
Hari sudah menjelang siang. Jantung Laila berdegup kencang, dia sendiri bingung harus bagaimana, karena nyatanya sebentar lagi pria yang mengajaknya taaruf akan bersilaturahmi ke rumahnya. Teringat video yang dikirimkan oleh Raja kemarin, ada rasa khawatir dalam hatinya. Tak masalah kalau pria itu tak mencintai Laila, tetapi akan menjadi masalah kalau dia tidak menyayangi anak-anaknya.
"Udah siang begini, kenapa belum datang juga ya?" Laila bermonolog pada dirinya sendiri. Dia sudah bersiap-siap menyambut kedatangan ustadzah Robiah, Abah dan pria itu.
Laila berniat untuk menolak melanjutkan ta'aruf. Setelah dia berpikir panjang, dia rasa sanggup menjadi ibu tunggal, karena cinta kasihnya hanya untuk anak-anaknya. Tak apa kalau dia tidak punya pendamping, karena yang terpenting adalah si kembar tumbuh kembang dalam kasih sayangnya.
"Tapi, apa ustadzah Robiah marah nggak ya?"
Laila merasa tak enak hati pada ustadzah Robiah. Takut kalau gurunya itu kecewa, namun setelah dipikir-pikir hal ini menyangkut kehidupan dan masa depannya. Terserah Laila mau menerima perjodohan ini atau tidak. Tetapi, satu yang pasti, Laila tidak mau salah langkah lagi. Cukup di masa lalu dia bodoh dan terjerumus ke lubang dosa, karena kebodohannya.
"Hais, kalau ingat masa lalu. Aku benar-benar merasa sangat bodoh dan goblok! Mau-mau aja jadi simpanan laki orang. Mana lakinya seperti ayah si kembar! Wajahnya oke, tapi mulutnya macam mulut buaya!"
Laila mendengus kesal, ketika mengingat wajah Raja. Setiap melihat wajah pria itu dia teringat akan kebodohannya di masa lalu. Silau akan intan permata dan bujuk rayu Raja membuat wanita itu salah langkah.
Suara dering ponsel berbunyi. Laila mengambilnya, dan melihat nama ustadzah Robiah tertera di layar ponselnya. Buru-buru dia menekan layar hijau.
Sungguh, saat ini dada Laila berdebar kencang. Dia tidak bermaksud untuk mengecewakan gurunya, tetapi dia belum siap mencari pendamping hidup. Takut sekali kalau kelak pilihannya menjadi petaka untuk anak-anaknya.
"Assalamualaikum, Ustadzah." Laila memberi salam dengan sopan. Dia sedang memikirkan kata-kata yang enak untuk menolak jodoh pilihan gurunya.
[Wa'alaikumussalam, Neng. Maaf ya, Neng. Saya kemarin main ajak kamu buat ta'aruf sama pria lain. Padahal kamu sudah punya calon sendiri!]
Sang ustadzah berbicara dengan nada bercanda bercampur santai. Sontak saja dahi Laila berkerut, dia tidak mengerti maksud perkataan ustadzah.
Punya calon sendiri? Laila punya pilihannya sendiri? Apa tidak salah? Sudah bertahun-tahun dia menjadi janda, dan tak pernah sekalipun dia berpikir untuk mencari pendamping hidup yang lainnya, karena dia tidak mau membuat anak anaknya berada dalam zona tak nyaman.
"Saya tidak mengerti apa yang ustadzah bilang."
Laila menjawab dengan penuh kebingungan.
[Alah, Neng. Tidak usah pura-pura nggak tahu, kemarin calon mu itu datang ke rumah saya, terus dia bilang kalau kamu yang utus dia ke rumah saya, buat jelasin kalau kalian tidak akan lama lagi menikah. Jujur saya merasa nggak enak hati sama kamu, Neng. Tapi, saya juga ikut seneng karena akhirnya kamu dapat pria baik. Abah juga kemarin pas ketemu calon mu itu juga seneng. Kata Abah bawaan calon mu itu adem, auranya sejuk. Enak dipandang!]
Sang Ustadzah berbicara panjang lebar membuat Laila tak tahu harus menjawab apa. Sungguh saat ini wanita itu sangat heran dengan apa yang terjadi. Dia seperti orang bodoh yang terbengong sedari tadi mendengar cerita ustadzah.
"Ustadzah, saya bener-bener –,"
[Iya, bentar!! Udah dulu ya, Neng … saya di panggil, Abah. Pokoknya doa yang terbaik untuk kamu. Semoga kamu bahagia dengan pilihanmu. Kalau bisa sih jangan lama-lama tunangan, langsung nikah aja! Biar nggak banyak setan di tengah-tengah kalian!]
Sang Ustadzah mengakhiri panggilan tersebut membuat Laila hanya bisa melongo. Mulutnya terbuka lebar seperti orang bodoh, niat hati ingin mengakhiri proses ta'aruf, malah sang ustadzah lebih dulu paham.
__ADS_1
Laila tidak mengerti maksud perkataan sang ustadzah. Dia hanya paham untuk pembicaraan sang guru, kalau ta'aruf nya telah berakhir, dan ada seseorang yang mengaku sebagai calon nya datang kepada ustadzah, hingga ta'aruf nya berakhir.
"Jangan-jangan! Dia!" Laila mengepalkan tangannya erat. Sangat geram mengingat sosok yang berkemungkinan besar menghancurkan proses ta'aruf nya.
*
*
Sedangkan di sisi lain, tiga pria dewasa sedang tertawa lepas. Mereka sangat bahagia, karena rencana mereka berjalan sukses.
"Gila kamu, Ja. Berani bener gagalin proses ta'aruf si Laila. Kalau dia semakin marah sama kamu gimana?" tanya Bram serius melihat temannya yang kini duduk di hadapannya.
"Dia memang sudah marah padaku, jadi, tidak masalah kalau dia tambah marah. Aku lebih takut dia menikah dengan pria yang salah dan berimbas ke anak-anakku. Sumpah! Aku nggak sanggup lihat anak-anakku di asuh oleh pria lain! Apalagi kalau pria itu tidak bisa adil pada mereka berdua … bisa gila aku!"
Raja berkata dengan serius. Setelah tahu kalau Laila sedang melakukan ta'aruf dengan seseorang. Dia mencari tahu siapa perantara Laila dan pria itu. Saat tahu kalau ustadzah Robiah orangnya, dia langsung mendatangi rumah ustadzah.
Dia juga menceritakan kalau dirinya adalah ayah si kembar. Untungnya ustadzah paham kalau Raja lebih nyaman berbicara dengan pria agar pria itu terbuka.
Ustadzah Robiah pun langsung memanggil suaminya agar berbicara dengan Raja. Disitulah Raja menceritakan masa lalu dan kejahatannya. Bahkan, dia tidak malu menangis menyesali perbuatannya di depan Abah.
Pada akhirnya Abah dan sang Ustadzah mengerti. Mereka segera menghubungi pria yang mau ta'aruf dengan Laila dan menjelaskan apa yang terjadi. Untungnya pria itu baik dan mau mengerti.
"Dasar posesif!" ledek Bram seraya melemparkan kulit kacang ke arah Raja.
"Terserah! Yang penting anak-anakku tidak punya ayah baru. Pokoknya cuma aku yang boleh jadi ayah mereka! Akan ku bahagiakan mereka selama aku hidup!" tegas Raja penuh percaya diri.
Dino dan Bram hanya bisa terkekeh kecil melihat sahabatnya satu ini. Penuh semangat dan hasrat untuk mendapatkan cinta kasih anak-anaknya.
Tiba-tiba raut wajah Raja berubah sendu. Membuat Bram dan Dino heran, apa yang telah terjadi.
"Kenapa kamu murung, Ja?" tanya Dino heran.
"Kalian tahu nggak gimana rasanya di panggil Paman sama anak sendiri? Rasanya benar-benar nggak enak!*
Raja tersenyum miris. Teringat pertemuan pertamanya dengan si kembar. Ada rasa sesak dalam hati, karena anak-anaknya itu tumbuh kembang tanpanya.
Semakin bodoh Raja karena dialah penyebab anak-anaknya tumbuh tanpa ayah kandung.
Benar, kata orang kalau penyesalan itu selalu datang di akhir, sedangkan di awal namanya pendaftaran.
__ADS_1
"Udah ah nggak usah galau begini! Lebih baik kamu pergi jemput anak-anakmu sekarang!" suruh Dino tak ingin melihat sahabatnya sedih.
Raja yang mendengarnya pun tersenyum cerah.
"Yeah, bener. Lebih baik aku jemput mereka, terus aku suruh mereka panggil aku Ayah!" balas Raja segera bangkit dari sana.
Dino dan Bram ikut mengantar Raja keluar rumah. Mereka berdua melebarkan bola mata ketika melihat Raja naik becak muatan barang.
Nyaris tersedak ludah, karena Raja adalah anak orang kaya. Jangankan becak, angkot aja dia tidak pernah naik. Terlebih lagi Raja adalah seorang CEO.
"Ja, woi! Jangan aneh-aneh … Lo aja baru kemarin bisa bawa motor matic. Gak usah aneh-aneh pake bawa becak yang punya giginya. Bisa-bisa selepas Lo jemput si kembar pulang sekolah, terus Lo antar pulang ke pangkuan ilahi!" larang Dono dan Bram khawatir langsung berlari menghampiri temannya itu.
Namun, Raja yang nekad pun hanya tersenyum remeh seraya menginjak gigi satu becak tiga roda itu.
"Jangan panggil gue Raja kalau bawa becak kagak bisa! Hilang harga diri gue di depan si kembar! Bye-bye!"
"Woi, Ja! Tunggu?! Itu becak bukan motor matic! Salah-salah bisa buat Lo bertemu malaikat maut!" teriak Bram khawatir.
*
Raja menginjak gigi dua becak. Laju becak semakin tinggi membuat keringat dingin keluar membasahi keningnya.
Jujur saja tangan Raja gemetar sekarang. Seumur hidup baru kali ini dia bawa becak.
"Perasaan lihat orang bawa kok enak ya," gumam Raja pelan berusaha fokus membawa becak.
*
*
Bismillah 12 bab hari ini. ❤️🤗
Bersambung.
Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah
Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️🙏
Mampir juga ke novel temen author yang nggak kalah keren nya yah 🥰🥰
__ADS_1