Ketika Istriku Tak Lagi Manja

Ketika Istriku Tak Lagi Manja
Akan Aku Ikuti Alur Cerita Mu [Haikal]


__ADS_3

"Bukan, Pa. Beliau ini namanya ustadzah Hafsah, guru ngaji Abang yang bakal tinggal di sini."


Reihan lebih dulu meralat nya. Bocah kecil itu sangat pandai berbohong, walau dia tahu dosa, namun kali ini dia rela berbohong asalkan ibunya bisa memberikan pelajaran untuk ayahnya yang dulu semena-mena memperlakukan ibunya.


Reihan dulunya sering kali menjumpai ibunya menangis diam-diam.


Kembali lagi pada Siska yang bersyukur banyak-banyak dalam hati. Setidaknya penyamaran nya tidak terbongkar.


"Guru ngaji?" Haikal kembali bergumam. Sumpah mati saat ini pria itu sangat malu, wajahnya merah padam sampai ke telinga nya..Siska tersenyum di balik cadar.


Menikmati raut wajah malu sang suami. Dalam hati dia bersorak gembira, berhasil memberi pelajaran pertama untuk suaminya.


"Rasakan itu, Mas. Rasa malu mu belum sebanding dengan rasa malu yang kamu berikan padaku dulu!" ledek Siska gemas pada suaminya.


Ekhm.


Haikal berdehem keras. Dia menundukkan pandangan nya. Tak berani menatap wanita bercadar di hadapannya lagi.


"Maafkan saya! Saya kira Anda mamanya Reihan." Haikal merasa bersalah dan canggung.


Reihan dan Siska tertawa dalam hati melihatnya.


"Memang bener ini mama, Pa," Ujar Reihan dalam hati.


"Hihi … aku tersipu, Mas. Nggak nyangka kamu begitu mudah mengenali ku, untung saja ada Reihan. Kalau tidak gagal deh penyamaran ku ini," batin Siska tertawa.


"Tidak apa-apa, tapi lain kali tolong jangan ulangi lagi."


Siska menjawab dengan datar membuat Haikal benar-benar merasa bersalah.


*


*


Ibu dan anak itu berpelukan mesra. Sudah lama keduanya tidak berkumpul di satu atap yang sama, Siska tak henti-hentinya mencium wajah Reihan.


"Mama rindu banget sama, Abang!" Siska berkata dengan nada gemas seraya mencubit hidung putranya yang tak terlalu mancung.


"Abang juga! Tapi, papa lebih rindu sama mama." Reihan membalas dalam pelukan Siska. Saat ini keduanya tidur di ranjang yang sama.


Siska juga sudah membuka cadar dan hijabnya. Dia berani begitu, karena Haikal sudah pergi untuk membeli kebutuhan bulanan pria itu sendiri.

__ADS_1


Siska pun di persilahkan masuk. Awalnya Haikal merasa bingung, sebab dia tidak tahu kalau ayahnya mengirimkan guru ngaji untuk Reihan tanpa sepengetahuan nya.


Tetapi, setelah dia mengkonfirmasi bahwa Siska benar-benar utusan ayahnya. Barulah Haikal tenang.


Kembali lagi dengan Siska. Wanita itu sangat bersemangat mendengar cerita putranya.


"Oh ya? Memang seberapa rindu papa sama mama? Dan kenapa Abang tahu kalau papa rindu mama?"


Siska bertanya dengan binar gembira di wajahnya.


Reihan tersenyum usil. Dia berniat menggoda ibunya terlebih dahulu.


"Nggak tahu!" Reihan mengendikkan bahunya membuat Sidak bingung.


"Kok nggak tahu? Tadi Abang bilang papa rindu sama mama, sekarang kok nggak tahu?" Siska bertanya serius pada putranya membuat Reihan terkikik geli.


"Abang nggak mau bilang!" Reihan menggelengkan kepalanya cepat.


"Ih Abang jahat! Ayolah, Bang. Cerita sama mama! Kalau nggak mama gelitikin nih."


Siska mengancam membuat Reihan ingin berlari turun dari ranjang. Namun, Siska lebih dulu menarik tangan putranya membanting Reihan di atas ranjang empuk itu.


Kemudian dia menggelitik perut dan pinggang putranya. Membuat Reihan tertawa lepas, begitupun dengan Siska. Telah lama dia tidak bercanda seperti ini dengan putranya.


Tawa Reihan pecah membuat Siska ikut tertawa.


"Nggak mau, Abang harus cerita dulu kenapa papa rindu sama mama baru mama berhenti."


Siska menjawab membuat Reihan menyerah untuk bercerita pada ibunya.


"Ha ha …oke-oke, Ma. Ampun … ha ha … Abang bakal cerita sama mama."


Siska segera menghentikan aksinya itu. Reihan mengatur nafasnya, dia tak habis pikir ibunya masih sama seperti dulu, manja dan usil kepadanya.


"Ayo cerita, Mama mau dengar."


Reihan pun bercerita kegalauan Haikal selama ibunya tidak ada. Kadang Haikal juga marah-marah tak jelas, namun juga sering menangis di keheningan malam sambil menatap foto pernikahan nya dengan Siska.


Wanita itu mendengarnya dengan penuh semangat. Ada rasa bersalah dalam hatinya, tetapi setan berbisik kalau tidak apa-apa, sebab Haikal jahat padanya 8 tahun, sedangkan Siska setahun pun belum sampai.


Maklum saja, godaan orang hijrah itu banyak dan berat. Terkadang sholatnya sudah baik, tetapi mulutnya tak bisa di jaga untuk menahan amarah.

__ADS_1


"Gitu deh, Ma. Pokoknya papa tersiksa banget, karena mama tiba-tiba pergi tanpa pamit langsung sama papa!" cerita Reihan pada Siska.


"Mama juga rindu banget sama papa, Bang. Bahkan tiap malam mama harus peluk kemeja papa kamu yang mama ambil dulu! Kalau nggak mama nggak bisa tidur!"


Siska tak malu-malu bercerita pada putranya. Dia menganggap Reihan itu sebagai teman dan anaknya, begitupun sebaliknya. Tidak ada rahasia antara ibu dan anak itu.


"Kalau rindu sama papa, kenapa pake nyamar jadi guru ngaji Abang? Kenapa nggak langsung bilang kalau ini mama, dan mama sudah hijrah pake gamis dan cadar! Pasti papa bakal seneng banget."


Reihan bertanya serius pada ibunya. Bocah yang umurnya hampir delapan tahun itu sudah sangat cerdas dan berpikiran kritis.


"Mama maunya sih gitu awalnya, Bang. Tapi, yang namanya manusia ya. Pasti ada rasa kesal, marah dan kecewa. Ada juga rasa ingin balas dendam sama orang-orang yang jahat sama kita."


"Tapi, mama kan udah hijrah?" Reihan bertanya lagi membuat Sidka tersenyum hambar.


"Bener, mama udah hijrah. Tapi, bukan berarti mama jadi Malaikat sepenuhnya, 'kan? Mama tetap jadi manusia yang punya n*fsu dan taqwa. Mama tidak membenarkan perbuatan mama ini, tapi sebagai manusia mama kita tidak menyalahkan nya. Nantilah … saat dewasa kamu pasti bakal mengerti maksud perkataan mama ini."


"Ada kalanya kita tidak bisa menyalahkan atau membenarkan perbuatan seseorang. Tetapi, kita mengerti mengapa dia berbuat demikian!"


Reihan mendengar penjelasan ibunya dengan cermat. Dia merupakan anak yang patuh, dia yakin ibunya tahu mana yang terbaik untuk keluarga mereka.


"Terus berapa lama mama akan menyamar?" tanya Reihan lagi penasaran.


"Nggak lama, kok. Mungkin cuma seminggu atau lima hari!" balas Siska tersenyum penuh arti membayangkan berbagai rencana yang akan ia laksanakan untuk mengusik suaminya.


Tanpa mereka sadari seseorang melihat dan mendengar semua yang ibu dan anak itu bicarakan.


"Ternyata benar feeling ku," gumam pria itu tersenyum penuh arti. Sorot matanya menyiratkan rasa kesal dan rasa rindu secara bersamaan.


"Akan aku ikuti alur cerita mu, Sayang," tambah pria itu pelan.


*


*


Author cuma ingin memberi pesan di bab sebelumnya.


"Ada kalanya kita tidak bisa membenarkan atau menyalahkan perbuatan seseorang, tetapi kita mengerti mengapa orang tersebut berperilaku demikian."


Dan biasanya kita akan mengerti hal itu, saat kita dewasa. Contohnya, "seorang ayah yang bersikap seolah-olah tak kenal pada anaknya saat bertemu di jalan. Alasannya boleh jadi mereka tidak mau anaknya malu punya ayah seperti mereka. Apalagi kalau ayahnya bukan pekerja kantoran." Dan kita akan mengerti maksud ini ketika kita dewasa. 😇


Bersambung.

__ADS_1


Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰😘


Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️🙏


__ADS_2