
Setelah dipermalukan oleh Raja, Diko kembali diejek oleh rekan kerjanya. Mereka semua semakin berani menunjukkan ketidaksukaan pada Diko. Memang salah pria itu sendiri, siapa suruh songong dan angkuh.
"Haiss … sampai kapan akan begini," umpat Diko dalam hati saat mendengar teman-temannya mengejeknya di depan maupun di belakangnya.
*
*
Sedangkan di sisi lain, Raja beserta istri dan anak-anaknya berada dalam ruangan kerja Dimas yang seharusnya menjadi ruangan Raja.
Riska dan Risky tampak berlarian di dalam ruangan yang luas itu. Tidak ada yang melarang mereka, kecuali Laila. Wanita itu takut kalau anak-anaknya mengganggu Raja maupun Dimas.
"Abang, Adek, jangan main lari-lari, Nak." Laila melarang putra-putrinya, namun Riska dan Risky tidak menggubrisnya. Mereka berdua tampak sangat senang, karena bisa melihat perusahaan besar milik ayah mereka.
"Tidak apa-apa, Kak Ipar. Biarkan saja mereka, namanya juga anak-anak. Kalau capek bakal berhenti nanti," celetuk Dimas membuat Laila tersenyum tipis. Dia merasa tidak enak hati, tetapi yang dikatakan Dimas juga ada benarnya.
Raja terlihat serius dengan berkas-berkas di atas meja kerja. Dia melihat semua untung dan rugi perusahaan selama tidak ada dia di sana. Raja menganggukkan kepalanya mantap. Senang dengan kinerja sang adik.
"Gimana? Apa ada yang membuat Abang kurang puas?" tanya Dimas santai membuat pria itu menggelengkan kepalanya.
"Bagus, tapi, si Diko itu! Bagaimana kinerjanya? Apa performa nya bagus?" tanya Raja pada sang adik.
Sampai detik ini Raja masih merasa dongkol. Dia ingin sekali memecat Diko, namun sebagai pemimpin perusahaan raksasa. Dia harus bisa memilah mana urusan pribadi dan urusan kantor.
__ADS_1
"Dia memang bagus dan telaten. Tapi, etikanya kurang bagus, banyak anak-anak yang tidak suka padanya. Selama tingkah lakunya masih batas wajar, ya tidak apa-apa, Bang. Biarkan saja dia cari makan di perusahaan kita," seru Dimas membuat Raja memijat keningnya.
Laila yang melihat suaminya tampak resah, segera bangkit dari sofa lalu mendekati sang suami untuk memijat kening Raja.
"Kamu memang pengertian, Sayang!" Raja memuji sang istri dengan cara mencolek dagu Laila. Dimas yang melihatnya berdecak sebal.
"Cih, kalau udah begini, lebih baik aku keluar bareng di kembar. Daripada jadi obat nyamuk kalian berdua!" tukas Dimas dengan nada kesal membuat Raja tertawa.
Sedangkan, Laila tampak malu-malu.
"Pergilah, Dim. Kau bisa libur untuk hari ini. Sekalian ajak si kembar ke Mall buat beli mainan untuk mereka!" suruh Raja membuat Dimas menganggukkan kepalanya.
"Setelah pulang dari Mall aku akan bawa mereka pulang ke rumah, ya. Pasti Mama dan Ayah senang melihat mereka datang!" balas Dimas disetujui oleh Raja dan Laila.
"Siapa yang mau ikut Paman beli mainan?" tanya Dimas dengan suara keras, namun bersahabat membuat Risak dan Risky yang sedang berlari langsung menjawab serempak.
"Abang!"
"Adek!"
"Oke, let's go!" ajak Dimas semangat.
"Go." Si kembar langsung mengikuti Dimas keluar ruangan. Mereka sangat bahagia, karena punya paman yang sangat menyayangi mereka.
__ADS_1
Tinggal lah Raja dan Laila di dalam ruangan. Pria tampan itu langsung menarik Laila jatuh ke atas pangkuannya.
"Mas, nanti ada yang masuk gimana?" tanya Laila dengan suara pelan, terlalu malu, karena posisi mereka sangatlah intim.
"Nggak bakal ada yang berani masuk, tanpa mengetuk pintu dulu. La, seberapa parah dulu si Diko melakukan KDRT saat kalian berumah tangga?" tanya Raja serius membuat tubuh Laila menegang.
Terlintas dalam benaknya bagaimana kejamnya Diko dulu. Persis seperti kaset rusak.
"Dia pernah memukul kepala ku sampai berdarah dengan kunci Inggris," lirih Laila pelan dengan suara parau membuat Raja terkejut bukan main.
"Bajingan," desis Raja murka.
*
*
Maaf baru up lagi, Alhamdulillah author udah bisa bangun dari tempat tidur. 🥰🙏
Terima kasih atas doanya semuanya 🌹😘
Bismillah bakal crazy up.
Mohon bantuannya dong, komentar nya 100 dan kalau mau kirim kopi ke karya ini aja 🙏🥰🌹😘
__ADS_1