
Siska meninggalkan pesantren, ustadzah Aisyah meneteskan air matanya, sulit sekali melepaskan kepergian Siska. Wanita itu merupakan teman hidup yang sangat bermutu, Siska setia dan sangat baik. Para ustadzah yang mengajar di pesantren sudah sangat menyayangi Siska.
"Sesekali mainlah kemari! Kami semua akan sangat merindukan mu!" ujar ustadzah Aisyah dengan suara bergetar menahan tangis. Siska menggigit bibir bawahnya. Dia tersenyum di balik cadar.
Benar, Siska sudah hijrah. Dia tidak hanya memakai hijab, melainkan juga cadar. Wanita itu ingin merubah tampilan nya agar semakin terjaga kecantikan nya hanya untuk sang suami.
Efek dari memperbaiki sholat, membuat karakter Siska semakin baik. Tak hanya itu, dia juga dikelilingi oleh orang-orang baik.
"Pasti! Insya Allah aku akan kemari bersama suamiku. Terima kasih untuk ustadzah semua, karena mau berteman denganku dan membimbing ku menjadi pribadi yang lebih baik lagi!" Siska berkata dengan suara parau. Membuat para Ustadzah di sana langsung menangis haru.
Mereka segera memeluk Siska. Tak lupa mengecup kening putri kecil Siska yang tampak sangat menggemaskan terlelap dalam gendongan ibunya.
"Bismillah, semoga kamu jadi anak baik dan Sholeha, Nak."
Mereka semua mendoakan yang terbaik untuk Siska dan anaknya.
Siska pun pergi dijemput mertuanya. Dia menitipkan Beby pada sang mertua dan berpesan.
"Ma, jangan sampai Mas Haikal bertemu dengan Beby ya! Kalaupun nanti bertemu, bilang saja ini anak temen mama. Tapi, kalau bisa jangan ketemu, Ma. Soalnya aku benar-benar mau beri Mas Haikal kejutan nantinya! Maunya aku sendiri yang kenalin Beby ke Mas Haikal!"
Siska merengek pada mertuanya. Ibu Haikal pun tertawa pelan. Mereka menyetujui permintaan Siska. Yang pastinya mereka akan menjaga cucu cantik mereka.
"Iya! Tapi, jangan lama-lama kamu kerjain, Haikal. Dia udah hampir sawan karena rindu sama kamu!" celetuk ibu Haikal membuat Siska tertawa cengengesan.
"Iya-iya, Ma."
Mereka segera menuju ke rumah besar orang tua Haikal.
__ADS_1
*
*
Saat pagi datang, Siska langsung berangkat ke rumah suaminya yang tentu saja juga rumahnya. Dia meninggalkan Beby pada sang mertua, tak lupa dia meninggalkan ASI yang sudah ia pompa dan masukkan ke dalam botol.
Ketika tiba di rumahnya, dia membunyikan bel. Jantung Siska berdetak dengan kencang. Dia merasa sangat gugup sekarang, tak sabar bertemu dengan suami tercinta.
"Bismillah ya Allah."
Tak lama setelahnya pintu rumah terbuka. Membuat Siska menelan ludahnya kasar. Tampak sang suami berdiri di hadapannya dengan wajah tampan dan bugar. Wajah Haikal tampak segar dan cerah.
Maklum saja, Haikal sering kali membasuh wajahnya dengan air wudhu. Apalagi dia sholat tahajud. Pasti aura yang terpancar di wajahnya sangatlah indah dan menyejukkan jiwa.
"Assalamualaikum." Siska merubah suaranya menjadi lebih halus dan sopan.
*
*
"Assalamualaikum." Siska mengulangi memberi salam.
Segera saja pria itu menarik Siska ke dalam pelukannya. Membuat wanita itu terkejut, berbagai tanda tanya keluar dalam kepalanya.
Apakah penyamaran nya gagal? Apakah sang suami mengenal dirinya? Bukankah Siska telah merubah suaranya?
Ya Allah … bagaimana ini? Niat hati ingin mengerjai suaminya. Tapi, malah berujung gagal.
__ADS_1
Akan tetapi, Siska juga menikmati pelukan tersebut. Harum tubuh Haikal tercium oleh indera penciuman nya, membuat hatinya tenang.
"Mas, kamu wangi sekali? Hemm … aku rindu cium ketek mu," batin Siska amat merindukan aroma tubuh Haikal.
"Sayang! Hiks … aku rindu kamu." Haikal meneteskan air matanya. Dia sangat yakin kalau wanita bercadar di hadapannya adalah Siska.
"Papa! Kenapa peluk wanita lain?" teriak Reihan yang baru saja tiba membuat Siska tersadar langsung mendorong kasar tubuh Haikal.
"Mama ih … katanya mau akting jadi guru, Abang. Tapi, kenapa mau di peluk papa?" sungut Reihan dalam hati.
Bocah kecil itu sudah tahu niat ibunya. Sedari tadi subuh dia menunggu kedatangan sang ibu yang akan menjadi guru ngaji pura-pura nya.
"Wanita lain?" gumam Haikal pelan terkejut lalu menatap wanita bercadar itu dengan tatapan terkejut.
"Lancang sekali Anda, Pak!" tegas Siska dengan suara yang di buat-buat menatap tajam Haikal.
"Ka-kamu bukan Siska, istriku?" tanya Haikal dengan suara terbata-bata berusaha memastikan kalau dirinya benar.
*
*
Tembus komentar 100 author gas lagi.
Bersambung.
Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kak🥰
__ADS_1