Ketika Istriku Tak Lagi Manja

Ketika Istriku Tak Lagi Manja
Tuan Putri dan Putra Mahkota


__ADS_3

"Iya," balas Haikal datar tak menyukai kehadiran pria kejam itu.


Raja merasa aneh dengan Haikal, mereka merupakan rekan bisnis, biasanya pria itu menyambutnya dengan ramah. Tetapi, kali ini tampak berbeda.


Raut wajah tak bersahabat terpampang jelas di wajah Haikal membuat nya tak nyaman. Raja ingin segera pergi, namun saat melihat wajah balita yang terlelap dalam gendongan Haikal.


Dia termangu, seperti ada ikatan batin antara ayah dan anak. Raja tersenyum manis ke arah balita yang sedang terlelap itu. Entah mengapa dia merasa kalau wajahnya sangat mirip dengan balita itu.


"Ini putri Anda?" tanya Raja tak melepaskan tatapannya dari sana.


"Ini anak teman saya!" jawab Haikal singkat membuat Raja tersenyum. Tangannya tanpa sadar terulur ingin membelai pipi gembul malaikat kecil itu, namun Haikal menghindar.


"Pipinya sangat sensitif." Haikal tak Sudi Raja menyentuh buah hati Laila yang susah payah wanita itu kandung dan lahiran. Meski ia tahu betul kalau Raja ayah kandung Riska.


Tetapi, pria itu tak lebih dari penanam benih saja. Lebihnya tidak, bahkan dia tidak mau mengakui anak Laila dan mengusir wanita itu dari apartemen yang ia beli untuk Laila, karena mau menjadi simpanan.


Haikal juga telah mendengar cerita asli Laila, kalau Raja sendiri yang merayu nya agar menjadi simpanan. Ternyata saat itu hubungan Raja dan istrinya sedang bermasalah, hampir bercerai bahkan, dan bodohnya Laila mau dijadikan pelarian.


Kembali lagi pada Raja yang tersenyum kikuk. Dia menggaruk tengkuknya tak gatal.


"Kalau begitu saya permisi dulu, Pak Haikal."


Raja pun segera beranjak dari sana. Dia terlalu malu karena penolakan Haikal, tetapi dalam hatinya terus bertanya-tanya mengapa wajahnya sangat mirip dengan nya.


"Ah mungkin cuma mirip saja," gumam Raja pelan dalam hati.


Haikal menatap dingin punggung Raja yang menghilang secara perlahan dari jangkauan nya.


"Yang tadi itu ayah kamu, Nak. Tapi, jangan mau sama dia yah! Karena dia udah nyakitin mama kamu dan sudah menelantarkan mu sejak dalam kandungan," bisik Haikal di telinga Riska yang terlelap.


*


*


Haikal berada di sebuah restoran mewah bersama Siska. Dia sengaja memesan ruang VVIP, agar istrinya bisa makan dengan bebas, sebab Siska sudah bercadar.


Di sinilah keduanya berbicara serius tentang Laila. Wanita yang pernah hampir merusak rumah tangga mereka.

__ADS_1


"Sejak kapan kamu beri Laila nafkah, Mas?" tanya Siska serius setelah menyelesaikan makan malam nya.


"Setelah bercerai dari dia. Aku beri dia jatah bulanan sebanyak 7 juta, karena aku kasihan, dia sedang hamil anak kembar, tidak punya orang tua, suami atau saudara. Apalagi dia cuma guru honorer yang gajinya sedikit!" jelas Haikal tanpa berniat menutupi apapun di hadapan istrinya.


Dia sudah memutuskan untuk selalu jujur pada istrinya agar hubungan mereka tidak renggang. Seperti dulu, karena kesalahpahaman yang terjadi akibat kurang jujur dan kurangnya komunikasi.


Siska mengangguk kepalanya.


"Aku pergi dari rumah sebelas bulan yang lalu, seingatku kalian juga sudah bercerai sebelum aku memergoki kalian. Berarti kalau tujuh juta sebulan, di kali sebelas, maka sudah 77 juta sudah kamu berikan untuknya secara cuma-cuma!"


Siska berkata dengan nada tegas. Haikal pun paham, sepertinya sang istri tidak suka akan hal itu.


"Kamu cemburu? Marah karena aku kasih uang cuma-cuma untuk dia?" tanya Haikal tak kalah serius.


Dengan cepat Siska menganggukkan kepalanya.


"Kalau sebagai istri, of course aku cemburu. Istri mana yang tidak cemburu dan marah, kalau suaminya memberikan jatah bulanan untuk wanita lain yang jelas-jelas bukan tanggung jawabnya.


"Tapi, kalau aku pakai sudut pandang orang lain yang sudah tahu alasan kamu memberikan dia jatah bulanan, dan juga sudah tahu bagaimana masa lalu Laila yang kelam. Aku tidak cemburu! Yang jadi masalahnya adalah, aku bukan orang lain, tapi aku istrimu?!"


"Tapi, aku membantunya karena aku kasihan, Sayang!" tukas Haikal menatap dalam bola mata istrinya.


"Kamu dulu menikahi aku juga karena kasihan, Mas. And see … Now you love me! Yang awalnya cuma kasihan, sekarang kamu malah cinta sama aku!" sanggah Siska cepat membuat Haikal bungkam untuk sesaat.


Sebuah ide terlintas dalam benak Siska. Segera saja dibicarakan pada Haikal.


"Alangkah lebih baiknya, Mas. Daripada kamu beri dia jatah bulanan 7 juta perbulan, lebih baik kamu kasih modal usaha untuk dia. Laila punya dua anak, tidak mungkin dia bisa bekerja di tempat orang lain, karena dia seorang janda yang menghidupi kedua anaknya sendirian. Dengan kamu beri dia modal usaha, setidaknya dia bisa buka usaha, sekaligus merawat anaknya sendiri juga."


"Kita bantu dia cari tempat usaha strategis agar usahanya lancar. Dengan begitu kamu dan Laila sudah tidak punya hubungan lagi! Tidak ada alasan untuk kalian berkomunikasi. Oh kalau ada hal yang penting, cukup aku saja yang berkomunikasi dengannya! Bereskan?"


Siska menjelaskan panjang lebar, dia tidak ingin sang suami terlalu banyak melakukan komunikasi dengan wanita lain. Apalagi sampai memberi nafkah bulanan yang jelas-jelas bukan tugas Haikal.


Tetapi, Siska juga bukan wanita jahat yang tega melihat hidup wanita lain susah. Dia tahu pasti sulit menjadi Laila, terlepas wanita itu pernah jahat padanya.


Setidaknya saat ini Laila sedang dalam proses menjalani karma nya. Juga wanita itu sudah meminta maaf secara langsung padanya.


"Baiklah, usulan mu juga benar, Sayang. Maafkan aku yah! Dulu aku tidak berpikir seperti ini, karena pikiran ku terlalu mumet mikirin kamu kapan pulang!"

__ADS_1


Haikal menggenggam tangan Siska dengan lembut membuat Siska tersenyum manis. Dia bahagia karena untuk pertama kalinya setelah menikah Haikal menerima ide nya. Dulu saja Haikal selalu menentang semua ide Siska.


"Mau dansa bersama ku?" ajak Haikal romantis membuat pipi Siska merona.


"Nggak ada musik," balas Siska malu-malu.


Segera Haikal mengeluarkan ponselnya, lalu ia putar musik biola yang sangat indah.


Pria itu bangkit lalu menyodorkan tangannya ke arah Siska dengan penuh wibawa.


"Bersediakah tuan putri berdansa dengan saya?" pinta Haikal dengan puitis membuat Siska tak mampu menahan bibirnya untuk tersenyum.


Wanita itu mengangkat dagunya, dengan gaya anggun dia menerima uluran tangan Haikal.


"Dengan senang hati, Pangeran ku!" balas Siska tersenyum anggun.


Kedua anak manusia itu pun berdansa layaknya tuan putri dan putra mahkota. Mereka berdua tersenyum manis, hati keduanya berdegup kencang seolah menjadi melodi cinta.


"Aku sangat mencintaimu, istriku. Maafkan aku yang terlambat menyadari rasa ini, dan terima kasih karena sudah pulang, meski lama!"


"Entah berapa banyak luka yang kau torehkan dalam hatiku, mungkin air mataku kalau ditampung sudah menjadi samudera, karena menangisimu. Tetapi, aku tak tahu, mengapa namamu masih bertahta di hatiku, Suamiku. Terima kasih sudah membalas cintaku, meski lama!"


Kedua insan itu tak berbicara, melainkan mata mereka yang bercerita. Memandang penuh cinta, penuh kasih sayang dan kerinduan.


*


*


Sekedar pertanyaan, Bunda-bunda ku yang Cantik dan manis pernah nggak dansa sama pak Su? Penasaran aja gimana realita nya hihihi.


Kalau belum, bisa di coba sesekali untuk mempermain hubungan. Tapi, kalau suaminya kaku seperti es balok, saran ku di cairkan dulu, biar nggak kedinginan anti pas dansa wkwkwkwk 🤣🤣


Bersambung.


Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰🥰


Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️🙏

__ADS_1


__ADS_2