
"Aku lelah …"
"Lelah berjuang sendirian …"
Siska memberanikan diri untuk berbicara dengan suaminya. Rasa sesak itu semakin membesar ketika sang suami tak mampu mengatakan tiga kata, "aku cinta kamu."
"Sakit loh, Mas. Rasanya sakit sekali! Saking sakitnya hampir buat aku mau mati!"
Siska memukul dadanya pelan. Terasa sesak dan menyakitkan, dia tidak sanggup bila terus begini. Wanita itu sudah sangat lelah berjuang sendirian mempertahankan pernikahan mereka.
"Dulu aku kira aku bakal berhasil buat kamu cinta sama aku lagi. Nyatanya aku nggak bisa, Mas! Aku kalah … hiks … sepuluh tahun bukanlah waktu yang singkat, Mas. Selama ini pernikahan kita bisa bertahan, karena cintaku padamu itu besar!"
"Awalnya aku kira kalau aku berubah kamu bakal cinta sama aku! Nyatanya enggak … karena aku sadar kalau kamu memang sudah tidak cinta sama aku, Mas."
Siska menangis sesenggukan. Dia menggigit bibirnya sampai berdarah agar tangisnya tak pecah. Dia berusaha menahan emosinya saat ini.
Siska sudah benar-benar berubah. Wanita itu tak lagi histeris seperti dulu. Ternyata benar, kalau sholat mampu membuat seseorang berubah menjadi lebih baik.
Dia telah melaksanakan sholat tepat waktu. Berjodoh pada Allah agar hatinya kuat.
"Aku menyerah, Mas … untuk apa aku memperjuangkan mu sedangkan kamu sendiri tidak mau aku perjuangkan!" Siska berkata dengan bibir bergetar. Dia tidak tahu harus berekspresi seperti apa lagi.
Hatinya sudah sangat remuk, jiwanya hancur di tampar kenyataan kalau suaminya benar-benar tak mau cinta padanya.
__ADS_1
Jantung Haikal hampir keluar dari tempatnya. Saat mendengar kata menyerah keluar dari lisan istrinya. Rasa takut, kalut, gelisah dan resah bercampur menjadi satu.
Benarkah kalau Siska akan benar-benar menyerah mencintai nya? Kenapa rasanya sangat sakit dan tak rela? Bukankah, ini kemauan Haikal dari dulu.
"Aku pergi … tolong jaga Reihan selama aku tidak ada!"
Siska berbalik badan, lalu menarik kopernya. Masih banyak sekali yang ingin ia bicarakan pada Haikal, namun tak bisa.
Lisannya sudah sangat lelah berbicara. Dia takut tumbang, terlebih lagi dirinya sedang hamil.
"Jangan pergi!" tegas Haikal kembali tak membuat Siska berhenti.
"Aku bilang jangan pergi!" Haikal mengulangi perkataan nya membuat langkah Siska berhenti.
Pria itu melangkahkan kakinya cepat menghampiri istrinya. Segera saja dia peluk Siska dari belakang.
"Aku ingin sendiri, Mas. Aku ingin jauh dari kamu untuk sesaat!" Siska berkata dengan suara seraknya.
Haikal mengangguk kepalanya mengerti.
"Kamu tetap di sini. Biar aku yang pergi!" ujar Haikal membuat Siska terkejut.
"Ini rumah kamu, Mas. Sudah seharusnya aku yang pergi, kamu tetap di sini."
__ADS_1
"Tidak … kalau kamu pergi siapa yang bakal urusin Reihan. Dia lebih dekat dengan mu daripada aku!"
Haikal berkata lirih. Pria itu masih bingung dengan perasaannya. Mungkin benar keputusan Siska agar keduanya berpisah untuk sementara agar keduanya tenang.
"Aku yakin kalau kamu masih cinta sama aku. Kamu pasti tidak mau kita berpisah! Benar apa yang kamu katakan, kalau kita harus berpisah sementara agar kita sama-sama tenang! Tapi, aku mohon sama kamu, Sis!"
"Jangan pernah menyerah, jangan pernah berhenti mencintaiku!"
Haikal mengeratkan pelukannya. Pria itu sangat takut dan tak rela istrinya menyerah begitu saja.
Siska memejamkan matanya. Dia merasa kalau suaminya egois.
"Kamu egois, Mas. Kamu menyuruh aku untuk terus cinta sama kamu, sedangkan kamu sendiri tidak mencintai ku."
Haikal menggelengkan kepalanya cepat.
"Beri aku waktu, Sis. Aku janji tidak akan mengecewakanmu."
*
*
Komentar nya yang banyak dong. Sama like nya kalau tembus 700, author bakal up lagi. 🌹🌹❤️
__ADS_1
Bersambung.
Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak