat.
"Tidak. Kita ke sini untuk bicara bukan untuk makan-makan," balas Laila dingin membuat Raja menghela nafas berat.
Kali ini memang perjuangan nya akan terasa sangat berat. Dia tidak bisa meluluhkan hati Laila dengan gampang.
"Aku langsung to the point saja. Apa kamu yang datang ke rumah ustadzah Robiah, untuk membatalkan ta'aruf ku dengan calon ayah baru si kembar?" tanya Laila tanpa basa-basi membuat Raja mengepalkan tangannya erat.
Dia sangat tak suka saat Laila menyebut calon ayah baru untuk si kembar. Raja adalah pria yang cemburuan. Bawaannya overthinking saja.
Ibarat artis, Raja adalah Desta yang sangat posesif pada anak-anaknya. Terutama yang cewek.
"Kalau iya memang kenapa? Kamu mau marah, karena tidak bisa menikah lagi? Dengar ya, La. Selama aku masih hidup, aku tidak akan membiarkan si kembar punya ayah selain aku. Nggak mau aku mati cepat karena overthinking tiap hari mikirin si kembar bahagia sama ayah barunya apa nggak? Ayah barunya itu sayang sama mereka apa engga? Adil kah dia atau tidak? Nggak … nggak mau aku. Membayangkannya saja aku udah darah tinggi!"
Raja mengomel seperti wanita membuat Laila mendengus sinis. Dia berusaha menahan senyumnya, karena mulut Raja saat mengomel seperti emak-emak tukang ghibah.
*
*
Udah 3 bab ini. Mau lagi?? 🤭 Yuk komentar yang banyak. Biar author tambah semangat 💪
Bersambung.
Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰🥰
Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️🥰
Mampir juga ke novel temen author yang nggak kalah keren nya ❤️🥰🥰
__ADS_1