
Raja mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia baru saja mendapatkan alamat Diko yang telah dikirimkan oleh Dimas. Amarahnya menggebu-gebu, harga dirinya sebagai seorang ayah dipertaruhkan.
"Akan ku bunuh kau … akan ku bunuh kau!", gumam Raja berulang kali dengan suara serak.
Sesekali dia mengusap matanya yang berair. Dia hancur, jiwanya remuk. Dalam hati dia merutuki takdir, mengapa putri tercintanya harus mengalami kejadian mengenaskan.
"Hiks … maafkan, Ayah, Dek. Maafkan ayah …"
Raja menangis sesenggukan di dalam mobilnya. Hati ayah mana yang tak hancur bila anak tercintanya dilecehkan?
"Ya Allah ya Rabb … hiks … dada hamba sakit ya, Rabb. Sungguh, ujian kali ini adalah ujian terberat hamba. Tidak masalah hidup hamba susah, hamba sakit atau disakiti orang. Tapi, … tapi … hiks … jangan anak hamba ya, Rabb."
Raja bermonolog dengan diri sendiri. Berharap sang Pencipta mendengar isi hatinya.
Setengah jam kemudian, Raja tiba di rumah Diko. Segera dia turun dari mobil, melangkah lebar masuk ke dalam rumah Diko. Untung gerbang nya tidak terkunci, sehingga memudahkan Raja masuk.
"Diko anjing … buka pintunya sialan?! Buka?! Kalau berani lawan aku, jangan macam banci yang berani sama anak kecil?! Anjing, woii … buka pintunya, Bangsat?!" umpat Raja dengan nada tinggi seraya menendang kasar pintu rumah Diko.
__ADS_1
Tak berselang lama pintu rumah terbuka, dengan gerak cepat Raja menendang Diko yang berdiri di depan pintu.
Bugh.
"Akkk … apa yang Anda lakukan? Kenapa tiba-tiba menendang saya?" tanya Diko dengan suara tertahan.
Raja tak banyak menjawab. Kepalanya panas, seperti ingin meledak rasanya. Dia menarik kerah baju Diko membuat pria itu bangkit secara paksa, lalu mendorong Diko ke dinding.
"Kenapa? Kenapa kau tega melakukan hal keji itu pada anak sekecil itu, huh?! Kenapa? Kalau kau marah karena kupecat, kenapa tidak kau bunuh saja aku?! Kenapa harus melecehkan putri kecilku yang bahkan belum baligh?!" bentak Raja murka seraya mencekik leher Diko.
Pria itu tidak bisa bernafas dengan baik. Dia memukul Raja, berusaha untuk lepas dari cekikan Raja.
Diko berkat dengan susah payah. Membuat Raja langsung melepaskan cekikan nya. Sontak tubuh Diko ambruk ke lantai. Dia terbatuk-batuk dan berusaha menghirup udara segar di sekitarnya.
"Katakan, jari mana yang kamu gunakan untuk menyakiti putriku?" tanya Raja dengan nada dingin.
Pria itu mengelus pisau lipat dari sakunya, lalu menarik tangan kanan Diko. Dia bersiap-siap ingin memotong jari pria itu. Namun, Diko segera memberontak. Wajahnya pucat pasi, kali ini dia melihat Raja seperti pria gila dan psikopat.
__ADS_1
"Aku tidak tahu apa-apa. Bukan aku yang menyakiti putri mu. Tapi, Devi … dia … dia pernah menghasut ku untuk membunuh Laila. Tapi, aku tidak mau! Akkk … dengarkan penjelasan ku dulu!" teriak Diko penuh kesakitan saat Raja menggores telapak tangan Diko.
"Jadi, maksudmu istrimu yang telah melecehkan putriku?" tanya Raja dengan suara yang amat dingin. Dia benar-benar geregetan sekarang, setan terus merasukinya, menggoda Raja untuk membunuh Diko.
Namun, malaikat juga tak tinggal diam. Terus berusaha menenangkan hati Raja, agar amarahnya tak meledak.
"Be … benar … aku bersumpah demi Allah, meski aku jarang sholat, tapi, aku tetap takut pada-Nya. Percayalah padaku … aku tidak mungkin berani mengusik keluargamu lagi, karena takut semakin kau buat aku hancur!" balas Diko terbata-bata, tak sadar cairan kuning merembes keluar dari celananya.
Suara dering ponsel Raja mengalihkan atensi pria itu. Segera dia menerima panggilan dari sang adik.
[Kak, ke kantor polisi X sekarang juga. Pelakunya sudah ketemu dan ternyata dia seorang perempuan!]
*
*
Edukasi $eks nya akan ada saat bab Riska dengan psikolog nantinya 🙏❤️ terima kasih banyak atas dukungan, kritikan dan saran kakak pembaca.
__ADS_1
Semoga Allah selalu melindungi anak-anak kita agar dijauhkan dari orang-orang keji.
Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️